Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Lentera Kembali ke Atas Lemari

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12224 karakter · sekitar 10 menit

Perahu penumpang yang kembali ke Liuwan juga singgah semalam di Sangqiao. Kali ini A-Zhao tak bertanya apakah bisa mengejar perahu lain. Ia lebih dulu mengganjal petinya di atas bilah kayu dan menaruh lampion di sisi kaki. Setelah semua orang duduk dengan mantap, barulah ia menutupi bagian kertas pembungkus yang robek dengan sepotong kecil kain lama. Tulisan 春和班, Rombongan Chunhe, masih terlihat pada kertas. Penumpang di sebelahnya bertanya apakah ia habis menonton lakon. Ia bilang belum menonton pertunjukan resminya, baru melihat orang berlatih beberapa bagian.

Orang itu iri. Katanya latihan pun pasti enak ditonton, apalagi tak perlu bayar. Azhao teringat lipit lengan yang harus ia bongkar kembali. Sulit menyebut sore itu sebagai kesempatan mendapat tontonan cuma-cuma, maka ia hanya tersenyum tipis. Ia memisahkan dua belas wen hasil kerja percobaannya dari sisa bekal perjalanan. Saat menghitung ongkos perahu, beberapa kali tangannya tanpa sadar meraba untaian kecil itu, seolah uangnya sudah bukan jenis uang tembaga yang sama. Perjalanan pulang memang sedikit lebih ia kenal daripada saat berangkat, tetapi tetap memakan satu malam.

Pada sore hari ketujuh belas, sebelum perahu merapat betul di dermaga Tongwei, A-Zhao sudah melihat perahu lama Liuwan di seberang. Ding Quan yang mengemudikannya. Di sisinya duduk seorang lelaki tua yang membawa ayam, tangannya sibuk menuding-nuding lewat sela kurungan. A-Zhao melihat dari jauh dan tiba-tiba merasa kesal tanpa bisa menjelaskan sebabnya. Entah karena Ding Quan begitu mahir memakai perahunya atau karena penumpang seperti itu pun sudah ia seberangkan untuknya. Ketika A-Zhao akhirnya naik, hal pertama yang ditanyakan Ding Quan adalah apakah ia sudah makan. Barulah ia tak jadi memperlihatkan kekesalan kecil itu di wajahnya.

Ding Quan bilang selama beberapa hari ini tak ada masalah besar. Air yang perlu ditimba dari perahu malah lebih sedikit daripada saat A-Zhao masih di sana. Agaknya tambalan sementara pada celah papan itu berfungsi. Ia sudah menggantikan A-Zhao menyeberangkan orang beberapa kali dan menyisihkan bagian untuk upahnya sendiri. Sisanya, sekitar sepuluh wen lebih, sudah dibungkus di rumah dan bisa diambil A-Zhao nanti. A-Zhao mengangguk. Mendengar Ding Quan menjelaskan perjalanan beberapa hari itu dengan terang, ia justru merasa tak enak kalau bungkusan kecil itu pun dianggap penghasilan atas nama ayahnya. Ia bertanya bagaimana hasil uji dayungnya. Ding Quan langsung gembira dan jadi banyak bicara.

Setelah menyeberang, ia membawa petinya pulang dulu, baru mendekap lentera dan pergi ke rumah keluarga Qin. Rumahnya lebih dingin daripada saat ia pergi. Mangkuk kosong di meja jahit masih tertelungkup dan tak ada yang menambah barang berserakan. Anehnya, ia sempat kecewa, seakan sepulang bepergian ia semestinya melihat sedikit tanda bahwa rumah itu telah menunggunya. Akhirnya ia tak mengelap meja. Ia hanya menaruh dua belas wen ke dalam kotak kecil, lalu mengambil tabung jarum dan menyelipkannya ke lengan untuk dibawa.

Nenek Qin sedang memperbaiki rangka lampion. Melihat A-Zhao masuk, ia menghentikan pisaunya. A-Zhao meletakkan lampion di atas meja jualan dan berkata ia bertemu Qin Xiaoman di Lanting. Nenek Qin tak langsung memberondongnya dengan pertanyaan seperti yang A-Zhao bayangkan di perahu. Ia lebih dulu melihat kain tambalan pada lampion, meraba tepinya dengan jari, dan bertanya apakah kain itu baru dipasang di sana.

“Kertasnya robek di jalan. Kututupi dengan kainku sendiri.”

Tangan Nenek Qin turun perlahan. Melihat gerakan itu, A-Zhao baru sadar bahwa yang ingin ditanyakannya belum tentu soal kain. Ia membuka kertas pembungkusnya. Bilah bambu lama masih utuh dan pengait tembaganya tak penyok. Setelah dua hari perjalanan lewat air ke sana dan dua hari lagi kembali, lentera itu sampai lagi di atas lemari semula, seolah tak ada yang berubah. Namun A-Zhao tak bisa lagi sekadar berkata, lentera ini memang dulu dipinjamkan kepadamu, yang penting sekarang sudah kembali.

Ia lebih dulu berkata Xiaoman memang berada di Rombongan Chunhe; selain menyanyi opera, ia juga mengurus kostum, putranya berusia delapan tahun, dan suaminya meninggal karena sakit dua tahun lalu. Saat suami disebut, Nenek Qin mengangkat mata dan bertanya kapan ia menikah. A Zhao menyebut tahun sesuai yang diceritakan Xiaoman. Perempuan tua itu tampaknya menghitung dalam hati, lebih lambat daripada A Zhao. Sesaat kemudian barulah ia bertanya lagi bagaimana lelaki itu memperlakukannya.

Azhao menjawab ia tak tahu. Yang ia lihat hanya anak itu dan peti kostum. Ia tak pernah melihat laki-laki itu. Nenek Qin tampak agak tak puas mendengar jawaban itu dan menunduk untuk mencungkil sehelai serat bambu. Ia lalu bertanya apakah Xiaoman sekarang sudah tak menyanyi lagi. Azhao bilang masih, dan dalam satu babak ia memerankan ibu si perempuan pengemudi perahu. Begitu kata-kata itu keluar, ia menyesal telah menjawab sedetail itu. Namun Nenek Qin tak menangkap arti lain dan hanya mengulang kata ibu dengan pelan, seolah peran itu tiba-tiba menempatkan putrinya pada usia yang hampir sama dengan usianya sendiri.

Perempuan tua itu bertanya berapa hari Azhao tinggal di sana, apakah Xiaoman makan dengan baik, dan apakah ia bertambah kurus. Azhao menjawab sebatas yang ia tahu. Menjelang akhir, ia nyaris ikut berkata atas nama Xiaoman bahwa hidupnya baik-baik saja, supaya kesunyian di meja toko itu tak makin menekan. Namun ia ingat bagaimana Xiaoman menyisihkan separuh kue itu dan bagaimana jarinya sempat kaku saat mengganti jarum. Ia pun memilih mengatakan bahwa hidup Xiaoman tak ringan, tetapi ia punya caranya sendiri untuk menjalaninya dan tak terus menunggu dijemput orang dari rumah.

Mendengar kalimat terakhir itu, wajah Nenek Qin sedikit menegang. A-Zhao tak berniat menyindir siapa pun, tetapi begitu terucap, kata-katanya terdengar seperti sindiran. Ia mengeluarkan tabung jarum dari lengan bajunya dan ingin bilang bahwa meski jarumnya sudah dipakai, ia masih bisa menggantinya untuk toko. Sampai di situ ia merasa bahwa mengembalikan semuanya justru akan tampak seperti sengaja menutup perhitungan. Ia hanya mengeluarkan jarum yang paling halus dan bilang jarum itu enak dipakai. Nenek Qin meliriknya dan menjawab bahwa memang sudah ia pilih baik-baik sewaktu membeli.

Benda kecil yang nyata ini membuat mereka berdua bisa berbicara lagi. Nenek Qin bertanya apakah kostum panggung juga memakai jarum sehalus itu. A Zhao berkata tergantung bahannya, ia baru belajar bahwa lipatan yang seharusnya disisakan tidak boleh semuanya dijahit mati. Ia menceritakan sedikit kejadian memalukan hari itu tanpa menyebut Gu Ming. Setelah mendengarkan, sudut bibir perempuan tua itu ternyata bergerak. Katanya dahulu putrinya pun tak mau mengikuti jalur benang yang disisakannya. Disuruh membongkar jahitan, ia malah menganggap orang lain tak mengerti. Baru separuh bercerita, ia seperti teringat bahwa enam belas tahun ia tak berada di sana, lalu menahan kalimat berikutnya.

Memanfaatkan saat itu, A Zhao berkata bahwa Xiao Man mengatakan, setelah rangkaian pertunjukan kali ini selesai, ia ingin membawa anaknya menyeberangi sungai sekali. Ia menekankan kata ingin dengan jelas, dan juga mengatakan bahwa tanggalnya belum ditentukan. Nenek Qin tidak bertanya mengapa belum bisa ditentukan, malah berdiri untuk melihat kamar dalam, seolah kuali sudah harus dicuci dan papan tempat tidur perlu dipindahkan lagi. Setelah dua langkah ia kembali, bertanya apakah anak itu takut air. A Zhao berkata anak itu tumbuh mengikuti rombongan, jadi agaknya tidak takut, tetapi ia sendiri belum pernah membawanya naik perahu.

Nenek Qin berkata syukurlah kalau anak itu tidak takut air, berarti tak perlu meminta orang lain datang menjemput. Ia segera bertanya lagi apakah mereka tahu jalannya, karena jalan menuju rumah sekarang sudah dilapisi batu. Melihat Nenek Qin sudah mengatur seluruh perjalanan dalam benaknya, Azhao buru-buru berkata bahwa ia akan bertanya lagi setelah kembali ke Lanting, dan hari kedatangan mereka pun belum diketahui. Barulah perempuan tua itu duduk dan mengetuk pelan sisi lemari dengan buku-buku jarinya, seakan tiba-tiba ditinggal di samping kereta yang belum bergerak.

“Apa dia menyinggung pesan yang kutitipkan?” tanya Nenek Qin.

A-Zhao berkata pesan itu sudah ia sampaikan, dan ia juga menanyakan soal perjodohan lama. Ia tak mengatakan bagaimana Xiaoman tertawa waktu itu. Ia hanya meletakkan pertanyaan itu di antara mereka. Tangan Nenek Qin seketika diam. Di luar toko, seseorang lewat mendorong gerobak. Roda kayunya menggesek ambang pintu dengan suara panjang. Setelah suara itu berlalu, A-Zhao masih belum mendengar jawaban.

Akhirnya perempuan tua itu berkata perkara itu sudah bertahun-tahun lewat, kenapa masih ditanyakan. Azhao teringat ucapan yang paling tak ingin didengarnya, bahwa barang usang bisa diperbaiki dan apa masalahnya kalau pelanggan sedikit. Tiba-tiba ia mengerti bahwa sebutan bertahun-tahun itu tak bisa menjawab satu perkara pun secara konkret. Ia bertanya lagi, lalu bagaimana sebenarnya sekarang. Nenek Qin memandangnya. Sesaat matanya seperti hendak menimpakan juga sifat keras kepala putrinya dulu kepada anak muda di hadapannya.

“Aku sudah bilang masa lalu tak perlu diungkit.”

“Itu pesan yang kau titipkan untuknya,” jawab A-Zhao perlahan. “Yang ia tanyakan kepadaku masih belum bisa kujawab.”

Nenek Qin menoleh ke bilah bambu yang belum selesai diserut. Azhao tak tahu apakah ia telah melangkah terlalu jauh. Semula ia hanya perlu menemui orang itu dan membawa pulang pelita. Perlukah pertanyaannya juga ia bawa seutuh itu? Namun kalau demi menjaga perasaan sang nenek ia menghilangkan pertanyaan Xiaoman, dari mana ia akan mulai bicara saat bertemu lagi dengan perempuan yang duduk di depan peti pakaian itu? Ia menggenggam tabung jarum tanpa bersuara lagi.

Setelah beberapa lama, Nenek Qin berkata bahwa keluarga Zhou sekarang sudah jauh berbeda dari keluarga Zhou dulu, dan ia pun tidak membawa selembar kertas ke mana-mana untuk meminta siapa pun melakukan sesuatu. Azhao menangkap bahwa tak ada orang yang menunggu putrinya pulang dengan surat perjanjian nikah di tangan, tetapi ia masih tak berani mengatakan atas nama Nenek Qin bahwa urusan itu sudah berakhir. Ia bertanya apakah lain kali, saat ke Lanting, ia boleh menyampaikan perkataan itu apa adanya. Kali ini Nenek Qin tidak menjawab. Ia menunduk dan meraut ujung bilah bambu sedikit demi sedikit sampai bulat, lebih lambat daripada biasanya.

A-Zhao tidak menunggu di kedai sampai Nenek Qin menemukan jawabannya. Ia bilang untuk sementara lentera itu bisa tetap di atas lemari. Beberapa hari ini ia masih harus mengurus perahu, dan kalau nanti Nenek Qin masih ingin meminjamnya, datang saja untuk memberi tahu. Nenek Qin mendongak, seakan baru teringat bahwa lentera itu sendiri punya tempat lain untuk dituju. Ia menyahut dan menggeser lentera lebih ke dalam lemari, tanpa lagi menggunakannya untuk bertanya apakah Xiaoman akan mengenalinya. Ketika A-Zhao melangkah keluar, tabung jarum itu sudah kembali ke lengan bajunya. Ia tidak mengembalikannya dan tidak merasa karenanya ia berutang sepatah kata yang manis.

Dalam perjalanan kembali ke penyeberangan, ia mampir dulu ke rumah keluarga Ding untuk mengambil uang yang jumlahnya belasan wen itu. Luo Yan sedang membelah bambu di dekat pintu. Setelah mendengar pekerjaan Azhao di Lanting, ia tak memuji atau tertawa, hanya bertanya apakah jari-jarinya sampai lecet. Azhao mengulurkan tangan. Kapalan lama di sela ibu jari dan telunjuk masih ada, tetapi ujung jarinya lebih lunak daripada sebelum berangkat. Luo Yan melirik dan bilang memang begitu. Kalau berganti pekerjaan, kapalan harus tumbuh di tempat lain. Lalu ia memanggil Ding Sui agar membawa separuh bilah bambu yang enggan ia kerjakan, jangan hanya menunggu orang bepergian jauh untuk melihatkan model baru baginya.

Mendengar itu, mata Ding Sui langsung berbinar ke arah A-Zhao. A-Zhao buru-buru bilang ia hanya sempat masuk ke rombongan teater dan tidak mampir ke toko lampion. Gadis itu memang kecewa. Ia mencibir, tetapi tetap menyerahkan bilah bambu kepada ibunya. Melihat raut muka itu, A-Zhao merasa jauh lebih santai daripada ketika berdiri di dekat meja jualan keluarga Qin. Ia bahkan bisa mengakui bahwa ia tak sempat melakukan hal kecil yang ia janjikan untuk dilihat sambil jalan. Katanya, lain kali kalau benar-benar melihatnya, baru ia akan bercerita. Ding Sui menjawab, kau memang mesti mendapatkan pekerjaanmu sendiri dulu.

Belakangan Ding Quan membawa pulang dayung baru dan bertanya apakah orang Lanting akhirnya mau mempekerjakannya. A-Zhao bilang ia hanya diberi beberapa pekerjaan kecil untuk dicoba, sempat salah menjahit satu bagian, dan upahnya cuma dua belas keping. Tadinya ia mengira akan tersipu begitu sampai di situ. Ternyata ketika menceritakan lipatan yang memberi ruang gerak itu, ia tak tahan untuk memperagakan cara Lu Heniang memutar bahu. Kain lama di sisi meja pun ia ambil dan lipat untuk memberi contoh. Ding Quan tak begitu mengerti penjelasannya, tetapi ia bisa melihat A-Zhao tak pulang untuk minta disuruh berhenti pergi ke sana.

Ding Quan berkata besok ia akan ke Dermaga Barat untuk bertanya soal pikulan kayu bakar. Kalau perahu masih ditahan beberapa hari, ia tetap bisa menjaganya. Namun selanjutnya mereka harus membicarakan lagi siapa yang menyeberangkan penumpang dan siapa yang membayar bahan perbaikan. Jangan terus dibiarkan serba tak jelas begini. A-Zhao mengangguk. Ia tak langsung menyewakan perahunya kepada Ding Quan dan tak lagi membahas cara ayahnya dulu. Ia lebih dulu meminta Ding Quan menaruh dayung baru di tempat kering, lalu pergi menyauk air dari buritan.

Malam itu, ketika membuka halaman catatan lentera, tangannya berhenti sejenak. Lentera itu sudah ia terima kembali. Yang kini berada di atas lemari adalah lentera yang ia setujui untuk ditinggal sementara. Entah orang yang dinanti datang atau tidak, itu tak seharusnya dihitung sebagai utang pinjaman. Ia bisa saja mencoret catatan ayahnya, tetapi belum tega menyentuh baris terakhir tulisan ayahnya secepat itu. Ia menutup buku, lalu pada secarik kertas ukuran bekas mencatat beberapa kata tentang lubang tali, lipatan lengan, dan pakaian biru kelabu. Tulisannya kurang elok, tetapi ia membacanya dua kali sebelum meniup padam pelita tanah liat kecil di meja, pelita yang berbeda dari lentera bambu tua itu.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.