Novel panjang tentang kehidupan masyarakat bernuansa klasik
Salju Sampai ke Ambang Pintu
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11818 karakter · sekitar 10 menit
Asui memasukkan tempayan garam ke keranjang bambu, lalu mengeluarkannya lagi. Ada retak halus di mulut tempayan. Kalau dibungkus kain, tempat yang terpakai jadi sedikit lebih banyak. Kalau dibiarkan, ia takut membawa sekeranjang pecahan porselen ke rumah yang baru disewa putranya. Ia memandangi tempayan itu sejenak, lalu pergi menakar setengah gayung beras. Mendengar beras jatuh ke panci, Huangdou perlahan bergeser keluar dari balik pintu, mengira hari ini ia akan kebagian sesuap lagi.
Api tungku baru saja menyala ketika uap putih mulai mengepul dari bibir panci. A Sui menarik bangku rendah mendekat dengan kaki, menekan kedua telapak tangannya ke lutut, dan menunggu nyeri dingin itu mereda. Di petak sayur di luar pintu tinggal beberapa batang sayuran hijau yang belum tumbuh betul. Embun beku menggulung tepi daunnya seperti lingkaran benang putus. Kemarin ia hendak memetiknya, tetapi kemudian berpikir kalau dibiarkan sehari lagi, barangkali bisa tumbuh sesuap kecil. Kalau anaknya ada di sini, pasti ia akan bertanya apa memangnya yang akan terjadi kalau kurang sesuap.
Yang kurang baginya bukan sesuap sayur itu. Ia ingin tahu, saat pergi nanti, urusan mana yang sudah bisa dianggap selesai. Di atas lemari ada buntalan kain tua berisi tali penanda bertinta yang dulu dipakai mendiang suaminya. Talinya sudah getas, tintanya pun mengeras sampai tak mengeluarkan warna ketika ditekan. Ia tetap menurunkannya dan menepuk-nepuknya. Di sebelah buntalan itu ada dua pasang sandal jerami yang baru selesai dianyamnya. Solnya rapat dan akan mengganjal kaki saat dipakai. Ia ingin membawanya ke kota untuk diperlihatkan kepada orang, tetapi khawatir putranya akan menertawakan dia yang sudah pindah ke kota namun masih mau menempuh jalan gunung.
Ketika Bibi Liu masuk, A Sui sedang membungkus sepatu jerami dengan kain. Huangdou mengenali langkahnya. Ia hanya mengangkat kepala dan menyapu lantai dengan ekornya dua kali. Begitu melihat panci, Bibi Liu berkata rupanya A Sui sudah tahu ia akan datang, sampai-sampai memasukkan lebih banyak beras. A Sui bilang tidak, kalaupun berasnya ditambah, itu untuk anaknya. Selesai berkata, ia mengambil mangkuk kedua dan mengisinya separuh dengan bubur yang kental, menyisakan bagian yang lebih encer di dasar panci untuk dirinya.
Bibi Liu tak menyambut mangkuk itu dan malah menyendokkan kembali separuh isinya. Setelah dua kali saling menyodorkan, Bibi Liu akhirnya makan sambil berdiri, katanya kalau Asui masih mendesak, sama saja ia memakan jatah sarapan Asui. Asui tertawa, mengomel bahwa Bibi Liu datang untuk mengakali orang demi semangkuk bubur, lalu menyuruhnya duduk. Baru setelah duduk mantap, Asui sadar bahwa punggungnya sejak tadi tegang, seolah begitu ia duduk dengan benar, rumah ini kembali terasa bisa ditempati satu musim dingin lagi.
Bibi Liu membawa seikat tali rami kasar. Katanya itu sisa mengikat kayu bakar tahun lalu, jadi jangan risih kalau masih ada serpihan kayu yang melekat. Serangkai kunci di pinggangnya membentur tepi mangkuk dengan bunyi nyaring. Asui bertanya apakah kunci kedai teh juga dibawanya. Bibi Liu mengangguk. Atap yang ditambal bulan lalu sudah bertahan melewati dua kali hujan. Kalau hari ini benar-benar turun salju, pas sekali untuk melihat apakah masih bocor. Ia mengatakannya seperti membicarakan perkara sambil lalu, tetapi tangannya meremas kunci terpanjang di pinggangnya.
Kedai teh sudah tutup dua tahun, tetapi setiap pergi ke pasar Bibi Liu masih masuk untuk beristirahat. Putranya meminta bangku panjangnya dibawa ke kedai minyak. Beberapa kali ia mengiyakan, dan beberapa kali pula ia lupa. Asui tahu Bibi Liu tidak benar-benar lupa, jadi ia tak ikut mengingatkan. Sambil mengerik dasar mangkuk, Bibi Liu bilang awal musim semi ia ingin menyeduh sedikit teh lagi. Pelanggan dari kota tahu teh baru, sedangkan ia cuma bisa menjual teh encer dari teko besar. Entah masih ada yang mau meminumnya.
“Kalau haus, ya diminum,” jawab Asui cepat. “Lagi pula Shen'er sekarang di kota, dan yang berurusan dengannya semuanya orang yang menggarap bagian depan toko. Siapa pun yang pintunya pernah ia perbaiki pasti mengenalnya.”
Bibi Liu mendongak dan tersenyum. A Sui ikut tersenyum. Setelah itu, mendadak ia ingin Bibi Liu bertanya sedikit lagi tentang bagaimana pekerjaan anaknya sekarang. Namun Bibi Liu malah hanya bertanya apakah kedua pasang sepatu itu disisakan untuk digigiti anjing. A Sui merapatkan bungkusan kainnya. Ia tak mengatakan bahwa ucapannya tadi cuma dugaan. Setiap kali Xu Shen pulang, yang diceritakannya selalu soal pekerjaan kayu, berapa batang yang digergaji atau bagaimana kayu retak karena lembap terkena hujan. Ia tak suka bercerita tentang bagaimana orang menyapanya.
Bibi Liu membantu mengumpulkan sebuntal pakaian dan memilih sehelai baju pendek yang kain di lengannya sudah tipis sampai tembus pandang. A Sui bilang baju itu sudah bertahun-tahun kena asap dapur dan paling hangat kalau dipakai sebagai lapisan dalam saat musim dingin. Bibi Liu menaruhnya kembali tanpa menyuruhnya membuang baju itu. Lalu ia meraba ke belakang tungku dan mengeluarkan sepotong kayu keras, katanya yang ini jangan sampai ikut makan tempat di kereta. A Sui menerimanya dan mengenali sisa kayu yang dipakai Xu Bo untuk mengganti poros penggilingan batu. Bagian tengahnya padat dan sudah bertahun-tahun tersimpan di belakang tungku. Ia pun menyelipkannya kembali ke tempat semula.
“Kalau datang, dia pasti mau mengambilnya,” katanya. Padahal terakhir kali anaknya datang, ia sama sekali tak melirik ke sana.
Belum tengah hari, langit sudah merendah. Bibi Liu khawatir salju akan turun. Ia mencuci mangkuk yang sudah kosong dan tak mau tinggal menunggu Xu Shen. Asui mengantarnya sampai tepi halaman. Ia memandangi kedua ujung celana yang terikat rapat itu melangkah bergantian di antara rumput kering, lalu tiba-tiba memanggil Bibi Liu dan bertanya apakah jembatan di sungai sebelah selatan kota sudah disambung lebih panjang lagi. Bibi Liu menoleh dan bilang ia sendiri belum pernah melihatnya, sementara Asui sudah memikirkannya duluan. Asui bilang ia mendengarnya dari orang yang lewat dan cuma ingin bertanya. Ia berbalik masuk, masih tak bisa menahan senyum kecil di sudut bibirnya.
Ketika Xu Shen tiba, beberapa butir salju halus menempel pada gulungan selimut di bahunya. Huangdou mula-mula menggonggong. Setelah dua gonggongan ia mengenalinya dan langsung merapat ke kakinya, nyaris mendorongnya ke kusen. Dengan satu tangan menahan anjing dan tangan lain mengangkat pintu, bahkan sebelum kakinya berpijak mantap, Xu Shen sudah bertanya kenapa pintu ini turun lagi. A Sui menyambut buntalannya. Mendengar kata ‘lagi’, ia ingat bahwa terakhir kali putranya cuma menyelipkan sepotong bambu tipis ke celah palang.
Ia meletakkan selimut baru di ranjang dan meraba tepinya, seperti orang memeriksa benda kayu yang bisa berubah bentuk begitu ditinggal beberapa bulan. A Sui menyuruhnya makan dulu, tetapi ia tetap berdiri di pintu dan mencoba membuka serta menutupnya. Begitu bagian bawah pintu bergerak, serpihan kayu berjatuhan pelan dari bawah. Ia berjongkok dan merabanya. Serbuk lunak kelabu pucat melekat di bantalan jarinya dan wajahnya sedikit muram. Poros atas masih baik, tetapi lubang dudukan bawah sudah terkikis makin dalam, dan keping bambu yang dulu dijadikan ganjal sudah aus sampai tembus.
“Besok pagi kita berangkat.” Ia berdiri dan menepuk-nepuk tangannya. “Entah kau dengar atau tidak waktu terakhir kali aku bilang jangan menjejalkan kayu bakar di belakang pintu.”
A Sui memandangi dua ikat kecil kayu bakar kering itu tanpa menjawab. Kalau hujan, kayu itu akan basah di halaman. Di belakang pintu itulah tempat kering terdekat yang bisa dijangkaunya. Baru masuk, anaknya langsung melihat pintu. Ia tidak melihat lantai di sisi ranjang yang baru disapu, juga tidak melihat dua alas kain kecil yang disisihkan ibunya untuk rumah baru. A Sui menuang kembali bubur jatahnya ke panci untuk dipanaskan. Ia sengaja membenturkan sendok sayur ke bibir besi sedikit lebih keras dari biasanya.
Xu Shen mendengarnya, lalu menoleh dan bertanya apakah apinya kurang besar. A Sui bilang besar, besar sekali, lalu bertanya apakah ranjang itu perlu digergaji juga untuk dibawa. Barulah ia tertawa dan menjawab bahwa di kota sudah ada ranjang, tak perlu memanggul barang tua ini. Begitu menyebut jendela selatan, suaranya menjadi cerah. Ia menggerakkan tangan di dinding untuk menunjukkan seberkas cahaya miring, sampai menjelaskan dengan rinci meja kecil mana yang bisa ditaruh di bawah jendela. A Sui mendengarkan. Kekesalannya tadi melonggar di tengah uap panas, tetapi belum ia lupakan.
Seusai makan, mereka kembali berkemas, lalu sama-sama terhenti di depan lemari besar. Xu Shen berkata, selebar apa pun gerobaknya, lemari itu sebaiknya tak dibawa. Ia sudah mengukur pintu tempat tinggal di kota dan lemari itu tak akan muat. Asui membuka laci terbawah dan mengeluarkan gulungan benang sebesar setengah mangkuk, beberapa jarum yang dibungkus kain, dan sebuah cermin perunggu kecil yang sudah kusam. Isi lemari itu memang tak seberapa. Ia mendorong lacinya masuk lagi dan bertanya di mana sisanya akan ditaruh. Untuk sesaat Xu Shen pun tak bisa menjawab.
Pada akhirnya mereka hanya mengambil satu laci. Xu Shen melepas pasak kayunya dan Asui mengelap dasar laci dengan baju lama. Katanya, kalau di kota tak ada lemari, laci ini cukup ditaruh di bawah ranjang. Xu Shen melihat wadah alat jahit yang gagal dibuat di dalamnya, dengan bekas gergaji di sisi. Ia baru hendak bertanya ketika ibunya sudah menaruh cermin perunggu tertelungkup di atas wadah itu. Wadah itu pernah ia ukir. Rupanya ibunya memungut kembali separuhnya dari bawah kaki meja dan tak pernah menceritakannya kepadanya.
Ketika salju semakin rapat, Xu Shen pergi ke halaman untuk memilah kayu bakar. A Sui mengira ia hendak membakar sisanya, lalu buru-buru mendekat ke pintu untuk melihat. Ia membawa masuk kayu secukupnya untuk malam itu, menumpuk sisanya di sudut tembok, menutupnya dengan tikar usang, lalu bertanya apakah dua pasang sandal jerami ibunya akan dibawa. Sebelum ibunya menjawab, ia sudah berkata bahwa sepatu kain bisa dibeli di kota; musim dingin tak perlu memakai yang ini. Ibunya menatap sandal di tangannya, meraih dan mengambilnya kembali, hanya berkata simpan dulu, tak akan menghalangimu membentangkan selimut.
Sampai hari gelap, palang pintu masih susah dimasukkan. Xu Shen melepasnya dan memanfaatkan sisa cahaya di rumah untuk menyerut salah satu sisinya. Ia mencoba dua kali, tanpa berani melepas seluruh daun pintu. Lubang poros di dinding juga sudah tua. Kalau dibor sebelum menemukan bagian yang masih keras, lubangnya bisa makin longgar. Bor panjangnya tertinggal di bengkel, dan pahat kecil yang dibawanya hanya cukup untuk memperbaikinya pelan-pelan. Melihatnya mengernyit, Asui bilang sesudah mereka pergi besok, tak akan ada yang melihat kalau pintunya tak menutup rapat. Buat apa bersusah payah. Xu Shen tak menjawab. Ia menyandarkan palang kayu ke sisi tungku dan mengangkat air yang sudah lama dingin.
Empat li dari sana, papan penunjuk di Persimpangan Pohon Huai hanya terlihat separuh sudutnya. Chen Sheng menggeser tali pikulan ke belakang bahu dan menepis salju dari papan. Ia bisa mengenali aksara 城 yang berarti kota, tetapi ujung panahnya tak terlihat jelas. Semalam ia menginap di Shikou. Pagi ini tadinya ia ingin tiba lebih awal di kota kabupaten untuk menerima upah, tetapi ia mampir mengantarkan benang kasar ke sebuah rumah dan harus memutar sedikit. Ia pun tak rela berhenti untuk menjahit sol sepatunya yang sudah menganga karena aus.
Yang dipikulnya adalah dua puluh empat tempayan kasar, dialasi jerami dan ditata dalam keranjang besar di satu ujung. Di ujung lain, kain minyak membungkus kain katun dan barang-barang kecil. Semua tempayan itu kosong, tetapi tetap membuat bahunya kebas. Salju menumpuk membentuk lingkaran putih di mulut tempayan. Setiap menempuh sepotong jalan ia harus menyibakkannya, takut jerami basah melekat pada dinding tempayan dan sesampainya di toko ia dibilang tak membersihkannya dengan benar. Toko obat menghitung upah menurut jarak, tetapi kalau ada tempayan pecah, jumlahnya dihitung dengan ketelitian istimewa.
Begitu masuk ke hutan cemara kedua lewat jalan cabang itu, ia sudah tahu ada yang keliru. Jalan besar semestinya tidak menanjak securam itu, dan di tepinya mestinya ada lebih dari jejak lama satu orang. Ia menurunkan pikulannya untuk mengambil sedikit bekal kering, tetapi tali tua yang lembap di ujung belakang mendadak lepas. Tempayan tanah liat menghantam batu yang membeku keras, suaranya bertumpuk rapat seperti seseorang buru-buru menabuh genderang kecil di bawah salju. Ia mengulurkan tangan untuk menahan, tetapi telapak tangannya hanya menyentuh pecahan yang dingin.
Setelah hitungannya sampai dua belas, ia berhenti. Barang di sisi yang terbungkus kain minyak masih selamat. Ia melindungi kain kapas terlebih dulu, memindahkan tempayan yang belum pecah ke depannya, lalu berulang kali mencoba menyeimbangkan pikulan, tetap tak berhasil. Salju merembes lewat sol yang menganga. Setiap langkah serasa menekan serpihan es di bawah jari-jari kaki. Dari jauh ia melihat sebuah atap rendah dan mengira itu kedai teh. Setelah mendekat, ia malah mendengar anjing menggonggong dan seseorang menyahut dari dalam dengan suara yang terdengar agak tua.
Chen Sheng berhenti di luar halaman, meletakkan pikulan yang miring di sisi kaki dan mengetuk pelan pintu kayu dengan punggung tangan. Dari balik pintu terdengar bunyi kayu dikerik berulang-ulang, lalu berhenti. Ia mula-mula bilang dirinya salah jalan, kemudian bertanya apakah boleh meminta sedikit air panas. Suaranya begitu pelan hingga hampir ditelan salju. Seorang lelaki di balik pintu bilang mereka akan pindah besok. Chen Sheng buru-buru mundur ke samping sambil bilang ia mengerti, tetapi tangannya masih menggenggam keranjang bambu yang sudah tak bertali.
· Akhir bab ·
Buku ini merupakan karya orisinal dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《逢雪宿芙蓉山主人》 (Bermalam di Rumah Tuan Gunung Furong Saat Turun Salju) karya Liu Changqing dan cerpen asli situs ini, 《雪夜留门》 (Pintu Terbuka pada Malam Bersalju). Tokoh, kota kabupaten, rute, dan alurnya sepenuhnya rekaan dalam dunia berlatar nuansa Dinasti Tang, bukan terjemahan puisi asli ataupun biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →