Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno
Karcis Perahu Hari Kesembilan
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11938 karakter · sekitar 10 menit
Pada penutupan pertunjukan hari kesembilan bulan ketiga, satu tusuk rambut Lu Heniang hilang. Semua orang menggeledah separuh ruang belakang panggung. Akhirnya tusuk itu ditemukan di dalam lengan kostum yang telah dilepas Gu Ming. Rupanya saat keduanya berputar berdekatan di babak perpisahan, ujung tusuk rambut tersangkut benang dan ikut terbawa. Gu Ming mengangkat lengan kostumnya dan berkata Liu Sheng belum mendapat satu wen pun, tetapi sudah mendapat tanda cinta. Lu Heniang mengambil kembali tusuk rambutnya dan meluruskan ujungnya yang bengkok di depan semua orang di halaman. Katanya, kalau lain kali tersenggol lagi, sekalian siapkan ongkos memperbaikinya.
Azhao berjongkok di samping mereka sambil melipat kostum. Dengan tersenyum ia mencatat di tepi kertas bagian jahitan yang tersangkut tadi. Rangkaian pertunjukan kali ini pun selesai, tetapi Gao Shoucheng masih menggerutu karena beberapa pertunjukan terakhir tak penuh. Ia berpesan agar orang-orang jangan langsung berpencar sampai susah dicari. Xiaoman keluar dari ruang dalam sambil membawa sepatu dan menyuruh Asheng mencobanya lebih dulu. Anak itu menjulurkan kedua kakinya lurus-lurus seolah hendak naik perahu. Sepatunya akhirnya jadi. Bagian atasnya tak semengilap sepatu jualan toko, tetapi di ujungnya masih ada sedikit ruang bagi kaki yang akan terus tumbuh.
“Besok kau berangkat lebih dulu?” tanya Xiaoman kepada Azhao.
A-Zhao mengangguk. Besok ia akan berangkat dengan perahu, tiba di Liuwan tanggal sebelas, dan harus membereskan perahu penyeberangan lebih dulu. Xiaoman bilang ia akan berangkat tanggal sebelas, tiba tanggal dua belas, lalu menyeberang setelah sampai di tepi timur. Seusai menyebutkan tanggal-tanggal itu, jari-jarinya masih menekan tepi sepatu, seolah masih mencari bagian yang kurang pas agar ada alasan untuk menunduk sebentar lagi sebelum menghadapi keputusan itu. A-Zhao tak mendesaknya. Akhirnya Xiaoman pun memasangkan kembali sepatu itu ke kaki si anak.
A-Sheng bertanya apakah nenek akan menjemput di dermaga. Setelah bertanya, ia bilang kalau toko sibuk, ia bisa mengenali tulisan yang menandakan toko lampion. Xiaoman bilang ada lebih dari satu toko di jalan itu yang memasang lampion, dan A-Sheng belum pernah lewat sana. Si anak tadinya ingin membantah, tetapi melihat raut wajah ibunya, ia menoleh ke A-Zhao untuk meminta dukungan. A-Zhao hanya bilang ia akan menunggu di tepi timur. Lalu ia bertanya apakah A-Sheng mau membantu membawa alat musik petik pendek milik rombongan menyeberang. Guru Mo sedang menunggu untuk memperbaiki tumpuan dawainya, dan A-Sheng hanya perlu menyandangnya sebentar setelah sampai di darat.
Kantong itu lebih tinggi daripada separuh tubuhnya. Begitu mendengar ia boleh menggendongnya, Asheng langsung melupakan soal mengenali jalan dan pergi mengukur apakah bahunya cukup lebar. Xiaoman semula ingin mengambil alih, tetapi akhirnya hanya memeriksa tali gendong agar kantong itu tidak terseret di tanah. Ia berkata bahwa qin itu milik rombongan, tidak boleh dijadikan mainan. Anak itu menjawab mengerti, suaranya bahkan lebih lantang daripada saat tadi mengaku mengenal aksara, jelas separuh perkataan itu tidak masuk ke telinganya. A-Zhao memandangnya, tiba-tiba merasa bahwa dalam perjalanan ini mesti ada satu kegembiraan yang tidak berkaitan dengan enam belas tahun itu.
Malam sebelum berangkat, Xiaoman membentangkan dua set pakaian di ranjang dan bertanya kepada Azhao apakah yang kelabu terlalu usang. Azhao meraba tepi bahunya. Kainnya memang sudah lembut karena sering dicuci, tetapi jahitannya masih kuat. Set yang satu lagi berupa baju luar berwarna muda yang baru rela dikenakan Xiaoman setelah selesai bermain opera. Yang itu lebih baru. Xiaoman memandanginya beberapa kali, lalu menyimpannya lagi. Ia bertanya apakah melihatnya berbaju usang akan membuat ibunya hanya bertanya sesusah apa hidupnya. Lalu, seolah menyesal telah keceplosan, ia langsung memeriksa bungkusan Asheng.
A-Zhao tak menjawab bahwa hal itu pasti tak akan terjadi. Ia teringat rentetan pertanyaan Nenek Qin di depan meja jualan lampion. Ia sendiri saja kewalahan, bagaimana mungkin ia bisa menjamin atas nama Nenek Qin bahwa pertemuan dengan putrinya tak akan terasa canggung? Ia hanya berkata kalau lelah, duduk dan makan sedikit dulu. Jangan pergi dengan perut kosong sepanjang jalan. Xiaoman menggumam pelan, lalu tiba-tiba berkata bahwa dulu ia juga pernah mendengar nasihat itu. Hanya saja waktu itu ia selalu merasa kalau perutnya kenyang, justru makin susah untuk pergi.
Pada tanggal sepuluh, sebelum berangkat, Azhao mengembalikan semua yang harus diserahkan pada putaran kerja ini kepada Gao Man dan menjelaskan bagian yang belum selesai kepada Xiaoman. Ia tak menganggap pulang beberapa hari sebagai alasan untuk melewatkannya. Saat memeriksa bahan yang dikembalikan, Gao Man menunjuk tanda pada kertas Azhao dan bertanya apa artinya. Setelah mendengar penjelasan bahwa tanda itu menunjukkan bagian tempat benang tersangkut, ia malah menyalinnya dan berkata, kalau kelak ujung lengan ini perlu dibongkar, periksa bagian ini dulu. Azhao sudah mengangkat barang bawaannya. Mendengar itu, ia duduk kembali dan memperjelas tanda tersebut.
Tanggal sebelas, ketika Azhao kembali ke Liuwan, Ding Quan sedang berbicara dengan orang-orang dari dermaga barat. Azhao tak mendekat untuk menyela. Ia pergi dulu ke buritan untuk meraba sambungan yang sudah ditambal. Ada sedikit air, tetapi tak lebih banyak daripada sebelum ia berangkat. Ia mencuci gayung, mengosongkan tempat yang akan dipakai esok hari, baru pergi mengambil kunci rumah. Ding Quan tahu Xiaoman dan putranya akan datang, lalu bertanya apakah perahu perlu dihias sedikit dengan kain warna-warni. Azhao bilang tak perlu, seberangkan saja mereka seperti biasa. Ding Quan tertawa dan bilang ia juga cuma iseng bertanya. Mana sempat ia memasang hiasan meriah untuk satu perahu penuh orang.
Tirai toko lampu sudah dicuci. Sambungan kain birunya masih basah saat dibentangkan di halaman belakang. Melihat A-Zhao, Nenek Qin mula-mula bertanya apakah perahunya terlambat. Begitu mendengar Xiaoman baru tiba besok, ia malah bertanya lagi kenapa bukan hari ini. A-Zhao mengulangi tanggal kedua perjalanan itu. Barulah perempuan tua itu ingat. Sambil menunjuk selimut yang sedang dijemur di halaman, ia bilang ia tidak terburu-buru, hanya khawatir kalau hujan turun di sini, mereka tiba tanpa tempat kering untuk duduk.
A-Zhao merasa mestinya ia mengatakan bahwa Xiaoman hanya akan menginap dua malam. Namun, melihat Nenek Qin mengibaskan sudut selimut yang sama untuk kedua kalinya, ia lebih dulu memegang ujung satunya dan membantu menjemurnya lebih tinggi. Setelah selimut tergantung kukuh, barulah ia menjelaskan tanggalnya. Nenek Qin tak langsung menjawab. Selang beberapa saat, ia bertanya apakah dua malam cukup untuk beristirahat. A-Zhao berkata Xiaoman sendiri yang menetapkannya. Tanggal empat belas ia harus kembali ke Lanting untuk menyerahkan pekerjaannya. Nenek Qin mengangguk, tetapi tetap mengeluarkan selimut kedua. Dua malam saja pun tak membuatnya mengurangi persiapan.
Pagi tanggal dua belas, Nenek Qin sudah membuka pintu sebelum fajar. Pada penyeberangan pertama, A-Zhao melihatnya membeli ikan di mulut jalan. Ia memilih dengan begitu teliti sampai penjual ikan bilang selisih daging ikan yang ini dan yang itu cuma setengah suap lebih sedikit. Namun ia masih bertanya apakah anak itu bisa makan ikan yang berduri halus, sehingga penjual harus bertanya dulu berapa umur si anak. Begitu mendengar usianya delapan tahun, Bibi Xu tertawa di sampingnya dan berkata, jangan-jangan nama kecilnya saja sudah lupa, tapi masih repot memilihkan duri untuknya.
Setelah membawa ikan pulang, Nenek Qin lupa mengerik sisiknya lebih dahulu dan sudah memotong satu ruas dengan pisau. Bibi Xu kebetulan datang mengambil teko yang ditinggalkannya semalam. Melihat keadaan di talenan, ia mengulurkan tangan mengambil pisau, lalu berkata bahwa kalau tangan yang biasa merekatkan kertas lentera dipakai seperti itu, mungkin hari ini tiga kerangka akan patah. Nenek Qin kesal karena ia banyak bicara, tetapi tetap menyingkir. Bibi Xu berkata ia hanya akan membersihkan ikan ini; setelah itu ia harus kembali ke lapak. Ia tidak akan mengerjakan seluruh pekerjaan sehari untuknya, jadi jangan terus-menerus melirik ke arah jendela.
Azhao mendengarkan dari ambang pintu, mula-mula menahan tawa, lalu melihat bahwa Nenek Qin betul-betul sudah tak berjaga di jendela. Nenek mencuci sayur dan mencari mangkuk, menaruh tiga lalu mengambil kembali satu. Ia tampak sibuk dengan segala hal, padahal masih ada satu perkara yang betul-betul belum pasti. Azhao bilang ia akan mengabarinya lagi setelah tiba di tepi timur, lalu membawa dayungnya kembali ke penyeberangan. Ia tak menenangkan nenek itu dengan menyuruhnya pelan-pelan saja. Perahu sedang menunggu dan pekerjaannya sendiri harus ia kerjakan dulu.
Selepas tengah hari, perahu penumpang itu akhirnya merapat di Tongwei. Dari balik buntalan orang lain, A Zhao melihat Xiaoman, satu tangan menggandeng A Sheng dan satu lagi menjinjing bungkusan kecil. Bagian bahu baju kelabunya lebih kusut daripada malam sebelumnya, seakan di perahu ia tak menemukan tempat yang bisa disandari dengan tenang. Di perahu, ibunya membawakan tas alat musik qin untuknya. Begitu turun ke darat, anak itu baru meminta tas itu kembali ke bahunya sendiri. Talinya miring dan dasar tas berulang kali membentur kakinya.
A-Zhao maju membantu menyangga ujung kantong alat musik itu. A-Sheng langsung bilang ia kuat menggendongnya sendiri. Mulutnya bersikeras, tetapi tangannya tidak menepis A-Zhao. Xiaoman bertanya apakah ibunya ada di kedai. A-Zhao bilang ia sedang memotong sayur di belakang rumah, tanpa menyebut kelakar soal sisik ikan. Ia takut kalau sampai bilang perempuan tua itu begitu gugup hingga tak bisa lagi memakai pisau, Xiaoman sudah harus menanggung rasa iba yang membebani hatinya bahkan sebelum mereka bertemu.
Saat naik ke perahu, Xiaoman lebih dulu mendorong anaknya agar duduk di tengah, lalu menurunkan tas alat musik dari punggungnya dan menaruhnya di tempat tinggi yang tak terkena air. Dengan kedua tangan mencengkeram tepi perahu, A-Sheng memandangi perahu penyeberangan kecil tanpa atap itu dan bertanya apakah lajunya lebih lambat daripada perahu besar yang ia tumpangi tadi. A-Zhao bilang di ruas sungai ini mereka tak perlu berlomba cepat. Kalau melambat sedikit, alat musiknya juga tak akan melompat ke sungai. Anak itu langsung menarik kedua tangannya untuk menjaga simpul tas, seolah alat musik itu bisa mendengar dan tersinggung.
Di tengah sungai, ia kembali bertanya apakah siapa saja boleh naik perahu itu. A-Zhao bilang siapa pun yang membayar ongkos boleh naik, kecuali air sedang terlalu tinggi untuk menyeberang. A-Sheng bertanya apakah ia dihitung sebagai orang dewasa atau anak-anak. Xiaoman sudah merogoh uang di lengan bajunya sambil mengingatkan agar ia tak mengambil satu tempat duduk tambahan hanya karena kenal pengemudinya. A-Zhao mengayunkan dayung dulu dan menunggu sampai perahunya melaju mantap mengikuti arus. Barulah ia berkata ongkos A-Sheng tiga keping, dan ibunya lima keping.
Xiaoman membentangkan delapan wen di telapak tangan dan Azhao menerimanya seperti biasa. Tak seorang pun menawarkan untuk menggratiskannya, seolah menghapus ongkos sekecil itu bisa meringankan seluruh perjalanan. Uang jatuh ke tabung bambu. Asheng menoleh ke atap-atap di tepi barat dan berkata rupanya Nenek juga tinggal di tempat seperti ini. Azhao memandangnya, tak tahu tempat macam apa yang ia bayangkan sepanjang perjalanan. Ia hanya menjawab bahwa keluarga di rumah itu juga perlu menyalakan lampu dan memasak.
Mendekati tepian, angin menyibak ujung lengan baju Xiaoman. Saat ia menahannya, tampak garis merah kecil di pangkal jarinya akibat membongkar jahitan. A-Zhao tiba-tiba ingin sekali mengambilkan buntalannya juga. Lalu ia ingat bagaimana beberapa hari lalu ia memeluk lampu begitu erat sampai orang lain tak punya ruang untuk bergerak. Akhirnya ia hanya memasang papan titian dengan kukuh agar Xiaoman bisa menggandeng anaknya sendiri ke darat. Xiaoman menyeberangi papan itu, tumitnya tertahan sesaat. Ia menoleh ke plakat perunggu bertuliskan 何家渡, Penyeberangan Keluarga He, tanpa menanyakan apa pun.
Bengkel Guru Mo berada di tikungan saat memasuki jalan pertokoan. A-Zhao menunjukkan arah kepada mereka berdua. Si anak tetap ingin menyandang alat musik pendek itu, berjalan seolah sedang mengangkat bendera. Kali ini Xiaoman tak langsung menuduhnya berlagak kuat. Ia hanya sekali mengulurkan tangan dari belakang untuk menjaga sudut tasnya. Mereka sepakat menyerahkan alat musik itu dulu baru ke toko lampion. A-Zhao pun tak ikut sampai tujuan karena masih harus ke tepi timur untuk menjemput orang dengan pikulan sayur yang sudah menunggu.
Pada kali kedua Azhao lewat di depan rumah keluarga Qin, Bibi Xu sudah kembali ke lapak ikannya. Dari ruang belakang hanya terdengar bunyi pelan tutup panci. Nenek Qin sedang mengelap mangkuk yang itu-itu juga dengan sehelai kain. Begitu melihat Azhao datang dengan tangan kosong, ia langsung berdiri. Azhao bilang mereka sudah tiba dan sedang mengantar alat musik, sebentar lagi akan kemari. Perempuan tua itu bertanya apakah ia perlu menyusul. Baru saja kata-kata itu keluar, air dalam panci mendadak meluap. Ia buru-buru berbalik mengangkat tutupnya, tanpa sempat menuntaskan pertanyaan.
Azhao membiarkan perempuan tua itu memutuskan sendiri apakah hendak menyambut mereka. Ia mendorong sebatang kayu kecil yang miring di sisi tungku kembali ke tempatnya, lalu melangkah keluar. Di mulut gang, ia melihat Xiaoman datang menggandeng Asheng. Anak itu masih bertanya kenapa alat musik petik yang besar di toko tadi tak boleh disentuh. Xiaoman menjawab pelan, tetapi begitu mendongak dan melihat pintu kedai keluarganya, langkahnya melambat. Azhao menepi dan menggeser dayung ke belakang bahu, menyisakan ruang di jalan sempit itu agar dua orang bisa berjalan berdampingan.
· Akhir bab ·
Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →