Interpretasi satu · Vokal pria
4:31Audio untuk sementara tidak dapat diputar, silakan coba lagi nanti.

Liris bernuansa Tiongkok klasik · Penciptaan musik AI
Ku Wuji · Musik AI · 4 kali dibaca
Mengambil ilham dari 《江汉》 karya Du Fu. Berawal dari pengembara di wilayah Jianghan yang rindu pulang, lagu ini melukiskan kesunyian segumpal awan yang sama jauhnya dan malam panjang yang sama sepinya, lalu beralih melalui semangat yang tetap perkasa di bawah matahari terbenam dan tubuh renta yang sakit dalam angin musim gugur. Akhirnya ditutup dengan kuda tua yang mengenal jalan tanpa harus menempuh perjalanan panjang, menyuarakan kelapangan hati bahwa usia tua masih berguna, dengan ejekan terhadap diri sendiri sekaligus kebanggaan diri. Vokal pria dan wanita menyanyikan lirik yang sama.
落日熔金天欲暮 — Matahari terbenam bagai emas cair, langit menjelang malam
Gelora cita-cita luhur belum pernah mengering
Pilih versi nyanyian di bawah ini, biarkan melodi menemani Anda membaca puisi ini hingga selesai.
Nuansa puitis yang sama, gema yang berbeda
2 lagu yang dapat dipilih
Tambahkan ke daftar putar agar tetap bisa mendengarkan saat menjelajahi halaman lain. Pemutaran berhenti setelah seluruh daftar selesai diputar secara berurutan.
Ada lagu di antara kata-kata
[Pembuka]
[Bait 1]
Gelombang Sungai Yangtze dan Han datang dan pergi
Menghanyutkan habis nama semu dan debu
Uban bertambah beberapa helai lagi
Pegunungan kampung halaman jauh di kedalaman mimpi
Sepanjang hidup ini menekuni sepuluh ribu jilid buku
Tetap tak dapat ditukar dengan sebuah perahu kecil untuk pulang
[Pra-Refrain]
Segumpal awan melintas di atas kepala semakin lama semakin jauh
Bulan sepanjang malam turut menemaniku dalam sepi
[Refrain]
落日熔金天欲暮 — Matahari terbenam bagai emas cair, langit menjelang malam
Gelora cita-cita luhur belum pernah mengering
Tubuh yang sakit pun tak mampu menghentikan langkah
Sambil tertawa menyebut diri sarjana kolot di antara langit dan bumi
Kuda tua masih mengingat jalan saat datang
Tak perlu dipacu menempuh perjalanan panjang
[Bait 2]
Dalam mimpi kudorong pintu rumah hingga terbuka
Labu tua masih tergantung di bawah cucuran atap
Saat terbangun papan perahu berselimut embun beku
Dingin merayapi tulang yang sakit
Awan yang menemaniku tercerai lalu berkumpul lagi
Hanya cahaya bulan menemani kesendirianku
[Pra-Refrain]
Angin musim gugur perlahan meringankan sakit
Di bawah matahari terbenam hati masih membara seperti dahulu
[Refrain]
落日熔金天欲暮 — Matahari terbenam bagai emas cair, langit menjelang malam
Gelora cita-cita luhur belum pernah mengering
Tubuh yang sakit pun tak mampu menghentikan langkah
Sambil tertawa menyebut diri sarjana kolot di antara langit dan bumi
Kuda tua masih mengingat jalan saat datang
Tak perlu dipacu menempuh perjalanan panjang
[Instrumental]
[Bait 3]
Ada yang menertawakan kuda ini sudah tua
Tak sanggup lagi menempuh perjalanan ribuan li
Namun ia menunduk, mengenali angin dan embun beku
Di mana ada air dan rumput serta rumah untuk melepas lelah
Orang yang tersesat menuntunnya
Dalam gelap malam pun dapat keluar dari ngarai
[Jembatan]
Wahai matahari senja, tenggelamlah sedikit lebih lambat
Biarkan api di hatiku berkobar sepenuhnya
Angin gugur silakan saja kau bertiup
Takkan padam lilin yang menyimpan sisa kehangatan ini
Kuakui aku orang dari zaman dahulu
Setua buku berjilid jahitan benang
Namun gunung dan sungai yang terselip dalam buku usang itu
Belum satu halaman pun memudar
[Bait 4]
Jika suatu hari aku tak sanggup berjalan lagi
Tak menyalahkan langit juga tak mengeluhkan nasib yang pahit
Jika ada yang datang menanyakan jalan ke depan
Aku masih bisa menggambar peta gunung dan sungai
Kuda tua beristirahat di bawah matahari senja
Setelah pelana dilepas pun tetap sebebas semula
[Refrain Terakhir]
落日熔金天欲暮 — Matahari terbenam bagai emas cair, langit menjelang malam
Gelora cita-cita luhur belum pernah mengering
Tubuh yang sakit pun tak mampu menghentikan langkah
Sambil tertawa menyebut diri sarjana kolot di antara langit dan bumi
Kuda tua masih mengingat jalan saat datang
Tak perlu dipacu menempuh perjalanan panjang
[Penutup]
Malam di Jianghan kembali mendingin
Bulan terbit,masih sama sepinya denganku
Suasana puisi klasik dan lirik orisinal · Kreasi musik AI
Berikut adalah terjemahan lirik; rekamannya tetap menggunakan nyanyian versi asli, tanpa pembuatan ulang audio.

Ku Wuji · Musik AI
Audio untuk sementara tidak dapat diputar, silakan coba lagi nanti.
Audio untuk sementara tidak dapat diputar, silakan coba lagi nanti.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →