Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12787 karakter · sekitar 10 menit

Kabar bahwa Panggung Qingxing akan ditutup untuk diperbaiki datang saat makan yang belum usai pada akhir bulan kelima. Setelah mendengar kabar itu, Gao Shoucheng masih mengangkat sumpitnya dan bertanya kapan ditutup. Pembawa kabar menjawab lusa. Rombongan Changqing tiba pada bulan ketujuh. Papan panggung perlu diganti dan ruang belakang ditata ulang lebih dulu, jadi selama itu panggung tak bisa disewakan kepada rombongan lain. Di meja, Gu Ming menunduk. Gao Man langsung bertanya kepada ayahnya, bukankah Ayah bilang beberapa malam di bulan keenam itu sudah disepakati?

Gao Shoucheng meletakkan sumpit. Kesepakatan lisan dan uang muka yang sudah dibayar itu dua hal berbeda, katanya. Ia semula hendak membayar begitu uang pentas sebelumnya masuk. Gao Man tak menyahut. Jarinya tertahan di bibir mangkuk. Untuk pertama kalinya A-Zhao melihat bahwa sebelum sampai ke sasaran pentas musim gugur itu, banyak sasaran yang lebih kecil harus dicapai lebih dulu. Uang muka yang belum dibayar atau pembayaran yang terlambat bisa membuat lakon yang sudah berbulan-bulan dilatih mendadak kehilangan tempat berpijak.

Ada yang hendak mendebat pemilik tempat pertunjukan. Rombongan Chunhe sudah memakainya bertahun-tahun, masa bisa ditutup begitu saja hanya dengan sepatah kata? Gao Shoucheng pergi sendiri lebih dulu, tanpa menyuruh Azhao menuliskan surat yang memaparkan alasan mereka. Ia pulang selepas tengah hari dengan ujung lengan baju basah dan wajah muram. Katanya pemilik memang sudah lama bertanya apakah mereka akan membayar uang muka, dan ia sendiri sudah beberapa kali menundanya. Rombongan Changqing bersedia memperbaiki tempat itu dan menyewanya semusim penuh. Pemiliknya juga punya bangunan sendiri yang perlu diperbaiki. Jadi alasannya lebih dari sekadar memandang rendah rombongan kecil.

Ia mengakui hal itu, tetapi belum mau berhenti sampai di sana. Uji pentas lakon lengkap yang sudah direncanakan mestinya dilakukan dulu pada bulan enam. Kalau ditunda sampai perayaan musim gugur, bagian mana pun yang masih terasa janggal tak akan sempat diperbaiki. Tanpa pertunjukan ini, dari mana mereka akan mengalihkan uang untuk kain kostum, makan, dan ongkos perjalanan yang sedang disiapkan masing-masing? Ia membeberkan semuanya satu per satu di meja. Biasanya ia hanya bilang mereka harus bertahan sebentar lagi. Kali ini ruangan justru lebih sunyi daripada saat mendengar ucapan biasa itu.

Pemilik tempat penimbunan kayu bakar di sungai belakang sudah dua kali datang. Ia bersedia meminjamkan bangsal penonton tua untuk mendirikan panggung dan memasang harga lebih rendah daripada Qingxing. Gao Shoucheng semula menganggap tempat itu terlalu terpencil, tetapi sekarang ia membawa semua orang untuk melihatnya. Azhao mengikuti dari belakang sambil mendekap contoh pakaian. Semula ia ingin mencoba pakaian Aheng untuk babak berikutnya di panggung yang lebar. Baru setelah tiba di tepi sungai belakang ia melihat bahwa bangsal tua yang dimaksud hanya menyisakan separuh atap dan beberapa tiang di dekat air. Lantainya memang lebar, tetapi satu sisi bagian bawahnya sudah ambles ke lumpur lunak.

Pemilik tempat penimbunan kayu bakar itu bilang tiap tahun keadaannya begitu kalau air naik. Setelah air surut, tiang kayunya masih berdiri. Dulu pun pernah ada pertunjukan di sana dan tak ada yang benar-benar terjatuh. Gu Ming maju untuk menguji pijakan. Ia berjalan beberapa langkah. Meski papan panggung berderak, pijakannya tetap mantap. Ia pun bilang mereka tinggal melengkapi bagian tepinya, dan ia bisa membawakan tari pedang dengan lebih leluasa daripada di Balai Selatan. Lu Heniang ikut berjalan dan tak menyangkal. Ia lalu berbalik dan bertanya di mana mereka bisa berganti pakaian kalau hujan dan apakah gubuk kecil di tepi air bisa dikosongkan lebih dulu.

A-Zhao berjongkok di samping mereka, mengamati air. Salah satu cabang Sungai Lanchuan mengalir masuk ke sana. Di permukaan arusnya tak deras, tetapi di sekitar tiang ada pusaran kecil yang mengangkat pasir halus. Ia tak tahu berapa orang yang bisa ditopang seluruh panggung. Ia hanya tahu kalau arus terus menggerus seperti itu, bagian yang tersembunyi di dalam lumpur mungkin sudah berbeda dari kemarin. Ia bertanya apakah baru-baru ini ada parit yang digali di situ. Pemiliknya bilang bulan lalu mereka membersihkan satu jalur untuk rakit kayu, dan aliran yang lebih lancar itu bagus. Dari jawabannya, ia tampak tak melihat kaitannya dengan panggung.

Tukang panggung Yu menyodok dengan galah bambu dua kali. Kalau hanya memperbaiki pagar, ia bisa memberi harga. Kalau hendak memeriksa bagian bawah, ia harus menunggu air surut agar bisa masuk dan melihat sekeliling. Hari ini waktunya tak cukup. Gao Shoucheng bertanya berapa lama lagi. Pak Yu menjawab pemeriksaan perlu setengah hari, sedangkan perbaikannya baru bisa dibicarakan setelah diketahui seberapa parah kerusakannya. Mendengar perlu setengah hari lagi, seseorang mengeluh dan bertanya apakah pengumuman pertunjukan di jalan yang dilalui penonton perlu dicopot dulu jika papan tak sempat dipasang lusa. Pak Yu ikut kesal dan berkata kayu tak akan sembuh sendiri hanya karena mereka terburu-buru.

A Zhao semula hendak kembali membicarakan pasir di dekat tiang, tetapi Xiaoman meliriknya. Ia tahu perempuan itu bukan menyuruhnya diam, hanya takut beberapa kekhawatiran berbeda bercampur sehingga akhirnya tak seorang pun benar-benar memeriksa dasarnya. Maka ia lebih dahulu menunjukkan apa yang dilihatnya kepada Tukang Yu, agar ia mengenali bagian itu ketika air surut, tidak lagi berpura-pura bahwa bisa menggalah perahu penyeberangan berarti mampu menyimpulkan keadaan seluruh panggung. Tukang itu mengangguk dan membuat tanda di samping tiang dengan paku lama.

Dalam perjalanan kembali ke Nantang, mereka berjalan terpisah dalam beberapa kelompok. Gu Ming mendekati A-Zhao dan berkata pelan bahwa ia sudah meminta seseorang mengundang pengurus rombongan Changqing untuk datang melihat pada bulan enam. Ia perlu menunjukkan satu bagian yang benar-benar meyakinkan, lebih dari sekadar meminta rekomendasi. Kalau rombongan kecil itu tak punya panggung bahkan untuk mencoba satu babak penuh, ia hanya bisa menunggu kesempatan sebentar di sisi panggung orang lain. Ia bicara tergesa. Untuk pertama kalinya ia tak memakai gaya bicara Liu Sheng untuk bergurau. Mendengarnya, sedikit keinginan A-Zhao agar ia tetap tinggal berubah menjadi rasa tak tega untuk menahannya.

Ia menjawab bahwa orang tetap bisa menonton di panggung kecil, tetapi belum selesai bicara, ia sudah merasa ucapannya terlalu enteng. Kalau ia sendiri hanya kebagian pekerjaan kecil dan ingin sekali ada satu pakaian utuh buatannya yang dilihat orang, bagaimana mungkin ia bilang besar kecilnya panggung sama saja hanya karena keinginan Gu Ming tak sejalan dengan keinginannya? Gu Ming bilang panggung kecil tentu bisa dipakai, tetapi satu bagian tari pedang baru menuntut lebih dari sekadar melangkah dua kali di depan panggung. Ia takut orang telanjur menganggapnya cuma pandai melafalkan dialog. Ketakutan itu mirip sekali dengan ketakutan Azhao bahwa ia cuma pantas mendedel dan mencuci pakaian, tetapi kemiripan itu tak bisa membuat lumpur lunak jadi tanah keras dengan diinjak-injak.

Lu Heniang berjalan di depan. Tiba-tiba ia berhenti dan bertanya, kalau tari pedangnya tak memungkinkan, bisakah penambahannya ditunda dulu? Wajah Gu Ming berubah. Katanya, tentu saja mudah bagimu berkata begitu. Sejak awal kaulah penyanyi utamanya dan kaulah yang lebih dulu dikenal penonton. Begitu selesai bicara, ia sadar kata-katanya menusuk. Lu Heniang tak langsung membalas. Ia hanya menyentuh kantong catatan uang di lengan bajunya dan berkata, aku juga menunggu beberapa pertunjukan ini untuk menutup sewa kamar. Kau bukan satu-satunya yang mengandalkannya untuk mendapat peluang di kemudian hari.

Sambil mendekap daftar kostum, Xiaoman mendengarkan mereka sampai di situ dan meminta keduanya menahan diri sejenak. Ia sama inginnya untuk tampil. Kertas dan alat tulis A-Sheng, pakaian dalam tambahan untuk awal musim panas, juga sedikit uang yang disisihkannya selama beberapa bulan, semuanya baru akan terasa lebih longgar selepas rangkaian pertunjukan ini. Rangka genderang tua masih menyita tempat di bawah ranjang. Kalau tak ada pemasukan baru, keinginan memberi anaknya sedikit lebih banyak ruang meja untuk menulis hanya akan tetap jadi keinginan. Namun begitu melihat lumpur kelabu yang melekat pada kaki Guru Yu dan ingat anaknya sering berlarian di sisi panggung, hatinya terpaksa condong ke pertimbangan lain.

Malam itu Gao Shoucheng menemui Gao Man dan bertanya apakah sebagian uang untuk membeli bahan bisa dipakai dulu. Biaya menambal panggung mungkin lebih kecil dari dugaan, dan uangnya akan dikembalikan begitu hasil penjualan tiket masuk. Gao Man menarik kotak kecilnya ke sisi kaki dan menjawab bahwa uang yang ia talangi tahun lalu pun belum dikembalikan seluruhnya. Ia sudah lama tahu rombongan kekurangan uang dan bukannya enggan membantu. Hanya saja, uang ini ia siapkan untuk membuka lapak kecil bahan kain di pasar kelak. Ia tak ingin setiap kali rencananya baru tampak sedikit, uangnya langsung dipakai lebih dulu untuk seluruh rombongan.

Wajah Gao Shoucheng masam. Ia bertanya apakah Gao Man mau mendahulukan lapak kecilnya saat rumah tangga mereka masih terendam. Gao Man langsung menjawab bahwa justru karena di sini selalu terendam, ia perlu punya tempat yang tak ikut tenggelam setiap kali. Seusai bicara ia membawa mangkuknya keluar. A-Zhao berdiri di ambang pintu, dan contoh jahitan di tangannya tiba-tiba terasa berat. Perahu peninggalan ayahnya memberinya kesempatan belajar pelan-pelan, sementara Gao Man bahkan belum tentu bisa memegang simpanannya sendiri dengan tenang di rumahnya.

Bukan urusannya untuk menentukan siapa yang benar dalam pertengkaran itu. Ia tidak menyusul Gao Man untuk menasihatinya agar lebih pengertian, dan tidak pula mencoba menenangkan Gao Shoucheng dengan dalih putrinya cuma sedang kesal. Ia membawa kain kembali ke kamar, membentangkan bagian yang diperlukan untuk gerakan berputar lebar, dan mencoba memperpendeknya. Ia mendapati bahwa jika kelimnya dipendekkan begitu saja, gerakan dan dialognya sama-sama tak lagi pas. Panggung kecil tak cukup disiasati dengan mengurangi beberapa langkah. Di balik setiap bagian yang tampaknya mudah dikorbankan, ada pekerjaan orang lain yang ikut bergantung padanya.

Gu Ming datang mencoba belakangan. Kali ini ia tak asal melangkah dua kali seperti sebelumnya. Ia menyelesaikan putaran sesuai gerak tari pedang semula. Ujung kostumnya tak tertarik, tetapi kakinya nyaris membentur kaki ranjang. Ia berhenti dan memandangi ruang kosong yang begitu sempit itu. Akhirnya ia tak lagi bilang cukup bergerak lebih pelan. Azhao pun tak memakai kesempatan itu untuk menyombongkan diri bahwa ia sudah bilang sejak awal. Ia hanya meminta Gu Ming menaruh dulu pedang kayu dan mencoba beberapa langkah itu tanpanya. Mereka berdua masih belum menemukan cara yang bisa langsung memuaskan siapa pun.

Malam itu Gao Shoucheng kembali ke sungai belakang. Ketika pulang, bagian bawah pakaiannya penuh lumpur. Asheng mengira ia jatuh dan berlari untuk melihat. Gao Man menggendong anak itu menjauh, lalu meletakkan sebaskom air di dekat kaki ayahnya. Ia tetap tak memberikan uang itu, tetapi penolakannya tak sampai membuatnya enggan memberi air hangat. Gao Shoucheng menunduk dan membasuh diri cukup lama, baru berkata bahwa air akan surut pada tanggal dua. Biarkan Guru Yu memeriksanya lagi, tak perlu memutuskan segalanya malam ini.

Tak seorang pun di ruangan itu menyatakan setuju atau menolak. Semua mengharapkan sesuatu dari pertunjukan ini, sekalipun cuma makan hangat beberapa hari. Keinginan menyambung hidup tak membuat alasan seseorang lebih benar daripada alasan yang lain. Xiaoman lebih dulu memisahkan pakaian yang akan dipakai besok, lalu meminta A-Zhao membuat dua set catatan sesuai ukuran pentas kecil tanpa buru-buru menggunting. Melihat itu, Gao Shoucheng tampak agak kesal, seolah orang sudah mengaku kalah atas namanya. Namun, pada akhirnya ia tak menyuruhnya membatalkan pekerjaan itu.

Keesokan paginya, Gao Man membawa seember lem kanji untuk mencopot pengumuman pertunjukan lama, dan Azhao membantunya memegangi tangga. Baru satu lembar terlepas, seorang penonton yang memegang karcis kecil untuk tempat duduk yang sudah dipesan bertanya kenapa. Begitu mendengar pertunjukan akan dipindah ke Houhe, ia langsung minta uangnya kembali. Orang itu datang tanpa niat ribut. Katanya, ia membawa orang tua dan sulit berjalan di tepian berlumpur. Sudah membayar sepuluh wen, jangan sampai mereka datang sia-sia. Gao Man menerima karcisnya, mencatat bahwa karcis itu sudah dibayar, dan bilang malam nanti ia bisa meminta pengembalian uang di Balai Selatan. Ia tak mengusir orang itu dengan mengatakan bahwa penonton semestinya bisa memahami keadaan mereka.

Azhao mendekap kertas-kertas yang sudah diturunkan dan melihat tinta pada tiga aksara 青杏台, nama Panggung Qingxing, luntur terkena lem kanji. Hatinya tak enak, seolah ia pun pernah membuat janji yang terlalu pasti atas nama orang lain. Delapan tiket pesanan itu bernilai total delapan puluh wen. Uangnya sudah masuk ke kas rombongan, sementara tempat pertunjukannya belum ditetapkan. Gao Man bilang uang tiket harus disimpan dulu dan tak boleh lagi dialihkan untuk menambal panggung. Kalau pertunjukan benar-benar batal, uangnya dikembalikan penuh. Ayahnya pun setuju, meski semua orang masih enggan mengakui sejak sekarang bahwa pertunjukan itu mungkin tak bisa dimainkan.

Namun seorang penonton lain tak mau meminta pengembalian uang. Katanya, ia sudah menunggu beberapa malam di bulan keenam itu karena hanya pada saat itulah ia senggang. Sekalipun panggung dipindah lebih jauh, ia tetap mau datang. Jangan batalkan pertunjukan hanya karena ada yang keberatan dengan lumpur. Kedua pendapat itu sama-sama tulus. Azhao tak bisa memakai yang satu untuk membungkam yang lain. Ia hanya membantu membiarkan alamat baru kosong dulu, untuk diisi setelah tempatnya diperiksa saat air surut. Dari bawah tangga ia menerima kertas yang diturunkan, sampai punggung tangannya penuh lem kanji. Ia juga tak bisa menganggap bahwa dengan sedikit tambahan kerja darinya, urusan delapan tiket itu akan beres seluruhnya.

Selepas tengah hari Azhao kembali ke panggung beratap di kuil lama untuk mengukur. Yang dibawanya kertas ukuran, sementara surat sewa perahunya sendiri ia tinggalkan. Ia belum berwenang membatalkan pertunjukan bagi semua orang. Ia hanya bisa mencatat ukuran bagian depan panggung, tempat berganti pakaian, dan tinggi air di dekat tiang untuk diperlihatkan kepada mereka yang benar-benar akan berjalan di atasnya. Bekas paku yang ditinggalkan Guru Yu sangat dangkal. Ia bisa merasakannya dengan jari. Riak air di sebelahnya kembali menghanyutkan beberapa butir pasir, tetapi sinar matahari di lantai panggung begitu terang. Dari jauh, tempat itu masih tampak bagus, cukup luas dan membuat orang berat meninggalkannya.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.