Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel panjang tentang kehidupan masyarakat bernuansa klasik

Urusan Kayu di Gunung

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11864 karakter · sekitar 10 menit

Pada hari keenam bulan keempat, Xu Shen dan ibunya naik gerobak pagi ke Shikou. Ibunya membawa keranjang kosong beralas kain lama. Bawaan putranya lebih sedikit lagi, hanya bungkusan kain berlapis minyak yang diikat erat dan disimpan di balik bagian depan baju. Saat gerobak melewati jembatan batu, Asui bertanya apakah itu uang seratus enam puluh wen. Xu Shen mengangguk, dan ibunya tak bicara lagi, beralih memandang sawah yang baru dibalik tanahnya di tepi jalan.

Tuan Hong sedang memilih kayu. Dari enam balok tua di halaman, ada dua yang kelihatan tebal, padahal bagian dalamnya sudah habis dimakan serangga hingga kopong. Sekali diketuk saja bunyinya sudah ketahuan. Xu Shen ikut memeriksa kayu itu, baru mengeluarkan uang. Katanya, balok belakang rumah lama akan dibiarkan di tempatnya. Kayu yang ia peroleh lewat pertukaran itu akan ia bayar tunai seratus enam puluh wen, sesuai kesepakatan semula. Tuan Hong melirik Asui dan bertanya apakah ia sudah bertanya kepada pemilik rumah waktu menjanjikan balok itu. Xu Shen menjawab belum.

“Kalau kau bilang dari awal, belum tentu aku mau balok itu,” kata Tuan Hong, “Aku mau memakainya untuk menambal bagian luar gudang. Tak harus sampai membongkar rumah orang.” Ia tak mengurangi tagihan ataupun menaikkan harga. Ia menghitung uangnya sampai genap, mengeluarkan penanda kain lama yang dulu dipakai mengikat kayu, lalu mencoret tanda utang kayu di sebelahnya. Xu Shen menunggu sampai Tuan Hong menyimpan uang itu, baru bertanya untuk apa kayu panjang yang sudutnya retak tadi masih bisa dipakai jika dipotong pendek.

Tuan Hong bilang kayu itu masih bisa dipakai untuk penyangga pendek atau meja rendah, asal Xu Shen jangan memaksakan diri membuat pintu tinggi lagi. Ia menyuruh pegawainya mengambil potongan kayu lain yang juga pernah retak untuk menunjukkan kepada Xu Shen di mana seratnya berbelok. Xu Shen berjongkok dan mengamati sebentar, lalu mengeluarkan arangnya sendiri dan menggambar tiga garis potong mengikuti retakan. A Sui tidak mengerti soal itu. Ia berdiri di samping, menonton seorang anak di halaman bermain dengan roda kayu. Satu sisinya lebih tinggi dari yang lain, sehingga setiap kali menggelinding, roda itu selalu miring ke satu arah.

Saat mereka hendak pergi, pemilik kedai Hong memanggil dan menawarkan kembali kayu pendek yang dulu ia siapkan sebagai penyangga pengganti ketika balok rumah hendak diambil. Kayu itu miliknya sendiri, di luar hitungan seratus enam puluh wen. Xu Shen tidak menerimanya. Katanya sekarang ia juga tak membutuhkannya, dan tak perlu ada lagi barang yang belum jelas milik siapa. Tuan Hong tertawa terbahak, bilang kalau begitu kayu itu akan ia simpan untuk memperbaiki atap naungannya sendiri. Ia mengayunkan tangan dan menaruh kayu pendek itu kembali ke sudut halaman. Tak seorang pun perlu membawanya sia-sia beberapa li lagi hanya karena basa-basi.

Asui keluar. Baru setelah melewati dua kedai, ia berkata bahwa sejak kecil putranya selalu ingat mengembalikan bahkan pisau kecil yang dipinjamnya. Mengapa ketika menyangkut balok rumah ibunya, ia malah merasa boleh mengambilnya dulu? Xu Shen tak menjawab bahwa ia sejak awal yakin ibunya akan mengizinkan. Ia lebih dulu menunduk dan merapatkan kembali lipatan bajunya, yang kini terasa lebih ringan. Katanya, waktu itu ia berpikir kalau bisa menjual satu pintu yang bagus, setelahnya segala sesuatu bisa ia ganti. Ibunya menatapnya lama sekali, lalu berkata bahwa balok itu bukan ruang kosong yang tinggal menunggu ia isi.

Mereka menumpang gerobak sayur yang pulang ke desa sampai Persimpangan Pohon Huai, lalu berjalan perlahan untuk empat li sisanya. A Sui membawa tongkat dan beristirahat setiap beberapa lama. Xu Shen tidak mendesak. Sesekali ibunya meminta ia memeriksa jalan di depan. Ia berjalan belasan langkah dan kembali setelah memastikan ada bagian yang kering. Tak seorang pun dari mereka berpura-pura bahwa sejak saat itu jalan ini jadi lebih mudah ditempuh.

Serangkai kecil rebung kering tergantung di pintu rumah lama. Istri Chang sedang mengayak bilah bambu tipis di halaman. Melihat mereka, ia lebih dulu memungut sebelah sepatu berlumpur yang terserak dekat pintu, lalu tersenyum dan berkata rumah sedang berantakan hari ini karena baru pagi tadi selesai membalik rebung yang dijemur. Asui masuk dan melihat dua keranjang besar di tempat keranjang jahitnya dulu. Di atas tungku juga ada setempayan asinan sayur yang tak dikenalnya. Langkahnya terhenti sesaat sebelum ia menaruh keranjang kosong di atas meja.

Suami Chang datang dari belakang dengan tangan berlumur tanah. Ia memberi tahu Asui bahwa ruang belakang tak diusik, begitu pula kuncinya. Hanya saja akar di selokan belakang rumah terlalu rapat. Saat membersihkannya ia memotong sedikit akar daun bawang dan tak tahu apakah tanaman itu akan rusak. Asui keluar untuk melihat. Daun bawangnya tumbuh subur. Dua batang paling tepi sempat rebah, tetapi lelaki itu menyangga keduanya dengan ranting hingga lebih tegak daripada ketika Asui sendiri menanamnya. Asui bilang asal masih hidup sudah cukup. Tenggorokannya terasa tercekat dengan cara yang ganjil.

Malam itu ia tidur di ruang belakang. Keluarga Chang meminjami Xu Shen selimut tipis untuk tidur di luar. Dari ruang utama terdengar orang bercakap-cakap. Sepanci kecil sup asin kesukaan mereka sedang dimasak, lebih asin daripada masakan Asui dulu. Awalnya ia ingin mengingatkan agar garamnya dikurangi. Namun setelah mendengar istri Chang bilang mereka berkeringat banyak saat bekerja hari ini, ia membiarkan tirai tetap tertutup.

Istri Chang membawa sepiring kecil sayur acar dan menyuruh mereka mencicipi. Asui buru-buru bilang ia jarang makan itu. Xu Shen malah mengambil sesuap dengan sumpit dan kepedasan sampai air matanya keluar. Istri Chang tak menyangka salah mengambil tempayan dan bergegas mengambil air. Mereka bertiga sempat kelabakan, dan Asui tertawa sampai membungkuk, katanya pedas jahe keluarga itu rupanya sanggup mengusir ulat dari rebung. Istri Chang mengambil tempayan yang benar, meninggalkannya di situ, lalu keluar. Ia tak menyembunyikan tempayan miliknya hanya karena si ibu tua tak memakannya.

Malam itu terdengar sedikit bunyi kayu berongga di kamar belakang. Asui membalik badan dan mendengarkan sejenak. Ia teringat Xu Bo dulu selalu bilang ada tikus di rumah. Ia bangun membawa tongkat dan berkeliling setengah malam, hanya untuk mendapati bahwa serut yang ia taruh sendiri di ambang jendela didorong angin sedikit demi sedikit hingga mengetuk dinding. Asui menertawakannya selama tiga hari. Sejak itu, setiap kali angin bertiup, Xu Bo menyimpan serutnya dulu, lalu sengaja menyodorkan tongkat kepada Asui dan menyuruhnya berjaga dari tikus demi seisi rumah. Kini ia tertawa pelan. Xu Shen di luar mengira ia memanggil dan bertanya ada apa. Asui hanya menjawab tak ada apa-apa.

Putranya duduk di dekat pintu mengupas rebung muda untuknya. Baru separuh dikupas, tampak bekas ulat kecil yang sudah menggerek ke dalam. Katanya buang saja, tetapi ibunya mengambil rebung itu, mengiris bagian yang rusak, dan memasukkan sisa potongan kecilnya ke dalam air bersih. Tidak semua yang rusak bisa dikembalikan seperti semula, tetapi bagian yang masih cukup untuk dimasak sesuap tak perlu ikut dibuang. Ia tidak mengatakan itu kepada putranya. Ia hanya mengisi penuh ceret.

Istri Chang datang agak belakangan dan bertanya apakah uang sewa bulan empat masih perlu dititipkan kepada orang lain. A Sui bilang kebetulan ia sudah di sini, jadi ia langsung menerima empat puluh wen dan tak perlu ada yang datang khusus. Ia menyimpan uang itu di sudut kain yang lain tanpa menitipkannya kepada Xu Shen. Keluarga Chang hanya membayar untuk bulan yang akan mereka tempati ini. Untuk bulan lima dan enam, mereka akan membayar pada awal masing-masing bulan. Mereka tidak membayar empat bulan sekaligus di muka dan tidak pula menunggak sampai A Sui segan menagih.

Keesokan paginya Xu Shen memeriksa bantalan poros pintu. Kayu keras yang dipasang musim dingin itu masih bagus, tetapi serpihan rebung halus menumpuk di tepinya. Ia meminta Pak Chang menyapunya kalau sempat agar bagian itu tidak terus lembap. Pak Chang ingin meminjam pahat kecilnya untuk membulatkan satu sudut kaki bangku di dekat tungku. Xu Shen bertanya sepatah kata lalu menyerahkan pahat itu. Ia berdiri di samping, melihat Pak Chang meraut perlahan tanpa buru-buru mengambil alih. Caranya memang kasar, tetapi ia tahu kapan harus berhenti.

A Sui memilah barang-barang yang tersisa di rumah lama. Dua mangkuk retak ditinggalkan untuk dipakai keluarga Chang, kain lama dibawa ke kota untuk dicuci, dan mantel jerami tua milik Xu Bo, yang sudah diangin-anginkan, tetap tergantung di ruang belakang. Ia tidak melarang orang menyentuhnya, juga tidak mengangkut semuanya ke gerobak. Setelah meraba tepinya yang rapuh dijemur matahari, ia membiarkannya tergantung di sana. Rumah itu tak lagi sunyi hanya untuk menunggu ia membuka pintu. Ia pun tak perlu menyapu bersih separuh awal hidupnya dalam satu hari.

Suami keluarga Chang hendak menjual rebung ke kota kabupaten pada tanggal tujuh. Ibu dan anak itu pun membayar ongkos untuk ikut naik kereta dan tiba selepas tengah hari. Di gerbang barat, A Sui melihat gerobak kecil kedai beras Guiniang juga terparkir di sana. Mendadak ia merasakan kelegaan seperti pulang ke rumah. Ternyata gang sempit yang berbau dedak inilah yang lebih dulu dikenalnya sebagai tempat pulang, bukan sumur di pegunungan.

Du Yin sudah pulang pada hari keenam. Jendela kamar timur terbuka, sepatunya sudah dicuci dan dijemur di samping. Tongkat jalannya bersandar di pintu, seolah lebih pendek satu cun, padahal hanya sedikit kayu di ujungnya yang aus. Ia sedang tidur menelungkup di tepi ranjang. Asui menyuruh putranya pelan-pelan dan meletakkan keranjang di kamar mereka dulu agar tak membangunkannya. Xu Shen melirik tongkat itu. Sol sepatunya sendiri masih membawa lumpur jalan pegunungan. Mendadak ia merasa jarak empat puluh li itu akhirnya punya wujud.

A Sui membentangkan kain lama di dalam keranjang kosong itu. Di dalamnya kini ada setengah ikat bilah bambu halus, pemberian balasan istri Chang. Tadinya ia menolak, tetapi saat keluar ternyata terbawa juga tanpa ia sadari. Istri Chang bilang ia tidak meminta dibuatkan keranjang. Bilah bambu musim semi masih lentur dan tidak menusuk tangan kalau dililitkan di bibir keranjang. Xu Shen mengambil satu dan mencobanya. Dua bagian yang mulai berserabut itu bisa diikat erat. Ia tidak mengerjakan semuanya untuk ibunya. Ia mencontohkan setengah lilitan, lalu mengembalikan bilah itu. A Sui menyambutnya dan menunduk, melilitkannya pelan-pelan.

Menjelang petang Du Yin terbangun dengan garis miring bekas tindihan di rambutnya. Saat membuka pintu dan melihat Xu Shen, ia lebih dulu bertanya apakah kedai mi masih buka. Xu Shen bilang masih, dan keduanya pun menyusuri sungai. Du Yin membawa pulang ragi arak dan sudah mengantarkannya kepada ayahnya. Untuk dirinya ia hanya menyimpan sepotong kecil sutra guna menambal kerah baju lama. Xu Shen bertanya apakah Yuchuan menyenangkan. Du Yin tertawa dan berkata ia pergi untuk bekerja, mana sempat bersenang-senang. Tapi ada pohon di luar rumah tempatnya menginap. Malam-malam burung kerap menabrak jendela hingga mereka berdua mengira ada orang memanggil di pintu.

Ia menyibakkan uap panas yang mengepul di atas mangkuk mi Du Yin, teringat bahwa malam itu ia sendiri juga sedang mendengarkan angin. Ia hampir mengatakannya. Du Yin lebih dulu bercerita bahwa anak bungsu tuan rumah di sana belajar memasukkan benang ke jarum darinya. Ia berhasil memasukkan benang ke sepuluh jarum sekaligus, tetapi akhirnya semua benangnya terlilit pada kancing lengan bajunya sendiri. Xu Shen tertawa sampai salah satu sumpitnya jatuh. Ia membungkuk memungutnya. Saat duduk kembali, Du Yin sudah mengambilkan sepasang yang lain.

Dalam makan bersama itu mereka tidak menentukan kapan akan menikah, dan tak seorang pun berjanji tak akan lagi bepergian jauh. Di tengah makan, Du Yin bertanya apakah Xu Shen masih membuat kotak kecil itu. Xu Shen berkata Nyonya Lu belakangan memesan satu lagi. Du Yin mendongak dan tersenyum. Katanya, jangan anggap tutup jungkit seperti miliknya satu-satunya model yang enak dipakai. Jari orang lain belum tentu seperti jarinya. Xu Shen mengiyakan, mengambil mi dengan sumpit, dan makan sedikit lebih cepat daripada saat baru duduk.

Pada hari kedelapan bulan keempat, A Sui dan anaknya mendatangi Guiniang untuk memperpanjang sewa. Ia mengeluarkan dua pembayaran sewa musiman dari bulan ketiga dan keempat, seluruhnya delapan puluh wen, untuk membayar sebagian dari seratus dua puluh wen sewa bulan berikutnya. Xu Shen menambahkan empat puluh wen. Fang Guiniang menerima dengan harga semula dan bilang kali ini diperpanjang sebulan dulu, sampai hari kesembilan bulan kelima. Seratus dua puluh wen itu tetap seberat pada musim dingin, tetapi kali ini anaknya tidak lagi membayar sekaligus untuk ibunya sampai sekian jauh hingga sang ibu tak perlu bertanya.

Sepulang ke kamar, A Sui mengembalikan keranjang jahit ke bawah jendela. Uang untuk keperluan pribadinya masih sebanyak semula. Membayar sewa tidak menghabiskannya. Ia tahu persis berapa yang tersisa, tak perlu meminta uang kepada anaknya untuk sebatang jarum atau memikirkan kemungkinan terburuk bagi keluarga setiap hendak membeli sepotong kain biru. Xu Shen mencuci kain minyak yang kini kosong, bekas pembungkus uang untuk keluarga Hong, lalu menjemurnya di halaman. Noda minyaknya masih ada, lingkaran samar yang tak hilang dicuci.

Menjelang malam angin bangkit, membalik kain pembungkus kosong di tali jemuran ke satu sisi, lalu ke sisi lain. Xu Shen mengulurkan tangan untuk menjepitnya agar tak lepas. Ia melihat beberapa potong kain kecil yang sudah dicuci juga dijemur di balik pintu kamar timur, dengan warna dari muda hingga tua. Itulah kain yang dibawa pulang Du Yin dari perjalanannya. Ibunya memanggil dari belakang untuk makan. Kali ini ia langsung menyahut, lalu masuk tanpa lebih dulu menguji pintu.

· Akhir bab ·

Buku ini merupakan karya orisinal dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《逢雪宿芙蓉山主人》 (Bermalam di Rumah Tuan Gunung Furong Saat Turun Salju) karya Liu Changqing dan cerpen asli situs ini, 《雪夜留门》 (Pintu Terbuka pada Malam Bersalju). Tokoh, kota kabupaten, rute, dan alurnya sepenuhnya rekaan dalam dunia berlatar nuansa Dinasti Tang, bukan terjemahan puisi asli ataupun biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Kamar yang Menghadap Selatan Itu
  2. Salju Sampai ke Ambang Pintu
  3. Mangkuk Ketiga
  4. Sebelum Daun Pintu Roboh
  5. Aksara Hitam di Persimpangan
  6. Gerbang Kota Selepas Tengah Hari
  7. Api Pinjaman dari Halaman
  8. Sebuah Pintu yang Sepadan
  9. Pintu yang Tak Jadi Diketuk Tengah Hari
  10. Papan Penunjuk Jalan Diputar Menghadap Arah Lain
  11. Sepasang Tangan di Sisi Keranjang Jahit
  12. Lelehan Salju Merembes ke Dinding Selatan
  13. Tempat Duduk Saat Pulang Kampung
  14. Satu Takik Penggaris yang Terlewat
  15. Tangan di Bawah Pintu Itu
  16. Kata-Kata yang Diucapkan Ibu untuknya
  17. Kayu Bahan Pintu Bertumpuk di Kedai Teh
  18. Jalan Pintas yang Tak Bisa Dilalui Gerobak
  19. Halaman Belakang Rumah Siapa
  20. Satu Pikulan Barang, Dua Utas Tali
  21. Da Xiu Membawa Pergi Pancinya
  22. Bangku yang Tak Diduduki Siapa Pun
  23. Siapa yang Menjanjikan Rumah Lama Itu?
  24. Menaruh Pintu Baru di Tengah Hujan
  25. Kamar yang Belum Dilepas
  26. Sisir yang Tertinggal di Bengkel Kayu
  27. Tak Ada Nama Siapa Pun di Papan Itu
  28. Ruangan Hangat Tak Bisa Menjadi Obat
  29. Ajakan Sebelum Duanwu
  30. Keranjang Jahit yang Tak Jadi Dijual
  31. Kedai Teh Menjalani Hari-harinya Sendiri
  32. Urusan Kayu di Gunung
  33. Dari Tangan Siapa Pikul Itu Patut Diterima
  34. Sepanci Nasi yang Tak Perlu Keburu Dingin
  35. Memperbaiki Pintu untuk Orang yang Masih Hidup
  36. Sudah Sejauh Mana Matahari Turun

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.