Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno
Jalan di Dalam Peti Bambu
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11819 karakter · sekitar 10 menit
Pada kertas pembungkus lentera tercetak tiga aksara 春和班, nama Rombongan Chunhe, sama seperti yang dilihat Azhao bulan lalu. Di mulut gang, ia memutar bungkusan itu setengah putaran. Namun beberapa goresan pada baris di bawahnya, 兰汀南堂 (‘Gedung Selatan Lanting’), sudah terkelupas karena lem kanji. Hanya aksara 兰 yang masih terbaca jelas. Sudut kertas yang membungkus bilah bambu sudah lembek. Azhao tak berani menariknya lagi. Ia lebih dulu menaruh lentera di atas keranjang sayur kosong dan meratakan bagian kertas dengan tiga aksara yang masih utuh itu.
Bulan lalu seorang tukang reparasi alat musik dawai naik perahu Azhao. Alat musiknya tak besar, tetapi sarungnya tak boleh lembap, sehingga ia terus mendekapnya. Angin hari itu searah. Dari buritan, Azhao mendengarnya bercerita kepada penumpang lain bahwa di Lanting akan ada serangkaian pertunjukan lakon baru. Kostum lama dalam peti Rombongan Chunhe sudah tak pas dipakai para pemain, dan perempuan yang mengurus pakaian pontang-panting ke sana kemari, mencari orang yang bisa memotong kain dan mengubah jahitan. Penumpang itu bertanya apakah Azhao kenal orang seperti itu. Ia hanya bilang di Liuwan banyak orang yang pandai menjahit, lalu beralih mengurus kandang ayam lain yang baru saja didesakkan naik.
Semula ia hanya mengingat bahwa mereka kekurangan penjahit kostum. Bahkan soal apakah tempatnya Balai Selatan atau Balai Utara di Lanting, ia tak menyimak lebih jauh. Kini baris cetakan yang agak tak rata di kertas itu terasa lebih seperti jalan yang bisa ditempuh daripada sepatah pujian orang. Nyonya Qin yang disebut Nenek Qin ada di Lanting, dan pekerjaan yang disebut tukang reparasi kecapi itu juga ada di Lanting. Ia tak perlu mengarang alasan lain untuk pergi demi menanyakan kabar seseorang.
Ketika A-Zhao kembali ke penyeberangan, Ding Quan sedang menggosok poros dayung dengan batu asah. Melihat lentera itu, ia lebih dahulu berkata ternyata memang ada di rumah Qin, lalu bertanya benda setinggi ini hendak digantung di mana di perahu. A-Zhao mengatakan belum akan menggantungnya, ia ingin membawanya ke Lanting. Gerakan tangan Ding Quan melambat, nyaris mencipratkan air ke celana. Ia tidak memuji kebaikan hatinya seperti yang diduga A-Zhao, hanya bertanya apakah ia juga hendak mendayung perahunya sendiri ke sana.
A-Zhao bilang ia akan naik perahu penumpang. Perahu keluarga He hanya beroperasi di antara kedua tepi Liuwan. Untuk bermalam, menghadapi arus yang berbeda, dan bersandar dalam perjalanan jauh, ia harus mencari tempat lain. Kalau perahu itu dibawa, ia justru tak akan leluasa mencari pekerjaan. Barulah Ding Quan mengangguk. Katanya, besok perahu penumpang dari Sangqiao yang berlayar per etape akan tiba di Tongwei. A-Zhao bisa bertanya dulu kepada perempuan pengemudinya. Kalau memang hendak tinggal beberapa hari, tinggalkan perahunya di teluk kecil seperti biasa. Pagi dan petang ia bisa sekalian memeriksa air di dalamnya. Jangan lagi buru-buru berangkat selagi tali tambat belum diikat.
A-Zhao menangkap bahwa ucapan terakhir itu ditujukan kepadanya. Sejak ayahnya jatuh sakit, dua kali ia terburu-buru mengantar obat dan langsung melompat ke darat begitu perahu merapat, sementara tali tambat masih terseret di air. Waktu itu Ding Quan yang membereskannya, dan ia tak pernah menyebutnya di depan orang lain. A-Zhao menunduk melihat simpul di dekat kakinya. Mendadak ia tak ingin mengucapkan apa-apa soal membalas budi. Ia mengambil kain di samping batu asah dan menyeka air yang tertinggal di poros dayung Ding Quan.
Saat hendak menanyakan perahu penumpang, Azhao bertemu Ding Sui, putri Luo Yan. Gadis tujuh belas tahun itu memeluk setumpuk bilah bambu tipis. Sanggulnya diikat tinggi sekali, sehingga dari jauh ia tampak seolah bertambah setengah badan. Begitu mendengar Azhao akan ke Lanting, ia langsung bertanya apakah Azhao bisa melihatkan cara menyimpul rumbai lentera model kota. Azhao bilang ia pergi mencari kerja dan belum tentu sempat mampir ke toko. Ding Sui menghela napas. Katanya ia juga tidak main-main. Ibunya selalu bilang model lama laku, tetapi yang laku belum tentu cantik.
Luo Yan menyusul dari belakang dan menyelipkan kembali dua bilah bambu yang melorot ke lekuk lengan putrinya. Katanya, kalau menurutmu bagus, buat sendiri satu. Kalau tak laku, pakai untuk menerangi tungku. Ding Sui kesal sampai memalingkan muka. Begitu ibunya menjauh, ia kembali bertanya pelan apakah A-Zhao akan mengingatnya. Melihat gadis itu begitu enggan melunak di depan ibunya, A-Zhao tiba-tiba ingin tertawa. Ia hanya menjawab bahwa kalau melihatnya, ia akan mengingatnya. Kalau tak melihat, ia tak bisa mengarang gambar untuk Ding Sui.
Zheng Qin, perempuan pengemudi perahu, sedang bersandar di dermaga penumpang tepi timur. Ia tak mempersilakan A-Zhao naik untuk berbincang panjang. Ia sedang mengangkat sekarung kacang bercampur lumpur dari dasar perahu dan menyuruh A-Zhao berdiri di tempat kering agar tak menginjak dan menyebarkannya. Setelah tahu tujuannya Lanting, ia bilang perahu berangkat pagi hari kesebelas. Hari pertama bermalam di Sangqiao. Besoknya pindah ke perahu kecil di cabang sungai timur dan baru tiba sore hari. Sekali jalan tiga puluh delapan wen, ditambah empat wen untuk peti. Ada tiga persinggahan untuk bongkar muat. Membayar dan naik bukan berarti perahu bisa berangkat kapan saja penumpang minta.
“Bagaimana kalau di tengah jalan aku ingin pulang?” tanya A-Zhao.
“Tunggu perahu balik dari seberang, lalu bayar lagi untuk perjalanan pulangnya.”
Selesai bicara, Zheng Qin melihat A-Zhao masih memandangi kacang di ruang muatan. Ia tertawa dan bertanya apakah A-Zhao juga pernah menggalah perahu penyeberangan. A-Zhao mengangguk. Zheng Qin bilang itu langsung kelihatan. Orang seperti dia tak cuma bertanya jam berapa sampai, tetapi perlu lebih dulu tahu kapan bisa berbalik pulang. Ia mengikat kembali karung kacang dan menyuruh A-Zhao membawa kain alas yang tahan basah besok pagi. Peti bambunya juga jangan ditaruh langsung di lantai perahu. Air tak akan menghindarinya hanya karena ada jarum di dalamnya.
Saat kembali ke tepi barat, hari masih terang, tetapi bagi Azhao tanggal sebelas sudah terasa dekat. Di rumah ia menghitung dua ratus empat puluh wen dan merangkainya tersendiri. Bagian yang dulu disisihkan untuk obat sudah dibayarkan, dan sebagian besar sisanya ia simpan lagi di dasar lemari. Ongkos menginap, makan, dan pulang tak bisa dihitung seolah perjalanannya cuma sekali jalan. Ia menukar letak dua helai pakaian dan menaruh yang lebih tebal di bawah karena takut kehujanan dan kedinginan. Lalu ia merasa petinya terlalu berat, dan dua kali memindah-mindahkan isinya.
Ujung gunting di meja sudah tak setajam dulu. Saat ditinggalkan ibunya, mata gunting itu memang sudah sedikit rompal. A-Zhao pernah mengasahnya dengan batu dan masih bisa memakainya, hanya saja sudutnya perlu diubah kalau memotong bahan yang terlalu tebal. Ia mengangkat gunting itu dan bertanya-tanya apakah sebaiknya menggantinya dengan yang utuh karena hendak mencari kerja. Namun setelah dipikir, belum satu pun pekerjaan ia dapat. Kalau uangnya dihabiskan dulu untuk alat yang bagus dipandang, lalu di tempat orang ia masih tak tahu harus mulai dari tusukan mana, ia justru akan terlihat lebih buruk. Akhirnya ia hanya mencari kain perca untuk membungkus mata gunting dengan baik.
Pagi hari kesepuluh, Nenek Qin sempat datang. Ia tak membawa makanan maupun ongkos perjalanan, melainkan tabung kecil berisi jarum bermacam panjang. Katanya, toko membeli jarum setiap tahun, jadi ia bisa menyisihkan beberapa untuk dipakai A-Zhao. A-Zhao hendak menolak, tetapi Nenek Qin meletakkan tabung itu di ambang jendela. Ia lalu memeriksa apakah kertas pembungkus lampion tertekan sampai rusak dan bertanya apakah pengait tembaganya perlu diberi alas kain lembut lagi. Melihatnya mondar-mandir, barulah A-Zhao berkata bahwa ia berangkat besok. Sesampainya di sana, ia akan menanyakan pekerjaan menjahit kostum dulu, baru menanyakan Qin Xiaoman.
Nenek Qin tak mengatakan bahwa Azhao boleh menanyakan mana saja lebih dulu. Bibirnya bergerak, tetapi akhirnya ia hanya bertanya apakah rombongan itu masih akan berada di sana sesudah putaran pertunjukan ini selesai. Azhao bilang ia juga tak tahu. Keduanya berdiri di depan peti bambu, sama-sama tak bisa memberi jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi dua hari lagi. Perempuan tua itu mendorong tabung jarum lebih dalam ke sudut peti, seakan dengan begitu jarum-jarumnya tak akan berhamburan di jalan, lalu berpesan agar kabar apa pun yang dibawa pulang disampaikan persis seperti yang didengar.
Azhao bergumam mengiyakan. Tiba-tiba ia agak takut sudah menerima titipan yang tak sanggup ia tunaikan. Nenek Qin langsung pergi begitu selesai bicara. Dari belakang, sosoknya di luar pintu tampak lebih kecil daripada di toko lentera. Azhao menyusul sampai ke ambang, ingin mengembalikan jarumnya, tetapi merasa itu akan lebih membuat orang serba salah daripada menerimanya, jadi ia hanya bertanya makanan apa yang disukai Xiaoman. Nenek Qin berbalik dan menjawab terlalu cepat, kue kacang panggang. Lalu ia meralat, itu dulu, sekarang belum tentu.
Kalimat itu membuat Azhao sedikit lebih lega sekaligus lebih tak enak hati. Ia pergi ke mulut gang untuk membeli dua kue kacang. Setelah membeli, ia mematahkan sedikit ujungnya dan mencicipinya sendiri. Bagian luarnya keras, dan bagian dalamnya meninggalkan sedikit rasa manis. Kalau orang di sana tak suka, ia selalu bisa menghabiskannya sendiri. Ia tak ingin bungkusan kecil itu pun menjadi sesuatu yang wajib diterima orang lain. Ia tak menuliskan nama, hanya melilitkan benang dua kali dan meletakkannya di atas pakaian ganti.
Sore itu ia menyeberangkan seorang perempuan dan anaknya. Mendengar A-Zhao akan bepergian jauh, anak itu bertanya apakah sungai di luar sana lebih lebar. A-Zhao bilang ada yang lebar, ada yang sempit. Perempuan itu lalu bertanya kapan ia pulang karena ada celana yang perlu diubah. A-Zhao tadinya hendak menjawab dua atau tiga hari seperti biasa. Teringat penjelasan Zheng Qin soal berganti perahu dan berhenti untuk muatan, ia bilang belum bisa menerima pekerjaan itu dan akan melihatnya setelah pulang. Perempuan itu agak kecewa. Ia mengira Nona He sedang tak banyak pesanan, jadi bisa cepat mengerjakannya. A-Zhao tak bisa ikut tertawa. Saat menerima ongkos perahu pun ia terlambat setengah ketukan.
Sesudah mengantar mereka, ia masih memikirkan celana yang semestinya bisa memberinya delapan wen itu. Peti bambunya belum keluar rumah, tetapi ia sudah menolak satu pekerjaan kecil. Di luar belum tentu ada pekerjaan besar, sedangkan di sini ia sudah betul-betul kehilangan delapan wen. Semula ia mengira ketakutannya muncul karena ayahnya sudah tiada. Baru setelah benar-benar memberi tahu orang lain kapan ia akan berangkat, ia sadar ada juga sedikit ketakutan bahwa dirinya tak sehebat yang ia bayangkan. Ia tak mengejar perempuan itu untuk menarik kembali ucapannya.
Menjelang petang Ding Quan datang memeriksa tali tambat untuk A-Zhao. Ia sengaja meminta A-Zhao ikut melihat. Ia menunjukkan bagian tempat air pasang akan menggesek simpul, dan di teluk kecil mana kayu hanyut harus disingkirkan sebelum perahu masuk. A-Zhao tak tahan mengatakan bahwa dulu ayahnya tak pernah menambatkan perahu di sana. Ding Quan mendongak dan menjawab bahwa ia tahu cara He Huaizhou menjalankan perahu, dan juga tahu angin utara beberapa hari ini berbeda. A-Zhao terdiam sejenak. Ia tak jadi meneruskan kalimat bahwa dulu mereka selalu melakukannya begitu. Ia ikut memindahkan tali cadangan ke tiang tambat yang lain.
Luo Yan membawakan sepotong tikar bilah bambu tua yang pernah patah saat dipakai menjemur kertas. Untuk alas peti, ukurannya pas. Semula ia menyebut harga beberapa wen, tetapi sebelum Azhao sempat menjawab, Luo Yan sudah melambaikan tangan dan berkata bahwa barang itu sudah rusak, tak usah repot mencari dua keping uang. Azhao teringat tawa mereka saat membeli daun bawang kemarin, lalu menerimanya. Ia juga menyimpan tabung jarum yang ditinggalkan Nenek Qin baik-baik, tanpa kembali mengobrak-abrik peti gara-gara memikirkan pemberian siapa yang ia terima lebih dulu.
Saat membereskan sepatu, A-Zhao mengeluarkan sepasang yang hanya dipakai untuk berkunjung ke kerabat. Bagian atasnya tak bertambal, tetapi solnya tipis. Orang yang melihat perahu dua hari sebelumnya memakai sepatu lunak berujung lancip serupa dan sempat terpeleset di papan titian. A-Zhao bahkan sempat menahannya. Ia menyelipkan kembali sepatu yang lebih baru itu ke bawah ranjang dan memilih sepatu yang biasa dipakainya mengemudikan perahu. Selagi masih ada cahaya, ia menambal sobekannya dari dalam dengan sepotong kain lama. Setelah selesai, ia merabanya, baru menggelapkan benang putih yang terlihat di permukaan.
Malam itu ia merangkai kunci rumah dan menyimpannya di kantong kecil yang melekat di badan. Kait kecil yang biasa dipakai untuk perahu penyeberangan ia serahkan kepada Ding Quan. Baru ketika keduanya dipisah, ia sadar selama ini rumah, perahu, dan pintu-pintu lemari ayahnya ia gantungkan pada satu rangkaian yang bergemerincing bersama setiap kali ia melangkah. Ding Quan menerima kait kecil itu dan hanya bilang bahwa pada penyeberangan pagi tanggal sebelas, ia akan mengantarnya lebih dulu. Ongkos tetap dipungut, sebab kalau tidak, ia akan bolak-balik dengan percuma. A-Zhao setuju dan ia sendiri yang tertawa duluan.
Lentera diletakkan di samping peti dan tak ia nyalakan. Kertas kapnya sedikit berbau toko minyak. Di balik satu lapis kertas, retakan yang ditambal dengan bilah bambu bisa diraba. Azhao menutup peti dan mencoba mengangkatnya. Setelah memastikan masih ada satu tangan yang bebas untuk melindungi lentera, ia mengembalikan keduanya ke dekat pintu. Mendadak ada bagian rumah yang terasa kosong. Rupanya itu karena besok ia sungguh akan membawa barang-barang ini melangkah keluar pintu, bukan karena ada yang berkurang dari lemari.
· Akhir bab ·
Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →