Novel panjang tentang kehidupan masyarakat bernuansa klasik
Papan Penunjuk Jalan Diputar Menghadap Arah Lain
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11366 karakter · sekitar 10 menit
Chen Sheng menginap sembilan malam di serambi belakang toko obat. Semula ia hanya ingin menunggu barang selesai dihitung lalu pulang. Kebetulan Zhou Tong hendak mengosongkan halaman belakang dan menawarinya pekerjaan mengangkut peti kayu selama beberapa hari. Upahnya tak kalah dengan menempuh perjalanan jauh, dan ia pun tak perlu membayar tempat tidur. Setelah bekerja tiga hari ia menambah dua hari lagi. Kemudian, sambil menunggu bilah bambu dan barang-barang kecil yang dititipkan untuk dibawa pulang, ia tinggal tiga hari lagi. Siang hari ia menjaga barang di halaman belakang tanpa mengambil upah tambahan. Meraba kantong uangnya yang makin tebal, ia merasa kedua belas guci yang pecah itu akhirnya bukan lagi satu-satunya yang tersisa dari perjalanan ini.
Pada malam kesembilan, pesan yang dititipkan kakaknya akhirnya tiba juga, menanyakan apakah jalan ke Qinglan begitu jauh sampai untuk berbalik pulang saja perlu sebulan. Seusai membaca, Chen Sheng langsung mengemasi barang. Ia pernah terpikir untuk bekerja lama di kota. Namun setiap malam ia mendengar pegawai toko bercanda dengan keakraban yang tak ia miliki, sementara untuk tahu peti mana yang mesti diletakkan lebih dulu pun ia masih menunggu petunjuk. Kalau betul setiap hari begini, ia hanya akan berganti pikulan, dan pikulan itu pun bukan miliknya.
Ketika meninggalkan kota, ia membawa pulang dua ikat bilah bambu, satu kantong kain bersih, dan sebungkus barang kecil titipan yang jelas nama pemiliknya. Zhou Tong bilang kelak halaman belakang kedai obat mungkin akan dirombak. Kalau ada tukang kayu andal yang mau menangani pekerjaan itu, pikirannya juga lebih tenang. Chen Sheng pun menyebut Xu Shen dan terus memujinya sampai bercerita bagaimana pintu malam itu langsung menutup rapat dengan dorongan ringan. Zhou Tong mengangguk. Ia tak langsung bilang semua barang kelak akan dipercayakan kepadanya, tetapi Chen Sheng sudah menyimpan sedikit lebih banyak harapan untuk perjalanan berikutnya.
Hari kedelapan belas cerah. Salju di pinggir jalan sudah menipis, tetapi lumpur di bawah kaki justru menyulitkan langkah. Setiap bertemu genangan, Chen Sheng berganti tangan memegangi keranjangnya, tak ingin sepatu yang baru ditambal kembali terbenam dalam lumpur. Ia sudah membeli segulung kecil benang rami, tetapi pada tali pikul lama ia hanya menambah dua lilitan di bagian yang putus. Pikirnya, sesampainya di Gaopu nanti, kakaknya tentu lebih pandai menganyam daripada dirinya. Ia sudah menanyakan harga satu set tali baru, tetapi setelah mendengarnya, ia menyimpan kembali uangnya.
Sesampainya di persimpangan pohon huai, papan baru itu sudah tak ada di bawah pohon. Chen Sheng mula-mula mengira ia salah jalan. Ia berhenti dan melihat ke kedua sisi. Pohon-pohon cemara, mulut parit, dan bekas roda lama masih ada. Papan itu berada di samping rumah kecil Zhou Qiao, sekitar belasan langkah dari persimpangan, diganjal sebongkah batu. Letaknya tegak dan rapi, dan tulisannya masih lengkap. Kalau datang dari utara lewat jalan utama, papan itu sudah terlihat dari jauh. Namun kalau meraba jalan keluar dari arah timur seperti yang ia lakukan malam itu, papan itu justru tertutup sudut teritis rumah kecil tersebut.
