Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno
Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12337 karakter · sekitar 10 menit
Sore tanggal dua puluh tujuh, Azhao turun dari perahu penumpang yang datang dari utara. Ia membeli semangkuk kecil bubur panas di Tongwei sambil menunggu Ding Quan datang dari tepi barat. Kemarin ia bermalam di Sangqiao, dan pagi ini ia kembali naik perahu Zheng Qin. Setelah beberapa bulan, banyak penumpang sudah berganti, tetapi perjalanan dua hari itu tak berkurang satu malam hanya karena ia ingin cepat sampai di rumah. Seorang penjual sayur di Dermaga Timur mengenalinya dan bertanya apakah perahu keluarga He akhirnya terjual. Ia menggeleng dan bilang ia datang untuk memperpanjang sewa.
Penumpang di perahu sudah tinggal sedikit. Ding Quan membantu memegangi keranjang penumpang tua terakhir dan baru menyapa Azhao setelah menyimpan uangnya. Ia bertanya bagaimana pertunjukan musim gugur. Azhao bilang pertunjukannya terlaksana, dua malam tidak penuh, tetapi juga tidak merugi. Mendengar itu Ding Quan mengangguk. Ia tak seperti orang-orang di gedung pertunjukan yang selalu ingin bertanya lagi siapa yang paling banyak mendapat sorak. Yang perlu diingatnya tetap berapa orang yang akan mengejar penyeberangan malam ini dan bagian tepian berlumpur mana di Dermaga Timur yang akan licin setelah air surut di musim gugur.
A-Zhao duduk dekat sisi ruang perahu dan melihat papan baru yang dipasang bulan keenam sudah ternoda beberapa jejak sepatu. Ada gores halus pada catnya. Saat ia mengulurkan tangan untuk meraba, Ding Quan berkata bahwa dua hari lalu ada sepikulan keranjang bambu yang terseret tanpa alas. Ia sudah menambal catnya. Besok kalau sudah benar-benar kering, baru dilihat lagi. Sesaat A-Zhao masih merasa sayang, tetapi ia tak melarang Ding Quan mengangkut keranjang lagi. Kalau orang hanya boleh memandangi perahu itu, tentu ia akan lebih lambat menua. Namun, bukan untuk itu perahu tersebut tetap hidup.
Luo Yan sudah menunggu di tepian dengan catatan pembayaran sewa enam bulan di tangannya. Uang dua ratus enam puluh wen untuk tanggal dua puluh tujuh bulan kedelapan sudah dititipkan pada perahu yang lewat ke Lanting. Ia meminta A-Zhao mencocokkannya sekali lagi. Potongan dua puluh enam wen pada bulan keenam juga dicatat di samping baris semula. Jumlah sewa yang benar-benar dibayar selama enam bulan adalah seribu lima ratus tiga puluh empat wen. Uang jaminan dua ratus enam puluh wen dicatat terpisah dan tak pernah bercampur dengan pembayaran itu. A-Zhao mengumpulkan beberapa tanda terimanya. Cara mereka mencatat berbeda, tetapi semua angkanya cocok.
Luo Yan meminta A-Zhao masuk mengambil kotak uang jaminan. Ia ingin melihat uangnya dulu sebelum berunding. A-Zhao tak tersinggung karena dianggap kurang bisa dipercaya. Ia membuka kotak itu dan menaruh bungkusan utuh di atas meja. Ujung talinya masih bersimpul seperti saat Luo Yan mengikatnya pada bulan ketiga. Uang itu sejak awal bukan miliknya. Kekurangan delapan puluh wen untuk mengganti papan pada bulan keenam ia tutup dengan upahnya sendiri. Uang ini bukan hasil mengumpulkan dana mendadak hari ini untuk diperlihatkan kepada siapa pun. Selesai menghitung, Luo Yan mengikatnya kembali dengan tali baru yang ia bawa sendiri.
Ding Quan ingin menyewa lagi selama setengah tahun. Karena penumpang berkurang pada musim dingin, ia bertanya apakah tiga bulan pertama bisa dikurangi dua puluh keping per bulan. Ia bicara pelan sekali, seolah takut A-Zhao langsung mengira ia sengaja menekan harga karena A-Zhao tinggal jauh. Luo Yan justru langsung memaparkan perhitungannya. Pada musim dingin ada orang yang tak keluar rumah dan hari lebih cepat gelap. Penumpang yang berkurang tak bisa didapat kembali hanya dengan menambah satu kali penyeberangan. Ia pun masih harus menyisihkan uang untuk mengganti bahan anyamannya. Setiap kali pemasukan penyeberangan kurang, ia tak bisa terus menutupnya dari usaha keluarga yang lain.
A-Zhao telanjur menganggap dua ratus enam puluh keping sebulan sebagai jumlah yang pasti. Berkurang dua puluh tak akan membuatnya langsung kelaparan, tetapi meja yang hendak ditambahkannya sehabis musim gugur harus menunggu sedikit lagi. Ia tak langsung setuju. Ia lebih dulu bertanya bagaimana mencatatnya kalau ada orang mencarter perahu pada musim dingin, lalu pergi bersama Ding Quan melihat tempat tambat baru. A-Zhao tahu cara menjalankan penyeberangan, jadi ia paham Ding Quan tak bisa membayangkan perahu kosong seolah penuh. Ding Quan pun tahu uang yang dikeluarkan A-Zhao untuk memperbaiki papan tak dipungut dari dasar sungai. Ia tak bilang bahwa karena pemiliknya tak mengemudikan perahu sendiri, sewanya cukup sekadarnya.
Akhirnya disepakati sewa tetap setengah tahun. Dari hari itu sampai tanggal dua puluh tujuh bulan dua belas, sewanya dua ratus empat puluh keping per bulan selama tiga bulan. Tiga bulan setelahnya dua ratus enam puluh keping per bulan, dan pada tanggal dua puluh tujuh bulan tiga tahun berikutnya mereka akan berunding lagi. Bagian struktur utama menjadi tanggung jawab A-Zhao, sementara keperluan kecil sehari-hari ditanggung keluarga Ding. Pengurangan sewa ketika perahu berhenti untuk diperbaiki dihitung menurut jumlah hari sebenarnya. Perbaikan tiga hari tak boleh dipakai untuk memperpanjang masa sewa. Ketiganya menambahkan ketentuan itu pada kertas baru. Luo Yan memasukkan kembali uang jaminan dua ratus enam puluh keping ke dalam kotak dan menegaskan sendiri bahwa jumlahnya tetap. Jika sewa tak diperpanjang saat jatuh tempo, uang itu harus dikembalikan kepadanya langsung agar hitungannya tuntas.
Sewa bulan pertama dengan tarif baru, dua ratus empat puluh wen, dibayar di hadapannya. A-Zhao menerima uangnya dan melirik kedua papan nama itu lagi. Pelat tembaga lama berada di sebelah dalam, papan kayu di sampingnya, dan rumbai baru buatan Ding Sui sudah berganti warna. Ia bertanya apakah pada musim dingin papan itu masih perlu diturunkan agar tidak lembap. Luo Yan bilang rumbainya akan disimpan, papannya tetap dipasang. Tulisan “丁全撑渡”, yang menyatakan bahwa Ding Quan menggalah perahu penyeberangan, tetap di situ. Besok ia masih harus bangun pagi. Kepulangan A-Zhao hari ini tak lantas membuatnya kembali sekadar menjadi tetangga yang menjaga perahu He Huaizhou semalam.
Azhao memberi tahu mereka agar surat pada bulan kesebelas tetap dikirim ke Lanting. Xiaoman bisa menerimanya, dan bila Azhao pindah, ia akan menulis lebih dulu. Luo Yan bertanya apakah kelak Azhao akan sekalian pindah ke rombongan tempat Gu Ming bekerja. Azhao tersenyum tipis. Katanya sekarang ia tak akan pergi, nanti ia tak tahu. Namun sekalipun pergi, orang tetap harus bertanya kepadanya soal perbaikan perahu. Jangan sampai gara-gara itu tiba-tiba muncul seorang Nona He yang bebas dari tanggung jawab. Setelah itu ia menyimpan surat-suratnya tanpa sekaligus membubuhkan tanda tangan untuk menentukan ke mana ia akan pergi seumur hidup.
Malam hari ia menyapu rumah keluarga He seorang diri. Kotak-kotak jahit ibu masih ada. Dahulu mantel hujan jerami ayah digantung tinggi, kini Ding Quan menyimpannya di tempat lain, tidak lagi terus meneteskan air. Ia mengeluarkan buku catatan lampu lama, membuka baris bulan ketiga. Tulisan lampu sudah dikembalikan yang ditulisnya sendiri berdampingan dengan catatan terakhir ayah. Tanggal tujuh belas bulan kedua sudah agak pudar, ia tidak menebalkannya, juga tidak lagi menambahkan berapa kali putri pulang ke rumah di belakangnya, seolah dengan begitu ia bisa menyempurnakan catatan itu untuk ayah.
Perahu yang tiga kali gagal terjual kini masih perlu diperbaiki. Rupanya dalam hidup yang masih menyisakan utang, tak semua catatan harus dicoret lunas sebelum orang boleh memulai lagi. Ia menyimpan pikiran itu dalam hati tanpa menuliskannya di akhir buku. Di halaman baru ia hanya mencatat bahwa sewa bulanan yang disepakati hari ini dua ratus empat puluh wen, dan uang jaminan dua ratus enam puluh wen masih tersimpan. Tulisannya tak seluwes tulisan ayahnya, tetapi angka-angkanya miliknya sendiri. Di balik tiap baris ada orang-orang yang akan datang meminta uang makan, menagih upah, atau bertanya tentang celah papan.
Pada tanggal dua puluh delapan, Nenek Qin mengundangnya makan siang. A-Qiao sedang duduk di samping lemari membuat lentera persegi. Begitu melihat A-Zhao datang, ia mengangkat satu untuk diperlihatkan. Nenek Qin mula-mula bilang sudutnya masih bisa dibuat lebih ramping, lalu tertawa sendiri dan mengulurkan tangan untuk menunjukkan ruas bambunya. A-Zhao memuji betapa cantiknya ruas yang dibiarkan terlihat itu. Nenek Qin pun bilang pelanggan memang menyukai bagian itu. Mereka tak merasa perlu menyembunyikan habis kebiasaan lama sebelum mau menemui orang. A-Qiao pun masih bisa menerima koreksi atas pekerjaannya walau kini memegang kunci.
Surat Xiaoman sudah tiba. Nenek Qin bilang pujiannya soal ikan asin yang enak dimakan dengan bubur memang tulus, tetapi lain kali Xiaoman tak harus membeli ikan yang sama. Kalau mengasinkannya sendiri, lebih baik kurangi garamnya sedikit. A-Zhao mengira ia akan diminta membawa pesan itu. Setelah menunggu sebentar, ia justru melihat Nenek Qin mengeluarkan sepucuk surat pendek yang sudah ditulis dari lemari. Katanya lebih baik dititipkan pada perahu yang kembali, supaya A-Zhao tak terus-terusan harus mengingat pesan untuk mereka berdua. Surat itu ditaruh bersama gambar suling A-Sheng. Meski hanya berisi beberapa kata, surat itu tetaplah sepucuk surat.
Saat makan, tak ada yang bertanya mengapa A-Zhao belum menikah. Nenek Qin justru bertanya apakah uangnya cukup kalau bengkel tak punya pekerjaan pada bulan-bulan sepi. Selesai bertanya, ia khawatir terdengar seolah sedang membujuknya kembali ke penyeberangan. A-Zhao bilang untuk sekarang cukup. Untuk musim dingin ia sudah sepakat dengan Ye Zhen mengerjakan pakaian sehari-hari, dan kalau ada bulan yang pemasukan kurang, ia harus menghitung ulang. Di rombongan besar pun masih ada pekerjaan lepas yang bisa ditanyakan. Tertutupnya satu pintu tak berarti yang tersisa hanya sungai ini. Nenek Qin mengangguk dan mengambil sepotong tahu untuk mangkuknya sendiri. Ia tak menganggap kemampuan A-Zhao mengurus hidupnya sebagai hasil dari satu nasihat tambahan darinya.
Menjelang petang ia kembali ke rumah keluarga He, dan Nenek Qin ikut duduk di sana sebentar. Saat itu Ding Quan datang meminjam lentera tinggi untuk memeriksa pengait tambat di tempat berlabuh yang lama. Lenteranya sendiri pendek dan sulit diangkat dengan pas di sisi tanggul. Azhao mengambil lentera itu dari rak kayu. Nenek Qin sekalian meluruskan bagian kertas kap yang baru mencuat dan berpesan agar Ding Quan menjauhkannya dari air. Tangan mereka bertiga sibuk sebentar pada lentera itu, lalu lentera itu dibawa keluar. Tak seorang pun harus lebih dulu menceritakan apa saja yang telah diteranginya selama bertahun-tahun untuk bisa membawanya memeriksa sebuah pengait tali biasa.
Begitu selesai memeriksa malam itu, Ding Quan mengembalikan lampu. Ia sekalian bilang bahwa tali itu hanya berbulu karena gesekan dan besok akan ia ganti sendiri, tanpa perlu mengutak-atik bagian besar. A Zhao meletakkan lampu di dekat pintu. Baru setelah makan malam ia sadar masih ada sedikit minyak di dalamnya. Ia tak membiarkannya menyala sampai habis. Ia memadamkan dan menyimpannya. Besok pagi ada yang datang membuka jendela, dan begitu terang orang bisa melihat. Masih ada lampu milik orang lain di sungai, ada yang jauh, dekat, renggang, dan rapat. Tak semuanya menjadi urusan pintunya yang satu ini.
Pada tanggal dua puluh sembilan, seperti biasa ia meninggalkan satu kunci rumah kepada Luo Yan dan menyimpan kuncinya sendiri di dalam peti bambu. Pelat tembaga lama tidak dibawa, dan laci ibunya juga tidak dikosongkan sekaligus; ia hanya membawa tambahan dua jarum bagus dan gunting yang biasa dipakainya. Sebelum naik perahu, Ding Sui mengejar untuk memperlihatkan pola rumbai baru yang akan dijual, bertanya apakah di Lanting ada orang yang menginginkan ujung halus seperti ini. A Zhao mengamatinya, lalu menjawab ia bisa membawa satu untuk ditawarkan, tetapi Ding Sui tidak boleh mengira bahwa di tempat besar semua orang pasti menginginkannya.
Kali ini petinya lebih ringan daripada pada bulan kedua. A-Zhao tetap membayar empat puluh dua wen untuk perahu dan petinya, lalu bermalam di Sangqiao. Perempuan dari kedai sebelah meminjaminya jarum untuk menjahit kerah. A-Zhao berterima kasih lalu mengembalikan jarum itu, tanpa bertanya apakah perempuan itu seorang ahli ternama. Setelah dua jahitan, ia sadar warna benangnya tak cocok. Ia meminjam benang lain sebelum melanjutkan, enggan memakai kecepatan untuk menutupi kekeliruan hanya karena kini tangannya lebih terampil. Air mengalir dalam gelap di bawah jendela. Ia teringat bagaimana dulu ia begitu sibuk melindungi lampion sampai lupa memberi jalan. Ia pun bangkit dan menggeser petinya ke dekat kakinya sendiri.
Pada tanggal tiga puluh, ketika Azhao tiba kembali di Lanting, Xiaoman sedang menjemur kain biru sepanjang dua chi itu di halaman. Asheng tak sabar melaporkan aksara baru yang sudah bisa ia kenali. Azhao menurunkan peti bambu dan lebih dulu membayar empat puluh lima wen untuk tempat tidur bulan baru. Sebelum pergi pada tanggal dua puluh enam, ia sudah berjanji akan membayar begitu kembali pada tanggal tiga puluh. Xiaoman tetap menyisakan tempat tidur untuknya, jadi beberapa hari bepergian tak mengurangi sewanya. Setelah keduanya mencocokkan hitungan kecil untuk makan, anak itu masih berdiri di sana, menunggu Azhao akhirnya sempat melihat tulisannya.
Sore harinya Gao Man mengantarkan sehelai baju berlapis yang perlu dipermak, beserta pesan Lu Heniang yang mengingatkan agar A-Zhao tak cuma membuat Han Rong tampak gagah. Tepi kerah baju lama Lu Heniang juga perlu dibuka jahitannya. A-Zhao tertawa mendengarnya, mengambil kantong jarum, lalu pergi ke balai. Sebagian tali jemuran sudah kosong, dan pakaian sehari-hari yang baru diterima belum memenuhi tempat itu lagi. Ye Zhen menunggu di dekat pintu untuk diukur lengannya. Begitu bertemu, ia langsung bilang kali ini kau yang harus mencatat, catatanku berantakan.
A-Zhao membuka halaman baru di buku catatannya dan bertanya tangan mana yang biasa dipakai orang yang akan mengenakan baju itu, serta berapa lapis lagi yang dikenakannya di bawah baju pada musim dingin. Saat orang itu mengangkat lengan, garis kerut halus muncul di bahu baju lamanya. A-Zhao memintanya merilekskan bahu, lalu mengangkat lengan sekali lagi. Di luar jendela, sebuah perahu lewat dan bunyi dayung berangsur menjauh. Ia mendengarnya, tetapi tangannya tetap di bahu yang ukurannya masih perlu dipastikan itu.
· Teks selesai ·
Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →