Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno
Jendela di Toko Lentera Itu
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11910 karakter · sekitar 10 menit
Pintu toko lampion keluarga Qin lebih sempit daripada yang diingat A-Zhao. Dulu ia selalu berjalan di belakang ayahnya dan yang terlihat hanya lampion yang bergoyang di atas bahu ayahnya. Kali ini, ketika datang sendiri membawa buku catatan, barulah ia melihat tiga rangka kap yang belum ditempeli kertas bertumpuk di kanan pintu dan sebuah bangku berkaki tinggi di kiri. Kalau ia tak berjalan menyamping, ujung roknya akan tersangkut pada bilah bambu.
Tak ada yang menyahut dari balik meja toko. Dari belakang terdengar bunyi kikisan halus. Nenek Qin sedang merapikan ujung bilah bambu dengan pisau kecil. Celemek tua menutupi pahanya dan sela-sela jarinya berlumur lem kering. Mendengar suara A-Zhao, ia lebih dulu meletakkan pisau dengan aman, baru keluar sambil berpegangan pada meja toko. A-Zhao hendak membantunya menyingkirkan barang di dekat pintu, tetapi Nenek Qin bilang jangan disentuh. Rangka-rangka itu sudah diurutkan menurut ukuran. Kalau berantakan, nanti sore ia harus mencarinya lagi.
Azhao mendorong buku catatan ke arahnya. Ia tak bilang datang untuk menagih utang, hanya menjelaskan bahwa di halaman terakhir catatan ayahnya ada satu lentera yang tak tercatat ke mana perginya. Nenek Qin tak langsung mengambil buku itu. Ia lebih dulu meraba sampulnya dan bertanya apakah ini buku yang masih ditaruh di sisi bantal ayah Azhao ketika ia sakit musim dingin lalu. Azhao mengangguk. Melihat Nenek Qin masih menunduk, ia membuka halaman yang ada tulisannya agar perempuan tua itu tak perlu mencari dari awal.
Selesai membaca, Nenek Qin berkata, “Lentera itu dipinjamkan kepadaku.”
Ia mengucapkannya amat lirih, seolah sudah berlatih mengatakan kalimat itu, tetapi ketika benar-benar ada yang datang bertanya, suaranya tak cukup kuat untuk mengucapkannya. Tanpa sadar A-Zhao melihat sekeliling. Belasan lampu berbagai ukuran tergantung di balok, ada yang berkap polos baru ditempeli kertas dan ada yang bergambar bunga warna muda. Di dekat pintu masih bertumpuk kertas yang menunggu dipotong. Bagaimana seorang pembuat lampu bisa setiap tahun meminjam lampu dari penyeberangan? Pertanyaan itu tak ia ucapkan, tetapi ia tak sempat menyembunyikan tatapannya.
Nenek Qin mengambil lentera bambu tua dari bawah lemari. Bilah bambu pegangannya jauh lebih gelap daripada rangka baru. Pengait kuningannya digosok sampai berkilau. Ada retakan di tepi kap yang ditambal dengan bilah bambu halus. Saat didekatkan ke cahaya, tambalan itu tampak seperti satu ruas rangka yang lebih rapat. Azhao ingat ayahnya dulu memakai kap tinggi seperti itu. Setelah perahu mulai memakai lentera yang lebih ringan, lentera lama jarang terlihat. Ia mengulurkan tangan, tetapi Nenek Qin masih menggenggam pegangannya. Katanya, tahun lalu ia berniat memperbaiki kapnya lalu mengembalikannya. Ayah Azhao bilang masih ada lentera lain, jadi tak perlu buru-buru. Akhirnya urusan itu tertunda.
“Akan kubawa kembali ke perahu,” kata Azhao. Merasa ucapannya terdengar seperti mendesak perempuan tua itu untuk melepaskan pegangannya, ia buru-buru menambahkan, “Aku tak buru-buru memakainya.”
Barulah Nenek Qin menaruh lentera itu di atas lemari, tanpa menyerahkannya langsung ke tangan A-Zhao. Katanya tudung lentera itu tinggi. Kalau ditaruh di jendela yang menghadap sungai, orang di seberang bisa melihatnya. Lentera milik kedai sendiri juga terang, hanya saja sejak dulu ia sudah terbiasa dengan yang ini. Makin dekat musim semi, makin terasa lentera inilah yang paling pas. Ia membalik celemek dan menepuk serpihan lem dari tangannya. Debu halus jatuh ke lengan bajunya, dan kali ini ia membiarkannya.
A-Zhao tahu keluarga Qin dulu punya anak perempuan yang namanya sama dengan salah satu penanda musim, Xiaoman. Waktu kecil ia hanya mendengar tentangnya beberapa kali. Ada yang bilang Xiaoman pergi belajar opera, ada pula yang bilang ia kabur bersama seseorang. Ceritanya berbeda-beda, tetapi semua merendahkan suara di bagian akhir, seakan anak-anak tak boleh bertanya lebih jauh. Kini usianya sudah dua puluh dua tahun. Mendengar kata-kata itu, ia masih ingat suasana meja makan yang tiba-tiba sunyi kala itu, tetapi ia tak ingat siapa yang benar-benar pernah melihat gadis tersebut.
“Tahun dia pergi, kau baru setinggi ini.” Nenek Qin mengangkat tangan setinggi sudut lemari, lalu menurunkannya lagi. “Tapi dalam ingatanku, umurnya tak terpaut jauh darimu.”
Selisih usia mereka sebenarnya dua belas tahun. Azhao menghitungnya dalam hati tanpa mengoreksi. Nenek Qin bercerita bahwa enam belas tahun lalu Xiaoman hendak pergi bersama rombongan teater yang berkeliling dengan perahu. Ia sudah memilih satu keluarga untuk menjodohkan putrinya. Menurutnya, lelaki itu punya usaha kecil dan bagian atas sebidang lahan, sehingga setidaknya hidup putrinya tak perlu terombang-ambing di atas perahu. Suaminya baru saja meninggal, tokonya masih berutang uang kertas, tetapi begitu membuka mulut putrinya hanya bilang ingin bernyanyi di panggung. Mendengarnya, sang ibu begitu kesal, seolah putrinya juga memandang rendah semua hari yang masih tersisa baginya.
“Kubilang, kalau kau melangkah keluar, jangan lagi anggap tempat ini rumahmu.” Jari Nenek Qin menekan kait lentera, “Waktu itu kukira kalau aku berkata begitu, dia pasti takut.”
A-Zhao tidak menjawab atas nama Xiaoman. Ia pun tak tahu apakah ia semestinya ikut merasa takut untuknya. Kebetulan seorang perempuan lewat di depan pintu membawa pikulan. Melihat mereka berdua di dekat meja jualan, ia berseru menanyakan kapan tudung baru bisa diambil. Nada suara Nenek Qin langsung berubah. Ia menjawab nanti sore, kertasnya belum kering. Perempuan itu tak percaya dan menjulurkan separuh badan ke dalam. Setelah melihat tudungnya memang sedang diangin-anginkan, barulah ia pergi. Begitu ia pergi, percakapan lama itu kembali membuat toko terasa sempit. A-Zhao ingin mencari bangku untuk duduk, tetapi khawatir kalau ia duduk, ia akan tampak siap mendengarkan semuanya sampai habis.
Nenek Qin menyeret bangku tinggi dari dekat pintu untuk A-Zhao, sementara ia sendiri tetap berdiri. Katanya, setelah Xiaoman pergi, ia membongkar baju yang tertinggal di rumah dan mengubahnya menjadi tirai ruang belakang. Baru setelah selesai memotong ia sadar lengannya pendek dan kainnya tak cukup untuk membuat selembar tirai utuh. Mengikuti arah pandangnya, A-Zhao melihat dua jalur warna lain tersambung di bawah sudut kain biru pada pintu dalam. Kain itu sudah begitu usang hingga tak tampak lagi apakah semula memang sepotong baju. Ia tak bertanya apakah dulu terasa sakit saat membongkarnya. Nenek Qin pun tak melanjutkan ceritanya.
Bibi Xu datang tepat saat itu sambil membawa kendi minyak yang sudah separuh kosong dan hendak berutang minyak lampu untuk tiga hari. Melihat Azhao, ia langsung bertanya apakah perahunya sudah laku. Azhao menggeleng. Bibi Xu berkata ia masih mengandalkan Azhao untuk menyeberang. Kalau perahunya laku, ia khawatir orang baru tak mau sekalian membawa keranjang ikannya. Nenek Qin menerima kendi itu dan menakar minyak, sambil mengingatkan bahwa utang yang lalu masih belum lunas dan jangan terus mengulur tiga hari jadi setengah bulan. Bibi Xu menjawab, kalau ikan juga mau menurut dan tumbuh besar dalam tiga hari, tentu ia bisa melunasinya lebih cepat.
A-Zhao tersenyum dan membantu Nenek Qin menahan mulut kendi. Minyak mengalir dalam alur tipis. Demi menjaga muka, Bibi Xu terlebih dahulu menaruh separuh utang sebelumnya di atas meja jualan. Ia melirik lampion tua itu dan berkata A-Zhao tampak ringan saja membawanya. Ayahnya dulu selalu takut lampion itu berdebu, sampai berjalan kikuk dengan lampion terjepit di ketiak. Selesai bicara, ia mengangkat kendi dan keluar. Ia menoleh untuk berpesan agar besok Nenek Qin jangan begadang lagi. Tadi, saat mencincang ikan di balik dinding, ia mendengar Nenek Qin batuk lagi.
Setelah suasana di pintu toko kembali tenang, barulah Azhao tahu bahwa ayahnya beberapa kali terlibat dalam peminjaman dan pengembalian lentera itu, lebih dari sekali yang tercatat di buku. Nenek Qin menyeka sisa minyak di tepi kendi dan berkata bahwa setiap tahun sekitar perayaan Shangsi, orang yang lewat di sungai bertambah banyak. Kalau Xiaoman masih ikut rombongan perahu, mungkin suatu hari ia akan sampai ke sini. Ia tak pernah menyuruh He Huaizhou meninggalkan pekerjaannya untuk mencari Xiaoman. Ia hanya memintanya memperhatikan, dan kalau benar-benar bertemu, menyampaikan satu pesan agar Xiaoman pulang untuk makan. Masa lalu tak perlu diungkit.
“Kalau masa lalu tidak disebut, apa dia bisa pulang?” tanya A Zhao.
Begitu pertanyaan itu terlontar, keduanya terdiam. A-Zhao semula tak berniat bertanya seterang itu. Ia hanya teringat ayahnya yang saat sakit juga suka bilang akan membicarakannya setelah sembuh, seolah selama belum dibicarakan masih tersedia waktu yang tak habis-habis. Nenek Qin menunduk dan meremas celemeknya. Lama kemudian ia menjawab tidak tahu. Ia tak menyebut anaknya tega, juga tak bercerita betapa sulit tahun-tahun yang dilaluinya. Ia hanya meraba pengait perunggu itu sekali lagi dan bertanya apakah A-Zhao berniat pergi ke kota.
“Begitu perahunya terjual, aku berangkat,” kata Azhao. Baru dua hari lalu ia menolak harga yang ditawarkan pembeli perahu, tetapi kini ia masih mengucapkannya seolah tanggal berangkat sudah pasti.
Nenek Qin bilang ia pernah dengar. Bibi Xu sudah beberapa kali memujinya di mulut gang, bilang jahitan gadis keluarga He halus. Entah kenapa A-Zhao agak tersipu dan buru-buru bilang ia cuma mempermak pakaian. Nenek Qin malah menarik tepi lengan baju yang robek dan dijahit A-Zhao semalam untuk memeriksanya. Ia bertanya apakah A-Zhao sendiri yang menambalnya. A-Zhao mengangguk. Nenek Qin bilang benang di dalamnya tersembunyi rapi. Kalau ia sendiri yang mengerjakan, begitu kena lem, jahitannya begitu kasar sampai bayangan lentera pun tak sanggup menyamarkannya.
A-Zhao melihat kapalan keras di salah satu jarinya dan tiba-tiba bertanya apakah Xiaoman masih di selatan. Nenek Qin berkata bulan lalu ada pembeli lampion yang pernah mendengar tentang seorang perempuan bermarga Qin di Lanting, yang menyanyi dalam lakon sekaligus mengurus peti kostum. Ia tak berani menganggapnya orang yang sama hanya karena marganya sama, tetapi tak tahan untuk tidak menanyakan umurnya. Ketika orang itu bilang kelihatannya sekitar tiga puluh, ia berhenti bertanya. Ia takut perempuan itu benar Xiaoman, dan takut pula kalau ternyata bukan. Sampai di situ, ia bahkan sempat salah mengingat harga kertas di tokonya.
A-Zhao bilang Lanting berjarak dua hari lewat air, tak begitu jauh. Nenek Qin cepat-cepat menyahut, iya, tak begitu jauh. Tetapi sesudah itu keduanya memandang lentera itu, dan tak seorang pun melangkah ke luar. Baru saat itu A-Zhao mengerti bahwa baginya, tak begitu jauh berarti dua hari yang bisa ia tempuh dengan membayar ongkos perahu. Di mulut perempuan tua itu, kata-kata yang sama seakan mengharuskannya lebih dulu mencari cara yang tak menyakitkan untuk mulai membicarakan apa yang pernah ia katakan enam belas tahun silam.
Azhao tak berjanji akan mencarinya. Nenek Qin juga tak sampai memohon. Ia hanya bertanya apakah, sesampainya di Lanting, kalau memang searah, Azhao bisa menanyakan kabar Qin Xiaoman. Azhao bilang ia bisa bertanya, tetapi soal bertemu atau tidak bergantung pada kemauan Xiaoman. Nenek Qin mengangguk, lalu seolah tak sanggup menahan diri, bertanya apakah Xiaoman akan mengenalinya kalau Azhao membawa lentera itu.
“Aku datang untuk mengambil kembali lampion itu,” kata A-Zhao perlahan. “Aku tak bisa memakainya untuk menyuruh orang pulang.”
Nenek Qin memandangnya sejenak, lalu akhirnya melepaskan tangan yang sejak tadi bertumpu pada pegangan lentera. Ia menarik selembar pengumuman pertunjukan bekas dari lemari, mengibaskan sisa lem yang menempel di baliknya, lalu membungkus tudung lentera yang tinggi. Pada sudut kertas ada tulisan cetak merah yang sudah pudar. A-Zhao merasa pernah melihatnya dan baru hendak mendekat ketika Nenek Qin sudah melipat sisi satunya. Ia tak mencoba membuka bungkus itu. Baru ketika Nenek Qin menyerahkan lentera, ia melihat sepotong kecil kain diselipkan di bawah kertas pembungkus agar bilah bambu tua tak kembali retak karena bergesekan.
Ia baru hendak pergi ketika seorang pelanggan masuk membawa lampu kecil yang baru ditempeli kertas. Katanya kertasnya tipis dan ia ingin menggantinya dengan yang tebal. Nenek Qin mengetukkan jari pelan pada rangka dan menunjukkan bagian mana yang meneruskan cahaya dan mana yang menahan beban. Kalau semuanya dilapisi kertas tebal, cahaya yang keluar tinggal separuh. Orang itu tak mendengarkan dan masih hendak meremasnya. Nenek Qin langsung mengambil kembali lampu itu. Di wajahnya tak tampak sedikit pun keraguan yang tadi terlihat.
“Kalau mau menguji, uji rangkanya, jangan cubit kertasnya. Kalau sisi ini rusak karena dicubit, menempelkan kertas baru juga akan kupungut biayanya.”
A Zhao berdiri di samping, mendengarkan perempuan tua itu merinci ongkos kertas dan upahnya, lalu mendadak mengembuskan napas lega. Perempuan tua ini sanggup menahan tangan yang terulur demi selembar kertas tipis, dan sanggup pula menahan apa yang sudah ia putuskan agar tetap kukuh di atas meja toko. Di toko lampion itu masih ada lebih dari sekadar sebuah jendela yang menanti seseorang. Pelanggan itu akhirnya tidak menukar lampionnya. Nenek Qin membungkusnya, tetap memungut harga semula, dan saat mengantarnya ke pintu masih sempat menunjuk rangka bambu yang hampir tersenggol olehnya.
Begitu keluar, angin membuat kertas pembungkus lampion berkelepak keras. A-Zhao menjinjing lampion dengan satu tangan dan menekan sudut kertas dengan tangan satunya. Saat datang, ia mengira catatan ini bisa dibereskan asal menemukan pemilik barang. Kini lampion sudah di tangannya, tetapi catatan itu masih belum bisa dicoret. Ia berhenti sebentar di ujung gang. Ia tidak langsung pulang ke penyeberangan, melainkan mencari tempat kering dan melonggarkan sedikit kertas pembungkus untuk melihat nama apa sebenarnya yang tadi ia kenali.
· Akhir bab ·
Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →