Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11706 karakter · sekitar 10 menit

Tanggal tujuh bulan kedua, begitu fajar merekah, Ding Quan datang membawa ketam. Semalam Azhao sudah menyeka papan basah di buritan sampai kering. Pagi ini masih ada sejalur air yang melintas miring di atas tambalan lama sebesar telapak tangan. Ding Quan meletakkan ketam, melangkah masuk ke ruang perahu, lalu menekan papan di kedua sisi dengan kaki, masing-masing sekali, dan meminta Azhao melihat apakah sambungannya ikut menganga.

A-Zhao tak ingin orang tahu ia kembali meraba papan itu tadi malam. Ia menjawab agak cepat, “Cuma sedikit ini.”

Ding Quan juga tidak membongkar alasannya, hanya berkata titik kecil itu yang terlihat sekarang; bagaimana keadaan di bawah kayu, baru bisa diketahui setelah lapisan bahan penambal lama di luar dibersihkan. A Zhao pergi mengambil sekop besi kecil, tetapi ia menyuruhnya menyelesaikan penyeberangan pagi dahulu. Perahu tak apa mengapung pada siang hari, jangan sampai penumpang hari ini juga terlambat hanya untuk memeriksa sedikit air ini. Selesai berkata, ia memeluk dayung dan duduk di bawah pohon dedalu, meletakkan selembar serutan kayu yang melengkung di bawah hidung untuk diendus, seolah sejak awal ia datang ke sini demi dayung barunya sendiri.

Penyeberangan pertama hanya membawa dua orang. Tao Laoliu, si penjual sayur, seperti biasa meletakkan pikulannya di haluan lalu duduk di tengah perahu. Ia hendak menggesernya sedikit untuk perempuan yang naik belakangan. Dulu Azhao tak menganggap gerakan itu istimewa. Hari ini ia langsung melihat pikulan itu menindih tali tambat dan memintanya menggesernya satu chi ke belakang. Tao Laoliu tertawa dan bilang sejak jadi pemilik perahu Azhao makin galak. Dulu ayahnya bahkan tak pernah bertanya di mana ia menaruh pikulan sayurnya.

“Itu karena dia ingat kau akan menggesernya sendiri,” kata A-Zhao.

Tao Laoliu menunduk melihat, lalu buru-buru menarik pikulannya menjauh. Sebatang bawang putih muda menyembul jatuh dari dasar keranjangnya. Perempuan itu memungutnya, tetapi setelah memegangnya tak tega mengembalikan ke keranjang berlumpur. Sampai di tengah sungai, mereka masih membicarakan apakah batang bawang itu termasuk pemberian cuma-cuma. A Zhao mendengarkan sambil mengayuh, tiba-tiba teringat saat ayahnya masih ada, hal kecil seperti ini pun selalu membuatnya tertawa. Sedikitnya suara di dalam perahu bukan berarti semua orang yang menaikinya telah menjadi kenangan.

Ketika tiba di tepian dan Azhao menagih ongkos, Tao Laoliu lama merogoh lengan bajunya, lalu bilang ia lupa membawa untaian uang dan akan membayar sekaligus dalam perjalanan pulang. Azhao menarik kembali tangannya dan baru hendak mencatat ketika perempuan di belakang Tao Laoliu sudah membentangkan lima wen bagiannya di telapak tangan. Katanya, ia pun selalu berutang dua wen untuk sayur Tao Laoliu. Hari ini pas untuk bertukar siapa yang berutang. Tao Laoliu tertawa lagi dan bilang hitungannya terlalu teliti. Perempuan itu menjawab, kalau tak teliti, bagaimana ia tahu kapan Tao Laoliu lupa soal dua wen itu? Azhao memasukkan uang ke tabung bambu tanpa lagi menjelaskan aturan lama ayahnya.

Saat kembali ke tepian barat, ia melihat tujuh atau delapan orang berkerumun di turunan penyeberangan dan hampir mengira hari itu penumpangnya akan ramai. Setelah mendekat, baru ia tahu penjual kue dari dekat jembatan baru menumpang menaruh pikulan di sana, menunggu kereta yang lewat untuk sekalian mengangkutnya. Melihat perahu kosong itu, beberapa orang berkata Nona He rupanya masih menjalankan penyeberangan. Nada mereka ramah, tetapi tak seorang pun naik. Saat lewat di dekat mereka, A-Zhao mencium aroma kue beras hangat dan tiba-tiba ingin membeli dua. Tangannya masuk ke tabung uang, lalu ditarik kembali.

Melihat tangannya kosong, Ding Quan bertanya bukankah ia tadi pergi mengantar penumpang menyeberang. Azhao mengira ia juga hendak menyinggung bahwa hari ini tak ada penumpang, maka ia menaruh tabung bambu di papan perahu supaya ia melihatnya. Ding Quan tak melirik uangnya. Ia menyodorkan separuh kue, katanya Tao Laoliu tadi membeli terlalu banyak dan menaruhnya di bawah pohon untuk diambil saat pulang, jadi ia sudah lebih dulu membantu menghabiskan satu. Azhao menggigitnya sekali, baru ingat Tao Laoliu tadi bilang tak membawa uang, dan langsung menatap Ding Quan. Bahu Ding Quan berguncang karena tertawa. Ia meminta Azhao jangan buru-buru membongkar ceritanya. Katanya, soal menukar serutan dayung dengan kue dari pedagang pikulan itu cuma kelakar. Ia benar-benar membayar.

Setelah selesai bercanda, ia baru menyingkap lapisan dempul lama. Papan di bawahnya lebih tebal daripada dugaan Azhao. Yang benar-benar melunak hanya sepotong kecil di sebelah sambungan. Ding Quan bilang perahu masih bisa dipakai kalau papan luarnya diganti. Untuk saat ini, celahnya ditambal dulu. Perbaikan besar bisa diputuskan setelah menemukan tempat yang cocok. Mendengar perahunya masih bisa dipakai, Azhao justru bertanya apakah ia harus mengeluarkan banyak uang lagi. Ia sudah tak berani gampang-gampang bernapas lega soal perahu, seolah begitu ia lega, uang pun harus lepas dari tangannya.

“Selama perahu itu masih di tanganmu, pengeluaran ini akan selalu ada,” kata Ding Quan. Ia menunjuk dayung barunya, “Yang ini juga bisa rusak meski sudah selesai diketam.”

Azhao berjongkok di sampingnya, menampung serpihan basah yang dikerok ke dalam piring tua, lalu bertanya apa yang akan ia lakukan kalau berada di tempatnya. Ding Quan tak langsung menjawab. Ia mengasah mata ketam dua kali, baru bilang bahwa ia tak punya perahu sebesar ini, tetapi ada orang tua dan anak-anak yang harus ia beri makan. Kalau punya perahu, tentu ia akan memakainya untuk mencari ongkos perbaikan lebih dulu, sekalipun harus menaikkan dan menurunkan penumpang di tempat lain selain tangga batu yang lama. Ia berhenti di situ, menanti apakah Azhao akan menyanggah. Azhao memiringkan kepala dan hanya bertanya dari mana penumpang di tempat lain itu akan datang.

Ding Quan bilang para pemikul kayu bakar dari Dermaga Barat dan orang yang hendak ke pasar pagi Tongwei bisa menghemat dua penggal jalan kalau tempat singgah perahu digeser. Tapi semua itu harus dicoba sendiri, tak cukup hanya dibicarakan. Luo Yan punya pekerjaan mengolah bilah bambu, dan karena ia sering mondar-mandir mengantarkan bahan, ia kenal beberapa keluarga yang mau naik perahu. Ia tidak menggambarkan jalur air itu sebagai jalan emas yang akan kembali ramai. Ia bahkan bilang kalau cuaca cerah, orang tetap lebih suka lewat jembatan, karena pijakannya mantap dan mereka tak perlu menunggu orang menggalah perahu.

Setelah berpikir sejenak, Azhao tiba-tiba bertanya, “Kau mau menyewanya?”

Ketam di tangan Ding Quan berhenti. Ia tak langsung bilang mau. Ia meminta Azhao memastikan dulu berapa lama perahu itu akan dipertahankan. Kalau tiga hari lagi datang pembeli yang cocok, keduanya akan serba salah. Ujung dayungnya masih kurang sepotong kayu penyambung, dan ia datang hari ini bukan untuk berpangku tangan menunggu keputusan Azhao. Wajah Azhao agak panas. Pertanyaannya tadi seperti menempatkan orang lain begitu saja di posisi ayahnya, supaya ia sendiri bisa melenggang ke kota.

Menjelang tengah hari, persediaan serat rami untuk memperbaiki celah papan ternyata kurang seikat, jadi ia mencarinya di ruang belakang. Peralatan kecil untuk mengurus perahu tersimpan di rak paling atas lemari lama ayahnya. Di rak bawah, pakaian ayahnya malah terlipat lebih rapi daripada miliknya. Sejak ibunya meninggal, ayahnya melarangnya mengaduk-aduk lemari, dengan alasan ia sendiri tahu di mana barang-barangnya berada. Kini pintu lemari terbuka dan tak seorang pun menghalanginya, tetapi mencari seikat serat rami saja memakan waktu lama. Akhirnya ia merabanya di bawah sebungkus obat. Pada kertas pembungkus itu masih ada dua aksara yang ia tulis tergesa-gesa pada suatu hari di musim dingin.

Ia mengeluarkan barang itu dan sekalian menurunkan buku catatan utang. Sisa utang lama di toko obat, toko minyak, dan toko kayu berjumlah seratus delapan puluh keping. Sewaktu ayahnya sakit, jari-jarinya gemetar, jadi dua catatan ditulis A-Zhao untuknya. Tadinya ia ingin menunggu sampai perahu terjual untuk melunasi semuanya sekaligus. Kini perahunya belum terjual dan catatannya masih di sana. Setiap kali pintu lemari dibuka, rasanya seperti ada orang yang datang menagih lagi. Ia menghitung uang sesuai jumlahnya, merangkainya menjadi tiga untaian kecil, dan memendekkan untaian lama yang tadinya utuh.

Pemilik toko obat mengenalinya. Begitu menerima uang, ia bertanya apakah Azhao mau membawa pulang selimut lama yang dipakai pada malam dingin itu. Azhao tak ingat pernah meninggalkan selimut. Setelah berpikir cukup lama, barulah ia ingat bahwa ketika ayahnya datang mengambil obat, ia khawatir poci obatnya mendingin dan meminjam kain tebal yang biasa dipakai toko untuk membungkus stoples. Ketika pemilik toko mengeluarkannya, benang di sudut kain sudah terurai, dan bagian lainnya memutih karena sering dicuci. Azhao memandangnya, lalu tiba-tiba tertawa dan berkata bahwa itu milik mereka, bagaimana mungkin ia membawanya pulang.

Barulah pemilik toko menepuk dahinya, sadar bahwa ia sendiri juga tertukar. Katanya, sepanjang musim dingin itu ia sudah tak ingat siapa meminjam barang siapa. Hari-hari bercampur dan ia selalu mengira ayah A Zhao membawa kain itu dari rumah hari itu. A Zhao melipatkan kain itu untuknya. Ia tak memanfaatkan kekeliruan kecil itu untuk bertanya lagi apa yang pernah dikatakan ayahnya saat itu. Ia mendorong untaian kecil uangnya ke sisi dalam meja kasir. Melihat pemilik toko mencoret namanya, ia merasakan suatu ruang kosong dalam hati yang tak seluruhnya berisi kesedihan.

Setelah selesai mendatangi dua toko lainnya, matahari sore sudah menampakkan secercah sinar. Azhao tak pergi ke gerbang kota atau mencari tahu tentang kereta ke Ruancheng. Ia hanya membeli serat rami untuk menambal celah. Ding Quan sudah menyiapkan tali untuk menyambung dayung. Begitu melihatnya pulang, ia melambai dan meminta Azhao memegang salah satu ujung. Azhao menahannya sesuai isyarat Ding Quan. Keduanya memeriksa sambungan bilah dayung itu, lalu Ding Quan berkata sambungannya masih harus dijemur besok dan hari ini belum bisa diuji di air. Azhao teringat rok yang dikerjakannya. Serapi apa pun jahitan akhirnya, orang masih harus memakainya dan mencoba berjongkok. Sudut bibirnya bergerak sedikit tanpa ia sadari.

Penumpang terakhir saat senja adalah seorang lelaki tua yang memeluk kurungan ayam. Ayamnya tak mau diam, jadi lelaki itu mencolek kepalanya lewat sela bilah bambu. Makin dicolek, makin ribut bunyinya. Azhao menyuruhnya berhenti dan menurunkan kain usang yang menutupi kurungan. Ayam itu pun perlahan berhenti meronta. Lelaki tua itu bilang He Huaizhou dulu juga menutupinya begitu, lalu memuji Azhao karena mirip ayahnya. Mendengar itu, Azhao sesaat tak tahu harus senang atau tidak. Ia berbalik untuk memeriksa apakah papan pijakan di tepi sungai sudah terpasang mantap.

Malam itu, saat menghitung uang, ia menyisihkan dulu kepingan yang terkumpul hari itu dan melihat buku lama. Ketiga tagihan yang berjumlah seratus delapan puluh keping sudah lunas. Lingkaran yang dibuat pemilik toko obat berbeda dari lingkaran ayahnya, agak terlalu bulat dan rapi. Ia membalik sampai halaman terakhir, mengira masih ada sisa kecil biaya kayu, tetapi hanya menemukan sebaris tulisan. Goresannya lebih renggang daripada tulisan sebelumnya, dengan sedikit abu pucat terselip dalam tinta.

Satu lentera dipinjamkan, belum dikembalikan.

Ia mendekatkannya ke lampu dan membaca sekali lagi. Itu tulisan ayahnya, dan aksara 灯 memang berarti lampu, bukan sampan atau minyak lampu. Tak ada nama di bawahnya dan tak ada jumlah wen di sampingnya. Ia membolak-balik halaman sebelum dan sesudahnya, bahkan meraba tepi kertas untuk mencari secarik catatan lain yang mungkin terselip. Ayahnya biasa berpesan sampai soal bagaimana mencatat satu perjalanan pulang-pergi membawa kandang ayam, tetapi di sini ia hanya meninggalkan sebaris tulisan, seolah separuh ceritanya memang tak perlu ditulis untuk dibaca siapa pun.

Pelita tembikar yang dipakai di rumah ada tepat di samping tangannya. Lampion bertudung di haluan juga masih tergantung baik-baik. Pagi tadi ia sendiri yang mengelapnya. Ia mengingat satu per satu semua lampu di rumah yang masih bisa dihitungnya, dan tak satu pun terasa hilang. Kalau ayahnya meminjam barang orang, ia harus mengembalikannya. Namun ayahnya jelas-jelas menulis ‘dipinjamkan’. A-Zhao mengetuk pelan halaman buku catatan dengan buku jarinya. Ia teringat kain lama yang keliru ia kenali di kedai obat. Mendadak ia paham bahwa tak semua benda yang tak tercatat namanya bisa begitu saja dianggap sepele.

Di luar jendela, Ding Quan sedang menyimpan dayung baru, dan kayunya berdentum menyentuh tanah. Azhao memanggilnya dan bertanya apakah ayahnya punya satu lagi lentera bambu dengan tudung tinggi. Ding Quan berpikir sejenak, lalu berkata seingatnya toko lentera mengambil satu setiap musim semi. Ia tak terlalu memperhatikan tahun mana lentera itu diambil dan tahun mana dikembalikan. Baru ketika toko lentera disebut, terbayang di mata Azhao bilah-bilah bambu di atas meja toko dan seorang perempuan tua yang selalu bisa mengenali langkah ayahnya dari balik belasan lentera.

Ia menutup buku hitung tanpa mencoret baris itu. Besok pagi ia akan bertanya dulu. Jalan ke rumah keluarga Qin jauh lebih dekat daripada ke Ruancheng. Ia tak perlu menjual perahu dulu atau menjanjikan apa pun kepada Ding Quan. Ia menaruh serat rami yang baru dibeli di bagian kering ambang jendela. Untaian pendek uang receh di tangannya sudah dingin. Baru setelah ia memasukkan keping-keping itu satu per satu ke dalam tabung, tempat penyeberangan yang kosong hari ini seakan akhirnya mundur ke luar rumah.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.