Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Setengah Bulan Menyewakan Perahu

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12376 karakter · sekitar 10 menit

Setelah Xiaoman dan anaknya pergi, penyeberangan pagi di Liuwan tetap berjalan seperti biasa. A-Zhao beberapa kali mengantar orang dengan pikulan sayur dan menerima pesanan satu celana dari tetangga. Hari-harinya tak mendadak kosong hanya karena satu catatan tentang lampion sudah dicoret. Kini ia sudah bisa bicara terus terang tentang rencananya pergi ke Lanting. Namun setiap kali berbelok ke buritan, jejak rembesan yang perlu diperbaiki masih ada. Ia tak bisa sekadar mengangkat petinya dan meninggalkan semuanya kepada orang lain.

Ding Quan pertama kali mengajukan harga sewa setelah dua hari mencoba mengangkut penumpang dari dermaga barat. Orang di sana memang bisa mempersingkat perjalanan kaki dan mau membayar ongkos. Namun, banyak yang membawa pikulan kayu bakar, sehingga tepi perahu cepat aus. A-Zhao bertanya berapa penghasilannya. Ding Quan tak menumpahkan seisi tabung uang untuk diperlihatkan. Ia hanya bilang kalau A-Zhao bersedia menyewakan, ia sanggup membayar dua ratus empat puluh wen sebulan. Kalau masih berharap menemukan pembeli untuk perahu itu, sebaiknya jangan dulu menerima uang sewanya, supaya beberapa hari lagi mereka tak sama-sama canggung.

Azhao semula memperhitungkan tiga ratus wen. Mendengar tawaran dua ratus empat puluh, ia tak bisa menahan pikiran bahwa kalau Ding Quan sudah menemukan rute yang ada penumpangnya, kenapa malah menekan harga sewanya? Saat hendak mengatakannya, ia melihat Ding Quan melemparkan sepotong tali tambat tua yang sudah aus ke darat. Ia tahu para penumpang itu tidak datang begitu saja begitu perahu merapat. Ding Quan menginjak lumpur untuk bertanya ke sana kemari, dan harus menunggu kalau angkutan belum lengkap. Azhao sendiri belum pernah ikut bersusah payah, tetapi sudah lebih dulu menghitung berapa banyak yang bisa ia minta.

A-Zhao masih belum setuju. Ia membuat janji untuk menarik perahu ke gosong dangkal dan memeriksanya lagi. Selama belasan hari dan malam ia terus berubah pikiran tentang kepergiannya: kalau tak dijual, ia takut akan terus menoleh ke belakang. Kalau dijual, ia takut tak punya tempat kembali bila sesuatu terjadi di perantauan. Begitu benar-benar ada kemungkinan mempertahankan perahu dan mendapat uang sewa, ia malah berpikir bahwa karena perahu itu miliknya, ia semestinya punya kata akhir tentang bagian yang rusak dan tempat bersandar. Ia tahu semua pikiran ini tak mungkin muat bersama-sama dalam satu perahu kecil, tetapi untuk sementara ia masih enggan membuang satu pun.

Pada hari perahu ditarik ke tepian, Luo Yan ikut datang membawa seikat bilah bambu baru dan dua potong kayu pendek. Ia tak buru-buru menyepakati harga. Mula-mula ia menguji lumpur dengan kaki, lalu menyuruh Ding Quan jangan hanya memikirkan perahunya dan memastikan kayu penyangga terpasang kokoh. Mereka sedikit mengangkat salah satu sisi perahu. Ding Quan menunjukkan papan lambung kepada A-Zhao. Kerusakannya belum merambat ke rusuk perahu dan masih bisa ditambal. Setelah musim air tinggi, perahu perlu ditarik ke darat lagi. Agar aman dipakai seterusnya, bagian itu pada akhirnya harus diganti.

A-Zhao menanyakan kira-kira berapa biayanya. Ding Quan menyebut harga kayu dan upah, seluruhnya sekitar empat ratus delapan puluh wen. Kalau setelah dibongkar ternyata bagian lain juga lunak, biayanya dihitung terpisah. Dada A-Zhao menegang. Ia hampir ingin menjualnya sekarang juga kepada Saudagar Xie agar tak perlu memikirkan semua ini. Namun Luo Yan lebih dulu bertanya siapa yang membayar dan pada bulan apa. Jangan hari ini bilang sanggup menyewa, besok ketika perahu harus diperbaiki malah menghabiskan semua uang hasil menganyam bambunya. Ding Quan memandangnya dan menjawab bahwa justru itu yang hendak ia bicarakan bersama.

Mereka bertiga duduk di tepi beting kering. Kertas ditindih di atas sebilah kayu rata. A-Zhao mula-mula menulis He Huaizhou. Selesai menulis ia berhenti, mencoret pelan ketiga aksara itu, lalu menulis He Zhao. Ini bukan buku utang lama ayahnya, dan ia bukan anak perempuan yang sekadar menggantikan ayahnya menjaga perahu beberapa hari. Jika perahu itu terus ia serahkan kepada orang lain, ia sendiri yang harus bertanggung jawab atas apa yang disepakati hari ini. Luo Yan melihatnya tanpa memuji. Ia hanya menggeser batu penindih sedikit agar tak menghalangi tulisan.

Papan luar yang besar, badan perahu, dan balok utama tetap menjadi tanggung jawab pemilik untuk diperbaiki, sedangkan serat rami untuk keperluan sehari-hari, tali tambat yang aus, dan tambalan kecil ditanggung pemakai. Bila menemukan kerusakan besar, Ding Quan harus lebih dulu mengirim kabar dan tak boleh pura-pura tak melihatnya. A-Zhao pun tak boleh, dari Lanting, baru mendengar perahu bocor lalu menyuruh orang memperbaikinya menurut caranya sendiri tanpa melihat kerusakannya. Mendengar bagian terakhir, ia tak tahan mengatakan bahwa ia mengenal perairan ini. Ding Quan menjawab, aku juga bukan baru hari ini belajar memegang dayung.

A-Zhao mengatupkan bibir. Luo Yan menimpali, justru karena kalian berdua sama-sama kenal perairan ini, jangan anggap yang suaranya lebih keras lebih tahu. Seusai bicara, ia menendang kembali pasak kayu yang sedikit bergeser. Jelas ia datang bukan sekadar untuk menengahi. Kalau perahu sungguh bermasalah, ia juga harus menyingsingkan lengan baju. Melihat itu, A-Zhao pelan-pelan mencoret syarat awal bahwa setiap kali hendak merapat ia harus ditanya dulu. Ia hanya menyisakan larangan mengalihkan perahu kepada pihak ketiga tanpa izin.

Sewa akhirnya ditetapkan dua ratus enam puluh wen per bulan selama enam bulan, mulai tanggal dua puluh tujuh bulan ketiga hingga tanggal dua puluh tujuh bulan kesembilan, dengan pembayaran pada tanggal yang sama setiap bulan. Uang jaminan sebesar dua ratus enam puluh wen disimpan terpisah dan dikembalikan saat masa sewa habis jika tak ada yang harus dipotong. Uang itu tak bisa dihitung sebagai bekal perjalanan Azhao. Luo Yan mengeluarkan untaian uang jaminan itu. Ding Quan hendak menerimanya, tetapi Luo Yan lebih dulu meletakkannya di dekat tangan Azhao. Katanya, uang itu hasil tabungannya sendiri. Kelak kalau dikembalikan, serahkan langsung kepadanya, jangan sampai Ding Quan keburu membawanya untuk melihat-lihat perahu baru.

Ding Quan agak kikuk, tetapi segera mengakui bahwa ia memang bakal tergoda melihat perahu baru. Sedari tadi Azhao hanya mendengar hal-hal yang harus ditimbang hati-hati. Justru ucapan itulah yang membuatnya tertawa, sampai gurat tinta di tepi kertas ikut bergetar. Ia mencelupkan kuas lagi dan menulis uang jaminan serta uang sewa pada dua baris terpisah agar kedua jumlah yang sama itu tak berimpitan. Ia memang ingin pergi, tetapi uang orang lain yang sementara ada di tangannya tak sepatutnya ia pakai untuk berpura-pura bahwa beberapa bulan ke depan sudah tercukupi.

Sampai pada soal pelat tembaga, Azhao tetap berhenti menulis. Katanya pelat itu harus dipertahankan, tak boleh dilepas atau dijual. Ding Quan menengok ke haluan dan bertanya apakah itu akan membuat orang sulit mengenali siapa yang mengemudikan perahu. Azhao menjawab orang yang mengenalnya tentu akan tahu. Begitu terucap, ia merasa jawabannya tak masuk akal, tetapi belum juga meralatnya. Luo Yan bilang pelatnya boleh tetap di sana, dan orang yang bekerja di perahu itu juga bukan bayang-bayang. Bagaimana agar orang tahu siapa yang mengemudikan perahu bisa dipikirkan nanti. Untuk saat ini tak perlu membuka lagi seluruh perundingan harga sewa gara-gara keping tembaga itu.

Azhao menuliskan bahwa pelat tembaga tetap terpasang di haluan tanpa menambahkan bahwa hanya nama itu yang boleh dipakai. Pikirannya belum benar-benar tuntas, tetapi ia melihat bahwa ketika Ding Quan bangkit untuk menahan perahu, yang pertama dirabanya adalah celah yang baru ia tambal sendiri. Pelat itu tak disentuhnya. Bagi Ding Quan, apa yang bisa dikerjakan dengan perahu itu hadir lebih dulu di hadapannya daripada masa lalu siapa yang disimpannya. Kalau Azhao sungguh hendak membiarkan orang yang masih hidup memakai perahu itu, ia tak bisa hanya mengizinkan orang itu berdiri di tempat lama demi dirinya.

Setelah surat perjanjian selesai ditulis, mereka meminta tetua pengurus penyeberangan menjadi saksi. Gao Man tak ada di sana untuk memilah mana milik bersama dan mana milik pribadi bagi A-Zhao. Ia membacakan surat itu sendiri, lalu meminta Ding Quan dan Luo Yan menunjukkan bagian yang belum mereka pahami. Tetua itu tak berceramah tentang kerukunan kerabat dan tetangga. Ia hanya mengingatkan agar nama jangan salah tulis. Kelak ketika surat itu dikeluarkan lagi untuk diperiksa, mereka tak bisa hanya berkata bahwa semua semula berniat baik. Ketiganya pun menyimpan satu salinan masing-masing. Di papan rata alas kertas tertinggal bekas tinta yang samar.

Setelah perahu diturunkan ke air, mereka berdua naik sekali lagi. Ding Quan menyuruh Azhao mencoba dayung buritan yang baru. Azhao masih menggenggamnya di tempat yang sama seperti pada gagang lama, dan begitu mendorong, air memercik ke sepatunya sendiri. Ding Quan menunjuk letaknya. Gagangnya sedikit lebih panjang daripada yang lama, jadi jangan persis meniru posisi genggaman dulu. Azhao menggeser tangan dan kayuhan berikutnya pun lancar. Tadinya ia ingin berlagak sudah tahu, tetapi melihat Luo Yan tertawa di tepi sungai, ia akhirnya ikut tertawa sebelum sempat berkata apa-apa. Setelah mereka mendarat, Luo Yan hanya mendesak mereka menyimpan surat baik-baik. Sepatu basah bisa mereka jemur sendiri, katanya, tetapi kalau tulisannya basah, jangan minta dia membaca gumpalan tinta. Azhao menyelipkan ketiga salinan ke dalam kain kering. Untuk pertama kalinya, tumpukan itu tak ia simpan untuk dirinya sendiri.

Pagi-pagi tanggal dua puluh tujuh bulan ketiga, Ding Quan membawa sewa bulan pertama dan uang jaminan, dua untaian yang masing-masing berisi dua ratus enam puluh wen. Azhao memasukkan untaian jaminan ke kotak kecil yang lain, menuliskan dengan jelas milik siapa uang itu, lalu menguncinya. Kunci kotak dan kunci rumah tetap ia pegang. Untaian satunya cukup untuk tempat tinggal baru, makan, dan ongkos satu ruas perjalanan pulang-pergi, tetapi jumlahnya masih jauh dari cukup untuk membuatnya lupa pada papan lambung itu. Ia menyisihkan sedikit lagi, katanya mulai bulan ini uang untuk memperbaiki perahu harus disimpan lebih dulu, agar awal musim panas nanti ia tak baru sadar semuanya habis untuk keperluan jahit-menjahit.

Ia tidak menghitung ulang seluruh bekal perjalanan berikutnya di hadapan Ding Quan, hanya memintanya melihat sekali lagi tanggal perjalanan yang ia tulis. Jika ada urusan mendesak, selalu ada orang di perahu penumpang yang berlayar per ruas menuju Lanting yang bersedia membawa pesan; tak perlu setiap kali menunggu ia sendiri pulang. Ding Quan mengiyakan, lalu bertanya apakah ia masih perlu mengantarnya ke tepi timur. A Zhao berkata perlu, dan ongkosnya tetap dihitung. Ia menerimanya dengan wajar. Kesungkanan semula karena merasa menjaga perahu untuk seorang kawan lama justru berkurang, dan kedua orang di sisi perahu itu kini lebih bisa berdiri mantap.

Sebelum A-Zhao berangkat, Nenek Qin sendiri mengantarkan lampion bambu tua itu. Salah satu sisi tudungnya sudah diganti dengan kertas polos. Ia menunjukkannya kepada A-Zhao dan berkata sisi yang lama lembap, jadi memang harus diganti. Mengembalikan lampion bukan sekadar melepasnya dari tangan. Ia menyodorkan pegangannya kepada A-Zhao. Katanya, kali ini ia pun mengembalikan barang pinjamannya. Di toko ada lampion baru, cahayanya cukup. A-Zhao menerimanya dan lebih dulu meraba retakan pada bilah bambu yang ditambal. Ia tak lagi bertanya bagaimana nanti dengan tempat di dekat jendela. Ia hanya bilang kalau suatu hari memang perlu tudung tinggi, Nenek Qin masih bisa datang meminjamnya.

Berdiri di ambang pintu, Nenek Qin ingin bertanya apakah Azhao akan bertemu Xiaoman setiap hari di sana. Akhirnya ia malah bertanya apakah Gedung Selatan dingin pada malam hari. Azhao bilang tempat itu lebih kering daripada perahu, tetapi tangannya tetap mudah kedinginan. Perempuan tua itu mengeluarkan segumpal kecil sisa kain lembut dari lengan bajunya dan menyuruh Azhao membungkus tabung jarum dengannya agar ujung bilah bambu tua itu tak lagi menusuk tangan. Azhao menerimanya. Keengganannya menjadi penyampai pesan tak berarti sepotong kain pun harus ia kembalikan.

Ia tak membawa lampu itu ke Lanting. Ia menaruhnya dulu di rak kayu yang kukuh di kamarnya sendiri. Lampu itu pernah menerangi air untuk ayahnya dan jendela untuk keluarga Qin. Kini ia boleh untuk sementara tak melakukan apa pun bagi siapa pun, cukup mengering dengan tenang di siang hari. Saat menutup pintu, A-Zhao menoleh sekali. Pengait perunggunya tampak redup. Rasanya satu malam tanpa dinyalakan tak akan membuat seluruh masa lalu hilang.

Kali ini peti bambunya lebih ringan. Ia tak perlu melindungi lentera lagi, jadi tangannya bisa lebih dulu berpegangan pada papan titian. Ding Quan sudah di perahu. Dayung lama diletakkan di satu sisi, sementara dayung baru berada dalam genggamannya. Pada kayuhan pertama, Azhao nyaris menyuruhnya bergerak sedikit ke kiri. Kata-kata itu sudah di ujung lidah saat Ding Quan menoleh dan menangkap gelagatnya. Sambil tertawa ia bertanya apakah Azhao sudah ingin memberi aba-aba padahal belum juga naik ke darat. Azhao ikut tertawa dan menjawab bahwa Ding Quan juga tak pernah mengajarinya memegang jarum. Untuk sementara, biarlah masing-masing mengurus pekerjaannya sendiri.

Setelah menyeberang, sambil menunggu perahu penumpang untuk penggal berikutnya selesai memuat barang, Azhao tak terus menoleh ke belakang. Ia mengenali mangkuk berbibir retak yang dipakai pedagang mangkuk tanah liat sebagai alas pada perjalanan lalu. Hari ini mangkuk itu masih di tempat yang sama, malah terasa lebih akrab daripada barang bagus yang dipeluk orang sepanjang jalan. Ia mengganjal petinya dengan sebatang kayu dan menyisakan tempat untuk orang berlalu-lalang. Setelah secercah matahari di tepi layar bergeser masuk ke ruang perahu, barulah ia menggulung lengan bajunya sampai tak menghalangi pergelangan tangannya.

Perahu di belakangnya masih di Teluk Liu, dan pelat tembaga masih di haluan. A Zhao tidak menyerahkan semua kunci, tetapi ia juga tidak meninggalkan dirinya terikat pada beberapa kunci itu. Dari peti ia mengeluarkan kertas ukuran yang sudah penuh tulisan semrawut, untuk diperiksa lagi setibanya di Sangqiao. Saat perahu bergerak, tepi kertas bergetar pelan. Ia menindihnya dengan sekeping uang tembaganya sendiri, tanpa kembali mengulurkan tangan untuk melindungi lampu yang tak ada di sisinya.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.