Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Angin Lewat dari Balik Tirai

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11956 karakter · sekitar 10 menit

Ketika bungkusan dari keluarga Qin tiba, Xiaoman sedang menyanyi. A-Zhao menerimanya untuk Xiaoman. Melihat lapisan luarnya terbungkus rapat, ia meletakkannya di kepala ranjang, tak tahu apakah isinya makanan atau sepasang sepatu lagi. Baru ketika bungkusan dibuka menjelang petang, kain biru kehijauan dan tepi merah gelap tampak bersamaan. A-Zhao pun mengenalinya sebagai tirai tua dari kamar belakang di Liuwan. Tirai itu sudah dicuci dan dijemur hingga kering, tetapi pada sudut-sudutnya masih tampak jejak tahun-tahun sejak potongannya disambung.

Pesan yang diselipkan Nenek Qin sangat singkat. Katanya di toko masih ada bahan lain. Karena kain ini dulu milik Xiaoman, silakan dipakai kalau ia mau. Kain itu tak perlu terus tergantung di tempat yang selalu bisa ia lihat. Tak ada permintaan untuk pulang di surat itu, tetapi benda yang dikirim memakan lebih banyak ruang daripada satu kalimat. Xiaoman duduk meraba kain itu cukup lama. Ia tak setegas dulu saat hanya mengambil secuil pinggiran. Seakan setelah ibunya sungguh-sungguh menyerahkan seluruh tirai itu, ia justru tak tahu bagaimana mengguntingnya tanpa sekali lagi menggores masa lalu.

A-Sheng mula-mula ingin memakai kain itu untuk menutupi ranjang, supaya anjing tanah liatnya bisa tinggal di balik tirai. Xiaoman melarangnya. Meski sudah tua, kain itu tak boleh dibentangkan untuk diinjak-injak. Anak itu bertanya bukankah katanya kain itu akan dijadikan tas buku untuknya. Barulah Xiaoman ingat ia memang pernah bilang begitu. Ia bertanya kepada A-Zhao sisi mana yang sebaiknya menghadap ke dalam kalau kain itu diubah. A-Zhao meraba bagian yang menipis karena sering dicuci. Katanya bagian ini harus dihindari dan bagian yang menahan beban perlu diberi lapisan tambahan, atau kainnya akan robek bahkan sebelum diisi beberapa lembar kertas.

Mendengar kata sobek, raut Xiaoman berubah sedikit. Katanya, Azhao tak perlu buru-buru berhemat untuknya setiap kali melihat kain lama. Azhao baru hendak menjelaskan bahwa ia sedang membicarakan cara memakainya, bukan menolaknya, ketika Xiaoman menyambung bahwa ibunya selalu memuji jahitan Azhao, tetapi sekarang kain sekecil ini saja rupanya sulit dikerjakan. Ucapan itu tak masuk akal. Seketika Azhao pun tahu kekesalan Xiaoman tak sepenuhnya tertuju padanya, tetapi ia tetap tersengat dan meletakkan tabung jarumnya keras-keras di atas meja.

“Kalau kau cuma ingin aku bilang bagus, aku juga bisa bilang begitu,” jawabnya.

Ruangan mendadak sunyi. A Sheng memeluk anjing tanah liatnya dan menyusut ke kaki ranjang. Kedua perempuan serentak menengok kepadanya, dan tak satu pun langsung melanjutkan bicara. Xiaoman melipat tirai dan berkata akan mengerjakannya sendiri. A Zhao mengangkat keranjang kosong dan keluar, semula hendak membeli sepotong kecil kain untuk mencoba lapisan dalam. Baru di mulut gang ia sadar kertas catatan ukurannya pun tak dibawa. Ia berdiri di tengah jalan, kian merasa bahwa ia keluar kali ini seakan sengaja ingin orang-orang di rumah tahu bahwa ia kesal.

Azhao tak langsung kembali. Ia pergi dulu ke toko kain. Pemilik toko mengeluarkan beberapa potong kain rami lama dengan warna berbeda dan menyuruhnya memilih sendiri. Azhao bertanya apakah ia boleh membeli sepotong kecil saja dengan harga sesuai potongannya. Pemilik toko bilang boleh, asal ia tak memilih sampai hanya tersisa tumpukan pinggiran sempit yang tak bisa dijual. Azhao berjongkok dan mengukur dengan saksama. Ia menemukan sepotong yang lembut tetapi tak mudah terurai, lalu membelinya untuk bahan uji. Ia tak menyentuh persediaan rombongan yang diurus Gao Man dan tak lagi memakai pakaian lama keluarga Qin untuk membuktikan seberapa banyak yang ia bisa.

Angin bertiup dalam perjalanan pulang. Sudut kain berkibar keluar dari bibir keranjang. Ia mengulurkan tangan untuk menahannya dan mendadak teringat bahwa ibunya pun pernah salah memotong pakaian hingga kependekan. Itu terjadi setelah bertahun-tahun bekerja. Suatu hari pelanggan datang mendesak, Shen Yun tertukar membaca ukuran kedua anak, dan baru sadar setelah lengannya digunting. A Zhao saat itu enam belas tahun, sudah bisa berkata bahwa kertas polanya semestinya dipisah sejak awal. Ibunya kesal mendengarnya hanya berdiri dan berkomentar. Ia berbalik, membongkar sendiri kain lama untuk menyambungnya, dan sampai setengah hari tak mau lagi meminta bantuan A Zhao.

Sesudahnya ia hampir tak pernah memikirkan kejadian itu lagi. Dalam ingatannya, jahitan yang diwariskan ibunya selalu mantap, seolah setelah orangnya tiada, setiap tusuk yang ditinggalkannya lebih bisa dibenarkan daripada tusukan orang yang masih hidup. Namun hari itu ibunya memang salah memotong dan memang enggan langsung mengakuinya kepada putrinya. Itu tak mengurangi apa yang pernah diajarkannya kepada Azhao. Orang yang mengajari orang lain menjahit pun bisa terburu-buru dan ingin tetap tampak cakap di mata anaknya.

Azhao memperlambat langkahnya. Ia tak membawa kisah lama itu pulang untuk menasihati Xiaoman. Orang lain sedang meraba pakaian lamanya sendiri, belum tentu perlu mendengar darinya bahwa semua ibu begitu. Ia menaruh kain contoh yang baru dibeli ke dalam petinya dan lebih dulu menyelesaikan pekerjaan yang belum diserahkan. Xiaoman juga tak bertanya dari mana ia datang. Ia menunduk, membentangkan tirai, lalu memakai tumpukan kertas Asheng untuk memperkirakan ukurannya. Di tangannya akhirnya mulai terbentuk sebuah kantong yang nyata.

Setelah menggunting separuh lebarnya, Xiaoman berhenti dan melipat separuh yang lain. Katanya bagian ini sudah cukup. Sisanya biar ibunya simpan untuk menahan angin. Di toko itu masih banyak yang bisa berguna selain barang milik putrinya. Dari nadanya Azhao tahu kali ini ia tak mengembalikannya karena marah dan enggan menerima. Azhao pun mencari kertas kering untuk membungkusnya, tanpa menambahkan ucapan bahwa Xiaoman sudah memaafkan. Xiaoman menulis beberapa baris pendek dan menitipkannya kepada perahu penumpang yang menuju Liuwan. Tanggal ditulis di samping ukuran potongan kainnya, dan pada tulisannya masih ada sedikit serbuk kanji yang tersenggol saat menggunting.

Sore itu A-Zhao menerima upah kecil untuk pekerjaan menjahit pada bulan empat. Bayaran untuk jubah baru yang utuh itu tak jadi diterima, tetapi bahan yang bisa dipakai kembali setelah dibongkar, pekerjaan tambal, dan tali pengikat sudah dihitung. Gao Man memisahkan yang selesai dari yang belum selesai dan bilang pekerjaan baru berikutnya akan dihitung tersendiri. Satu kegagalan tak akan menghapus semua pekerjaan sebelumnya, tetapi susah payah saja juga belum berarti pekerjaan sudah diserahkan dalam keadaan selesai. A-Zhao mendengarkan sambil mengangguk. Untaian uang di tangannya tak banyak, tetapi sekarang ia tak lagi hanya punya uang sewa perahu untuk bertahan tinggal di sini.

Ia lebih dulu menyisihkan uang kamar bulan kelima dan satu bagian untuk memperbaiki perahu. Sisanya tak banyak, tetapi masih cukup untuk membeli potongan kain contoh tadi. Ia tak menganggap sedikit kelonggaran itu semata-mata hasil keterampilannya menjahit. Tanpa perahu peninggalan ayahnya, dengan mengandalkan dua belas wen pertama saja ia sudah lama tak bisa tinggal di sini. Saat Ye Zhen datang mengambil cucian, ia sengaja bertanya bagaimana menghitung upah untuk uji cuci beberapa potong kain lama lain kali. Ia tak lagi menganggap waktu dan tenaga orang lain sewajarnya ikut dipakai untuk mencoba hanya karena ia sendiri sedang belajar.

Gu Ming melihat kain baru dan bertanya apakah akhirnya ia akan membuat satu lagi untuk Liu Sheng. A Zhao menjawab akan membuat sepotong lapisan dalam dahulu, jangan buru-buru meneriakkannya ke seluruh halaman. Hatinya masih berdebar untuk lelaki itu, ia juga masih ingin membiarkannya memakai pakaian bagus buatannya, tetapi tak lagi ingin langsung mendekap kain penuh-penuh begitu mendengarnya menyebut yang baru. Gu Ming mengiyakan sambil tersenyum, tangannya kembali meraba kantong yang baru separuh dibuat Xiao Man, bertanya kalau yang ini diikat di pinggang, bukankah juga terasa sangat seperti kehidupan di sungai.

A-Sheng berlari dari ambang pintu dan merebut kembali kantong itu. Ia mengumumkan bahwa itu miliknya, untuk menyimpan aksara, bukan untuk menyimpan cendekiawan. Gu Ming pura-pura mundur selangkah dan berkata rupanya orang kalah berharga dari aksara. A-Zhao tak kuasa menahan tawa, dan Xiaoman ikut tersenyum tipis. Ketegangan yang masih tersisa di kamar akhirnya mendapat celah untuk reda tanpa harus dibicarakan langsung. Namun A-Sheng sungguh takut kantongnya diambil. Ia membawanya ke ranjang dan menutupinya dengan sudut selimut. Tak seorang pun boleh melihatnya dulu.

Malam itu Gu Ming datang mengambil ikat pinggang untuk bagian akhir pertunjukan. Gao Man sambil lalu bertanya apakah sudah ada jawaban dari Xuncheng. Ia mengatakan rombongan Changqing akan datang ke Lanting sebelum musim gugur dan menetap di panggung Qingxing. Pengurus menyuruhnya menyiapkan satu adegan andalan lebih dahulu, lalu dilihat nanti. Tangan A-Zhao yang memegang benang terhenti sesaat. Rupanya selama ini menambah permainan pedang dan melatih gerak tubuh bukan semata-mata karena diejek beberapa kali oleh orang-orang satu halaman. Ia sedang mencari panggung yang lebih besar untuk dirinya sendiri, sementara A-Zhao membayangkan baju baru untuk perayaan musim gugur seolah semua orang akan terus berada di sini.

A-Zhao bertanya lalu siapa yang akan memerankan Liu Sheng. Suaranya lebih tenang daripada hatinya. Gu Ming bilang belum diputuskan. Ia baru berusaha mendapat tempat agar orang bisa melihat kemampuannya, dan ia juga tak akan berangkat besok. Ia mengatakannya tanpa rasa bersalah, malah agak bersemangat, sambil memperagakan satu langkah putar untuk lakon baru dengan pedang kayunya. A-Zhao tahu Gu Ming tak berkewajiban tinggal demi dirinya. Namun ia tetap teringat malam ketika jubah biru kehijauan itu robek. Rasanya seperti pekerjaan yang baru sempat ia genggam itu sudah ikut pergi menjauh bersama orangnya.

Sambil mengumpulkan tali, Gao Man bertanya apakah bahan untuk penampilan Gu Ming berikutnya perlu dicatat ulang. A-Zhao baru tersadar dan berkata kerjakan dulu yang ada di depan mata. Kalau pemainnya benar-benar diganti, nanti perlu diukur lagi. Yang sesungguhnya ingin ia tanyakan adalah apakah Gu Ming akan melupakan semua yang ada di sini. Pada akhirnya, yang keluar dari mulutnya hanya soal ukuran kostum. Gu Ming menjawab tentu saja, bahunya berbeda dengan bahu orang lain. Sesudah itu ia mengambil tali dan pergi. Di halaman, suara ayunan pedang kini lebih cepat daripada tadi.

Malam itu Xiaoman menunjukkan kepada A Zhao bagian dasar kantong yang paling menanggung beban, bertanya apakah tambahan lapisan ini sudah cukup. Pertanyaannya agak canggung. A Zhao menjawab itu bergantung pada isinya, kalau penuh batu tentu tidak cukup. Xiaoman menoleh kepada putranya. A Sheng langsung berkata tidak, begitu cepat hingga mencurigakan. A Zhao pun mengukur dengan kertas dan menunjukkan sudut yang perlu dijahit, hanya menjelaskan cara menusukkan jarum, tanpa mengulang perkataannya terdahulu.

A-Zhao juga mengeluarkan contoh buatannya, meminta Xiaoman membantu memasangkannya melewati bahu, lalu membuka talinya sendiri. Xiaoman memperhatikan arah kedua bagian itu dan menyuruhnya jangan menyambung semuanya dulu, agar besok pagi bisa dicoba oleh Lu Heniang. Keduanya mengerjakan bagian masing-masing, sesekali saling membantu menahan kain. Mereka tak membicarakan siapa yang mengalah lebih banyak. Lewatnya percakapan siang tadi juga tak membuat mereka sejak itu selalu bisa bicara dengan lembut. Kalau A-Zhao salah menggunting sedikit benang, Xiaoman masih akan mengernyit, dan A-Zhao pun masih akan kesal seperti biasa.

Balasan untuk Ding Quan ditulis dua hari kemudian. Uang sewa bulan lima belum jatuh tempo, jadi Azhao menanggapi soal kayu lebih dulu dan berpesan agar mereka tak perlu sengaja membuat penumpang hanya mengenal nama keluarga He. Ia sempat menulis bahwa Ding Quan menjalankan penyeberangan mewakili Nona He, lalu mencoretnya dan menggantinya dengan Ding Quan menjalankan penyeberangan. Tulisan di kertas pun sedikit lebih pendek. Ia sendiri belum melihat tempat tambat baru itu. Saat mengangkat kuas, masih ada sedikit rasa cemas, tetapi tak setiap perjalanan perlu memakai nama ayahnya untuk memperkenalkan orang lain.

Ia belum menulis soal papan kayu baru, jadi kalau kelak benar-benar melihat ada satu papan tambahan, ia mungkin tetap tak senang. Saat itu ia baru mencoba menuliskan kata-kata yang sanggup ia jalani. Ia tak mengira beberapa patah kata bisa mencegah hatinya mundur selangkah pun. Surat itu diselipkan di antara bilah bambu dan akan menempuh jalan yang sama dengan separuh tirai lama yang dikembalikan. Karena penerimanya berbeda, keduanya harus dibungkus terpisah. Ia memisahkannya sendiri dengan cermat sebelum menitipkannya pada perahu langganan yang lewat.

Beberapa hari kemudian Nenek Qin hanya menitipkan kabar bahwa kainnya sudah diterima dan akan dipakainya sebagai tirai pintu belakang. Ia tak bertanya mengapa Xiaoman tak menginginkan semuanya dan tak pula memberi nama baru pada separuh kain itu sebagai tanda menunggu putrinya pulang. Kantong baru Asheng sudah selesai. Baik ibunya maupun Azhao tak memeriksa apa yang pertama kali dimasukkannya. Ketika tak ada yang melihat, Asheng menyelipkan sebuah batu pipih ke dalamnya. Katanya, batu itu untuk menindih kertas supaya tak tertiup angin. Dasar kantong pun benar-benar menjadi berat. Xiaoman melihat dari jauh dan menyuruhnya mengeluarkan batu itu. Ia malah mendekap kantongnya dan lari.

A-Zhao mengejar dua langkah, lalu tertawa sampai tak sanggup berlari. Angin mengangkat tirai polos yang sejak dulu tergantung di tepi jendela. Separuh kain biru kehijauan lama di atas meja telah menjadi kantong yang kini menepuk-nepuk kaki anak itu saat berlari. A-Zhao kembali ke meja dan membentangkan lagi kain ujinya. Ia menahan seutas benang dengan jari, menunggu angin lewat di sisinya, tanpa terburu-buru menjahit mati semua bagian yang masih longgar.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.