Novel perjalanan dan kehidupan masyarakat bernuansa Tiongkok kuno
Lakon Baru di Balai Selatan
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12245 karakter · sekitar 10 menit
Setibanya di Lanting pada tanggal dua puluh empat bulan kedua, Azhao lebih dulu melihat apakah pengumuman di luar Gedung Selatan sudah diganti. Di samping tulisan merah lama ada dua lembar baru yang mengumumkan uji pentas satu babak dari 《芦花渡》 (‘Penyeberangan Bunga Gelagah’). Sebaris tulisan kecil di bawahnya meminta penonton masuk lewat pintu samping jika hujan. Azhao membaca aksara pelan-pelan dan berdiri cukup lama di depan pintu. Baru ketika orang yang mengangkat bangku memintanya memberi jalan, ia mundur ke sisi tembok sambil mendekap petinya.
Gao Man mengenalinya dan bertanya berapa hari ia akan tinggal kali ini. A-Zhao bilang kalau ada pekerjaan, ia ingin tinggal sampai rangkaian pertunjukan ini selesai. Gao Man tak menjawab apakah ia boleh. Ia hanya menunjuk halaman belakang dan berkata Xiaoman sedang menjemur pakaian dalam kostum. Tali jemuran di halaman lebih rendah daripada sebelumnya. Sehelai kain basah menjuntai sampai setinggi dahi A-Zhao. Ia hampir menabraknya dan lekas menahannya sendiri dengan tangan. Kali ini, karena tak ada yang datang menyambut, ia tak lagi merasa harus berdiri menunggu di ambang pintu. Ia mengitari kain jemuran dan langsung pergi mencari kedua tangan yang sudah dikenalnya itu.
Begitu melihat Azhao, Qin Xiaoman langsung bertanya apakah perahunya sudah terjual. Azhao bilang masih ada dan sedang dijaga Ding Quan. Ia ingin menceritakan semua yang terjadi di rumah beberapa hari ini, tetapi Xiaoman menunjuk tumpukan tali kostum di ember dan memintanya membantu mengangkatnya karena tak boleh direndam terlalu lama. Azhao menggulung lengan baju dan mencelupkan tangan. Airnya lebih dingin daripada yang ia duga, dan begitu tali diangkat, salah satunya melilit pergelangan tangannya. Mereka bicara sambil memeras tali. Kabar bahwa pertunangan lama sudah batal dan suratnya sudah dibakar sama-sama jatuh di antara kecipak air dari setengah ember itu.
Setelah mendengar semuanya, Xiaoman tak berterima kasih dan tak tersenyum. Azhao mengira ia kurang jelas mendengarnya, lalu mengulangi bahwa Nenek Qin sama sekali tak bermaksud membawa surat itu ke mana-mana untuk mengakui seseorang sebagai calon menantunya. Xiaoman memeras tali di tangannya sampai tuntas, lalu menjawab bahwa yang ia tanyakan sejak awal bukan siapa yang bisa diakui lewat kertas itu, melainkan apakah orang yang menyimpannya bersedia melepaskan urusan itu dari hatinya. Azhao teringat Nenek Qin yang berhari-hari masih bimbang di dekat tungku, tetapi ia tak mengatakan atas namanya bahwa semuanya sudah dilepaskan. Ia hanya berkata bahwa itulah yang ia dengar, dan selebihnya Xiaoman masih harus bertanya sendiri.
“Aku juga tak pernah menyuruhnya membakar kertas itu di depan mataku,” kata Xiaoman.
Hati A-Zhao mendadak dingin. Selama perjalanan ia tak menganggap kabar itu sebagai jasanya, tetapi sesampainya di sini ia baru sadar bahwa diam-diam ia masih berharap mendengar bahwa kali ini semuanya sudah beres. Ucapan Xiaoman tadi rupanya tidak ditujukan kepadanya. Perempuan itu mengibaskan pakaian basah, menahan angin dengan bahu dan punggung, lalu membentangkannya dengan cermat di galah bambu. A-Zhao lekas memegang ujung satunya. Dengan bekerja bersama, mereka berhasil mencegah kelimnya tersapu kembali ke tanah berlumpur. Rasa dingin tadi pun tersisih untuk sementara.
Siang itu, Gao Shoucheng memperlihatkan dua baju pendek kepadanya dan bertanya berapa hari sampai selesai. A-Zhao lebih dulu bertanya siapa yang akan memakainya. Gao Shoucheng menunjuk ke halaman. Yang seorang baru bangun tidur, dan yang lain sedang menghabiskan setengah mangkuk nasi. Ia harus menunggu keduanya senggang untuk mencoba baju itu. Ia tak bisa sekadar melipatnya di atas meja lalu menyebut tenggat. Pemimpin rombongan agak tak sabar. Ia bertanya mengapa sekadar memindahkan tali dan memasang satu tambalan perlu seribet itu. Xiaoman tak menjawab atas nama A-Zhao dan tak ikut mendesak untuk Gao Shoucheng. Ia mengambil baju itu dan mencocokkannya sendiri sebentar, barulah ia bilang memang perlu dicoba.
A-Zhao memperkirakan dua hari, dengan tarif pekerjaan kecil dua belas wen per potong. Gao Man membalik keping kayunya dan menjawab bahwa salah satunya hanya perlu satu tambalan, jadi tak bisa dihitung sebagai perombakan menyeluruh. Keduanya bicara sambil menunjuk pakaian itu. Sesaat A-Zhao merasa kembali diperlakukan sebagai orang baru yang bisa disuruh sesuka hati. Wajahnya pun panas. Setelah duduk perkaranya jelas, satu pakaian dua belas wen, yang lain delapan, ditambah dua wen untuk mencuci tali, barulah ia perlahan mengangguk. Ia tak diterima sekadar karena orang berbaik hati berkata kalau kau ingin tinggal, aku akan menampungmu. Begitu pekerjaan sampai di tangan, setiap bagian jahitan pun ada harganya sendiri.
Begitu Gao Man beranjak, Xiaoman bertanya apakah bekal uang Azhao masih cukup. Azhao semula hendak menjawab cukup, tetapi teringat biaya penginapan delapan wen semalam dan mengakui bahwa ia tak bisa bertahan lama kalau pekerjaannya terus sesedikit yang lalu. Xiaoman berkata waktu itu sebagian besar waktunya habis untuk mengamati orang, dan yang betul-betul menghasilkan upah cuma pekerjaan kecil-kecil itu. Kalau ia mampu mengerjakannya, tentu masih ada pekerjaan lagi, tetapi Xiaoman tak bisa menjanjikan penghasilan bagus dari pekerjaan yang belum dilakukan. Selesai bicara, ia mendorong sekantong benang kusut mendekat dan meminta Azhao sekalian mengurainya, karena sebentar lagi ia sendiri akan memakainya.
Azhao menatap kantong itu dan tiba-tiba enggan langsung menerimanya. Xiaoman menunggu, seolah tak menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Akhirnya Azhao mengambil kantong itu, tetapi hanya memilih beberapa warna yang dibutuhkan malam ini dan mengembalikan sisanya ke tempat semula. Alis Xiaoman bergerak sedikit, tetapi ia tak berkata apa-apa. Baru setelah Azhao pergi untuk mencoba baju pendek, ia mengurai sisa benang satu per satu, dengan cepat dan dengan hati yang sangat kesal.
Saat itu Gu Ming masuk dan bertanya apakah kali ini Nona He membawakannya separuh kue yang kering. A-Zhao merapatkan bungkusan kue kacangnya dan bilang kali ini tidak ada, jangan terus mengungkit yang dulu demi mendapat bagian. A-Sheng di sampingnya langsung mengulurkan tangan untuk melindungi bungkusan ibunya, bilang semuanya milik keluarganya. Gu Ming mengamati wajah mereka bergantian, lalu tertawa dan mengaku kalah. Sesudah itu ia mengeluarkan kepingan bunyi kecil yang baru dibelinya dari lengan baju. Ia sengaja hanya menunjukkannya kepada anak itu dan tak mau memberikannya. A-Sheng berlari mengejar, dan seketika separuh pelataran jadi gaduh.
Azhao memandangi mereka, dan pita ukur di tangannya mengendur. Xiaoman lewat di sampingnya dan berbisik agar ia menyelesaikan pengukuran dulu. Orang yang memakai kostum itu masih menunggu untuk makan mangkuk nasi kedua. Azhao menoleh. Pemeran laki-laki itu memang sudah tampak tak sabar berdiri, sementara ia sendiri masih memegang ujung pita tanpa bergerak. Ia buru-buru mengakui kesalahannya, tetapi dalam hati masih tak terima. Tadi semua orang melihat si anak, kenapa cuma dia yang harus ditegur agar kembali bekerja?
Malam itu, saat uji pentas satu babak, Azhao untuk pertama kalinya duduk di belakang panggung dan melihat bagaimana seluruh rombongan mengubah separuh halaman menjadi sungai. Perahunya hanya dua papan, dan tepiannya seutas tali rami di sisi panggung. Gu Ming tinggal mengangkat kaki untuk melangkahinya, tetapi di atas panggung ia justru harus menyeberangi air yang tak terlihat itu. Asheng hendak berlari lewat belakang, tetapi Xiaoman menarik kerahnya dan menahannya di dekat peti pakaian. Anak itu bilang ia tak bersuara. Ibunya menunjuk ke bawah kakinya. Sepelan apa pun kau melangkah, papan kayu akan bersuara untukmu.
Pada babak pertama, Liusheng sedang mengejar perjalanan. Mulutnya menyebut perahu ringan yang menempuh perjalanan sehari, tetapi langkahnya ditahan Aheng yang lebih dulu menanyakan ongkos. Gu Ming ingin menyanyikan peran cendekiawan miskin itu dengan gaya orang berduit. Lama sekali ia meraba-raba lengan bajunya, sampai Lu Heniang tak sabar dan langsung mengulurkan tangan untuk memeriksa sisi satunya. Beberapa pekerja yang menonton latihan di bawah panggung tertawa terbahak-bahak. Gu Ming spontan mengubah satu larik dan berkata uang peraknya ada di dalam mimpi. Lu Heniang menyahut, kalau begitu silakan naik perahu dalam mimpimu. Bagian itu tak ada dalam naskah lama. Gao Shoucheng semula mengernyit di sisi tirai, tetapi setelah mendengar tawa, akhirnya ia membiarkan mereka terus bermain.
A-Zhao tertawa sampai membungkuk. Jarum masih terselip di antara jarinya. Begitu ingat bahayanya, ia lekas menyimpannya kembali ke tabung. Mendadak ia sedikit mengerti mengapa Xiaoman, meski tahu hidup di luar rumah berarti menahan lapar dan tetap harus menjahit, enggan menyebut tempat ini sekadar pilihan terpaksa. Orang-orang di depan panggung nyata. Di atas panggung mereka bisa menjadi orang lain. Bahkan ditagih ongkos perahu pun bisa melahirkan keriangan yang berbeda dari keriangan di penyeberangan.
Namun setelah gelak tawa reda, begitu tokoh ibu muncul, tepi panggung langsung hening. Xiaoman bernyanyi dengan nada lebih rendah dari biasanya, membuat satu ucapan “jangan pergi” mengandung lebih dari sekadar amarah. A-Zhao melihat bayang-bayang di belakang bahunya dan mendadak teringat tangan Nenek Qin di depan lemari ketika perempuan tua itu tak menjawab. Lalu ia merasa tak semestinya setiap kali menumpangtindihkan kedua orang itu. Ibu dalam lakon itu berbeda dari perempuan penjual lentera di Liuwan, dan perempuan di hadapannya punya kehidupan yang lebih luas daripada sekadar menjadi putri yang hilang dari hidup seseorang selama enam belas tahun.
Pada pertunjukan pertama tanggal dua puluh enam, sekitar empat puluh orang datang, ada yang duduk dan ada yang berdiri. Bunyi keping tembaga jatuh ke tabung uang terdengar lebih ramai daripada halaman pada hari biasa. Gao Shoucheng mengenali pelanggan tetap di pintu, lalu berbalik untuk memindahkan bangku yang kurang satu kaki. Azhao semula mengira setelah pertunjukan dimulai ia bisa duduk tenang menjahit. Tak disangkanya, sekali ada seruan di depan panggung, di belakang harus ada yang menyodorkan tali, menyimpan mahkota, atau menerima kain penyeka keringat yang basah. Baru dua kali ia berlari membantu, gulungan benang di lengan bajunya sudah tersimpul.
Seusai satu pertunjukan, kerah baju Lu Heniang basah kuyup, bahkan terasa lebih berat daripada pakaian yang direndam dan dicuci seharian. A-Zhao mengulurkan tangan hendak menggantungkannya. Lu Heniang lebih dahulu berpesan agar hiasan berat jangan menekan bagian lipatan, lalu pergi minum. Baru setengah minum, seseorang memanggilnya untuk berterima kasih kepada tamu, dan ia kembali menyodorkan mangkuknya begitu saja. A-Zhao menangkap mangkuk itu, agak kesal, merasa tangan semua orang lebih luang daripada tangannya. Ketika ingin membalas, orang itu sudah tersenyum dan memberi hormat di balik tirai; kelelahan di wajahnya sama sekali tak terlihat.
Ketika uang dihitung, keramaian tadi makin sulit dianggap sebagai laba bersih. Pemilik tempat mengambil uang sewa lebih dulu, bangku pinjaman harus dikembalikan, dan uang juga perlu disisihkan untuk memasang ulang kulit genderang Cai Heng agar tegang. Gu Ming minta sedikit uang muka, katanya mau mengirim uang agar adiknya bisa membeli buku untuk musim semi. Gao Shoucheng memintanya menunggu dua pertunjukan lagi. Gao Man mencatat di samping. Angka di keping kayu tak otomatis membesar hanya karena seseorang bilang keluarganya sedang butuh uang. Azhao berdiri mendengarkan dan perlahan memutuskan bahwa soal kain baru yang tadi ingin ia tanyakan bisa menunggu lain kali.
Hujan turun dua hari pada akhir bulan dan pertunjukan dipindah ke balai yang sempit. Begitu ruang panggung menyempit, lengan panjang Aheng akan menyapu tiang samping. Lu Heniang terpaksa memperkecil salah satu putarannya, wajahnya masam. Melihatnya kesal, Azhao mula-mula mengira ia tak rela kehilangan sedikit sorak penonton. Baru saat memindahkan kostum, Azhao tahu ada serpihan tajam di tiang itu. Kalau gerakannya tetap seperti semula, ujung lengan memang bisa tersangkut dan robek. Ia membungkus sudut tiang dengan secarik kain bekas. Gerakan-gerakan lain tetap ia serahkan kepada pemain. Setidaknya satu masalah di depan mata sudah berkurang.
Lu Heniang menyadarinya dan sedikit mengangkat dagu ke arah A-Zhao sebagai ucapan terima kasih. Gerakannya kecil sekali, tetapi kegembiraan A-Zhao tak bisa langsung ia takar seperti ketika menerima dua wen. Ia pun enggan mengakui bahwa ia tak jauh berbeda dari Gu Ming dan orang-orang yang ingin tampil di panggung lebih besar. Ia juga berharap pekerjaannya dilihat, walau hanya sedikit. Malamnya, setelah kembali ke penginapan, ia menghitung dua puluh dua wen yang menjadi upahnya untuk dua hari itu, tanpa menggunakannya untuk membeli sesuatu yang mencolok bagi dirinya.
Pada hari kedua bulan tiga, Gao Shoucheng bilang rangkaian pertunjukan kali ini akan berjalan sampai hari kesembilan. Kalau cuaca memburuk lagi, mereka akan mengakhirinya tanpa menunda-nunda. Mendengar tanggalnya, Azhao lebih dulu menanyakan perahu untuk pulang. Kini ia sudah bisa mencari sendiri tempat duduk di Balai Selatan dan tahu bahwa orang yang memanggil Azhao memang memanggilnya. Perjalanan berikutnya tak lagi seperti yang pertama, ketika ia hanya datang untuk menanyakan satu nama. Namun ketika membicarakan penyeberangan, Xiaoman tetap tak menyerahkan penentuan tanggalnya kepada siapa pun.
Malam itu A Zhao membentangkan kertas bekas catatan ukuran. Di samping tulisan tentang baju biru kelabu kini ada tiga catatan pendek, siapa yang memakai, coba dulu, dan tanya sebelum dibongkar. Ia merasa tulisannya seperti tulisan anak kecil dan sempat ingin menyalinnya dengan rapi. Setelah dipikir lagi, ia membiarkan kertas lama itu. Di luar, Gu Ming berlatih bagian perpisahan Liu Sheng. Semestinya ia menjanjikan hari pertemuan lagi kepada perempuan pengemudi perahu. Tiba-tiba ia tersendat dan bertanya menembus dinding apakah ada yang dengar sampai mana ia menyanyikan baris sebelumnya. Lu Heniang menyahut dari sisi lain bahwa ia sampai di bagian hendak mengurangi ongkos perahu sekali lagi. A Zhao menunduk dan tertawa. Titik tinta terakhir di kertas pun melenceng, dan ia tak menulisnya ulang.
· Akhir bab ·
Buku ini ditulis dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《春江花月夜》 (Malam Bunga dan Bulan di Sungai Musim Semi) karya Zhang Ruoxu serta cerpen orisinal 《借灯还舟》 (Meminjam Pelita, Mengembalikan Perahu). Tokoh, geografi, dan peristiwanya sepenuhnya rekaan, bukan saduran puisi asli atau biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →