Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Menyeberangi Sungai Sekali Lagi

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12075 karakter · sekitar 10 menit

Pada tanggal dua belas bulan kesembilan, Xiaoman melihat dua plakat pada perahu penyeberangan di Tongxu. Ia lebih dulu mengenali warna perunggu tua, baru menyadari bahwa Ding Quan yang mengemudikan perahu. A-Zhao duduk di ujung lain dengan sisa potongan papan perahu baru di pangkuan, sedang membandingkan warna cat bersamanya. A-Sheng mengangkat tas bukunya dan hendak melompat. Ding Quan melintangkan galah dan menyuruhnya menunggu sampai perahu merapat dengan kukuh. Kali ini anak itu tak berdalih bahwa ia sudah biasa naik perahu. Ia menunggu tali tambat dikencangkan sebelum menginjak papan.

Ongkos penyeberangan pendek itu masih delapan wen. Xiaoman meletakkannya di telapak tangan Ding Quan yang terulur. Melihat ibu dan anak itu, Azhao tersenyum, menggeser potongan kayu, dan menyediakan tempat duduk. Ia meninggalkan Lanting dua hari lalu, tiba di Liuwan kemarin, dan hari ini ikut Ding Quan memeriksa tempat tambat di Dermaga Timur setelah pasang. Ia tak sengaja menunggu kedatangan mereka. Xiaoman melihat jari-jari Azhao kembali berlumur cat perahu. Mendadak ia merasa bahwa kembali dari balai opera ke perahu ini tak serta-merta membuat Azhao kembali menjadi dirinya yang dulu.

Angin sungai sudah dingin. A-Sheng memakai sepatu yang telah disesuaikan neneknya. Bagian atasnya sudah tak lagi menegang. Xiaoman tak membawa banyak barang untuk ibunya, hanya sebungkus kue yang biasa dimakan di Lanting dan dua gulung kertas lentera baru, di dalam tas kain lama yang dijahitnya sendiri. Sebelum berangkat ia sempat ingin membawa satu set baju baru. Setelah memotong separuh lebar kain, ia berhenti, takut hasilnya tak cocok dan mereka masih harus berdebat soal selera siapa yang benar. Separuh kain itu masih di rumah. Tak semua yang ingin ia berikan harus dikebut untuk perjalanan kali ini.

Setelah mendarat, Azhao pulang ke rumah keluarga He, sementara ibu dan anak itu menuju toko lentera. Di luar pintu berdiri seorang perempuan muda yang sedang menjelaskan kepada pelanggan bahwa rangka lentera lamanya sudah retak. Kalau hanya ditempeli kertas baru, lentera itu akan rusak lagi setelah dua hari ditenteng. Sebaiknya rangkanya diganti dulu. Xiaoman mengenalinya sebagai Aqiao yang disebut dalam surat. Ia menunggu perempuan itu selesai bicara sebelum masuk. Melihat Xiaoman, Aqiao tak buru-buru memanggil Nenek Qin. Ia lebih dulu meletakkan lentera pelanggan di tempat yang aman, menuliskan tanda pada secarik kertas, baru berbalik dan mempersilakan Xiaoman masuk.

Nenek Qin keluar dari belakang dengan ujung lengan baju berlumur lem. Pertanyaan pertamanya masih sama, apakah di perahu dingin? Pertanyaan keduanya, kenapa membawa kertas lagi? Hati Xiaoman menegang dan ia hampir meletakkan kembali bungkusan itu di samping kakinya. Namun, ibunya sudah mengambil satu gulung dan merabanya. Ketebalannya pas, katanya. Beberapa hari lalu ia sudah menanyakan harganya, tetapi merasa sayang mengeluarkan uang untuk membelinya. Xiaoman agak lambat melepaskan tangan, dan ibunya tak mendesak. Memegang gulungan kertas bersama seperti itu rupanya lebih mudah daripada langsung bertanya apakah ia rindu rumah.

A-Sheng sudah lebih dulu ke meja dan langsung tahu bahwa pemberat kertasnya batu kecil yang baru, berbeda dari batu yang ia tinggalkan terakhir kali. Nenek Qin bilang batu yang lama terlalu bulat dan menggelinding ke bawah lemari. Ia belum sempat menggeser lemari untuk mencarinya. A-Sheng langsung tiarap untuk melihat, membuat seisi rumah tertawa. Xiaoman hendak menyuruhnya bangun agar bajunya tak kotor, tetapi melihat ibunya sudah menyodorkan bilah bambu panjang untuk meraihnya, ia menahan kata-katanya. Mereka mengais-ngais di bawah lemari. Batu itu belum keluar, tetapi mereka lebih dulu mengorek keluar dua keping uang tembaga lama.

Saat makan siang, lauknya tak memenuhi meja seperti pada musim semi. Hanya ada sepiring kacang, seekor ikan, dan daun bawang untuk sup yang disajikan di piring kecil tersendiri. Asheng tersenyum begitu melihat piring itu. Ia mengambil sendiri dua helai daun bawang dan memasukkannya ke mangkuk, lalu berkata bahwa kue daun bawang di rumah Guru Shen enak. Nenek Qin membuka mulut, hendak berkata bahwa rupanya anak itu mau juga makan daun bawang. Ia melirik Xiaoman, lalu mengubah pertanyaannya menjadi, lain kali mau Nenek buatkan juga? Asheng bilang tergantung kuenya tipis atau tidak. Ibunya mendengus, tetapi tangannya mendorong piring kecil itu sedikit lebih dekat ke anaknya.

Sehabis makan, Aqiao datang ke pintu belakang untuk menanyakan satu warna. Nenek Qin bangkit hendak menemuinya. Xiaoman justru merasa sedikit tak enak hati. Sudah susah payah ia pulang, tetapi ibunya tak menyisihkan waktu seharian penuh. Ia langsung teringat betapa terburu-burunya ia naik panggung di Lanting pada bulan lima, dan malah kesal karena bisa memahami alasan ibunya. Kenapa setelah mengerti duduk perkaranya, ia masih sedikit merasa diperlakukan tak adil? Apa setiap rasa sedih baru boleh bertahan setelah ditimbang siapa yang lebih beralasan?

Ia membawa piring kosong untuk dicuci. A-Qiao menepi di ambang pintu untuk memberinya jalan dan menyapa, “Kak Man.” Sapaan itu terdengar wajar, tanpa kesan sedang memperebutkan sesuatu. Xiaoman mendengar ibunya berkata kepada A-Qiao bahwa lingkar luar harus memakai pola lamanya sendiri, sedangkan untuk lingkar dalam mereka bisa mencoba cara A-Qiao. Sesudah itu keduanya masih berkeras dengan pendapat masing-masing cukup lama. Xiaoman tiba-tiba berpikir bahwa setiap hari A-Qiao melihat wajah ibunya seperti ini, tahu di lemari mana garam disimpan dan bilah bambu mana yang tak boleh dipelintir. Ia sendiri anak kandungnya, tetapi dalam banyak hal ia sudah kalah akrab dibandingkan orang lain.

Ia berbalik mencari garam dan ternyata membuka lemari yang salah. Ibunya masuk tanpa tertawa dan bilang garam sudah dipindah ke kiri tungku, tempat yang tak terlalu lembap. Xiaoman menaburkan terlalu banyak garam di atas ikan. Ibunya tak tahan berkomentar, sebanyak itu mana bisa dimakan? Tangan Xiaoman terhenti dan sudipnya hampir menjatuhkan mangkuk sup di sebelah. Mereka sama-sama mengulurkan satu tangan untuk menahan mangkuk. Pergelangan mereka beradu sampai keduanya serempak menarik napas kesakitan. Di belakang, A-Sheng tertawa sampai membungkuk.

“Jangan tertawa,” kata mereka lagi, nyaris bersamaan. Begitu kata-kata itu keluar, mereka sendiri tak sanggup menahan tawa. Ikan itu tetap asin. Sehabis tertawa, tak seorang pun bisa menyulap ikan lain. Ibunya menuang kurang dari setengah mangkuk air panas dan mempersilakan siapa saja yang mau mencelupkan ikannya. Xiaoman tak membungkam siapa pun dengan alasan ia sudah berniat baik memasak, dan tak menarik mangkuk agar orang tak bisa makan hanya karena ibunya bicara terlalu keras. Makan malam berlangsung lebih lama daripada makan siang. Beberapa duri ikan tertinggal di meja, dan tak seorang pun mendesak agar semuanya dibereskan sampai tampak rapi.

Malam hari Xiaoman melihat separuh tirai lama yang dikembalikannya tergantung di pintu belakang. Di tepinya kini ada jahitan baru dari benang biru kehijauan. Ibunya berkata dulu tirai itu panjang dan ujungnya sering terinjak. Setelah dipendekkan, keluar masuk jadi lebih mudah. Xiaoman merabanya. Ia tak bertanya apakah ibunya sayang membuang baju lama itu. Ia juga tak mencari alasan yang menghangatkan hati untuk saat kain itu digunting enam belas tahun lalu. Guntingan itu memang menyakitkan saat itu, dan tepi kain ini sekarang memang dijahit dengan baik. Keduanya tetap ada. Tak perlu menghapus yang satu agar yang lain bisa masuk.

Pada tanggal tiga belas, A Zhao datang untuk sarapan. Sesudah makan ia memeriksa celah papan bersama Ding Quan menjelang akhir masa sewa. Xiaoman tadinya ingin bertanya empat mata apa yang sebaiknya ia lakukan setelah ini, mengingat ibunya lebih sering bertemu A Qiao daripada dirinya. Namun Luo Yan keburu memanggil A Zhao untuk memeriksa pengait tali tambat. Begitu meletakkan mangkuk, A Zhao langsung pergi. Xiaoman memandangi punggungnya dan merasa geli. Ia ternyata masih ingin menahan orang itu untuk duduk, seolah hendak meminta pemilik kedai yang tahu maksud kedua pihak menghitung siapa lebih dekat dengan siapa.

Ketika A-Qiao selesai bekerja pagi itu, Xiaoman betul-betul bertanya kepadanya kertas apa saja yang kini biasa dipakai di kedai lentera. A-Qiao menjelaskannya dengan terperinci tanpa sengaja menyembunyikan apa pun. Ia juga tak memuji Nenek Qin dalam segala hal. Katanya perempuan tua itu kadang takut memboroskan kertas, jadi purwarupanya dibuat terlalu kecil untuk melihat bagaimana cahaya menembusnya. Xiaoman tertawa dan bilang kalau mengukur sepatu orang pun ibunya begitu. A-Qiao semula tak berani ikut tertawa keras, tetapi akhirnya tertawa juga. Mereka memotong bahan untuk sebuah purwarupa kecil bersama-sama. Nenek Qin mendengarnya dari ambang pintu dan hanya berkata bahwa menghemat kertas sah-sah saja.

Sore itu ada orang menjemur jala di tepi sungai, dan Asheng ingin melihat. Nenek Qin memberikan satu kunci pintu kepada Xiaoman dan memintanya mengajak anak itu berjalan santai, karena ia sendiri harus menyelesaikan lentera yang ditunggu pelanggan. Menggenggam kunci itu, Xiaoman tahu ibunya tak lupa bahwa pada kunjungan sebelumnya, malam-malam ia bertanya siapa yang akan menutup jendela. Namun ia masih tinggal di ambang pintu, memandangi ibunya sejenak. Setelah ibunya akhirnya mendongak dan memandangnya, barulah ia melambaikan tangan dan mengajak anaknya keluar. Ia tak lagi memaksa diri menyangkal bahwa ia ingin dipandangi sedikit lebih lama.

Cahaya di tepi air begitu terang hingga ia menyipitkan mata. Asheng berjongkok mengamati bagaimana jala yang robek diperbaiki dan bertanya apakah ayahnya dulu bisa melakukannya. Xiaoman bilang bisa sedikit. Hasilnya tak bagus, tetapi ia suka membanggakan kecepatannya. Asheng tertawa dan bertanya apakah ayahnya bisa meniup seruling. Xiaoman menjawab tidak, tetapi ia suka ikut-ikutan meniup sembarangan. Dulu ketika menyebut Lu Zheng, ia sering takut kalau satu kebaikannya tak diceritakan, ia akan tampak kurang mengenangnya. Kini, mendengar tentang seseorang yang bisa menambal jala sampai miring, anaknya lebih ingin terus bertanya daripada ketika hanya mendengar cerita tentang seorang penabuh genderang yang pemberani.

Saat mereka kembali ke toko, ibunya sedang mencoba lentera. Xiaoman berdiri di belakang lentera, melihat bayangannya pada kertas, lalu tiba-tiba memperagakan satu gerakan dari lakon. Asheng paling dulu mengenalinya sebagai adegan mengantar kepergian di Penyeberangan Bunga Gelagah. Ia berlari mengambil bilah bambu untuk dijadikan galah. Nenek Qin takut ia menusuk kertas sampai robek dan sempat menghalanginya dengan tangan, tetapi tak menyuruhnya meletakkan bilah itu. Aqiao sudah pergi dan di toko hanya ada mereka bertiga. Sang ibu melihat Xiaoman berputar sekali, lalu setelah beberapa lama berkata bahwa lengan bajunya sekarang dibuat lebih rapi daripada musim semi lalu.

Xiaoman hendak mengatakan bahwa itu pakaian sehari-hari, bukan pakaian panggung, tetapi ia berhenti sebelum selesai. Mungkin ibunya sedang memujinya, mungkin juga memang cuma lengan baju yang diperhatikannya. Ia memberi tahu ibunya bahwa dalam pertunjukan musim gugur, Aheng masih diperankan Lu Heniang, sementara ia menyanyikan peran ibu, dan liriknya sudah diubah lagi. Tanpa menunggu ditanya apakah itu peran utama, ia langsung menyanyikan bagian dengan jeda pada irama yang baru. Ketika lupa lirik, ia tak menutupinya dan berkata bagian ini masih perlu dilatih. Ibunya menyimak tanpa menyudahi seluruh lakon itu dengan satu pertanyaan apakah ia capek.

Menjelang keberangkatan pada tanggal empat belas, Nenek Qin bertanya apakah Xiaoman akan pulang pada musim dingin. Xiaoman bilang jadwal pentas belum pasti. Kalau sudah pasti, ia akan menulis dulu. Ibunya tak boleh membeli tiket lebih dahulu. Spontan ibunya menyahut, siapa juga yang akan membeli? Suaranya meninggi, dan keduanya sama-sama mendengarnya. Ia berhenti sejenak, lalu bilang ia mengerti. Anak itu memasukkan kembali batu bulat yang akhirnya ditemukan ke dalam tas, lalu meninggalkan gambar seruling di atas meja. Ia memberi tahu neneknya bahwa kalau salah menulis aksara, ia bisa menggambar. Nenek Qin bilang gambar belum tentu lebih bagus daripada tulisan, tetapi tetap menyimpan kertas itu di atas lemari.

Sebelum keluar, Xiaoman melihat di sisi lemari kain biru sepanjang dua chi yang tak diambilnya waktu itu. Ibunya bertanya apakah ia mau membawanya. Xiaoman bilang kali ini ada ruang di petinya, jadi boleh. Mereka melipat kain itu bersama-sama, tanpa mengguntingnya menjadi barang lain. Xiaoman ingin membuat rompi tipis untuk Asheng. Tahun depan anak itu masih akan tumbuh. Berapa banyak kain yang harus disisakan di tepi jahitan baru bisa diputuskan setelah ia mengukur tubuhnya di rumah.

Penyeberangan pendek itu masih dijalankan Ding Quan. A-Zhao mengantar sampai tepi sungai dan berjanji bertemu lagi saat pertunjukan musim gugur. Ia sendiri juga berangkat hari ini dan baru akan tiba di Lanting besok. Ia tak mau tertunda semalam lagi hanya demi beberapa patah kata. Xiaoman menoleh ke arah toko lampion. Ia tak bisa melihat ibunya di depan pintu, hanya sedikit kertas baru yang sedang dijemur. Ia tak berteriak menyuruh ibunya pulang. Sekeras apa pun kalimat itu diteriakkan menyeberangi air sekarang, ia tetap tak bisa menempuh jalan dari tepian ke pintu toko untuk ibunya.

Malam itu di penginapan Sangqiao, Asheng menulis sambil tengkurap pada secarik kertas. Ia ingin memberi tahu neneknya bahwa batu bulat itu sudah tiba di Sangqiao. Xiaoman tak menertawakan hal sekecil itu atau bilang tak perlu dikirim. Ia membantu menuliskan nama penerimanya. Di samping tulisan anaknya, ia menambahkan beberapa baris. Mula-mula ia menulis bahwa ikan asin dengan bubur ternyata enak, lalu menambahkan bahwa lain kali biar ia sendiri yang membubuhkan garam sedikit saja. Keesokan harinya, setelah sampai di Lanting, barulah kertas itu dititipkan pada perahu yang berlayar kembali. Perjalanan pulang pergi masih memakan waktu, tetapi kini mereka tak lagi harus menunggu Azhao datang membawa lentera untuk menyampaikan semua perkataan mereka.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.