Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel jalur dagang dan pertemuan kembali bernuansa Tiongkok kuno

Tak Seperti Masa Remaja

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12582 karakter · sekitar 11 menit

Pertama kali Yao Jia melangkah masuk ke rumah leluhur keluarga Lu pada usianya sekarang adalah selepas tengah hari tanggal dua puluh tujuh bulan keenam.

Lu Yan menunjukkan gambar perbaikan rumah kepadanya. Yao Jia mula-mula melihat angka sembilan ratus delapan puluh di sudut, lalu memeriksa bagian jendela. Ia bertanya apakah Lu Yan sungguh akan membuat bukaan supaya bagian gelap itu mendapat cahaya. Lu Yan mengangguk dan bilang kalau ia ingin melihat, tukang kayu He masih di sana. Semula Yao Jia hanya bertanya sambil lalu, tetapi mendengar ajakan itu, hatinya justru terasa hangat. Seolah setelah melihat gambar tersebut, kakinya mesti ikut melangkah masuk ke dalamnya.

Yao Jia menutup sebelah pintu kedai, meninggalkan papan kecil yang menyatakan ia akan segera kembali, lalu menyeberangi gang sumur bersama Lu Yan. Begitu pintu rumah leluhur didorong, bau kayu dan debu lama menyeruak. Semasa kecil ia sering berlari melewati tempat ini. Ia ingat, begitu orang dewasa keluarga Lu bersuara, mereka berdua langsung berhamburan ke luar. Kini, saat berdiri di tempat yang sama, teritisannya terasa lebih rendah daripada dalam ingatan. Di dekat pintu kini tergantung sehelai baju luar milik Lu Yan, baru dicuci dan masih separuh kering, dengan sedikit air menetes dari bawah lengannya.

Yao Jia lebih dulu memalingkan pandangan ke jendela. Tukang Kayu He mengetuk tiang lama dengan punggung tangan, menyuruhnya mendengar ujung mana yang masih padat. Di sampingnya, Lu Yan menunjuk sisi bukaan yang baru dan berkata bahwa kayunya tak perlu diganti semua, dan cahaya yang masuk bisa sedikit lebih banyak. Yao Jia mengulurkan tangan untuk meraba serat kayu lama di bawah jendela. Ujung jarinya berdebu. Ia ingat dulu pernah bersembunyi di dekat sini dengan segenggam rumput kering, hendak menakut-nakuti Lu Yan yang datang mencarinya, tetapi malah ia sendiri yang lebih dulu melompat keluar saat dipanggil ibunya.

Mendengar ceritanya, si tukang kayu tertawa dan berkata rupanya beberapa helai rumput lapuk di celah dinding itu masih ada pemiliknya. Yao Jia tersipu. Lu Yan ikut tertawa dan bertanya apakah itu segenggam rumput yang dulu dijejalkan sampai memenuhi sepatunya. Yao Jia bilang bukan di sepatu, ia tak sejahat itu. Lu Yan meliriknya dari samping, dan rupanya ia sendiri tak berani terlalu yakin. Akhirnya ia cuma bilang, setelah bertahun-tahun, kalaupun memang itu rumputnya, hari ini paling-paling ia hanya bisa mencungkilnya keluar untuk Lu Yan.

Tukang Kayu He pergi memeriksa balok rumah orang di ujung timur jalan, membiarkan mereka menentukannya sendiri. Begitu ia pergi, kamar mendadak sunyi, dan suara air di luar jendela terdengar lebih jelas. Yao Jia melihat ranjang sudah dipindah ke sisi dalam yang lebih kering, tetapi salah satu kakinya menindih secarik kertas dengan miring. Ia pun berjongkok hendak menariknya. Lu Yan buru-buru melarang. Kaki itu memang lebih pendek, dan tanpa kertas ranjang akan goyah. Ia sudah telanjur menariknya setengah cun, jadi ia menyangga kaki ranjang dan menyelipkannya kembali, sambil menertawakan dirinya yang belum juga masuk rumah tetapi sudah hendak membongkar tempat tidur Lu Yan.

Lu Yan mengambil bilah kayu tipis untuk mengganti kertas lipat yang sudah lembek, lalu meminta Yao Jia memegangi ranjang sebentar. Yao Jia menekan satu ujung dengan kedua tangan dan Lu Yan mengangkat ranjang sedikit. Bahu mereka begitu dekat. Baju luar Lu Yan yang lama menyimpan sedikit bau matahari, bercampur dengan wangi kayu yang baru diraut di tangannya. Yao Jia tiba-tiba merasa ia tak perlu menekan sekuat itu karena Lu Yan sudah mengangkat ranjangnya. Namun ia masih memegangi ujungnya dan baru berdiri ketika Lu Yan berkata pelan bahwa sudah beres.

Di jendela tersandar separuh cermin tua yang bagian belakangnya sudah menggelap. Entah sejak kapan cermin itu ada di sana. Yao Jia mengambil kain untuk menyekanya. Lu Yan membawa sebaskom air dan sekalian menarik bangku rendah ke dekat kakinya. Yao Jia menoleh dan melihat sedikit debu masih menempel di pipi Lu Yan. Sepertinya sejak semalam belum tercuci bersih. Ia tersenyum dan menunjukkannya. Lu Yan meraba bagian yang ditunjuk, tetapi debunya malah makin melebar. Yao Jia pun memeras kainnya, mengulurkan tangan, dan menyuruhnya jangan bergerak.

Saat kain menempel di pipinya, Lu Yan benar-benar diam. Matanya menatap Yao Jia. Tangan Yao Jia tiba-tiba melambat. Punggung jarinya menyentuh tulang pipi Lu Yan melalui selapis kain basah, dan panas terasa menembus dari baliknya. Tadinya ia ingin menggoda, dengan muka seperti ini masih mengaku bisa mengenali cap pada segel tanah liat. Kini sepatah kata pun tak bisa keluar. Ia hanya menyeka bagian itu dengan lembut, menarik tangannya, lalu buru-buru memeriksa apakah air dalam baskom sudah keruh.

Baru setelah beberapa saat Lu Yan bertanya apakah wajahnya sudah lebih bersih. Yao Jia bergumam mengiyakan dan bilang sekarang ia tampak seperti orang yang baru saja keluar dari tempat yang lebih bersih daripada tumpukan abu. Lu Yan tertawa pelan dan ia ikut tertawa. Namun baju luar di dalam kamar yang masih meneteskan air itu tiba-tiba terasa begitu dekat dengannya. Ia menyampirkan kain basah dan sengaja melihat ke arah lain. Barulah ia melihat gambar orang-orangan yang bergelantungan terbalik buatannya diletakkan di rak kayu yang tinggi.

Kertas itu sudah dibentangkan dan tidak tertindih daftar wadah. Yao Jia mendekatkannya, langsung mengeluh gambarnya jelek, lalu bertanya untuk apa Lu Yan masih menyimpannya. Lu Yan mengulurkan tangan hendak mengambilnya dan hanya bilang ingin menyimpannya. Yao Jia tak langsung memberikannya. Ia membalik kertas itu dan bilang begini lebih bagus. Sambil tertawa Lu Yan berkata bahwa orang-orangan itu memang bergantung terbalik, kalau ditegakkan lagi namanya tak jadi berjungkir balik. Yao Jia terkekeh dan mengembalikan kertas itu. Melihat Lu Yan menaruhnya kembali di tempat kering, ia merasa dadanya seperti ditekan lembut oleh seseorang.

Hari itu ia tak membereskan seluruh kamar untuk Lu Yan. Tokonya masih harus buka. Ada yang memanggil dari seberang gang hendak membeli cuka, dan ia menyahut. Sebelum pergi, ia sempat bertanya, kalau jendelanya sudah jadi pada bulan kedelapan, sampai di mana cahaya sore akan jatuh. Lu Yan menunjuk sebidang kecil lantai di bawah jendela. Yao Jia berdiri di sana, memiringkan kepala, membayangkan sinar matahari benar-benar masuk dari samping dan jatuh di tempat Lu Yan menaruh baskom hari itu. Gambar tukang kayu He kecil, kamarnya pun kecil. Namun cukup lama ia berdiri di dalam secercah cahaya yang belum ada itu.

Menjelang petang tanggal dua puluh sembilan, ada pertunjukan aneka lakon di muara. Yao Jia sudah bilang kepada Gao Jiang bahwa ia ingin menontonnya. Hari ini ada kerabat dari keluarga asal Gao Jiang yang datang. Sambil tertawa, Gao Jiang bilang Yao Jia tak perlu ikut mengunci jatah kesenangannya sampai pertunjukan berikutnya. Yao Jia membereskan beberapa wadah kosong, lalu keluar dan melihat Lu Yan sedang mencuci tangan di tepi sumur. Ia pun memanggil namanya dan bertanya, kalau malam ini tak ada urusan lain, maukah ia menonton sebentar.

Lu Yan mendongak, seolah khawatir ada kata yang terlewat. Yao Jia mengulanginya, di muara, ada pertunjukan, jangan sampai ia harus berdiri di sini dan menyanyikan judul pertunjukannya sekalian. Lu Yan tertawa, bilang ia mau, dan buru-buru menggantung kembali kain lap. Baru di mulut gang terlihat pinggir sepatunya masih basah. Yao Jia bertanya apakah sepatunya baru dicuci. Lu Yan menunduk dan bilang tadi airnya tumpah ketika ia menimba. Yao Jia pun menggodanya, sudah begitu akrab dengan dermaga, rupanya di pinggir sumurlah ia paling gampang terpeleset.

Orang di muara tidak terlalu padat. Beberapa lampu dengan sedikit minyak di depan menerangi sehelai kain tua yang digantung. Dua pemain keluar bergantian, seorang kurus, seorang tinggi. Si kurus selalu memperlihatkan separuh bola bambu yang sudah disembunyikan, si tinggi sengaja berpura-pura tak melihat, berputar ke sana kemari, akhirnya merogoh segenggam rumput dari topinya sendiri. Anak-anak tertawa paling keras, Yao Jia pun tertawa melihatnya. Lu Yan di sisinya mula-mula menatap bola dengan sungguh-sungguh, baru setelah melihatnya tertawa ia memahami bahwa tujuannya bukan sekadar menebak dengan benar.

Ia menyelinap ke samping dan berdiri mantap. Seorang anak mengangkat papan kecil hendak menebak di mangkuk mana bola bambu berada; tebakan yang benar mendapat seruling bambu tipis. Dua kali anak itu menebak dan meleset, lalu berbalik menarik orang dewasa, yang juga salah menebak. Orang di panggung bertanya apakah mereka mau mencoba lagi. Yao Jia tak tahan untuk menunjuk mangkuk ketiga. Lu Yan berbisik, katanya yang kedua. Ia pun melotot kepadanya, mengatakan hanya boleh satu, jangan sampai mereka berdua mengambil semua pilihan dari tiga mangkuk itu.

Yao Jia mempertaruhkan satu wen miliknya dan tetap menunjuk mangkuk ketiga. Pemain yang tinggi mengangkatnya. Ternyata memang ada bola di bawahnya. Sambil menyerahkan seruling bambu, dia memuji ketajaman mata Yao Jia. Yao Jia menerimanya dan langsung melirik Lu Yan dengan bangga. Lu Yan mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Sambil tertawa dia bilang dia cuma pandai memeriksa tempayan. Kalau sekecil mangkuk, dia tak bisa membedakannya. Yao Jia menggenggam seruling, hendak membalas, ketika pemain di panggung mengangkat mangkuk kedua. Ternyata di bawahnya juga ada bola. Tawa meledak di sekeliling mereka. Keduanya tertegun, lalu ikut tertawa sampai membungkuk.

Seruling kecil itu ringan sekali. Salah satu ujung ruas bambunya diraut agak tak rata. Takut bibirnya tergores, ia merabanya sebelum meniup. Nada pertama tak keluar, hanya embusan angin. Lu Yan bertanya apakah ia boleh mencoba. Yao Jia menyembunyikan seruling di belakang punggung dan menyuruhnya menunggu sampai ia sendiri bisa. Lu Yan menurut. Ia mencoba lagi dan akhirnya terdengar satu nada, begitu melengking sampai ia sendiri mengerutkan bahu. Seorang anak di dekatnya menutup telinga dan berseru bahwa suaranya lebih galak daripada bebek di panggung. Yao Jia merah padam karena kesal, tetapi akhirnya tak kuasa menahan tawa.

Dalam perjalanan pulang, angin sungai menggerakkan pita di sisi rambut Yao Jia. Lu Yan berjalan di sisi luar, memberi jalan bagi orang-orang yang lalu-lalang membawa pikulan. Ada undakan basah. Yao Jia lebih dulu menjajakinya dengan kaki. Lu Yan mengulurkan tangan, dan ia berpegangan pada pergelangan tangannya. Setelah lewat pun ia masih menggenggamnya sejenak. Tangan itu hangat, persendiannya keras, begitu berbeda dari tulisan yang ia kenali di surat, kuas yang dilihatnya di meja toko, atau sentuhan dingin di sisi guci. Ia berjalan sambil menunduk dan baru perlahan melepas genggaman ketika sampai di tempat yang rata.

Lu Yan tak mendesaknya untuk melepas pegangan. Ia menatap ke depan dan selang beberapa saat bertanya apakah suling itu masih berbunyi. Yao Jia bilang masih, hanya saja kalau ditiup sekarang, bisa-bisa semua ayam di gang terbangun. Lu Yan tertawa dan menunjuk ke sebuah rumah di depan yang pintunya belum ditutup. Katanya di situ ada angsa, lebih galak lagi, jangan sampai ikut terpancing keluar. Yao Jia menggenggam suling erat-erat. Tiba-tiba ia tak begitu ingin cepat-cepat sampai ke pintu rumahnya, jadi ia memperlambat langkah setengah tapak. Lu Yan pun ikut melambat.

Lu Yan harus berangkat tanggal satu bulan ketujuh, tiba di Yuepu malam berikutnya, dan menghitung muatan di rumah dagang tanggal tiga. Semua sudah lama tertulis dalam jadwal perjalanan ini. Selama dua malam itu, Yao Jia sempat ingin bertanya apakah ia bisa tinggal sehari lagi. Kata-katanya sudah sampai di ujung lidah ketika ia kembali terbayang buku catatan pengembalian wadah yang ditimang Lu Yan siang tadi. Ia masih ingin Lu Yan tinggal. Hanya saja ia tak mau menjadikan malam yang berangin ini seolah-olah kepulangan Lu Yan berarti ia meninggalkannya sekali lagi.

Sesampainya di depan pintu, Yao Jia membuka kunci dulu, lalu menoleh dan bertanya apakah malam di kapal kali ini masih akan sesak. Lu Yan bilang sesak, tetapi asal bisa meluruskan kaki sudah cukup. Matanya masih tertuju padanya. Yao Jia berkata kalau begitu malam ini pulanglah dan tidur yang nyenyak dulu. Lu Yan mengangguk, tetapi tetap berdiri di tempat. Yao Jia juga tak buru-buru masuk. Dengan pintu separuh terbuka dan sepetak kecil tanah tersinari lampu di antara mereka, keduanya mendengarkan sampai dentang-dentang gong terakhir dari pertunjukan di kejauhan usai.

Pada tanggal tiga puluh bulan keenam, Yao Jia menyimpan seruling bambu di bagian kering dalam lemari. Xiao Geng melihatnya dan bertanya dari mana asalnya. Yao Jia bilang dia mendapatkannya karena berhasil menebak. Anak itu langsung ingin ikut menebak dan mengaku paling pandai mengenali mangkuk. Yao Jia tertawa. Dia merahasiakan dulu akal-akalan semalam, bahwa kedua mangkuk sama-sama berisi bola, dan hanya membolehkan Xiao Geng meniup dua nada. Nada terakhir nyaris menerbangkan alisnya sendiri. Gao Jiang yang baru masuk dari luar sampai kaget dan berseru, siapa yang menginjak ekor kucing kita?

Keesokan harinya Lu Yan berangkat ke hilir, dan Yao Jia benar-benar pergi ke dermaga untuk mengantarnya sebentar. Ia tak perlu memeriksa muatan siapa pun. Berdiri di tepi sungai, ia hanya melihat Lu Yan merapikan barang bawaannya sendiri dan menyahut panggilan pengemudi perahu. Sebelum pergi, Lu Yan bertanya di mana suling kecilnya. Yao Jia menjawab suling itu ada di lemari dan tak memintanya untuk membawa suling itu. Lu Yan tertawa dan bilang lain kali ia harus mendengar Yao Jia meniup satu bagian pendek sampai selesai. Yao Jia langsung menyahut bahwa itu masih tergantung kapan telinganya cukup senggang. Mulutnya menggerutu, tetapi ia mengingat permintaan itu.

Saat perahu meninggalkan tepi, ia tidak lama melambaikan tangan. Ia mengangkatnya sekali lalu menurunkannya, tetapi telapak tangannya masih mengingat sedikit kehangatan malam sebelumnya. Setelah melihat layar melewati teluk luar, ia menyingkir untuk memberi jalan kepada orang yang datang mengumpulkan tali-tali lepas, lalu kembali ke gang sumurnya. Pintu toko setengah terbuka, para pelanggan tetap yang biasa datang sebelum siang akan datang seperti biasa. Seruling bambu itu masih tersimpan di lemari; kepergian sebuah perahu tidak tiba-tiba membuatnya begitu ringan hingga tak bisa ditemukan.

Pada senja hari ketiga, ia mencoba meniup dua nada. Nada pertama masih meleset, tetapi nada kedua ternyata sedikit lebih rata. Di luar jendela, seorang tetangga berseru agar Xiaogeng berhenti ribut. Dari balik jendela ia berkata bahwa itu bukan Xiaogeng. Tetangga itu tertegun, lalu tertawa dan bertanya kalau begitu siapa. Ia menggenggam seruling, wajahnya perlahan menghangat. Setelah beberapa saat ia menghadap lagi ke lubang kecil itu dan meniupkan nada ketiga dengan lembut.

· Akhir bab ·

Buku ini merupakan tulisan orisinal berbantuan AI, dikembangkan dari 《长干行二首》 (Dua Puisi Changgan) karya Li Bai dan cerpen asli situs ini 《青梅旧账》 (Utang Lama Buah Mei Hijau). Tokoh, perusahaan dagang, harga, geografi, dan penanggalannya sepenuhnya rekaan; inti karya asli tetap dipertahankan, yakni penuntasan perhitungan utang lama, pengakuan kembali atas keterampilan dan jerih payah, serta kesepakatan baru untuk menjalin hubungan setelah dewasa, bukan biografi penyair.

Daftar isi buku · 38 bab
  1. Prem Hijau di Balik Lengan Baju
  2. Uap Hangat dari Mulut Tempayan
  3. Hanya Menerima Seratus Enam Puluh
  4. Sesendok Terlalu Manis
  5. Noda Tinta di Samping Kuda Bambu
  6. Buah Prem Lebih Dulu Melunak
  7. Hari Kembali Naik Kapal
  8. Keluarga yang Tak Jadi Terbentuk
  9. Semangkuk Nasi yang Menunggu Dingin
  10. Lidah Tak Ingat
  11. Satu Petak yang Tak Cukup
  12. Dua Perjanjian Pengangkutan
  13. Daun yang Ditinggal Dulu di Tepi Sungai
  14. Pertanyaan yang Tak Terucap
  15. Tak Ada Ruang Kosong di Sungai
  16. Rasa Mi Musim Panas Terlalu Pekat
  17. Ayah Masih di Sisi Meja
  18. Daun-daun di Bawah Matahari
  19. Menceritakan Malam Itu Sampai Tuntas
  20. Makan Siang di Gang Genting
  21. Sebelum Lunas
  22. Siapa yang Tak Tercatat dalam Pembukuan
  23. Tiga Hari Menyusuri Sungai ke Hulu
  24. Sebelas Tahun Ini Tak Berlalu Hampa
  25. Mengembalikannya Bundel demi Bundel
  26. Sepiring Kecil yang Lebih Ringan Rasanya
  27. Tiga Hari Ibu
  28. Rasa Asam yang Tak Kunjung Datang
  29. Saat Kau Pulang
  30. Tak Seperti Masa Remaja
  31. Perahu Ada Gilirannya
  32. Sepiring Buah Mei yang Tak Dijual
  33. Lentera Menuju Bawah Air
  34. Dua Hari Menyusuri Sungai ke Hilir
  35. Di Tepiannya
  36. Jalan yang Ingin Ia Lihat Sendiri
  37. Sebuah Kamar yang Bisa Dihuni
  38. Masih Ada Ruang di Halaman Baru

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.