Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno

Bunyi Papan Ranjang

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11749 karakter · sekitar 10 menit

Papan ranjang di ruang belakang lebih sempit daripada yang di losmen. Ia menaruh peti di dekat kakinya dan mengira-ngira dulu apakah kakinya bisa lurus kalau berbaring. Tangannya langsung ia tarik kembali, takut terlihat oleh Xiaoman dan terkesan mengeluhkan sempitnya tempat itu pada hari pertama. Namun A-Sheng sudah berdiri di samping papan itu dan bilang ranjangnya akan berbunyi pada malam hari. Sekali membalik badan, rangka genderang kosong di bawahnya akan ikut berkelontang.

Azhao menunduk dan baru melihat bahwa rangka itu sudah dipindahkan ke bawah papan ranjang. Qin Xiaoman sedang menyeka debunya dan menyuruh anaknya agar tak selalu mendahulukan hal-hal buruk. Ia sendiri membungkus bagian yang gampang terbentur dengan dua potong kain lama. Ia melakukannya dengan teliti. Melihat itu, Azhao justru tak enak bertanya apakah rangka itu bisa dipindahkan ke luar. Rangka itu peninggalan Lu Zheng. Saat Azhao datang sebelumnya, letaknya masih di samping peti pakaian. Begitu ia pindah kemari, rangka itu harus mengalah ke kolong ranjang.

Hari sudah menjelang malam ketika A Zhao sampai di Lanting pada tanggal dua puluh delapan bulan tiga. Kali ini perahu penumpangnya tepat waktu. Ia mengenali seluruh jalan dari dermaga dan bisa masuk ke aula selatan tanpa harus bertanya lagi di depan pintu siapa yang mengenalkannya. Namun, ketika tiba saatnya benar-benar meletakkan petinya, ia malah merasa kurang leluasa dibandingkan saat menginap di losmen. Waktu itu, kalau ranjangnya sempit, ia hanya bisa menyalahkan tarif delapan wen yang terlalu murah. Sekarang Xiaoman dan anaknya juga ada di sini. Siapa pun yang hendak meluruskan kaki harus melihat dulu apakah ada orang di sebelah.

Xiaoman menyuruhnya mencoba berbaring, tetapi ia buru-buru bilang tak perlu, sudah cukup. Asheng langsung berbaring menggantikannya. Tumitnya pas menyentuh sudut peti, dan ia berkata dengan bangga bahwa lihat saja, masih banyak tempat tersisa. Azhao menariknya bangun sambil tertawa dan bilang itu karena kakinya pendek. Si anak tak terima dan kembali menjulurkan kaki untuk membuktikannya. Ibunya bergegas menyuruhnya jangan menginjak ranjang dengan sepatu berlumpur. Untuk pertama kalinya ruangan itu seramai tempat yang benar-benar sudah ditinggali Azhao, lebih dari sekadar tempat ia duduk menunggu orang menyerahkan pekerjaan.

Sewa kamar empat puluh lima wen sebulan, termasuk kayu bakar dan air. Biaya makan dihitung terpisah dan dibagi di antara orang yang makan dari satu periuk. A-Zhao mengeluarkan uangnya. Xiaoman tak menolak dan tak bilang untuk pendatang baru tak perlu. Ia menghitungnya, memasukkannya ke kantong kecilnya sendiri, lalu menunjukkan tempat dekat kepala ranjang yang bisa dipakai menaruh tabung jarum. A-Zhao semula takut urusan menerima uang akan membuat salah satu dari mereka kikuk. Melihat Xiaoman menerimanya begitu lugas, ia justru merasa sedikit hampa, seolah karena membawa uang yang cukup, ia semestinya bisa membeli kebebasan dari segala rasa canggung.

Di sisi jendela ada meja rendah yang lebih terang daripada tempat dekat pintu. Sol sepatu Xiaoman, naskah nyanyian, dan satu bungkusan kecil benang yang belum dipilah terletak di sana. A-Zhao meliriknya lalu menaruh kertasnya sendiri di tempat yang lebih gelap. Xiaoman bertanya apakah ia bisa melihat dengan jelas di situ, dan ia menjawab bisa. Namun saat memasukkan benang ke lubang jarum, ia harus mendekatkan mata, dan angin dari celah pintu terus membuat ujung benang meleset dari jarinya. Ia kesal karena tadi terlalu cepat menjawab, tetapi sekarang ia merasa tak enak mengakui bahwa sebenarnya ia tak bisa melihat dengan jelas.

A-Sheng datang memeluk bambu pendeknya dan bertanya apakah di dalam peti ada jarum besi halus yang bisa dipakai membuat lubang. A-Zhao mula-mula bilang tidak ada. Anak itu jelas-jelas melihat tabung jarumnya dan langsung mengulurkan tangan. A-Zhao menggeser tabung itu dan memberinya sebatang kayu kecil yang belum dipakai. Katanya, gunakan ini dulu untuk menentukan letaknya. Kalau sungguh mau melubangi bambu, carilah orang yang paham supaya bambunya tidak sampai retak karena ditekan. Anak itu kurang puas, tetapi tetap menerimanya dan duduk di tepi ranjang untuk mengukur panjangnya dengan lengan sendiri.

Di halaman, Gu Ming memanggilnya dan bertanya apakah Guru He mau datang melihat kain baru. Mendengar panggilan guru, Azhao terlalu cepat mendongak dan jarum terlepas dari sela jarinya ke lipatan pakaian. Xiaoman ada di sampingnya. Setelah melihatnya meraba dua kali, ia menahan kain itu dan menyuruh Azhao pelan-pelan. Azhao tadinya ingin menjelaskan bahwa ia hanya buru-buru mengambil pekerjaan. Belum sempat bicara, ia sudah menyenggol sepotong kain di tepi peti hingga jatuh ke lantai.

Kain biru kehijauan yang dibawa Gu Ming baru saja diambil Gao Man dari toko kain. Kilaunya lebih terang daripada jubah lama, dan ketika dikibaskan terbuka warnanya seperti air dingin. Gu Ming menyampirkannya di bahu dan bertanya apakah dengan memakai ini Liusheng akan tampak sungguh-sungguh siap memperjuangkan sesuatu. Azhao menunduk meraba kainnya. Menurutnya kain itu jauh lebih indah daripada baju-baju yang pernah ia ubah untuk tetangga, dan mulutnya ikut mengiyakan. Gu Ming tertawa, katanya ia sudah tahu mata Azhao pandai menilai.

Xiaoman datang dari belakang. Ia membiarkan Azhao melihat kain itu dan hanya bertanya kepada Gu Ming apakah kostum lama juga akan dibawa untuk dicoba. Gu Ming bilang tentu saja. Dalam beberapa hari ini ia akan mematangkan bagian akhir babak, supaya Liu Sheng tak cuma berdiri di tepian dan bicara. Xiaoman mengerutkan kening dan bertanya bagian mana lagi yang hendak ia tambahkan. Gu Ming menjawab, tunggu sampai ia berhasil melatihnya. Akhirnya ia menyelipkan kain biru kehijauan itu ke tangan Azhao dan berpesan agar ia tak mendengarkan orang yang selalu bilang Gu Ming cuma bisa bikin ribut.

Sambil mendekap kain itu, A-Zhao merasakan kegembiraan yang membuat hatinya ringan. Ia tahu itu tak berarti Gu Ming begitu menghargainya. Gu Ming memakai nada yang sama untuk membujuk anak-anak, merayu tamu, dan meredakan omelan Lu Heniang. Namun saat giliran dirinya, sulit rasanya untuk tidak sedikit lebih percaya. Ia menaruh bahan itu di tepi meja. Untuk pertama kalinya yang terpikir lebih dulu adalah bagaimana gerakan berputar di panggung itu akan berkilau kalau baju barunya selesai. Biasanya ia langsung ingat bahwa kain milik rombongan tak boleh dipotong sembarangan.

Makan malam dibagikan di dekat tungku kecil. Gao Shoucheng sedang pusing karena pertunjukan berikutnya kekurangan dua meja. Melihatnya juga berdiri memegang mangkuk, ia menyuruhnya duduk di bawah cucuran atap, jangan menunggu sampai nasi panas menjadi dingin. Mendengar ia tak perlu mencari kedai makan sendiri, A Zhao mula-mula lega. Baru setelah Gao Man membawa keping kayu kecil pencatat makan, ia tahu bagian yang harus dibayar tiap orang tetap akan dicatat. Ia tidak merasa itu tak patut dicatat, hanya saja sedikit kehangatan yang tadi terasa seperti kembali ke rumah seseorang, setelah disinari angka-angka, menjadi nyata sekaligus tak begitu bisa disandari dengan tenang.

Sehabis makan, Xiaoman pergi ke depan untuk berlatih satu bagian nyanyian. Di dasar mangkuk Asheng masih tersisa nasi. Saat membereskan meja, Azhao hendak sekalian membuangnya, tetapi Asheng buru-buru merebut mangkuk itu. Katanya, ia akan makan lagi nanti. Ibunya bilang jangan sampai lupa makan hanya karena melihat ada orang di luar. Begitu ucapannya, tetapi matanya melirik keping bunyi baru di halaman. Azhao menutup mangkuk itu, menyuruhnya mencuci tangan dulu, lalu membawa beberapa mangkuk kosong dari dekat tungku ke sisi sumur.

Dulu, ketika datang sebagai tamu, Xiaoman tak mengizinkannya mencuci mangkuk. Kini saat A-Zhao membawanya ke sumur, dari seberang halaman Xiaoman cuma berseru agar mangkuk yang retak dasarnya jangan ditumpuk bersama yang lain, nanti airnya menetes ke mana-mana. Seruan itu tanpa basa-basi, tetapi tangan A-Zhao sempat terhenti. Ia merasa baru saja membayar, tetapi sepertinya bahkan menginginkan satu malam istirahat pun tak pantas. Seketika ia malu pada pikiran itu. Siapa yang makan bersama di rumah tanpa ikut membereskan mangkuk? Apa ia sungguh ingin menunggu orang mengantarkan segalanya sampai ke tepi ranjang?

Sepulang mencuci mangkuk, ia mendapati A-Sheng sudah menulis di meja, dengan potongan bambu pendek menindih kertasnya. Naskah nyanyian yang ditinggalkan Xiaoman siang tadi telah didorong anak itu ke tepi. A-Zhao mengulurkan tangan untuk menggesernya kembali dan melihat tulisan kecil dengan corak berbeda di samping sebaris tulisan lama. Ia tak patut membaca sesukanya, tetapi tak kuasa menahan diri untuk melirik sekali lagi larik pengantar perahu itu. Dalam tulisannya tak ada yang menunggu siapa-siapa, tetapi ketika dinyanyikan, larik itu bisa membuat seisi pelataran ikut menunggu. Ia ingin sekali tahu seperti apa Xiaoman ketika dulu memerankan A-Heng, tetapi takut pertanyaannya terdengar seperti mengusik perkara lama untuk bergurau.

Anak itu mengantuk saat menulis. Kepalanya terangguk sampai menyentuh kertas, tetapi tangannya masih enggan melepas kuas. Azhao menggeser cawan tinta menjauh darinya. Xiaoman kembali tepat saat itu dan langsung berkata jangan biarkan ia mengelak, barang yang harus dibereskannya sendiri ya harus ia bereskan. Azhao kembali merasa tersinggung karena diperlakukan seperti pembantu. Ia menjawab bahwa ia cuma khawatir tintanya tumpah, dengan suara yang lebih keras dari yang ia maksudkan. Xiaoman tertegun sejenak. Ia tak melanjutkan ucapannya, melainkan membangunkan anak itu agar membereskan kuasnya.

Keduanya duduk sendiri-sendiri beberapa lama. Suara latihan nyanyi di luar malah lebih meriah daripada suasana kamar. Gu Ming dan Lu Heniang sedang mencoba sebuah langkah putar. Dari balik dinding terdengar seperti mereka bertengkar, lalu tak lama keduanya tertawa bersamaan. A-Zhao tak kunjung berhasil memasukkan benang dan jengkel karena jari-jarinya tiba-tiba terasa kikuk. Ketika mendongak, ia melihat Xiaoman juga mengusap pangkal jarinya. Kedua tangan Xiaoman tak lebih cekatan daripada tangannya sendiri. Namun saat itu ia belum bisa menganggap kelelahannya sebagai sesuatu yang wajar begitu saja hanya karena melihat orang lain juga lelah.

Akhirnya Xiaoman bangkit, mengambil bungkusan benang di dekat jendela, dan memindahkan sepatunya ke kepala ranjang sehingga sedikit ruang di meja terbuka. Ia berkata cahaya di sini bagus, jadi kalau Azhao mau menjahit siang hari, pakailah tempat ini, asal naskah lakonnya jangan sampai kena lembap. Azhao mengiakan dan membawa tabung jarumnya ke sana, tanpa membalas dengan ucapan tadi tentang bisa melihat dengan jelas. Mereka belum membicarakan persoalannya sampai tuntas, tetapi dalam cahaya lampu akhirnya ada sedikit tempat untuk sepasang tangan lagi.

Sudah larut malam, tetapi A-Sheng tak mau tidur. Ia meniup potongan bambu yang lubangnya belum lengkap, suaranya melengking seperti engsel pintu. Xiaoman menyuruhnya berhenti. Ia berhenti sebentar, lalu mencoba lagi. A-Zhao yang berbaring di papan baru semula ikut kesal. Namun, mendengar anak itu diam-diam meniup lebih pelan, ia malah hampir tertawa keras. Saat menahan tawa, tubuhnya bergerak dan rangka kosong di bawah ranjang terbentur dengan bunyi gedebuk. Anak itu kaget dan menyelipkan bambunya ke bawah selimut. Mereka berpandangan dalam remang-remang, lalu sama-sama menahan tawa.

Xiaoman tak tertawa. Ia turun dari tempat tidur, meraba rangka genderang, dan bertanya apakah balutannya kurang baik saat dipasang siang tadi. Ia mendorong kain itu sedikit lebih dalam. A-Zhao langsung diam. Rasanya bahkan untuk membalik badan pun ia harus minta maaf dulu kepada sepotong kayu tua. Xiaoman tak tahu apa yang dipikirkannya. Ia hanya menyuruhnya tidur karena besok masih ada satu kostum baru utuh yang harus diperiksa. Saat berbalik, ia sekalian mengangkat sepatu yang ditendang lepas oleh A-Sheng dan menaruhnya di kaki ranjang.

Baru setelah lampu padam, Azhao ingat bahwa kain biru kehijauan itu masih di ruang sebelah dan hari ini ia baru merabanya, belum sungguh-sungguh mengukurnya. Mestinya ketika Gu Ming masih bersedia mencobanya, ia menanyakan gerakannya sampai jelas. Namun sekali dipanggil ‘Ahli Jahit He’, ia sudah merasa seakan bisa segalanya. Setelah kamar gelap, akhirnya tampak juga kegugupan di balik kegembiraan kecil itu. Ia meraba-raba mencari kertas ukuran. Dalam gelap ia hanya bisa mengingat baris mana yang masih kosong, tanpa bisa mengisinya sekarang.

Belakangan Xiaoman menyalakan lagi lampu kecil. Rupanya ada seutas tali yang terlewat, padahal besok pagi sudah diperlukan. Azhao mendengar bunyi gunting, membalikkan badan, lalu bertanya apakah ia perlu mengerjakannya. Ia sudah sangat mengantuk, tetapi mulutnya lebih dulu menyanggupi daripada tubuhnya, seakan takut baru saja pindah kemari sudah terlihat tak berguna. Xiaoman menyuruhnya tidur dulu, lalu setelah terdiam sejenak berkata bahwa kalau Azhao bisa memasukkan benang panjang ke lubang jarum untuknya, itu sudah cukup. Azhao duduk, menyampirkan baju ke bahunya, dan dengan cahaya yang sedikit itu akhirnya berhasil memasukkan benang.

Ia mengulurkan benang itu dan melihat sudut mata Xiaoman memerah. Ia ingin bilang sebenarnya kau juga perlu tidur, tetapi teringat betapa ia sendiri tak suka didesak begitu siang tadi, jadi ia diam. Ia menggulung sisa benang dengan rapi dan menaruh jarum pendeknya sendiri di sudut meja yang baru dikosongkan. Di luar jendela, bulan sudah melewati teritisan dan tak lagi menerangi tempat yang semula ingin ditempatinya. Namun cahaya kecil di sisi meja masih cukup bagi keduanya untuk melihat apa yang ada di tangan mereka. Baru saat itulah A-Zhao sungguh merasa bahwa ketika bangun besok pagi, petinya masih akan ada di sini.

· Akhir bab ·

Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Tiga Kali Menawar Harga Perahu
  2. Pelat Tembaga dan Penyeberangan yang Sepi
  3. Jendela di Toko Lentera Itu
  4. Jalan di Dalam Peti Bambu
  5. Dua Etape Perjalanan Lewat Air
  6. Orang yang Membongkar Jahitan
  7. Kostum di Panggung dan Pakaian di Badan
  8. Tempat Kosong di Samping Genderang
  9. Lentera Kembali ke Atas Lemari
  10. Nama yang Sudah Berumah Tangga
  11. Lakon Baru di Balai Selatan
  12. Karcis Perahu Hari Kesembilan
  13. Sebatang Daun Bawang di Balik Pintu
  14. Siapa yang Menutup Jendela Malam Hari
  15. Dua Chi Kain yang Belum Selesai Dibongkar
  16. Setengah Bulan Menyewakan Perahu
  17. Bunyi Papan Ranjang
  18. Membuka Kembali Kerung Lengan
  19. Pasang Bulan Keempat
  20. Menonton Satu Babak Utuh dari Bawah Panggung
  21. Jamuan Kedua di Lanting
  22. Harga Sepatu Kecil
  23. Angin Lewat dari Balik Tirai
  24. Pertunjukan Kelenteng Pindah ke Tepi Air
  25. Pertunjukan yang Ditarik Kembali
  26. Jahitan yang Membuat Orang Bertahan
  27. Dua Papan Nama di Haluan
  28. Perlukah Anak Itu Ikut Pergi?
  29. Menolak Tiket Perahu Itu
  30. Lakon Lama Dilatih Ulang Saat Cuaca Panas
  31. Melihat Dulu, Baru Membalas
  32. Menyerahkan Kostum ke Tangan Pemakainya
  33. Satu Pintu Terbuka di Lemari Lentera
  34. Menyeberangi Sungai Sekali Lagi
  35. Benang Terakhir Pertunjukan Musim Gugur
  36. Lentera Tak Perlu Menyala Semalaman

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.