Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Orang yang Membongkar Jahitan

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11580 karakter · sekitar 9 menit

Gedung Selatan lebih tua daripada yang dibayangkan Azhao. Di pintu masuk ada dua daun pintu kayu kelabu, satu ditempeli pengumuman pertunjukan, satu lagi mengilap karena sering ditendang orang. Tak ada yang bernyanyi di halaman. Hanya lengan baju yang dijemur pada galah bambu berkibar serempak, menyapu sisi tali seperti sekelompok orang bertelanjang kaki yang bergegas di atas kepala. Azhao berdiri sebentar sambil mendekap lentera, lalu menanyakan pekerjaan menjahit kepada gadis yang keluar membawa air.

Gadis itu melirik peti bambu di dekat kaki A-Zhao. Ia tak langsung mempersilakannya masuk dan malah bertanya siapa yang mengenalkannya. A-Zhao bilang seorang tukang reparasi alat musik yang menumpang perahu menyebut Rombongan Chunhe sedang kekurangan orang, jadi ia datang untuk mencoba bertanya. Gadis itu menyuruhnya menemui Nyonya Qin dulu dan berkata bahwa kalau ia hanya bisa mengubah pakaian sehari-hari, belum tentu kemampuannya diperlukan. A-Zhao baru hendak menanyakan nama Nyonya Qin ketika seseorang dari dalam berseru, Gao Man, jangan sampai semua airnya tumpah di jalan. Gadis itu menyahut dan memiringkan badan untuk memberi A-Zhao jalan lewat separuh pintu.

Rombongan teater itu berada di kota kecil yang berjarak dua hari perjalanan lewat air. A-Zhao membawa lentera dan peti bambunya. Di sana ia menemukan Qin Xiaoman sedang membuka jahitan kostum panggung. Perempuan itu lebih muda daripada yang ia bayangkan. Di dekat tangannya terletak sepasang sepatu yang dijahitnya untuk anaknya. Ketika mendengar nama ibunya, ia tidak menangis dan tidak bertanya mengapa A-Zhao baru datang sekarang.

Di ruangan rombongan teater sebuah kota kecil, seorang pemilik perahu muda memeluk lampion bambu tua yang terbungkus dan sebuah peti bambu. Ia duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang sedang mendedel jahitan kostum. Di dekat kaki perempuan itu terletak sepasang sepatu anak.
Pelita Lama Menyinari Orang yang Menjahit

Ia hanya mendongak, melirik kertas pembungkus lampion, lalu menatap A-Zhao dan bertanya, “Apa dia masih mempertahankan perjodohan itu untukku?”

Azhao tak siap mendengar pertanyaan itu. Semula ia ingin lebih dulu bicara tentang He Huaizhou, lalu menjelaskan dari mana lentera itu datang, dan baru di akhir menyampaikan pesan Nenek Qin. Kini justru hal yang paling tak ia ketahui ditanyakan lebih dulu. Ia hanya bisa menjawab bahwa ia tidak menanyakannya. Qin Xiaoman tertawa pendek tanpa mengatakan itu baik atau buruk, lalu menunduk dan mengurai sepotong jahitan di ketiak baju dengan ujung jarum. Benangnya seakan sudah tertelan kain. Dua kali ia mencungkil sebelum berhasil menjepit sedikit ujungnya.

A-Zhao meletakkan lentera di atas papan kering di dekat pintu, tetapi peti bambunya masih dijinjing. Ia tahu Xiaoman hanya dua belas tahun lebih tua darinya. Namun setelah benar-benar melihat orangnya, baru ia sadar bahwa sepanjang perjalanan ia masih terpaku pada cerita yang dulu dibisikkan orang-orang Liuwan. Seakan sejak putrinya keluar rumah, pertengkaran tahun itu terus melekat padanya ke mana pun ia pergi. Di hadapannya kini ada seorang perempuan dengan peluh di tepi rambut dan lengan baju tergulung, yang sudut bibirnya tak selalu melengkung ke bawah. Di dekat tangannya juga ada seekor anjing kecil dari tanah liat yang salah satu telinganya patah.

“Kenapa Pak He menyuruhmu datang?” tanya Xiaoman.

Azhao berkata ayahnya meninggal karena sakit musim dingin lalu. Ia baru pergi ke toko lentera setelah melihat catatan tentang lentera itu saat memeriksa pembukuan. Benang yang baru dicungkil Xiaoman kembali putus. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya apakah itu menjelang tahun baru. Azhao mengangguk. Xiaoman meletakkan jarumnya dan berkata dulu ia sering naik perahu penyeberangan ayah Azhao. Setiap melihatnya mendekap naskah nyanyian, lelaki itu selalu bertanya apakah bukunya terbalik, dan setiap kali Xiaoman harus memutarnya agar ia bisa melihat. Selesai bercerita, Xiaoman seakan menunggu Azhao tertawa. Azhao hanya terpikir bahwa ayahnya masih muda kala itu, dan ada hal-hal yang diingat Xiaoman yang tak ia ketahui.

Mendadak terdengar jeritan panjang dari halaman. Azhao terkejut dan menoleh, tetapi Qin Xiaoman hanya menghela napas dan berseru agar mereka pelan sedikit. Penonton siang belum memenuhi tempat duduk, jangan sampai suara sudah rusak karena berteriak. Rupanya seorang pemeran laki-laki sedang berlatih jatuh, dan yang lain menertawakannya karena jatuhnya seperti orang menurunkan keranjang ikan. Ia tak terima dan kembali bergerak sampai menyenggol baskom kosong. Bunyinya begitu keras sampai anjing kecil dari tanah liat di atas meja ikut bergetar. Xiaoman menggesernya lebih ke dalam, seolah itulah yang paling perlu diurus saat ini.

A-Zhao bertanya apakah ia datang pada saat yang kurang tepat. Xiaoman bilang tak pernah ada saat yang tepat. Duduk saja. Kalau harus menunggu sampai tak ada pekerjaan untuk mengobrol, dalam setahun pun mereka cuma sempat bertukar beberapa kalimat. Ia menunjuk bangku rendah di sebelahnya yang penuh tali bekas bongkaran. A-Zhao pun lebih dulu merapikan tali-tali itu ke dalam tampah bambu. Xiaoman membiarkannya. Setelah A-Zhao duduk, barulah ia bertanya apakah lampu itu akan dibawa kembali atau sebaiknya ia sendiri yang membawanya ke Liuwan.

“Akan kubawa pulang,” kata A-Zhao. “Aku juga datang untuk menanyakan pekerjaan menjahit.”

Semula ia mengira bertanya soal pekerjaan setelah membicarakan masa lalu akan terdengar seperti memanfaatkan hubungan pribadi. Setelah diucapkan, ternyata bunyinya tak seburuk yang ia bayangkan. Xiaoman mendongak lagi dan bertanya pekerjaan apa yang biasa ia lakukan. A-Zhao menjawab bahwa ia biasa mengubah rok, menjahit baju berlapis dan celana anak, semua diajari ibunya. Ia juga menjalankan perahu penyeberangan. Xiaoman berkata tangannya mestilah kuat, lalu bertanya apakah ia bisa membongkar jahitan. Ketika A-Zhao menjawab bisa, Xiaoman mendorong tabung jarum kepadanya dan mengambil sepatu, sekalian mengistirahatkan jari-jarinya yang kaku dengan berganti pekerjaan.

Benang pada bagian kain itu begitu halus hingga tampak memutih. Azhao melihat satu simpul dan hampir mengguntingnya tepat di tengah, lalu ingat bahwa ia belum tahu bagian mana saja yang akan diubah, jadi ia mencungkilnya keluar menyusuri jalur jahitan lama. Xiaoman memperhatikan tanpa mengatakan caranya benar. Ia hanya menunjuk satu tambalan dan meminta agar bagian itu jangan disentuh, karena begitu kena cahaya panggung, lapisan bawahnya akan terlihat. Azhao mengiakan, lalu menggeser petinya ke dekat kaki dan berhenti menjinjingnya seolah siap pergi kapan saja.

Seorang anak laki-laki menyembul dari ruang dalam, mula-mula memandang lentera tua, lalu A-Zhao. Usianya kira-kira delapan tahun, rambut sebelahnya berantakan sehabis tidur. Ia memeluk sepotong bambu pendek yang lubangnya belum lengkap, tetapi tetap saja membentangkannya di bibir dan meniupnya. Xiaoman menyuruhnya menyeka muka dulu. Mulutnya menyahut, tetapi tangannya sudah meraba bungkusan kue kacang. A-Zhao menyerahkan bungkusan itu, bilang salah satu sudutnya basah di perjalanan, tetapi masih ada satu kue yang utuh. Mendengar masih ada yang utuh, anak itu memilihnya, membelahnya, lalu memberikan separuh kepada ibunya.

“A-Sheng,” panggil Xiaoman, “tanya dulu sebelum mengambil barang.”

Barulah anak itu mendongak mengucapkan terima kasih, lalu bertanya apakah kakak ini tinggal di rumah penjual lampu. A Zhao belum menjawab, Xiaoman lebih dahulu berkata bukan, ia dari dermaga penyeberangan. A Sheng pun berujar oh, seakan kedua tempat itu sangat jauh, lalu bertanya apakah lampu keluarga itu benar-benar bisa mengapung di air. Xiaoman berkata lampu yang pernah dilihatnya itu dilepas saat Perayaan Yuanxiao, lampu-lampu di toko bukan semuanya dilempar ke air. Mendengarnya, A Zhao baru tahu bahwa anak itu mengetahui nenek dari pihak ibunya menjual lampu, tetapi belum pernah melihat meja tokonya.

Setelah anak itu pergi, Xiaoman berkata suaminya dulu penabuh gendang di rombongan, bermarga Lu, dan meninggal karena sakit dua tahun lalu. Ia mengatakannya dengan nada biasa, tetapi kue yang ia pegang diletakkan kembali di atas kertas tanpa dimakan. A-Zhao tak tahu harus menanggapi apa, jadi ia lebih dulu menggunting seutas benang lama yang terlilit di tepi sepatu. Melihat itu, Xiaoman langsung menyerahkan sepatu kepadanya dan meminta ia mengencangkan jahitan di bagian tersebut sedikit. Kaki anak laki-laki itu cepat besar. Sepasang sepatu sebelumnya belum dipakai sampai akhir tahun, solnya sudah terlepas.

A-Zhao mengira mulai saat itu Xiaoman hanya mengurus peti kostum. Namun Xiaoman bilang malam nanti ia masih harus menyanyi dalam satu babak sebagai pemeran pendukung, jadi menjahit hanya bisa dikejar pada siang hari. Bermain lakon tak seperti bayangan orang Liuwan, bahwa begitu menyanyi langsung ada yang memberi uang. Saat tak ada yang mendengarkan pun ia tetap harus berlatih. Lebih jauh lagi dari bayangan ibunya, bahwa begitu ikut perahu rombongan, ia tak akan lagi merasakan kesusahan seperti di rumah. Sampai di situ, Xiaoman tiba-tiba tertawa dan bertanya apakah sekarang, ketika mengatakan semua ini, ia terdengar seperti ibunya dulu.

Azhao tak berani menjawab bahwa Xiaoman terdengar seperti ibunya, tetapi ia juga enggan berbohong. Ia hanya berkata bahwa ia tak pernah bertemu dengan orang yang dibicarakan pada masa itu. Xiaoman meliriknya, dan senyumnya justru sedikit lebih tulus. Ia bilang Azhao tak perlu sehati-hati itu. Ia belum sampai hati mengusir orang hanya karena mendengar satu kalimat yang tak enak. Meski begitu, Azhao tetap mendengar beberapa kata terakhir itu diucapkan dengan kaku, seakan Xiaoman sendiri tak sepenuhnya percaya bahwa ia tak akan melakukannya.

Kemudian Xiaoman bertanya apakah Nenek Qin mengatakan hal lain. A-Zhao menyampaikan apa adanya soal meminjam lampion setiap perayaan Shangsi, menyalakannya sebentar di dekat jendela, dan pulang untuk makan. Ia tak menambahkan bahwa Nenek Qin selalu menunggu. Sambil menggenggam sepatu, Xiaoman bertanya apakah ibunya bilang tak usah membicarakan masa lalu. A-Zhao mengangguk. Xiaoman meletakkan kembali sepatu itu di meja dan berkata bahwa selama di perantauan ia juga dua kali menitipkan pesan. Pertama lewat seorang pengangkut di sungai, kedua lewat orang sekampung yang ikut bepergian bersama rombongan. Setelah itu keduanya tak pernah membawa kabar balasan.

“Mungkin pesannya tak sampai,” kata Azhao.

Xiaoman mengangkat mata. Azhao langsung merasa jawabannya tadi terlalu gampang, seolah dengan sekali menyalahkan perjalanan, ibu dan anak tak perlu memikirkan apa-apa lagi. Maka ia mengaku tak tahu. Soal pernikahan itu pun belum ia tanyakan. Xiaoman tak terus mendesaknya. Ia hanya meminta Azhao jangan mengangkat lampion ke dekat jendela lagi. Orang-orang sedang berlatih lakon di sini dan bisa menabraknya. Nanti taruh saja di dekat peti pakaian.

A-Sheng kembali lagi. Kali ini wajahnya sudah dibasuh, tetapi hanya sebelah. Ia menyuruh ibunya melihat potongan bambu itu, katanya besok ia mau mencari orang untuk membuat satu lubang lagi. Xiaoman menyuruhnya menuntaskan latihan menulis dulu. Si anak langsung membawa-bawa Nenek Qin sebagai dalih, bertanya apakah nenek penjual lampion juga bisa membaca. Xiaoman tertegun sesaat, lalu menjawab bahwa neneknya mengenal lebih banyak aksara daripadanya. Si anak tampak puas dan pergi sambil memeluk bambunya, tanpa tahu tangan siapa yang baru saja dibuatnya terhenti di atas sepatu.

Siang itu Gao Man mengantarkan dua gulung kain, bukan untuk A Zhao, melainkan bahan bersama untuk putaran pakaian baru berikutnya. Ia mencatat jumlah lipatannya pada kepingan kayu kecil, mengingatkan Xiaoman agar jangan lagi mencampurkan bahan kembalian dengan potongan tepi buangan. Xiaoman berkata ia tahu, tetapi Gao Man tetap menunjuk satu bagian dan menunggu sampai ia mengiyakan barulah pergi. A Zhao mengulurkan tangan menyentuh kain. Keinginan kecil yang tadi belum sempat terlaksana di perahu kembali muncul, tetapi melihat Xiaoman mengawasi, ia buru-buru menarik tangannya.

“Kalau mau meraba, raba saja,” kata Xiaoman, “Tapi jangan baru melihat langsung bilang kainnya bagus. Ada segulung kain lama yang sudah rapuh, harus didedel dulu untuk dicoba.”

A-Zhao menangkap bahwa ini benar-benar tawaran pekerjaan. Xiaoman mengeluarkan sepotong pakaian lama berwarna biru kelabu dan menyuruhnya besok pagi mengubah satu bagian kecil dulu. Mereka akan memeriksa beberapa jahitan dan tali sebelum membicarakan kelanjutannya. A-Zhao bertanya apakah ia bisa mulai hari ini. Xiaoman melirik cahaya miring dari luar dan berkata hari ini carilah tempat menginap dulu dan makan sampai kenyang. Kalau baru mulai saja sudah begadang, tiga hari lagi yang tersisa cuma orang yang begitu lelah sampai tak bisa bicara baik-baik.

Selesai bicara, ia sendiri malah menggeser separuh kue pipih yang belum dimakannya dan kembali mengambil kostum panggung yang baru separuh diurai. A-Zhao melihatnya tanpa menyinggung pertentangan itu. Ia hanya melilitkan benang lama yang baru saja dicabutnya pada selembar kertas agar tak berceceran di meja. Di ruang sebelah, anak itu salah melafalkan satu aksara. Ibunya menegur untuk membetulkan bacaannya, sementara jarum di tangannya terus bergerak.

Saat Azhao meninggalkan Balai Selatan, lentera ditinggal di samping peti kostum, dan ia hanya membawa peti bambunya ke penginapan. Ia tak mengatakan bahwa penantian Nenek Qin pasti akan berbalas. Mencoba satu perubahan kecil pun belum ia anggap sebagai tanda bahwa kedudukannya di rombongan sudah mantap. Dari balik meja, pemilik penginapan menunjuk sebuah papan ranjang. Kali ini Azhao lebih dulu bertanya apakah malam nanti ia boleh memakai sedikit tempat untuk memasukkan benang ke jarum. Lalu ia meletakkan petinya pelan-pelan. Keping tembaga yang diterimanya untuk separuh kue masih belum ia belanjakan.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.