Zhou Qiao duduk di sisi pintu mengupas lobak. Melihat Chen Sheng, ia masih sempat tertawa dan bertanya apakah kali ini ia tidak sampai ke rumah keluarga Lin. Chen Sheng tidak langsung menyalahkannya. Ia lebih dulu bertanya bagaimana papan itu bisa ada di sini. Zhou Qiao berkata salju yang mencair sudah membuat kubangan lumpur di bawah pohon. Kaki papan nyaris terendam, jadi dipindahkannya ke tempat yang lebih kering. Lalu ia bertanya, papan sudah dipasang sebagus ini, apa orang lain masih harus berjalan menurut mata seseorang?
Chen Sheng menurunkan pikulannya dan menunduk memandangi batu-batu. Papannya tak rusak dan Zhou Qiao juga tak menuliskan nama lain di atasnya. Kalau ia bilang orang itu sengaja membuat para pelintas memutar, rasanya seperti menyudutkannya dengan sesuatu yang tak pernah terjadi. Namun begitu ia mundur beberapa langkah, ia kembali tak tahu jalan mana yang ditunjuk anak panah itu. Ia bergeser lagi, dan Zhou Qiao menunjuk dengan pisau kecil pengupas lobak, menyuruhnya berhati-hati agar sudut papan tak membentur kaki orang yang lewat.
Keduanya berdiri di persimpangan. Zhou Qiao berkata bahwa kota kabupaten tentu ada di selatan. Siapa pula yang akan naik ke gunung? Chen Sheng tadinya hendak menjawab bahwa ia sendiri pernah ke sana, tetapi sebelum bicara ia merasa jawaban itu hanya akan memamerkan kebodohannya lagi. Ia cuma bilang bahwa kalau salju turun malam-malam, orang belum tentu bisa melihat sejelas pada siang hari. Zhou Qiao pun mendongak ke langit dan berkata kalau setiap malam bersalju di dunia ini harus diberi papan penunjuk tersendiri, kayunya akan lebih dulu lelah daripada orangnya.
Nada bicaranya seperti bergurau, tetapi Chen Sheng tak tertawa. Kalau hanya selisih belasan langkah, ia mungkin tak akan ambil hati meski harus berjalan balik dengan pikulan di bahu. Tetapi sungguh berdiri di persimpangan dan tak tahu arah adalah perkara yang tak bisa ditebus dengan semangkuk air panas. Ia kembali ke rumah kepala desa Tao, ingin meminta kepastian dari seseorang yang perkataannya lebih berbobot daripada perkataannya sendiri. Kepala desa Tao sedang mengangkat jerami bersama orang lain. Setelah mendengarnya, ia hanya meminta Chen Sheng memberi jalan di persimpangan dulu.
Setelah jerami selesai diangkut, lelaki tua itu menepuk-nepuk bajunya dan berkata bahwa papan di jalan resmi itulah yang lebih dulu rusak. Ia sudah mengirim kabar, tetapi belum tahu kapan orang akan datang memasangnya. Karena kalian yang memasang papan baru itu, mestinya kalian lebih tahu daripada orang lain ke mana jalannya. Kalau tulisannya keliru, hanya karena ia bermarga Tao, ia tak bisa menanggung setiap langkah orang yang membawa pikulan. Chen Sheng akhirnya hanya meminta pinjam palu. Lelaki tua itu meminjamkannya dan sebelum Chen Sheng pergi, menyelipkan pula dua paku lama ke tangannya.
Ketika Chen Sheng kembali ke persimpangan, istri Zhou Qiao sedang membawa keluar sebaskom air panas. Air yang disiramkan ke salju mula-mula mengepulkan uap putih, lalu menyingkap lumpur hitam. Ia menyuruh kedua lelaki itu jangan cuma berdiri dan bicara. Kalau letak papan belum bisa ditentukan, ratakan dulu dengan sekop bagian yang akan dilalui orang. Zhou Qiao berdiri dengan agak enggan dan Chen Sheng mengambil sekop pendek. Mereka menggali parit kecil agar air lelehan salju bisa mengalir lebih dulu dari samping akar pohon. Akhirnya papan itu bisa dipindahkan dari bawah teritisan dan ditegakkan kembali di tempat yang memungkinkan kedua arah jalan terlihat.
Pakunya sudah lama, dan pukulan pertama membuatnya miring. Zhou Qiao mengulurkan tangan untuk menahan papan dan menggerutu bahwa Chen Sheng cuma pandai memilih pekerjaan mahal untuk orang lain. Wajah Chen Sheng memanas. Ia menegakkan paku dan mengayunkan palu lagi. Tiba-tiba ia berpikir, kalau orang ini cuma berniat mencelakakan orang, buat apa ia berdiri di sini dengan tangan sedekat itu pada ayunan palu? Zhou Qiao memang mendapat untung dari memindahkan papan, dan bantuannya sekarang juga sungguh-sungguh. Urusan ini tak sesederhana mendengar sekali gonggongan anjing di malam hari lalu menyimpulkan pintu mana yang bersedia dibuka.
Setelah papan terpasang, Zhou Qiao menunjuk ke belakang rumah dan bilang kalau benar hendak ke Shikou, lewat sana bisa memangkas tiga li. Gerobak kecil keluarganya sudah berkali-kali lewat dan tak pernah ada yang jatuh. Chen Sheng mengikuti arah telunjuknya. Ia hanya melihat sepotong lereng yang agak kering, selebihnya tertutup rumpun bambu. Ia ingat Xu Shen menyebut jalan utama, tetapi kali ini ia tak mau seperti orang yang hanya bisa membaca aksara besar di papan. Ia pun berjalan sedikit ke arah sana. Sol sepatunya menginjak alur roda yang lebar.
Jejak roda itu ditinggalkan gerobak ringan yang dipakai keluarga Zhou untuk mengangkut sayur. Tak ada kayu panjang menjulur dari belakangnya. Chen Sheng tak mengikuti jejak itu sampai lewat tikungan. Ia berdiri sambil berpikir bahwa kalau sudah ada jejak roda, jalan itu tentu tak akan menipunya. Saat kembali, ia bilang lain kali kalau sempat ia juga akan mencobanya. Zhou Qiao mendengar itu dan untuk pertama kalinya hari itu tampak benar-benar puas. Katanya, mari minum air dulu, masih lebih baik daripada berputar lagi mengelilingi separuh gunung.
Chen Sheng tak menambahkan jalan pintas itu ke papan. Ia tak membawa arang dan tak berani menulis sembarangan. Ia sendiri belum menyusuri jalan itu sampai tuntas. Kelak ia bisa menunjukkannya kepada Xu Shen, pasti ada yang bisa merumuskan beberapa kalimat yang mencakup segala hal penting. Ia menyimpan urusan yang belum selesai itu dalam hati, seperti menyisakan satu pekerjaan halus yang memang bisa ditunda sampai besok. Soal dalam cuaca seperti apa dan dengan beban apa orang bisa melewati jalan itu, saat itu belum ia pikirkan masak-masak.
Setibanya di kedai teh, ia melihat sepasang sepatu basah sudah tergantung di luar. Hatinya langsung mencelos, mengira ada lagi orang yang tersesat dan sedang kedinginan di dalam. Namun yang ditemuinya hanya seorang penjual kertas berusia tiga puluhan. Ia memakai sepasang sepatu jerami yang agak kekecilan dan sedang memeras kaus kakinya. Katanya ia tidak tersesat. Ia hanya terpeleset ke air saat menyeberangi jembatan batu. Rumah keluarga Lin kini kosong, dan baru setelah bertanya ke sana kemari ia tahu bisa beristirahat di sini.
Sepatu itu ditinggalkan Asui. Chen Sheng mengenali seutas benang biru samar di tepinya. Pada malam bersalju itu ia juga pernah meminjam sepatu yang sama tebal dan rapat anyamannya. Ia hendak memberi tahu si penjual kertas siapa yang menganyamnya, tetapi merasa itu hanya akan membuat orang itu harus berterima kasih kepada tuan rumah yang sedang tak ada. Jadi ia hanya bilang sepatunya hangat dipakai, tak perlu buru-buru. Si penjual kertas bertanya apakah di kedai itu ia bisa membeli sesuap nasi hangat. Chen Sheng mendorong pintu dapur. Pintunya terkunci, jadi ia hanya bisa menggeleng.
Keduanya mengeluarkan kue dingin masing-masing, dan Chen Sheng membagi sedikit sayur asin dari bungkusannya. Penjual boneka kertas makan dengan cepat. Setelah habis, ia bertanya ke mana keluarga Lin pindah dan apakah kelak pintu rumah itu masih akan dibuka. Chen Sheng bilang mereka sudah pindah ke kota. Si ibu ikut putranya, seorang tukang kayu yang sedang membuat pintu bagus untuk Toko Obat Ji’an. Saat mengatakan ‘pintu bagus’, nadanya seolah ia sudah melihat sendiri pintu itu berdiri kokoh.
Sebetulnya ia hanya pernah melihat satu rancangan pintu dan beberapa batang kayu yang belum digergaji. Namun kalau pada saat ini ia enggan sekadar menyebutnya pintu yang bagus, rasanya sama saja dengan tak mengakui dalam hati kehangatan yang dipinjamkan orang kepadanya malam itu. Ia melanjutkan ceritanya bahwa Xu Shen tak mau memakai kayu lembap dan semalam lama mengasah mata pahat di bengkel. Si penjual kertas mengangguk mendengarnya. Katanya jarang ada orang yang tangannya mantap, dan lain kali kalau ada yang perlu diperbaiki di rumah, ia pun akan datang bertanya.
Hati Chen Sheng menghangat. Rupanya selain memikul barang, ia juga bisa mendatangkan seorang calon pelanggan untuk orang yang pernah membantunya. Ia belum tahu seberapa jauh orang akan menganggap keyakinannya itu bersumber dari sesuatu yang dilihatnya sendiri. Ia juga belum memikirkan ke mana ia akan mundur jika kelak ada bagian pintu yang tak kokoh. Saat itu kaus kaki penjual kertas sudah diperas. Mereka berpisah di mulut kedai, masing-masing memanggul barang lama yang masih basah.
Persimpangan berikutnya masih jauh dari Gaopu. Sambil berjalan, Chen Sheng teringat batu asah jarum tambahan yang diminta kakaknya. Baru saat itu ia sadar bahwa karena sibuk menjaga peti orang lain di kota, ia malah lupa membelinya. Ia berhenti sejenak dan menoleh. Terlalu jauh untuk kembali, bahkan ia harus menambah satu malam lagi di jalan. Uang di kantongnya tidak lebih sedikit daripada ketika datang, tetapi perkara yang dilupakannya tetap ada. Hanya karena ia pernah memasang satu papan penunjuk, urusannya tak berkurang satu pun.
Ia duduk di atas batu dan mengencangkan lagi lilitan pada bagian tali yang putus. Jarinya masuk ke kantong uang dan menyentuh beberapa keping licin yang ia terima di kedai obat. Akhirnya ia tak lagi takut seperti pada malam pertama, seakan sekali meraba ia akan menyentuh pecahan tempayan. Ia menarik tangannya. Saat mengangkat pikulan, ia menguji keseimbangannya dulu, tanpa buru-buru membebankan yang terberat ke bahunya sendiri. Jejak roda gerobak keluarga Zhou masih di benaknya. Sesampainya di Gaopu, ia berniat memberi tahu kakaknya bahwa kini ia tahu lebih dari satu jalan.
Menjelang malam, Zhou Qiao membereskan kulit lobak. Saat melewati papan yang sudah tegak kembali, ia tak tahan untuk menginjak-injak tanah yang gembur. Papannya tidak roboh. Ia melihat ruang kosong di bawah tulisan ‘kota kabupaten’ dan berpikir kelak ada baiknya menambah satu baris tentang makanan yang dijual keluarganya. Orang yang sungguh lapar perlu tahu di mana ada makanan. Ia tidak menggeser papan lagi, hanya menggeser lampu di depan pintu sedikit ke luar, hingga parit kecil yang baru digali di tepi persimpangan tersinari. Air masih mengalir tipis di dalamnya, tanpa menunggu siapa pun selesai bekerja.
· Akhir bab ·
Buku ini merupakan karya orisinal dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《逢雪宿芙蓉山主人》 (Bermalam di Rumah Tuan Gunung Furong Saat Turun Salju) karya Liu Changqing dan cerpen asli situs ini, 《雪夜留门》 (Pintu Terbuka pada Malam Bersalju). Tokoh, kota kabupaten, rute, dan alurnya sepenuhnya rekaan dalam dunia berlatar nuansa Dinasti Tang, bukan terjemahan puisi asli ataupun biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →