Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel panjang tentang kehidupan masyarakat bernuansa klasik

Tak Ada Nama Siapa Pun di Papan Itu

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11977 karakter · sekitar 10 menit

Daun hijau baru di persimpangan pohon huai belum merimbun, papan penunjuknya sudah lebih dahulu coreng. Tulisan arang dari musim dingin tersapu hujan; tulisan di bawah tinggal separuh, tetapi dua aksara Qinglan masih hitam tebal. Seorang pemikul buta huruf lewat di bawah pohon, mengikuti panah menuju Shikou. Setelah sepuluh langkah ia kembali dan bertanya kepada Zhou Qiao mengapa untuk tempat yang sama, bagian atas menunjuk utara, sedangkan bagian bawah seolah menunjuk timur.

Zhou Qiao memutar papan itu agar si pemikul bisa melihat, lalu menjelaskan bahwa yang di bawah bukan anak panah, melainkan bekas karat paku lama. Si pemikul mengusap hidung dan tertawa, bilang orang yang bisa baca lebih pandai bikin orang berputar-putar daripada dia. Zhou Qiao ikut tertawa dan menunjukkan jalan yang benar. Setelah orang itu jauh, ia mengelap papan sekali dengan kain basah. Bekas arangnya malah makin belepotan, seperti gagak yang ekornya lepek tersiram air.

Sebelum kembali ke Gaopu, Chen Sheng singgah di sini. Melihat Zhou Qiao mengelap papan tanda, ia berjongkok dan mencabut paku bawah yang hampir lepas. Jarum dan benang yang dibawanya sudah terjual separuh, sudut bungkusan mengempis, dengan dua tabung bambu kering hasil barter tergantung di situ. Zhou Qiao bertanya apakah malam hujan yang lalu pondok teh itu sesak orang. Ia menjawab ya. Zhou Qiao menyodorkan semangkuk sup gandum, tersenyum bahwa api di sini belum padam, lalu bertanya apakah lain kali ia bersedia menceritakannya juga kepada orang lain.

Kali ini Chen Sheng tak buru-buru mengiyakan. Ia menghabiskan sup, membayar empat wen sesuai harga, lalu bilang bahwa ia hanya pernah makan di sini pada siang hari. Boleh menginap atau tidak, pemilik kedai sendiri yang harus menjawab. Zhou Qiao menyelipkan uang ke lengan bajunya dan menggerutu bahwa sekarang, untuk mengucapkan satu kalimat saja, Chen Sheng rasanya ingin menginjak tanah tiga kali dulu. Chen Sheng menunduk melihat sepatu yang baru ditambalnya dan bilang, memang begitu, setelah diinjak barulah tahu ada air di bawahnya atau tidak.

Keduanya tadinya hendak menulisi kembali papan lama ketika Xu Shen kebetulan pulang dari rumah keluarga Liu sambil membawa selembar papan tipis yang tak terpakai. Setelah membulatkan tepi kayu sisa di kedai, ia masih punya potongan ini. Ukurannya terlalu sempit untuk dijadikan dudukan bangku, tetapi pas untuk menutupi kepala paku. Begitu melihat tukang kayu itu datang, Zhou Qiao menyuruhnya sekalian membuat papan baru, supaya mereka tak perlu tiap hari beradu alasan dengan gagak hitam ini.

Xu Shen menyandarkan papan tipis itu di samping pohon. Katanya, kayu setipis itu akan melengkung setelah beberapa kali kena matahari, jadi tak bisa dipakai untuk papan besar. Ia memeriksa papan lama dengan cermat. Sisi belakangnya masih bagus dan hanya perlu dua paku yang kuat. Ia menemukan satu di dalam tas, tetapi paku satunya bengkok. Sekalipun diluruskan, ia tak berani mengandalkannya. Zhou Qiao menggeledah rumah cukup lama dan menemukan garu patah dengan gigi-gigi besi. Ia menunjuk salah satunya dan bertanya apakah bisa dipotong pendek untuk dipakai sebagai paku.

Saat mereka sedang mencobanya, kepala desa Tao datang dari balik gunung, kakinya berlumur lumpur dan ujung bajunya tergulung. Papan lama yang dilaporkan pada musim dingin sudah dua kali ia sampaikan kepada petugas jalan. Petugas itu hanya mengurus jalan utama di kaki gunung. Ruas di dekat persimpangan pohon huai itu menjadi tanggung jawab desa terdekat, dan soal kapan batu jalannya bisa ditambal masih harus dilaporkan ke atasan. Melihat mereka semua berjongkok, ia mengira mereka datang untuk mendesak lagi. Ia langsung melambaikan tangan dan bilang hari ini tak ada tukang batu yang ikut turun gunung bersamanya.

Zhou Qiao bilang mereka tak perlu tukang batu dan meminta pinjam palu kecil di pinggang Tao. Kepala Desa Tao baru merasa lega. Ia duduk di dekat pintu minum air sambil melihat tiga orang berdebat soal panjang sebatang gigi garu yang patah. Xu Shen hendak mengikir sisi kasarnya. Zhou Qiao bilang itu membuang waktu, sekali dipalu masuk juga tak kelihatan. Chen Sheng teringat bahwa setelah diikat kencang, tali baru itu masih harus dilepas untuk dijemur. Ia menyerahkan kembali gigi besi itu kepada Xu Shen dan menyuruhnya mengikir dulu, sementara ia merebuskan air untuknya.

Setelah papan terpaku kokoh, Xu Shen menulis ‘jalan utama delapan li’ di belakangnya. Di sisi depan tetap tertulis ‘ke kota kabupaten empat belas li’ dan ‘ke rumah keluarga Lin empat li’. Musafir sekarang tak lagi melihat sendiri malam bersalju di musim dingin itu, tetapi tulisan ‘tidak dihuni tetap’ justru lebih perlu dipertahankan daripada tulisan lainnya. A Sui sudah tidak berniat kembali menjaga rumah. Keluarga Chang memang sudah sepakat untuk menempatinya secara musiman, tetapi hanya empat bulan selama musim semi dan musim panas. Jangan sampai seorang musafir melihat petunjuk ke rumah lama itu lalu mengira akan selalu ada api yang menunggunya di sana.

Zhou Qiao ingin menambahkan tulisan tentang jalan bambu di tepi papan. Xu Shen menghentikan kuasnya dan berkata kereta bermuatan kayu panjang tidak bisa lewat, tanahnya lembek sehabis hujan, orang yang berjalan kaki pun bisa terpeleset. Zhou Qiao berkata ia setiap hari memikul air lewat sana. Kalau digambarkan seolah selangkah saja orang sudah jatuh ke parit, nanti pelanggan bahkan tak berani mendekati belakang rumahnya. Ia menunjuk panci besar di tungku, yang masih menyisakan setengah panci sup. Begitu pasar pagi bubar, sampai sore tak ada lagi yang datang.

Kali ini Chen Sheng tidak memihak Xu Shen untuk mengambil keputusan bagi orang lain. Ia bertanya kepada Zhou Qiao apakah orang yang membawa gerobak boleh melihat tikungan itu. Mula-mula Zhou Qiao bilang tak perlu. Lalu ia teringat harus mengambil kayu bakar yang sedang dijemur di mulut jalan itu. Ia pun merapatkan daun pintu dan membawa mereka menyusuri cabang jalan di belakang rumah. Mereka masuk ke lereng bambu dan melewati tikungan. Di tanah ada dua jejak roda yang agak dalam, persis bekas yang ditinggalkan Xu Shen dan kawan-kawannya ketika memundurkan gerobak.

Sebuah gerobak sayur kecil dan pendek keluar dari jalan itu. Kusir tua itu bisa lewat dengan mantap tanpa menurunkan muatan. Di depan mereka ia bilang sudah sepuluh tahun jalan itu dilalui begini, buat apa memasang papan untuk menakut-nakuti orang. Xu Shen memandangi tikungan tempat keretanya tersangkut tempo hari dan mendadak paham bahwa ruas jalan yang sama tidak sengaja memihak siapa pun. Bak gerobak lelaki tua itu pendek dan keranjang sayurnya lentur, jadi bisa lewat dengan menyerempet bambu. Kayu panjang Xu Shen tak bisa menekuk sedikit pun.

Zhou Qiao menangkap jalan pikirannya, dan di sudut bibirnya terbit sedikit senyum puas. Xu Shen tidak membantah. Sepulangnya ia menggambar dua jejak roda pada papan kecil, yang satu lurus, yang lain terputus sebelum tikungan. Ia juga menulis agar kendaraan bermuatan panjang mengambil jalan memutar. Chen Sheng bilang orang yang tak bisa membaca belum tentu mengerti. Maka Xu Shen mengiris papan tipis menjadi dua bilah, satu panjang dan satu pendek, lalu menyilangkannya di titik tempat jejak terputus. Kedua bilah yang tak sama panjang itu tampak seperti orang berjalan pincang. Kepala kampung Tao pun tertawa melihatnya.

Yang akhirnya dipasang adalah papan kayu kecil bertuliskan ‘Jalur Bambu, hati-hati masuk setelah hujan’, dengan gurat air yang mengarah ke bawah di sisinya. Di bagian bawah tertulis terpisah ‘Muatan panjang lewat jalan lain’, sementara penunjuk jalan biasa tetap mengarah ke jalan utama. Papan itu tak menentukan setiap langkah bagi semua orang. Setidaknya, siapa pun yang berdiri di bawah pohon bisa melihat bahwa ada sesuatu di sini yang perlu ditanyakan. Zhou Qiao menggantung tulisan ‘Sup Gandum’ miliknya di teritis, tak lagi menjejalkannya di sisi papan petunjuk.

Seorang pemuda pemikul kertas berhenti dan bertanya apakah bisa menginap di pondok teh. Chen Sheng menjawab ada orang yang pernah berteduh saat malam hujan, tetapi biasanya tempat itu hanya menjual teh; kalau hendak menginap harus bertanya dahulu kepada Bibi Liu. Pemuda itu agak kecewa, lalu bertanya kepada Zhou Qiao. Setelah berpikir, Zhou Qiao mengatakan bangku di luar bisa memuat satu orang, tetapi anak-anaknya sendiri tidur di dalam, tidak bisa menyerahkan semuanya. Orang itu menimbang jarak yang bisa ditempuh kakinya, akhirnya meneruskan perjalanan ke Shikou.

Matahari condong ke barat. Xu Shen menyapu serpihan kecil sisa pengikisan bekas arang lama ke tepi parit. Zhou Qiao bilang papan itu kurang nama seorang tukang kayu, supaya kalau tulisannya hilang, kelak orang tahu harus mencari siapa. Xu Shen bilang ia tak lewat sini setiap hari. Kalau pakunya longgar, belum tentu ia yang pertama melihat. Kepala kampung Tao lalu menunjukkan kepada Chen Sheng pintu dua rumah di dekat situ dan bertanya apakah penghuninya bisa sekalian memeriksa paku bawah saat biasa memikul air. Setiap rumah cukup mengawasi sisi yang dilewatinya sendiri.

Mendengar soal memeriksa papan, Zhou Qiao teringat anjing salah satu keluarga di belakang gemar menggondol potongan kayu. Ia mengambil sepotong bambu rusak untuk mengisi bagian berlumpur yang lunak di bawah papan. Anjing itu benar-benar datang. Karena tak bisa menggondol papan yang baru dipaku, ia berbalik dan menyambar sebelah sepatu jerami usang yang diletakkan Chen Sheng di tanah. Chen Sheng mengejarnya belasan langkah. Anjing itu mengira sedang diajak bermain, ekornya bergoyang tinggi sekali. Akhirnya anak keluarga itu menukar setengah roti pipih untuk mendapatkan sepatunya kembali. Sudah ada dua deret bekas gigi basah pada tali sepatu. Semua tertawa sampai terengah. Chen Sheng menjemur sepatu itu di cabang pohon dan kembali duduk di ambang pintu dengan sebelah kaki telanjang.

Satu keluarga hanya mau mengurus persimpangan dan enggan pergi ke cabang jalan menuju rumah keluarga Lin. Jalan ke sana menanjak empat li dan tak searah dengan jalan mereka mengambil air. Keluarga lain bilang bahwa ketika musim sibuk di ladang tiba, mereka juga tak bisa menjamin akan datang setiap hari. Kepala desa Tao tak memaksa mereka membubuhkan cap jari. Ia hanya bilang bahwa kalau papan itu ditemukan tumbang, taruh dulu di bawah teritis rumah Zhou Qiao agar paku tajamnya tak mencuat ke atas. Zhou Qiao menggerutu karena lagi-lagi pekerjaan itu dibebankan kepadanya, tetapi tetap menggeser setumpuk kayu bakar basah di dekat pintu untuk menyediakan tempat bagi papan itu.

Saat Xu Shen membereskan perkakasnya, Chen Sheng bertanya kenapa ia tidak membawa bor panjangnya. Xu Shen bilang sudah dijual ke bengkel perbaikan gerobak. Chen Sheng bergumam oh. Setelah beberapa saat ia berkata bahwa dulu ia mengira selama seorang tukang kayu terampil, ke mana pun pergi ia akan bisa mendapat cukup uang. Xu Shen mengangkat telapak tangannya yang pecah-pecah dan tersenyum sedikit. Terampil atau tidak, katanya, orang tetap harus tahu apa sebenarnya yang sudah ia kerjakan.

Mereka tak menempuh jalan yang sama ke kota. Chen Sheng menuju Gaopu, Xu Shen kembali ke kota kabupaten. Di persimpangan mereka masing-masing membetulkan tali pikulan dan mulut tas, lalu berpisah. Setelah melewati jembatan batu, Xu Shen mendengar seseorang berlari dari belakang. Ternyata anak Zhou Qiao, wajahnya penuh keringat, membawa penggaris pendek yang tertinggal di bawah meja. Anak itu menyelipkan penggaris ke tangan Xu Shen, lalu langsung berbalik dan pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Xu Shen menyusulnya dua langkah dan memberinya sebutir aprikot kering yang semula ia simpan untuk dirinya sendiri. Anak itu memandanginya. Entah sudah berapa lama aprikot itu terjepit di sudut kantong, tetapi ia tetap menyimpannya dan berkata akan membawanya pulang untuk dicicipi adiknya. Xu Shen ingat untuk siapa ia semula berniat menyimpan sedikit rasa asam manis itu. Wajahnya tiba-tiba terasa panas, tetapi ia tak menyusul lagi untuk memberi penjelasan tambahan.

Setelah memberikan aprikot itu, ia berjalan lama, lalu tiba-tiba teringat pagi tadi tidak menyisakan arang untuk ibunya. Belakangan ibunya ingin menanam sedikit daun bawang dalam baskom kecil, menunggu ia membakar sudut keras sisa kayu lalu mengayaknya menjadi abu tanaman. Ketika senja turun, ada orang membakar jerami gandum di pinggir jalan. Ia berhenti dan bertanya apakah boleh meminta segenggam abu dingin. Perempuan itu menyuruhnya menunggu sampai habis terbakar. Ia berjongkok di dekat pematang, menunggu sampai titik merah terakhir pun meredup, baru membungkusnya dengan kertas lama. Tak ada kereta yang sempat dikejarnya, maka ia berjalan pulang, tanah di bawah telapak sepanjang jalan berubah dari kuning menjadi hitam.

Pada tanggal tujuh bulan ketiga, A Sui sudah menitipkan kabar lewat tetangga keluarga Chang bahwa ia setuju ruang utama disewa empat bulan, empat puluh wen sebulan, tanpa menyertakan ruang belakang. Kunci ruang utama dikirim dalam bungkusan tersendiri. Pada tanggal sepuluh, kusir membawa empat puluh wen untuk bulan pertama. Uang itu ditaruh di bawah jendela, persis di samping catatan lama tanggal sewa rumah. Ia menyisihkannya, terpisah dari pundi kecil untuk membeli jarum dan benang, dengan niat menambahkannya ke uang sewa bulan keempat. Uang untuk tiga bulan sisanya belum bisa dihitung sebagai uang yang sudah di tangan.

Sepulang ke kota, ia mula-mula menaruh bungkusan kertas berisi abu dingin di samping pot daun bawang. Lalu ia mengeluarkan bungkusan arang sisa menulisi papan dari tas perkakas dan menaruhnya di dekat jendela. A Sui mengenali kain tua itu sebagai potongan kain yang dipakai untuk membungkus jarum pada malam bersalju, lalu bertanya apakah masih ada papan yang perlu ditulisi. Xu Shen bilang sudah selesai. A Sui membuka kain itu dan melihat serbuk arang telah menghitamkan sebagian kecilnya. Ia menggosok bersih ujung itu dan membiarkan ujung yang lain sebagaimana adanya. Lain kali kalau membungkus barang kotor semacam ini, katanya, jangan lagi pakai kain bagus untuk membungkus jarumnya. Xu Shen mengiyakan. Ibunya mengulurkan tangan dan menepuk debu di bahunya, makin lama makin pelan.

· Akhir bab ·

Buku ini merupakan karya orisinal dengan bantuan AI, dikembangkan dari 《逢雪宿芙蓉山主人》 (Bermalam di Rumah Tuan Gunung Furong Saat Turun Salju) karya Liu Changqing dan cerpen asli situs ini, 《雪夜留门》 (Pintu Terbuka pada Malam Bersalju). Tokoh, kota kabupaten, rute, dan alurnya sepenuhnya rekaan dalam dunia berlatar nuansa Dinasti Tang, bukan terjemahan puisi asli ataupun biografi penyair.

Daftar isi buku · 36 bab
  1. Kamar yang Menghadap Selatan Itu
  2. Salju Sampai ke Ambang Pintu
  3. Mangkuk Ketiga
  4. Sebelum Daun Pintu Roboh
  5. Aksara Hitam di Persimpangan
  6. Gerbang Kota Selepas Tengah Hari
  7. Api Pinjaman dari Halaman
  8. Sebuah Pintu yang Sepadan
  9. Pintu yang Tak Jadi Diketuk Tengah Hari
  10. Papan Penunjuk Jalan Diputar Menghadap Arah Lain
  11. Sepasang Tangan di Sisi Keranjang Jahit
  12. Lelehan Salju Merembes ke Dinding Selatan
  13. Tempat Duduk Saat Pulang Kampung
  14. Satu Takik Penggaris yang Terlewat
  15. Tangan di Bawah Pintu Itu
  16. Kata-Kata yang Diucapkan Ibu untuknya
  17. Kayu Bahan Pintu Bertumpuk di Kedai Teh
  18. Jalan Pintas yang Tak Bisa Dilalui Gerobak
  19. Halaman Belakang Rumah Siapa
  20. Satu Pikulan Barang, Dua Utas Tali
  21. Da Xiu Membawa Pergi Pancinya
  22. Bangku yang Tak Diduduki Siapa Pun
  23. Siapa yang Menjanjikan Rumah Lama Itu?
  24. Menaruh Pintu Baru di Tengah Hujan
  25. Kamar yang Belum Dilepas
  26. Sisir yang Tertinggal di Bengkel Kayu
  27. Tak Ada Nama Siapa Pun di Papan Itu
  28. Ruangan Hangat Tak Bisa Menjadi Obat
  29. Ajakan Sebelum Duanwu
  30. Keranjang Jahit yang Tak Jadi Dijual
  31. Kedai Teh Menjalani Hari-harinya Sendiri
  32. Urusan Kayu di Gunung
  33. Dari Tangan Siapa Pikul Itu Patut Diterima
  34. Sepanci Nasi yang Tak Perlu Keburu Dingin
  35. Memperbaiki Pintu untuk Orang yang Masih Hidup
  36. Sudah Sejauh Mana Matahari Turun

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.