Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Menolak Tiket Perahu Itu

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12276 karakter · sekitar 10 menit

Ketika membeli dua tiket pulang, Nenek Qin tidak merasa sedang kembali mengambil keputusan untuk orang lain. Putrinya bilang jadwal musim panas akan ditentukan nanti, jadi menurutnya masih ada ruang untuk menentukan sesuatu. Ia lebih dulu menanyakan jadwal perahu penumpang sampai jelas. Nanti ia sendiri yang akan membawa anak itu pulang supaya Xiaoman tak perlu bolak-balik. Ia bahkan sudah menanyakan kamar mana di Sangqiao yang kering untuk bermalam. Kali ini rencananya sudah ia urus sampai ke lapangan, tak cuma ia pikirkan matang-matang di rumah.

Toko lampion dititipkan kepada A-Qiao selama lima hari. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu biasa mengantar bahan untuk toko kertas dan mau menerima pekerjaan singkat menempelkan kertas pada rangka lampion. Selama ini Nenek Qin hanya memintanya menyodorkan kertas dan belum pernah benar-benar mempercayakan uang di meja toko kepadanya. Kali ini ia harus pergi, jadi ia menuliskan harga yang biasa dipakai, menyerahkan satu kunci, dan berpesan agar harga baru jangan diberlakukan dulu. Kalau pelanggan mendesak, suruh mereka menunggu sampai ia pulang. Setelah mendengarnya, A-Qiao bertanya bagaimana kalau pelanggan tak mau menunggu. Ia hanya menjawab, bicarakan baik-baik, mereka pasti mau menunggu.

Ia tiba di Lanting pada tanggal tiga belas bulan ketujuh. Ia tak membawa dua bungkus makanan, hanya kertas ukuran sepatu dan seikat kecil bilah bambu tipis untuk latihan tangan si anak. Melihat ibunya datang lagi, Xiaoman lebih dulu memandang ke belakangnya dan bertanya apakah kali ini ia sudah menitip kabar sebelumnya. Ibunya menjawab bukankah di surat sudah tertulis nanti dilihat lagi. Ia sudah menanyakan perahunya. Kalau anak itu mau, lusa mereka bisa pulang bersama. Murid guru di jalan sebelah belum penuh selama musim panas, jadi tak perlu ditunda lagi.

Wajah Xiaoman perlahan menggelap. Nenek Qin tak suka melihat raut itu. Ia tidak kembali menyuruh putrinya menikah dengan siapa pun, dan tidak memintanya meninggalkan rombongan. Ia cuma ingin menyediakan satu tempat lagi bagi anak itu untuk belajar. Mengapa baru mendekat saja ia sudah seperti orang yang berbuat salah? Ia mengeluarkan tiket dari lengan baju, berniat menjelaskan perincian yang sudah diurusnya, tetapi putrinya lebih dulu menahan kertas itu dengan tangan dan bertanya mengapa ia lagi-lagi sudah membelinya duluan.

“Supaya kau tak perlu pergi.” jawabnya.

“Aku belum bilang dia boleh pergi.”

Nenek Qin mendadak kehabisan kata. A-Sheng tadinya melihat-lihat bilah bambu di dekat pintu. Begitu mendengar kata pergi, ia langsung mendongak dan bertanya apakah mereka akan pergi melihat lentera jenis baru di kedai neneknya. Xiaoman menyuruhnya membawa latihan menulis untuk dasarian ini terlebih dahulu. Sambil mengambilnya, anak itu menatap mereka berdua. Jelas ia belum tahu dirinya sudah ditempatkan di pihak mana. Ia ingin pergi, tetapi juga takut kalau mengatakan itu ibunya tak senang. Tangannya terus meraba-raba tepi kertas, sampai lembar latihan itu pun tak bisa dipegangnya dengan mantap.

Xiaoman tak meneruskan pertengkaran di depan anaknya. Ia lebih dulu menyuruh A-Sheng ikut Gao Man ke ruang depan. Bagi Nenek Qin, tindakan itu terasa seolah cucunya pun sedang dibawa menjauh dari hadapannya. Ia tak tahan berkata, cuma menginap beberapa hari. Kalau kau sibuk, aku bisa menjaganya. Aku juga tak akan menahannya selamanya. Setelah ia selesai, putrinya mendongak dan bertanya apakah dulu, ketika ibunya mengatur hidupnya, ia juga merasa semua itu semata-mata demi kebaikan Xiaoman sehingga tak perlu mendengarkannya sampai selesai.

Yang paling ditakutinya ialah orang menyamakan kedua perkara itu. Sepatu urusan sepatu, belajar urusan belajar. Ia sudah tidak melarang putrinya bernyanyi, mengapa masih harus kembali ke enam belas tahun silam? Ia baru hendak membela diri begitu, tetapi melihat Xiaoman meremas tiket erat-erat, barulah ia mengerti bahwa bagi putrinya, kemiripannya terletak pada caranya selalu membereskan segala sesuatu lebih dulu, baru di akhir menanyakan apakah orang itu mau, seolah dengan sekadar mengiyakan orang lain akan menerima segala kebaikannya.

Ia masih kesal dan berkata bahwa di usia begini ia datang jauh-jauh bukan untuk bertengkar dengan putrinya. Begitu kata-kata itu keluar, ia teringat bagaimana di perahu penumpang ia tak mau Zheng Qin khusus membantunya, takut dianggap sudah tua. Saat kakinya mulai terasa berat, ia enggan mengakui umurnya. Begitu ditolak, ia justru buru-buru menyebutnya, seolah karena ia sudah lelah, putrinya harus lebih dulu menelan apa yang hendak dikatakan. Ia mengambil kembali karcis itu, tetapi tangannya masih agak gemetar.

Seseorang datang ke kamar belakang untuk mengambil pakaian. Mendengar bahwa sang nenek hendak menjemput cucunya untuk belajar, ia spontan memuji betapa enaknya ada orang tua yang menjaga. Meski ayah si anak sudah tak ada, tak perlu takut tak ada yang mengurusnya. Nenek Qin langsung mendongak dan menjawab bahwa putrinya sanggup mengurus anaknya sendiri dengan baik. Ia tak perlu mengandalkan ibunya untuk bertahan. Orang itu tak tahu apa salah ucapnya dan pergi sambil tertawa kikuk. Nenek Qin sungguh-sungguh membela putrinya. Namun mendengar itu pun Xiaoman tak bisa serta-merta menerima karcis tersebut. Di kamar masih tertinggal keheningan yang tak bisa ditarik kembali.

Saat itu A-Zhao kembali sambil membawa selembar kain pelapis yang baru kering. Melihatnya, Nenek Qin seolah tiba-tiba menemukan orang yang tahu keadaan di kedua tempat. Ia bertanya, menurutmu, bukankah di sana anak itu bisa belajar membaca dengan lebih tenang? A-Zhao tak langsung menjawab. Ia meletakkan kain di tempat kering lebih dulu, lalu bilang tempat di sana punya kelebihannya sendiri, dan di sini pun anak itu sudah ikut pelajaran. Ia tak bisa menyerahkan A-Sheng kepada Nenek Qin atas nama Xiaoman. Mendengar kata tak bisa, Nenek Qin merasa seolah sekali lagi ada orang yang menghadang jalannya.

Ia nyaris bilang, sekarang kalian tinggal di tempat yang sama, jadi kalian saling membela. Azhao membaca raut wajahnya. Ia tak lagi berhati-hati memutar kata seperti saat baru datang. Ia hanya bilang bahwa karcis itu bukan ia yang membeli dan tak ada yang memintanya menjawab atas nama mereka. Setelah itu ia berbalik untuk membereskan tali yang harus diserahkan. Demi menjaga muka Nenek Qin, ia tak mau buru-buru menjanjikan sesuatu yang berada di luar kuasanya.

Nenek Qin berdiri di dalam kamar, merasa perjalanan dua hari itu sia-sia. Namun ia juga merasa kalau pergi begitu saja, hari-hari berikutnya akan membuatnya sungguh lebih sulit membuka mulut. Akhirnya Xiaoman berkata ia sendiri yang akan mengurus pelajaran membaca anaknya. Kalau nanti ada rencana ke Liuwan, ia akan bertanya dulu dan mengantarkannya sendiri. Rencana itu tak bisa dianggap sudah pasti hanya karena kali ini tiketnya telanjur dibeli. Nadanya keras, tetapi kemudian ia menambahkan bahwa karena Ibu sudah datang, tetaplah makan. Jangan sampai tak makan karena merajuk.

Ia memang ingin merajuk. Tetapi perutnya kosong dan sepanjang perjalanan ia tak makan dengan baik. Kalau ia menolak makan, putrinya harus kembali menjaga perasaannya yang terluka tanpa pernah ia utarakan. Ia duduk dan masih mengangkat mangkuk dengan gerakan keras. Dasar mangkuk beradu dengan kayu. A-Sheng yang mendengarnya dari luar pintu mengintip diam-diam. Ia pun melunakkan gerak tangannya dan menyuruh anak itu masuk untuk memperlihatkan aksara yang baru dikenalnya, tanpa lebih dulu bertanya lagi apakah ia sebenarnya mau ikut dengannya.

Di halaman itu ada aksara 水 (air), 木 (kayu), dan 舟 (perahu) yang ditulis miring. Anak itu bilang Guru Shen bisa meniup dalam satu tarikan napas yang panjang sekali, sedangkan ia sendiri belum bisa. Ia mesti selesai membaca aksara bersama guru dulu, baru mendapat giliran mendengarkan dua nada itu. Nenek Qin tadinya mengira di sini selalu ribut, baik di atas panggung maupun di bawahnya. Setelah duduk mendengarkan sampai selesai, barulah ia melihat bahwa putrinya memang telah mencarikan anak itu tempat yang bisa ia datangi pada jam yang tetap. Ia tak bisa menganggap tempat itu kalah dari sebuah meja di Liuwan yang bisa ia awasi sendiri hanya karena bukan ia yang pertama mengusulkannya.

Pada tanggal empat belas, ia mengikuti petunjuk si anak ke gang tempat Guru Shen mengajar, tanpa mampir dulu ke ruang belakang untuk memanggil siapa pun. Di balik pintu, beberapa anak duduk di tempat masing-masing. A-Sheng sedang menunjuk aksara 水, yang berarti air, di atas kertas. Ia salah menunjuk satu goresan. Gurunya tak membacakannya untuknya dan menunggu ia melihat lagi sendiri. Ada suling di dekat jendela, tetapi tak seorang pun diizinkan langsung mengambilnya untuk bermain begitu masuk. Nenek Qin berdiri di luar pintu dan mengamati beberapa saat. Ia tak melambaikan tangan untuk memanggil cucunya keluar dan tak masuk untuk memperkenalkan diri sebagai neneknya. Semula ia membawa banyak petuah tentang cara membuat anak duduk tenang belajar. Kini ia tak tahu kepada siapa petuah itu perlu disampaikan.

Tiket pulang terselip di bawah lututnya. Ia pergi menemui Zheng Qin dan bertanya apakah tiket bisa diubah kalau penumpangnya berkurang satu anak. Pengemudi perahu itu bilang jumlah penumpang akan diperiksa lagi besok sebelum naik. Untuk satu ruas yang belum ditempuh, sebagian ongkos bisa dikembalikan sesuai aturan. Soal uang muka kamar di Sangqiao, ia harus membicarakannya sendiri. Mendengar harus pergi ke satu tempat lagi, ia kembali kesal. Namun ia segera teringat bahwa semua itu ia urus lebih dulu atas kehendaknya sendiri. Bagaimana mungkin kini ia memakai urusan itu untuk membuat putrinya merasa tak enak hati di rumah?

Ia bertanya apakah Zheng Qin mengenal Xiaoman. Perempuan pengemudi perahu itu bilang kenal, sudah beberapa kali bertemu. Seolah sekadar mengobrol, Nenek Qin menambahkan bahwa di sini anak itu sering ikut naik perahu. Apa sesekali tinggal di tempat yang lebih tenang bukan hal yang baik? Zheng Qin tak menghakimi siapa pun. Ia hanya menarik keluar karcis kecil yang belum dipakai dan menjawab bahwa selama anak itu belum diserahkan kepadanya, orang perahu pun tak bisa menyeretnya keluar dari gang untuknya. Bahkan barang yang ia angkut sehari-hari harus diserahterimakan langsung dan dengan jelas, apalagi seorang anak yang masih bersama ibunya.

Pada tanggal lima belas bulan ketujuh, Xiaoman mengantarnya sampai ke dermaga dan membawakan bungkusan kecil. Isinya selembar kertas yang sudah ditulisi Asheng untuk neneknya. Anak itu sendiri tak ikut diantar. Saat menerima bungkusan, Nenek Qin masih sangat ingin bertanya kapan kunjungan berikutnya. Akhirnya ia hanya berkata bahwa ia tahu jalan dan tak perlu diantar sampai ke sisi perahu. Putrinya tak sepenuhnya menurut. Ia tetap menunggu sampai pijakan ibunya mantap, baru melepaskan tangan yang menyangga sudut bungkusan.

