Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Tiga Kali Menawar Harga Perahu

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11618 karakter · sekitar 10 menit

Orang kedua yang datang melihat perahu berjongkok di buritan, mengetuk kayu basah dengan punggung pisau, dan menyuruh A-Zhao menggeser kakinya. Tepat di tempat ia berdiri ada sejalur bekas air. Saat tertutup sol sepatu, bekas itu tak kelihatan. Begitu kakinya diangkat, sedikit air merembes dari celah dan berkumpul menjadi setetes bulat yang berkilau.

“Terendam semalaman tadi?” tanya orang itu.

“Perahu memang tempatnya di air.” Setelah mengatakannya, A Zhao sadar jawabannya kurang baik dan berjongkok mengambil gayung. Ruang dalam perahu itu tidak kebanjiran. Hanya ada dua gayung air yang menggenang di buritan. Dulu ayahnya menimba air itu setiap pagi, dan ia pun biasa melakukannya. Semula ia ingin membereskannya setelah orang itu pergi supaya ia tak melihatnya lalu bilang perahunya bocor. Kini gayung kayu di tangannya justru tampak seperti barang bukti yang sengaja ia biarkan di sana.

Orang itu bermarga Xie dan punya dua perahu kecil pengangkut kayu bakar di hilir. Ia tak mengomel ataupun tertawa. Ia hanya menempelkan punggung pisaunya ke papan itu, mendengarkan dengan saksama sejenak, lalu berkata kalau jadi membeli perahunya, ia harus mengganti bagian ini lebih dulu. Segulung tali rami halus yang dibawanya terletak di samping kaki. Jelas ia datang dengan maksud lebih dari sekadar mencari cacat. Namun Azhao lebih suka ia menyebut harga dulu daripada dengan sabar menunjukkan bagian perahu yang sebentar lagi rusak.

Calon pembeli sebelumnya datang tiga hari lalu, membawa seorang pembantu muda. Ia berjalan dari haluan ke buritan, bahkan tak sudi sepatunya basah. A-Zhao menyebut harga dua belas ribu wen. Orang itu bertanya berapa umur perahu, lalu berapa penumpang sehari sejak jembatan baru di jalan raya dibuka. A-Zhao menjawab satu per satu. Pada akhirnya, angka itu terasa seperti laporan kepada ayahnya, bukan kepada orang yang hendak membeli perahu. Orang itu hanya mau membayar tujuh ribu. Saat pergi ia berkata, kayu lapuk masih bisa diperbaiki, tetapi kalau penumpangnya habis, apa gunanya diperbaiki?

Ia kesal dua hari karena ucapan itu. Hari ini, setelah selesai memeriksa perahu, Tuan Xie tak lebih dulu membahas sedikitnya penumpang. Ia hanya bilang badan perahunya sempit dan tak bisa memuat kayu bakar sebanyak perahu beralas lebar, tetapi masih layak untuk menyeberangkan orang dari satu tepian ke tepian lain. Kalau izin dan aturan lama penyeberangan ikut beralih kepadanya, ia harus mencari orang yang mengenal bagian sungai ini. Azhao bilang yang ia jual adalah perahunya. Tempat penyeberangan itu bukan milik keluarga He, dan ayahnya tak mewariskan aturan apa pun yang bisa dijual.

Pemilik toko Xie mengangguk, seolah ucapan itu justru membuatnya tenang. Ia menawarkan delapan ribu lima ratus wen, bersedia membayar separuhnya tunai dan sisanya setelah perahu ditarik ke dermaga kayu bakar lalu diperiksa. Mendengar jumlahnya bukan tujuh ribu, hati A Zhao mula-mula sedikit lega, tetapi saat mendengar hanya separuh, hatinya kembali menegang. Sekarang ia hanya memiliki delapan ratus lima puluh wen, masih berutang biaya pengobatan ayahnya pada masa terakhir serta beberapa utang kecil. Kalau harus pergi dua kali lagi ke hilir untuk menagih sisanya, bekal perjalanan yang telah disiapkannya tetap harus terpakai.

“Aku tak punya orang yang bisa menagihnya untukku,” katanya.

“Tanggalnya bisa ditulis dengan jelas.”

“Sekalipun ditulis jelas, tetap harus ada yang pergi ke sana.”

Pemilik toko Xie memasukkan pisaunya kembali ke sarung. Ia tahu Azhao paham, hanya belum bersedia. Ia menaikkan tawarannya dua ratus lagi, dengan ketentuan pelunasan tetap seperti semula. Katanya dalam jual beli kedua pihak harus sedikit melonggarkan pegangan. Kalau perahunya bermasalah, ia yang harus memperbaikinya. Kalau semua uang dibayar sekaligus, tukang perahu pun tak akan memberinya utang. Azhao tak punya sanggahan, tetapi akhirnya tetap menggeleng. Lelaki itu mengangkat tali rami dan saat menginjak papan titian masih sempat menoleh untuk berpesan agar berhati-hati, karena hari ini anak tangga batu berlumut.

Ia mengantar orang itu sampai ke puncak jalan menanjak dari penyeberangan. Baru di sana ia sadar punggungnya sudah berkeringat. Langit belum cerah, tetapi ranting-ranting dedalu di tepi sungai bergerak kencang hingga sisi pucat daun-daun rampingnya tersingkap. Seseorang melambaikan tangan dari seberang. A-Zhao memperhatikannya cukup lama sebelum mengenali penjual kue goreng dari Tongxu, yang ingin ia menyeberang untuk menjemput satu pikulan keranjang kosong. Semestinya ia langsung kembali ke perahu, tetapi ia tetap berdiri. Kedua angka tadi bergantian berdentang di kepalanya, seakan bila perahu masih bisa menghasilkan ongkos sebanyak dulu setiap hari, ia tak perlu mendengarkannya.

Ding Quan datang dari jalan yang melewati toko bilah bambu, memanggul separuh perangkat dayung baru. Melihat Azhao masih berdiri, ia lebih dulu melambaikan tangan ke seberang untuk memberi tanda bahwa panggilan itu sudah terdengar. Barulah Azhao menuruni lereng. Ding Quan meletakkan dayung di sisi pohon dedalu dan bertanya berapa tawaran orang yang tadi melihat perahunya.

“Tidak jadi sepakat.”

“Aku tidak tanya jadi atau tidak.”

A-Zhao pun menyebutkan harganya. Ding Quan mengusap dagunya dan berkata bahwa membayar dengan mencicil belum tentu berarti niatnya buruk. Orang itu memang punya dermaga kayu bakar di hilir. A-Zhao menggumam pelan dan tetap pergi melepaskan tali tambat. Ding Quan tak membujuk lagi. Katanya, sore nanti ia akan kembali menyerut dayung. Kalau masih ada yang datang melihat perahu, ia bisa ikut mendengarkan tawarannya. A-Zhao ingin bilang tak perlu, tetapi takut terdengar seperti menyalahkannya karena ikut campur. Jadi ia hanya meminta Ding Quan menggeser dayung baru agak jauh. Ada paku besi di antara serpihan kayu lama di bawah pohon.

Sepulang mengantar kandang kosong itu, ongkos penyeberangannya hanya lima wen. Pedagang di seberang bilang ongkos kandangnya sekalian dihitung lain kali. Mengikuti kebiasaan ayahnya, Azhao mencatatnya di secarik kertas sempit. Baru setelah selesai menulis ia terpikir, kalau hari ini juga perahunya dijual, lima wen itu harus diserahkan kepada siapa? Ia melipat kertas itu dan menyelipkannya ke dalam lengan baju. Dalam perjalanan pulang, tanpa sadar ia masih menengok ke sungai, seolah ayahnya akan mengingatkan dari samping bahwa hitungan kecil begini paling mudah terlupa.

Jendela rumah menghadap turunan penyeberangan. Galah bambu untuk menjemur pakaian berkurang satu, dan ujung yang patah dibalut kain. Setelah ayahnya sakit, A-Zhao membelah galah itu untuk dijadikan pegangan di sisi ranjang. Tak seorang pun pernah menyambungkannya kembali. Di meja terhampar rok lama kiriman pelanggan. Semalam A-Zhao sudah mengecilkan pinggangnya, tinggal beberapa jahitan terakhir. Pelanggan itu menunggunya untuk kunjungan keluarga pertama selepas bulan pertama dan sudah sekali menagih. A-Zhao mencuci tangan hingga bersih. Saat menusukkan jarum ke kain, ibu jarinya masih mengerahkan tenaga seperti saat menggenggam tali tambat, sampai terasa sakit menekan pangkal jarum.

Ia perlahan mengendurkan genggamannya. Ibunya pernah mengajarinya langkah ini. Makin terburu-buru, makin mudah kain tertarik miring. Kalau hanya ingin lekas selesai, pada akhirnya lebih banyak jahitan yang harus didedel daripada dibuat. Ketika Shen Yun mengajarinya, ia sendiri kadang tak sabar. Mulutnya bilang pelan-pelan, tetapi tangannya sudah menarik tepi kain lain yang menunggu dijahit. Dulu A-Zhao menganggap nasihat itu terlalu sering diulang. Kini tak ada lagi yang meneruskannya di atas rok ini. Ia justru berhenti sejenak sebelum menyelipkan sisa benang.

Luo Yan datang mengambil roknya dan melihat Azhao telah mengecilkan bagian pinggang sampai tampak pas. Ia tertawa kecil, lalu berkata agar pujiannya menunggu sampai rok itu dicoba. Ia mengenakannya di atas pakaian bawahnya dan berjongkok untuk memungut gulungan benang yang tadi dijatuhkan Azhao. Seketika rok itu membentuk satu garis ketat di pinggangnya. Azhao merabanya, langsung mengernyit, dan buru-buru memintanya melepas rok itu. Ia mengecilkannya menurut ukuran lama Luo Yan, tetapi Luo Yan bilang pinggangnya bertambah besar karena sepanjang musim dingin ia duduk membelah bambu. Kainnya sendiri tak menyusut.

“Longgarkan sedikit, tengah hari nanti aku masih harus makan.” Luo Yan berkata sambil menekan kedua sisi dengan jarinya. “Lebarkan sedikit di kiri dan kanan, jangan ditumpuk semua di belakang. Nanti mengganjal waktu duduk.”

A-Zhao menandainya dengan kapur jahit, lalu membuka ban pinggang dan menyambungnya kembali. Luo Yan tak duduk menunggu. Ia pergi ke pelataran, memungut separuh bilah bambu yang ditinggalkan Ding Quan, lalu melilitkannya sekali pada mulut tabung jarum A-Zhao yang retak. Ketika rok itu dicoba lagi, ia memang sudah bisa berjongkok. A-Zhao tetap menagih dua belas wen sesuai kesepakatan. Saat menghitung uang, Luo Yan mengeluarkan dua wen kurang. A-Zhao baru hendak membuka mulut ketika Luo Yan sudah merogoh lengan baju satunya dan bilang tadi uang untuk membeli daun bawang nyaris ikut kuberikan padamu. Mereka tertawa bersama. Baru saat itu A-Zhao sadar bahwa sepanjang hari ini ia belum pernah tertawa begitu.

Peti bambu itu sudah dilap dan diletakkan di kaki ranjang. Di dasarnya ada gunting, tabung jarum, dan dua baju ganti. Satu baju luar yang lebih tebal masih belum tega ia masukkan di atasnya. Ia berniat menunggu sampai uangnya di tangan, lalu pergi ke Ruancheng mencari toko pakaian yang mau memberinya pekerjaan. Ia tak perlu langsung punya tempat usaha sendiri. Ia bisa mengukur pinggang dan membuat celana anak, dan tetangga datang meminta roknya diubah bukan karena ayahnya menjalankan penyeberangan. Pada malam hari semua itu terpikir begitu jelas. Tetapi begitu siang tiba dan ia melihat sedikit air di buritan, ia kembali tak tahu apa sebenarnya yang begitu ia buru.

Siang itu pembeli ketiga tiba. Namanya Shao Lai, pesuruh toko barang bekas di kota. Bagian atas sepatunya terciprat lumpur, dan ia tampak lebih terus terang daripada dua orang sebelumnya. Ia tidak menanyakan jumlah penumpang, juga tidak menyuruhnya menimba air. Setelah berjalan setengah putaran menyusuri tepi perahu, ia mendadak berjongkok di haluan, menunjuk pelat kuningan itu, berkata benda ini pasti bagus kalau digosok.

Pada pelat itu tertera tiga aksara lama, 何家渡, yang berarti Penyeberangan Keluarga He. Aksaranya kecil, tepinya sudah tumpul karena bertahun-tahun digesek tali tambat dan telapak tangan. Di kiri bawah ada lekuk tipis bekas pukulan Azhao dengan sepotong besi ketika kecil. Saat itu ia ingin meniru ayahnya menambal perahu, tetapi pukulannya meleset. Ayahnya bilang untung yang kena pelat, bukan jari. Sejak itu, setiap menggosok kuningan tersebut, ujung jarinya selalu berhenti sejenak di lekuk itu untuk mencungkil sedikit lumpur.

“Kau mau membeli perahunya sekalian?” tanya A-Zhao.

Shao Lai berdiri dan menepuk-nepuk celananya. Ia berkata repot kalau harus menyeret seluruh perahu ke kota. Ia bisa membeli pelatnya saja dan membayar lebih tinggi daripada harga tembaga kiloan. Ia mengumpulkan barang-barang dari tempat penyeberangan lama untuk sebuah kedai teh. Barang baru terlalu mengilap, sekali lihat saja pengunjung sudah bilang palsu. Tulisan tua dan bekas goresan seperti ini baru terasa hidup kalau dipajang di tepi kolam hias. Soal perahunya, Azhao tetap bisa menjualnya dan mendapat uang lagi dari situ.

Ia bahkan menyampaikannya dengan penuh perhatian. Setelah pelat dicopot, lubang pakunya tinggal disumbat dengan pasak kayu. Kalau kelak orang lain yang menjalankan penyeberangan, namanya toh harus diganti. Mendengarnya, Azhao mula-mula membayangkan tiga ratus wen di tangannya, lalu beberapa lubang kosong di haluan. Ia tahu bahan kuningan itu biasa saja. Ia juga tahu seandainya ayahnya masih hidup, mendengar angka tiga ratus wen mungkin akan membuatnya menimbang-nimbang juga. Ia tak menganggap orang itu jahat, tetapi mendadak ia tak ingin berhitung lagi.

“Pelatnya tak dijual terpisah,” katanya.

Shao Lai mengira A-Zhao merasa tawarannya kurang, jadi ia menambah lima puluh wen. A-Zhao menggeleng. Ia mundur setengah langkah dan tertawa. Katanya untuk apa menjaga sepotong tembaga tua seperti makhluk hidup? Toh perahunya akan dijual juga dan orangnya akan pergi ke tempat lain. A-Zhao tak menanggapi hal itu. Ia hanya membetulkan papan titian di samping kaki Shao Lai agar mantap dan mempersilakannya naik ke darat. Suaranya tak segugup ketika mereka membicarakan harga tadi, dan orang itu pun tak menawar lebih tinggi lagi.

Setelah mengantar Shao Lai pergi, A-Zhao kembali ke haluan. Paku besi kecil yang tadi coba ia putar agar longgar masih miring. A-Zhao mengambil alat, menahan pelat perunggu dengan satu tangan, lalu perlahan mengencangkan kembali paku itu ke posisi semula. Kayunya basah. Gesekan meninggalkan satu garis kehitaman di punggung tangannya. Ia mengusapnya dua kali, tetapi tak hilang seluruhnya. Ia membiarkannya begitu saja dan menunggu sampai pelat itu tak lagi bergoyang, baru duduk di atas papan perahu.

Asap orang memasak makan malam sudah membubung di tepi sungai. Keranjang di kios kue goreng di seberang sudah penuh lagi. Hari ini masih ada satu kali penyeberangan. Azhao merasa seharian ia tak berhasil melakukan apa pun. Namun saat mengulurkan tangan untuk mengambil dayung, ia menyadari peti bambunya masih di rumah dan perahunya masih di sini. Keputusan untuk mempertahankan satu pelat belum membuat salah satu dari keduanya menentukan pilihan terakhir baginya. Air menepuk pelan buritan. Ia menimba dulu dua gayung air yang baru menggenang, lalu melepas tali tambat.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.