Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12000 karakter · sekitar 10 menit

Lentera persegi pertama buatan Aqiao baru saja ditaruh di atas lemari pajang ketika Nenek Qin memutarnya. Menurutnya, buku bambu di sisi itu terlalu mencolok dan lebih baik disembunyikan di belakang. Aqiao memutarnya kembali. Katanya, pelanggan justru memesan model yang menampakkan buku bambunya, dan gambar contoh di samping itu sudah diperlihatkan kepadanya. Nenek Qin masih mencengkeram pegangan lentera, hendak bilang mana pelanggan itu paham, ketika kebetulan terdengar orang bertanya dari luar apakah itu lentera berbonggol yang dipesannya.

Pembeli itu mengangkat lampion ke bawah sinar matahari, berkali-kali bilang bagus, lalu membayar lunas dan pergi. A-Qiao diam saja dan mengelap meja pajang yang kosong. Nenek Qin menyisihkan upahnya dari segenggam kecil uang itu, lebih lambat daripada biasanya. Sejak pulang pada bulan tujuh, ia sudah sepakat agar A-Qiao datang membantu setengah hari setiap dua hari sekali, tetapi segala sesuatu masih ingin ia tangani sendiri. Kalau A-Qiao tak datang, ia merasa enak betul kalau ada yang membantu di toko. Begitu A-Qiao datang, ia malah terus curiga bahwa tangan gadis itu tak mengikuti cara yang sudah ia tetapkan.

Nenek Qin pernah juga menanggung akibat karena tak membiarkan orang lain mengambil keputusan. Pada dasarian terakhir bulan ketujuh, ia membongkar lagi lentera yang sudah diperbaiki A-Qiao dengan tarif baru. Keesokan harinya ia harus mencari selama setengah hari sebelum menemukan kembali pengait lama milik pelanggan. Belakangan A-Qiao berkata terus terang, kalau cuma diizinkan menjaga pintu, ia hanya akan menerima upah menjaga pintu. Ia tak mau menggantikan Nenek Qin menerima omelan pelanggan yang sudah tak sabar. Kini, mendengar sebutan “lentera benjol”, wajah Nenek Qin terasa panas. Ia pun bertanya berapa lentera persegi yang bisa dibuat dalam semalam. Ia sungguh ingin mendengar caranya.

A-Qiao bilang lampu itu tak bisa dibuat cepat. Melipat keempat sudutnya makan waktu, dan sekarang belum banyak pelanggan yang mencarinya, jadi jangan langsung menyiapkan puluhan. Nenek Qin semula mengira anak muda selalu menganggap cara lama terlalu lambat. Siapa sangka justru A-Qiao yang lebih dulu mencegahnya membuat terlalu banyak. A-Qiao punya pelanggan lain yang memesan kerajinan kertas, jadi ia tak bisa seharian di toko lampu. Nenek Qin bertanya apakah ia mau datang setiap hari, lalu buru-buru menambahkan, “Kelak toko ini tetap perlu ada yang mengurus.” A-Qiao mengangkat mata dan dengan hati-hati membiarkan soal kelak itu berlalu tanpa jawaban.

Usianya dua puluh tiga tahun. Ia ingin membuka sendiri sebuah kios kecil bunga kertas, belum memutuskan akan menikah atau tidak, dan tak ingin sejak sekarang sudah ditetapkan sebagai penerus keluarga Qin. Saat Nenek Qin selesai mendengarkannya, bilah bambu di tangannya sudah tertekuk kelewat jauh. Begitu dilepas, bilah itu melenting mengenai punggung jarinya. Ia sudah lebih dulu menyebut begitu banyak keuntungan di kemudian hari, tetapi di telinga orang lain kata-katanya terdengar seakan hari ini juga ia hendak mengambil seluruh hidup mereka. Bagaimana bisa selama ini ia tak pernah mendengar bunyi itu?

Sore itu Bibi Xu datang mengembalikan uang minyak sambil membawa seekor ikan yang sangat kecil, lalu berseloroh bahwa kini Nenek Qin punya murid, ia bisa lebih santai. A Qiao sedang membawa bungkusan kertas keluar dan langsung berkata bahwa ia hanya datang mengerjakan beberapa pekerjaan, bukan menjadi murid. Bibi Xu berseru pendek tanpa bertanya lagi. Baru setelah tirai pintu jatuh menutup, ia berkata anak muda sekarang keras perangainya. Nenek Qin semula juga ingin menimpali, tetapi akhirnya hanya menjawab bahwa gadis itu sudah lama bisa mengerjakannya dan tidak pernah berguru kepadanya; ia tidak boleh lebih dahulu menganggap segala keuntungan itu sudah disetujui gadis tersebut.

Ikannya terlalu kecil. Setelah sisiknya dikerik pun dagingnya tak seberapa. Bibi Xu bilang ikan itu murah, cukup untuk menambah sedikit lauk segar bagi Nenek Qin sendiri, bukan untuk menjamu serombongan orang. Nenek Qin meletakkan ikan itu dan tiba-tiba teringat sup pada malam itu di Lanting. Putrinya juga hanya menyendokkan satu mangkuk untuknya, tanpa menghidangkan dua belas macam makanan untuk membuktikan bahwa ia disambut. Ia masih menyayangkan Xiaoman tak mau menahannya lebih lama, tetapi juga teringat bahwa ketika ia bilang tinggal saja gampang, ia sama sekali belum melihat bagaimana dua tempat tidur bisa ditata di ruangan itu.

Menjelang petang ia mampir melihat rumah keluarga He. Azhao menitip pesan kepada keluarga Ding agar membuka jendela setiap beberapa hari. Luo Yan kebetulan keluar dari halaman sambil memeluk selimut yang baru dijemur. Berdiri di dekat pintu, Nenek Qin melihat lentera bambu tinggi itu di rak kayu. Kapnya masih berlapis kertas baru yang ia tambalkan pada bulan tiga, tetapi lentera itu tak lagi menjadi milik jendela siapa pun yang biasa terang. Ia bertanya kapan Azhao kembali. Luo Yan bilang suratnya menyebut ia akan memeriksa papan perahu dulu pada bulan sembilan dan membicarakan perpanjangan sewa setelah jatuh tempo. Tak perlu menyelesaikan semuanya dalam sekali pulang.

Luo Yan bercerita bahwa Ding Sui menerima beberapa pesanan rumbai baru. Setiap hari ia mengeluh paduan warna ibunya sudah kuno, lalu habis mengeluh memuji tangan ibunya yang cekatan. Nenek Qin tertawa mendengarnya. Begitu kembali ke toko, ia memindahkan dua tangkai lentera tua yang belum diambil pemiliknya, untuk memberi tempat bagi bunga-bunga kertas kecil yang sedang dicoba Aqiao. Sesudahnya ia bertanya-tanya apakah ia sudah terlalu banyak mengalah. Khawatir besok lentera bulat pun semua diubah menjadi persegi, ia menyimpan terpisah cetakan rangka bulat yang paling sering dipakainya. Ia tak serta-merta menganggap keterampilan lamanya sebagai penghalang.

Keesokan harinya ia berunding dengan A-Qiao. Mulai sekarang A-Qiao datang setengah hari setiap hari, dengan upah seratus delapan puluh wen sebulan. Bunga kertas dihitung per buah. Kalau pekerjaan mendesak membuatnya harus tinggal sampai malam, mereka akan membicarakannya langsung. Untuk memperbaiki lampu biasa, A-Qiao boleh memutuskan sendiri perubahan yang diminta pelanggan. Untuk bahan mahal dan pesanan lampu baru satu partai, ia perlu bertanya dulu. Selesai mendengarkan, A-Qiao lebih dulu bertanya apakah ia boleh menolak memberi utang lagi kepada pelanggan yang masih punya utang lama. Nenek Qin teringat beberapa kenalan lamanya, lidahnya terasa kelu, tetapi ia tetap bilang kalau sudah dua kali berutang, tagih dulu yang lama. Aturan itu berlaku juga bagi kenalannya sendiri.

Setelah upah disepakati, Nenek Qin membayar setengah bulan di muka sesuai tarif baru. Aqiao menyimpan uangnya, membeli kertas dulu, lalu mengantarkan sebungkus kecil garam ke rumah. Melihat Aqiao membagi keperluannya dengan jelas, barulah Nenek Qin merasa seratus delapan puluh wen itu juga membantu seseorang menata hidupnya. Hanya karena Aqiao masih muda dan rumahnya dekat, ia tak bisa terus menyebut pekerjaannya sekadar membantu sedikit.

Ia menyerahkan satu kunci lemari. A-Qiao mengikatnya di pinggang dengan tali. Cara gadis itu bekerja tidak tiba-tiba jadi lebih seperti seorang anak perempuan, dan ia pun tak akan memanggilnya Ibu. Saat pamit, ia hanya bilang besok pagi akan terlambat seperempat jam karena harus mengantar kertas ke rumah lain. Hati Nenek Qin terasa sedikit kosong. Lalu ia berpikir, kalau setiap hari harus ada orang yang datang mengisi kekosongan kecil itu, sesibuk apa pun orang itu, rasanya tetap tak akan penuh. Ia menindih lembar pembukuan dan untuk pertama kalinya meminta A-Qiao menjaga kedai setengah hari, sementara ia pergi duduk sebentar di tepi sungai.

Di sungai lewat sebuah perahu yang sarat dengan keranjang kacang. Pengemudi perahu yang masih muda berbantah dari seberang air dengan orang di tepian. Setelah beberapa kalimat, mereka tertawa lagi. Nenek Qin menghabiskan sebuah kue hangat. Tangannya kini kosong, dan mula-mula ia merasa sangat canggung. Beberapa kali ia ingin kembali untuk melihat apakah kertas pada lentera ditempel miring. Kemudian, agak jauh dari sana, seorang tukang kayu sedang memperbaiki jendela. Ia berdiri menonton sebentar dan berpendapat kepada orang-orang di sana bahwa bilah mendatarnya sebaiknya sedikit lebih sempit. Mereka tak sepenuhnya menuruti pendapatnya dan tetap mulai menggergaji seperti semula. Anehnya, ia tak menghabiskan sepanjang hari dengan kesal karena itu.

Sesampainya di rumah, ia mengeluarkan kertas untuk menulis surat kepada Xiaoman. Dua baris pertama penuh kabar baru dari toko. Ketika sampai pada A Qiao, mula-mula ia menulis bahwa anak ini tahu membawa diri. Setelah berhenti sejenak, ia mencoretnya dan mengganti dengan keterangan bahwa kerja tangannya halus dan lampion persegi buatannya cantik. Orang sudah bersedia bekerja di tempatnya, jadi tak semestinya dinilai dari patuh atau tidaknya. Tulisan tangannya kaku, dan coretan itu seperti segumpal abu kecil. Ia sempat ingin mengganti kertas, tetapi teringat bahwa aksara yang salah ditulis A Sheng pun masih dibiarkan di kertasnya sendiri. Ia pun meneruskan surat itu.

Ia bertanya apakah Xiaoman mau datang menginap dua malam kalau senggang pada bulan sembilan. Xiaoman boleh menentukan sendiri tanggal yang nyaman, dan ia bisa menyesuaikan jadwal toko. Ia tak menulis bahwa orang tua entah masih punya berapa kesempatan lagi, dan tak pula menulis kalau tak datang ya sudah. Ia begitu akrab dengan kata-kata itu sehingga bahkan sebelum mengangkat pena, kalimatnya sudah tersusun di benaknya. Setelah selesai, ia menambahkan, kalau A-Sheng harus belajar, tak usah dibawa. Kalau ia mau datang, akan disediakan meja untuknya, dan buku pelajarannya tak akan ditinggal di depan pintu toko.

Setelah surat dikirim, balasan tak langsung datang. Dua hari pertama ia terus bertanya kepada orang-orang yang menyeberang. Hari ketiga ia bertanya kepada Luo Yan, yang berkata bahwa perjalanan ke sana dan kembali perlu waktu. Surat A-Zhao pun tak pernah secepat itu. Nenek Qin agak kikuk mendengarnya. Sepulang ke toko, ia tetap menggeser bangku tempat memandang air di depan pintu setengah langkah lebih jauh, agar begitu duduk ia tak kembali menghitung perahu. Urusan toko tetap berjalan setelah surat dikirim. Seorang pelanggan lama yang sudah dua kali berutang pun mencoba meminta kelonggaran.

Aqiao sudah lebih dulu bicara, maka pelanggan itu berpaling kepada Nenek Qin dan berkata mereka sudah saling kenal bertahun-tahun, masa lenteranya saja tak boleh dibawa dulu. Nenek Qin memegang catatan utang lama itu dan nyaris mengangguk agar terlihat lebih murah hati daripada pembantunya. Aqiao diam di sampingnya, wajahnya tegang. Akhirnya Nenek Qin meminta pelanggan itu melunasi dua utang sebelumnya lebih dulu. Suaranya lebih keras dari biasa, sebagian karena hendak bersikap tegas, sebagian lagi karena ia tak terbiasa mengakui di depan kenalan lama bahwa aturan itu buatannya sendiri.

Pelanggan itu pergi dengan wajah kurang senang. Hati Nenek Qin terasa sesak. Ia menoleh dan bertanya apakah A-Qiao tadi bicara terlalu tajam. Begitu kalimat itu keluar, ia sadar ia lagi-lagi ingin membebankan rasa tak enaknya kepada A-Qiao. A-Qiao bilang, kalau tadi ia membiarkan pelanggan membawa lampunya dulu, mulai sekarang ia tak akan menagih utang lama lagi. Nenek Qin terdiam sejenak, lalu mencatat uang yang berhasil ditagih hari itu. Ia tak mencari-cari kesalahan kecil pada tempelan kertas untuk memulihkan gengsinya. Baru menjelang petang ia mengaku, tadi ia sendiri memang merasa kurang enak, tetapi ucapan A-Qiao tidak salah.

Tujuh hari kemudian, barulah perahu Zheng Qin membawa balasan Xiaoman. Ia mengusulkan menyeberang dari Tongxu pada tanggal dua belas bulan sembilan, berangkat pulang tanggal empat belas, dan tiba di Lanting tanggal lima belas untuk mengejar pertunjukan musim gugur. A-Sheng mau ikut dan sudah sepakat dengan gurunya untuk mengganti dua pelajaran yang terlewat. Tak perlu menyiapkan banyak hal, dan kalau toko sedang sibuk, ia juga bisa membantu memasak sekali. Nenek Qin membaca baris-baris itu dua kali. Yang mula-mula terlintas tetap saja bahwa dua malam terlalu singkat. Baru kemudian ia melihat gambar suling panjang yang ditambahkan si anak di tepi kertas.

Ia membalas bahwa ia sudah mengerti. Ia tak menyinggung alas tidur dan selimut untuk malam ketiga yang sudah lama ia siapkan, dan ia pun tak langsung menggulungnya dan melemparkannya kembali ke lemari. Kalau sedang menanti sesuatu, tangan memang suka berbuat sedikit lebih banyak daripada yang terucap. Ia hanya perlu menjaga agar selimut itu tak menjadi alasan meminta orang lain tinggal sehari lagi. Aqiao bertanya apakah tanggal dua belas ia perlu datang sehari penuh. Nenek Qin bilang tak perlu, pagi seperti biasa, pekerjaan sore dibagi lebih dulu, dan kalau ada perbaikan mendesak, panggil saja lewat pintu belakang.

Belakangan Bibi Xu menggodanya karena putrinya akhirnya pulang juga, tetapi tokonya masih tidak ditutup. Nenek Qin berkata kalau ada pekerjaan ya dikerjakan, orang juga perlu makan. Setelah mengatakannya, ia baru ingat bahwa enam belas tahun lalu ia memakai kalimat yang sama untuk menyuruh Xiaoman berhenti mengejar panggung, seolah hanya menempel kertas lentera di meja tokonya sendiri yang patut disebut kerja. Kali ini ia tak mengejar Bibi Xu untuk menjelaskan. Malamnya ia mengelap meja, memindahkan mangkuk lem kanji yang paling mudah tersenggol ke bagian dalam, dan menyisakan tempat untuk kertas dan kuas tulis anak itu.

Di jendela tergantung lentera bulat yang baru dilapisi kertas tahun ini. Setelah diuji nyalanya sebentar, lentera itu bisa disimpan. Nenek Qin mengecilkan api sumbunya. Ia mendengar langkah kaki di jalan berangsur jarang dan tak lagi bangkit setiap kali terdengar bunyi dayung dari sungai. Besok masih ada dua lentera persegi yang harus dibuat. Keempat sudutnya sulit dilipat, dan ia sudah berjanji kepada A-Qiao untuk mencoba mengikuti caranya dulu. Ketika putrinya datang nanti, akan ada banyak hal dari masa lalu di rumah itu, dan semestinya ada pula beberapa hal baru yang belum pernah dilihatnya.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.