Kali ini ketika pulang ke Liuwan, ia sendirian di kamar di Sangqiao. Ia meletakkan sedikit uang ongkos perahu yang dikembalikan itu di sudut ranjang tanpa langsung menghitungnya, lalu membuka bungkusan kecil untuk membaca tulisan A-Sheng. Anak itu menulis bahwa hari ini ia sudah mengenal aksara 舟, perahu. Di bawahnya ia menggambar sesuatu yang tak begitu mirip perahu, dengan dua lampu kecil di sampingnya. Nenek Qin lama memandanginya. Ia tahu anak itu tak melupakannya hanya karena kali ini tak ikut, tetapi ia masih kesal karena kalau bicara, putrinya selalu terdengar seolah tak mau menyisakan sedikit pun ruang untuk berunding.

Ketika ia kembali ke kedai pada tanggal enam belas, A-Qiao sudah memperbaiki dua lentera lama dan menerima pembayaran sesuai harga yang dituliskannya. Pertanyaan pertama Nenek Qin adalah mengapa A-Qiao tidak menunggu dirinya. Gadis itu menjawab bahwa pelanggan akan pergi, sementara cara memperbaiki kertas dan rangka sudah tertulis dan bisa ia pahami. Mendengar kata bisa kupahami, kekesalan Nenek Qin beralih dari putrinya kepada pekerja sementara itu. Ia merasa baru pergi beberapa hari saja dan di mana-mana sudah ada orang yang mengambil keputusan lebih dulu.

A-Qiao menata uang dan bahan dengan rapi. Katanya, kalau ia hanya boleh duduk menunggu, lain kali bilang dari awal. Ia tak akan menerima pekerjaan memperbaiki lampion dan cukup menjaga pintu. Ia bukan Qin Xiaoman. Ia tak akan melunakkan kata-katanya seperti seorang anak yang bicara kepada ibunya. Nenek Qin melihat kedua lampion yang sudah diperbaiki di meja. Kertasnya rata dan mulut rangkanya tak miring. Akhirnya teguran yang hendak ia ucapkan berubah menjadi pertanyaan tentang bagian mana yang memakai bilah bambu lama. Ia meminta A-Qiao menjelaskannya.

Setelah selesai menjelaskan, gadis itu pergi tepat waktu dan menerima upah hariannya seperti biasa. Ia tak tinggal menemani semalaman hanya karena hati Nenek Qin sedang tak enak. Toko menjadi sunyi. Nenek Qin mengeluarkan catatan jadwal perjalanan yang ditulis putrinya kali ini dan mengambil selembar kertas kosong. Ia ingin menulis bahwa ke depan ia tak akan merepotkan mereka lagi. Saat pena terangkat, mendadak terbayang kalimatnya dahulu, kalau tidak pulang, jangan anggap ini rumahmu lagi. Rupanya meski terpisah enam belas tahun, kedua kalimat itu bisa dituliskan dengan dorongan hati yang sama.

Ia meletakkan pena dan menunggu sampai selesai makan untuk menulis. Akhirnya ia hanya menulis bahwa ia sudah sampai. Kalau anak itu masih mau bercerita tentang pelajarannya sepuluh hari ini, ia bisa menitipkan satu dua kalimat kepada orang. Lain kali, ia sendiri akan bertanya dulu sebelum datang, tanpa lebih dulu membelikan tiket pulang untuk orang lain. Di kertas itu tak ada cerita betapa melelahkan perjalanannya atau berapa uang tiket yang terbuang. Amarahnya belum sepenuhnya reda. Sesudah selesai menulis, ia menindih surat itu dan membiarkannya semalam, agar besok pagi ia tak kembali tergoda menambahkan setengah baris untuk melunakkan hati putrinya.

Sebelum tidur, Nenek Qin pergi melihat tirai baru di pintu belakang. Separuh kain biru kehijauan yang dikembalikan itu pas untuk menutupnya. Bila angin datang, kertas lampion tak lagi langsung terkena embusan. Ia memasang kait pintu, lalu kembali ke meja jualan dan mengembalikan bilah bambu halus yang dipakai A-Qiao ke kotak semula. Ia tak membongkar dan mengerjakan ulang sisi yang sudah diperbaiki itu demi menenteramkan diri. Haluan perahu yang digambar anak itu menyembul separuh dari bawah kertas. Ia meratakannya dengan jari, duduk sendiri sejenak, lalu meniup pelita kecilnya.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.