Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel jalur dagang dan pertemuan kembali bernuansa Tiongkok kuno

Noda Tinta di Samping Kuda Bambu

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11801 karakter · sekitar 10 menit

Ketika menemukan namanya sendiri di buku catatan itu, Lu Yan lebih dulu menahannya dengan kuku. Kemarin ia sudah melihat satu catatan tentang prem hijau. Ia menyangka sisanya paling-paling pengeluaran kecil dalam urusan ibunya dengan orang-orang. Tak disangkanya, dua halaman kemudian, di bawah deretan angka peminjaman meja dan kursi, ada aksara 砚 yang ditulis miring dan berantakan. Seseorang telah menarik garis serong melintasi aksara itu tanpa mencoretnya sampai hilang. Di sebelahnya masih terselip aksara 葭 yang lebih kecil.

Yao Jia sedang berbicara dengan tukang kayu He di halaman belakang tentang tempayan mana yang perlu digeser dulu. Terhalang jendela, kalimatnya terdengar putus-putus. Lu Yan tak langsung memanggilnya dan lebih dulu melihat tanggalnya. Waktu itu ia berusia sembilan tahun dan Yao Jia delapan, belum sampai pada umur ketika mereka harus mencari tempat sepi untuk mengobrol. Ada orang yang mengadakan hajatan di gang itu, dan kedua keluarga meminjamkan bangku panjang. Lu Yan duduk di tepi meja untuk mencatat nama. Katanya, setiap bangku harus dicatat atas nama pemiliknya, dan ia bersikeras bangku rendah miliknya sendiri juga harus dihitung.

Dia sudah lupa keluarga mana yang mengadakan pesta pernikahan itu. Yang diingatnya hanya dua kuali besar di halaman. Baju orang yang lewat di dekatnya berbau uap ketan. Dia membawakan Ruan Xin sekeranjang mangkuk kosong, tetapi di tengah jalan dua bilah di dasar keranjang patah. Mangkuknya tak pecah, hanya saja dasar masing-masing tercetak segaris lumpur. Takut dimarahi, dia berjongkok di dekat sumur untuk mencucinya. Waktu itu tali timba lebih tebal dari pergelangan tangannya. Ruan Xin datang dan tak menyuruhnya mengangkat keranjang lagi. Dia hanya memberinya sepotong kue beras yang masih panas.

Tiba-tiba ia ingin tahu pukul berapa Ruan Xin akhirnya sempat makan. Ia membalik halaman sampai menemukan catatan jamuan pernikahan itu. Beras dan sayur tercantum. Jumlah meja dan kursi masing-masing diberi tanda pengembalian, dan di samping dua baskom gerabah yang dipinjamkan ibunya bahkan ada gambar lingkaran. Di bawahnya ada tulisan Ruan Xin, “sudah dikerjakan”, “sudah diantar”. Baris terakhir mencatat satu kantong abu tungku telah dipakai. Lu Yan menatapnya sejenak, lalu mengulurkan tangan ke lembar baru miliknya, hendak menambahkan satu butir, tetapi berhenti.

Buku catatan itu lebih sulit dihitung daripada muatan kapal. Di dalamnya ada beras yang diambil dengan utang, kain yang dititipkan untuk dijual, meja dan kursi yang dipinjam untuk pesta pernikahan, dan banyak perkara kecil yang tak bisa diberi harga: siapa yang pernah dibantu merawat orang sakit, anak siapa yang pernah dijaga beberapa hari. Kuda-kudaan bambu yang dibawa Yao Jia berlari mengitari sumur semasa kecil juga tercatat di pojok satu halaman, terbuat dari bahan sisa tetangga menambal keranjang bambu, tanpa dipungut bayaran.

Di meja kayu dalam kedai cuka, seorang lelaki yang pulang kampung dan perempuan pemilik kedai membolak-balik buku catatan lama yang bernoda cuka. Pakaian pendek dijemur di dekat pintu, sementara tempayan tanah liat dan seekor kuda bambu ada di sekitar meja.
Membalik Lembar Lama di Tengah Harum Cuka

Sudut halaman itu sudah lunak karena kerap dibalik. Melihat dua aksara 竹马, ‘kuda bambu’, Lu Yan tertawa keras. Yao Jia menjenguk dari jendela belakang dan bertanya ada apa. Lu Yan mengangkat buku catatan agar ia bisa melihat. Mula-mula Yao Jia tak paham. Baru ketika Lu Yan menunjuk aksara 料, ‘bahan’, ia bilang bahwa bambunya sisa dari keluarga Han memperbaiki keranjang. Apa sampai hari ini Lu Yan masih mengira bahwa ia sendiri yang memikulnya turun dari Bukit Bambu? Lu Yan spontan menjawab bahwa setidaknya tali pengikat kepala kudanya ia yang membawa. Yao Jia pun tertawa dan bilang tali itu dipotong dari dekat tungku rumahnya.

Jari-jari Lu Yan mengerut, seakan potongan tali itu betul-betul sempat mengikatnya. Tukang kayu He mendengar dari luar jendela dan ikut tertawa. Ia bertanya apakah yang dimaksud rangka rusak di balik pintu. Kemarin, saat mencari bilah bambu untuk menyumpal celah jendela, ia hampir membelah rangka itu, tetapi Yao Jia melarangnya. Ia pun mengambil rangka itu dan membawanya kemari. Separuh kepala kudanya sudah longgar dan nyaris tercerai. Entah tahun berapa badan bambunya ditambahi dua lilitan tali yang tak serasi. Saat digoyang, kuda itu lebih mirip sedang mengangguk tanpa henti daripada berlari.

Yao Jia bilang benda itu baru ditemukan lagi ketika loteng dibereskan tahun ini. Bibinya semula menyimpannya untuk mainan Xiao Geng, tetapi sekali digoyang, dari perutnya berhamburan serpihan daun, jadi terpaksa disandarkan di dekat pintu sampai Yao Jia sempat membongkarnya. Lu Yan menerimanya tanpa berani menggenggam kuat. Bantalan jarinya tetap menemukan bagian yang dulu ia pegang. Kulit bambunya sudah lama tak licin, tetapi tempat genggamannya sedikit lebih putih daripada bagian lain. Di titik kecil itu, tangannya yang berumur sembilan tahun mendadak kembali memiliki ukuran yang pas untuk menggenggam.

“Dulu kau juga bilang itu hadiah untukku.” kata Yao Jia.

Lu Yan tertawa dan mengakuinya. Waktu itu dia mengangkat kuda bambu tinggi-tinggi. Dia baru mau menurunkannya kalau Yao Jia mau memanggilnya Kak Lu. Yao Jia tetap tak mau. Mereka berputar mengelilingi sumur dan akhirnya sama-sama menginjak air berlumpur yang meluap. Ruan Xin menarik mereka, seorang di tiap tangan, dan menyuruh mereka melihat harta karun yang menempel di kaki masing-masing. Belakangan, yang selalu Lu Yan ingat hanyalah bahwa Yao Jia mau menerima kuda bambu itu. Dia lupa bahwa sebelum menerimanya, Yao Jia juga membawakan pulang sepatu Lu Yan yang berlumpur.

Tukang kayu kembali ke teritis belakang untuk memeriksa bahan. Yao Jia meletakkan kuda bambu rusak di dekat dinding, mengatakan jangan sampai Xiao Geng benar-benar menaikinya lalu membuat kaki yang sehat menjadi cedera juga. Lu Yan menatap kepala kuda yang miring, tidak mengatakan cukup diperbaiki maka akan baik lagi. Ia mengambil sehelai bulu ayam baru yang jatuh ke dalam lingkaran bambu, meletakkannya di samping lemari, mendadak merasa kepulangannya kali ini membawa begitu banyak benda yang sudah dibongkar, ditambal, dan dialihgunakan orang lain, tetapi selama ini ia menganggap semuanya masih menunggunya.

Sore itu pemeriksaan mereka sampai pada catatan beberapa keluarga yang belakangan membuat acar sayur bersama Ruan Xin. Nama Kedai Qin, keluarga Yu, dan keluarga Chen di ujung timur muncul bergantian. Mulanya hanya beberapa tempayan yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, lalu jumlahnya bertambah sampai tak muat ditulis dalam satu halaman. Yao Jia mengeluarkan secarik catatan yang lebih baru, peninggalan ibunya ketika menanyakan bagiannya dalam kerja sama itu. Kertasnya kecil sekali, seolah semula tak dipotong untuk disimpan. Di baliknya masih terlihat separuh nama kedai obat.

Lu Yan membaca bagian awal, lalu mendongak dan bertanya kapan itu ditulis. Yao Jia bilang enam tahun lalu, ketika usianya dua puluh tiga. Ibunya bilang putrinya sudah ikut belajar sampai bisa membuatnya sendiri. Kelak mereka tak bisa terus bergantung pada seberapa banyak sayur yang bersedia dibawa orang lain. Yao Jia tak bercerita lebih jauh tentang apa yang dipikirkan ibunya saat itu. Ia membentangkan catatan pendek itu di dekat tangan Lu Yan, lalu berbalik untuk mengangkat kain penutup tempayan yang dijemur di luar jendela. Lu Yan melihat catatan tentang beras, garam, dan wadah dari beberapa keluarga yang bekerja sama. Pada bagian terakhir tertulis bahwa Nyonya Xin menyumbang tenaga, dan sesudahnya kosong.

Ia teringat Qin Shouyi yang lewat di depan pintu pagi tadi. Juragan itu agak bertambah gemuk, tetapi masih memakai baju cokelat berkerah kaku seperti dulu. Mula-mula ia menanyakan Lu Zai. Mendengar keadaannya lumayan, ia menepuk lengan Lu Yan, lalu memuji gadis keluarga Yao yang cakap. Qin Shouyi bilang kalau orang seperti itu berumah tangga di Changgan, hidupnya tentu tak akan susah. Saat itu Lu Yan hanya sibuk menahan senyum agar tak terlalu kentara. Ia sampai tak bertanya lebih jauh, apa sebenarnya yang menopang kehidupan orang yang disebut cakap itu.

“Jadi perundingannya tak sampai pada kesepakatan?” tanyanya.

Yao Jia sedang melipat kain satu demi satu. Ia menjawab bahwa ibunya pernah bilang sudah membicarakannya. Pemilik Kedai Qin dan beberapa keluarga lain berkata bahwa selama ini sesama tetangga saling membantu dan keakraban akan luntur kalau bagian masing-masing dihitung terlalu terperinci. Belakangan ada yang mengirim sekeranjang kecil kastanya kepada ibunya. Ada pula yang bilang ia boleh membawa dua tempayan lagi untuk dijual, pasti ia tak akan dirugikan. Ibunya tak lagi membantah di depan mereka. Sampai di situ Yao Jia tersenyum sedikit, lebih samar daripada saat membicarakan kuda bambu tadi. Katanya, setelah pulang ibu masih mengupas kastanya dari keranjang itu dan memilih yang bagus untuknya.

Ia tak pernah mendengar ibunya menyebut berapa sebenarnya bagian yang layak ia terima. Berapa tahun pekerjaan itu berlangsung, berapa banyak tenaga yang dicurahkan, bahkan siapa yang memikul satu kali lebih banyak, semuanya belum dirinci dalam buku catatan. Yang ia tahu, sesudah catatan kecil itu ditulis, ibunya masih bekerja tiga tahun lagi. Tulisan “sudah dikerjakan” sesudahnya semakin berdesakan. Pernah sewaktu sakit, tulisan ibunya tak lagi mantap, tetapi ia masih meminta Yao Jia menambahkan tanggal pengantaran guci hari itu. Saat itu Yao Jia masih berharap, asal kiriman ini laku, lain kali akan sedikit lebih mudah membuka pembicaraan.

Kuas Lu Yan sudah dicelupkan ke tinta, tetapi masih menggantung dan belum menyentuh kertas. Di perusahaan angkutan, saat seperti inilah yang paling ia benci. Duduk perkaranya jelas, tetapi angkanya tak ketemu. Kalau beberapa keranjang kacang rusak terendam, kacangnya bisa dihitung. Kalau tempayan pecah, belingnya bisa disapu dan kejadiannya dijelaskan kepada pemilik barang. Kini di hadapannya sebaris kosong, dan bahkan berapa orang yang perlu ditanyai untuk mulai mengisinya pun belum pasti. Ia hendak bilang bahwa ia bisa mencari Juragan Qin, tetapi begitu mendongak ia melihat Yao Jia juga sedang menatap kuas itu.

“Catat dulu mana yang belum jelas.” katanya, “Aku minta kau memeriksanya. Aku tidak minta kau pergi mencarikan kata-kata yang enak kudengar.”

Ia mengangguk, menuliskan ‘upah belum dicatat’ di kertas sebelah, lalu bertanya apakah dahulu ibu Yao Jia pernah menerima uang atau beras dari keluarga-keluarga itu, termasuk di luar penggantian bahan yang ia talangi saat membuat sayur. Begitu pertanyaan itu keluar, ia melihat tatapan Yao Jia menegang dan nyaris ingin menelan kembali bagian terakhir ucapannya. Yao Jia tak langsung menjawab. Ia berjalan ke halaman belakang, membuka kembali sehelai kain yang baru dilipat, mengibaskannya, lalu menjemurnya di galah bambu, seolah kain itu mendadak belum kering benar.

Lu Yan menunduk menunggu. Setelah beberapa saat, ia kembali dan berkata bahwa pada tahun ayahnya sakit, keluarga Qin memang pernah meminjamkan beras, dan keluarga Yu juga mengirim arang. Ada yang dikembalikan, ada yang tidak dibicarakan. Maka Lu Yan menyisihkan kolom lain, tanpa memakainya untuk mengimbangi catatan bahwa tenaga kerja belum dicantumkan tadi. Ia berdiri di samping memperhatikan, perlahan menggeser bangku sedikit lebih dekat, dan berkata bukan berarti semua ini tak boleh ditanyakan, hanya saja setiap kali orang bertanya, selalu terasa seolah dengan adanya sekarung beras itu, pekerjaan ibunya selama bertahun-tahun tak perlu lagi disebut.

Di luar terdengar lagi bunyi pikulan penjual tahu. Lu Yan mengenali bunyi halus dua papan kayu beradu dan teringat potongan kecil tambahan kemarin. Ia tak menarik kesimpulan atas nama Ruan Xin ataupun keluarga Qin. Mengikuti penuturan Yao Jia, ia mencatat hal yang sudah pasti di satu sisi dan yang masih perlu ditanyakan di sisi lain. Yang bisa ditulis kian banyak, tetapi ruang kosong masih banyak pula. Tiba-tiba Yao Jia menunjuk salah satu catatan. Katanya yang sakit tahun itu bibinya, bukan dirinya. Ibunya menginap tiga malam, dan kemudian bibinya juga pernah datang mengasuhnya. Hanya karena tulisannya berurutan, jangan semua dihitung sebagai bantuan dari keluarga Yao.

Ia mengiyakan dan memperbaikinya. Yao Jia lalu memindahkan panci kecil dari api. Entah karena terlalu tergesa, tutupnya berdenting membentur tepi tungku. Ia mendesis pelan. Lu Yan sudah bangkit, tetapi ia mengangkat tangan yang tidak tersiram panas dan berkata tak apa-apa, hanya tersentuh sebentar. Berdiri di dekat pintu, Lu Yan melihatnya membilas sisi jari dengan air dingin. Ia teringat betapa mudahnya kemarin mengatakan bahwa ia memahami kesulitan keluarga Yao Jia, lalu baru menyadari bahwa banyak hal yang disangkanya sudah ia pahami sebenarnya hanyalah satu kalimat yang pernah didengarnya.

Menjelang petang, sebelum meletakkan kuas, ia membacakan dari awal nama-nama yang perlu ditanyai hari itu. Saat sampai pada Yao Lan, Yao Jia bilang jangan langsung datang besok. Sepatu baru bibinya masih harus ditukar. Kalau ia datang hari ini, boleh jadi belum sempat mendengar setengah kalimat pun. Lu Yan tertawa sambil mencatat di sudut kertas dan sungguh-sungguh menulis tiga aksara, 先换鞋, “tukar sepatu dulu”. Yao Jia mendekat untuk melihat. Mula-mula ia menyuruhnya mencoret tulisan itu, lalu ikut tertawa dan bilang biarkan saja, supaya tidak lupa.

Lu Yan meratakan kertas itu. Di luar jendela, angin memutar kuda bambu dengan lembut hingga sisi lainnya tampak separuh. Sisa lilitan benang merah di kepala kuda sudah kehilangan warna aslinya. Lu Yan mendadak ingin bertanya apa lagi yang masih Yao Jia simpan selama tahun-tahun ini. Namun dia merasa kalau bertanya begitu, dia akan seperti orang yang baru belajar mengenali benda dan sudah buru-buru hendak mengenali semua barang dalam satu ruangan sekaligus. Akhirnya dia hanya bertanya apakah besok pagi dia perlu datang pada jam yang sama. Yao Jia menjawab, agak terlambat sedikit, karena dia mau membeli rebung dulu. Kali ini Lu Yan mengingat tambahan waktu itu tanpa ikut menetapkan berapa banyak rebung yang perlu dia beli.

· Akhir bab ·

Buku ini merupakan tulisan orisinal berbantuan AI, dikembangkan dari 《长干行二首》 (Dua Puisi Changgan) karya Li Bai dan cerpen asli situs ini 《青梅旧账》 (Utang Lama Buah Mei Hijau). Tokoh, perusahaan dagang, harga, geografi, dan penanggalannya sepenuhnya rekaan; inti karya asli tetap dipertahankan, yakni penuntasan perhitungan utang lama, pengakuan kembali atas keterampilan dan jerih payah, serta kesepakatan baru untuk menjalin hubungan setelah dewasa, bukan biografi penyair.

Daftar isi buku · 38 bab
  1. Prem Hijau di Balik Lengan Baju
  2. Uap Hangat dari Mulut Tempayan
  3. Hanya Menerima Seratus Enam Puluh
  4. Sesendok Terlalu Manis
  5. Noda Tinta di Samping Kuda Bambu
  6. Buah Prem Lebih Dulu Melunak
  7. Hari Kembali Naik Kapal
  8. Keluarga yang Tak Jadi Terbentuk
  9. Semangkuk Nasi yang Menunggu Dingin
  10. Lidah Tak Ingat
  11. Satu Petak yang Tak Cukup
  12. Dua Perjanjian Pengangkutan
  13. Daun yang Ditinggal Dulu di Tepi Sungai
  14. Pertanyaan yang Tak Terucap
  15. Tak Ada Ruang Kosong di Sungai
  16. Rasa Mi Musim Panas Terlalu Pekat
  17. Ayah Masih di Sisi Meja
  18. Daun-daun di Bawah Matahari
  19. Menceritakan Malam Itu Sampai Tuntas
  20. Makan Siang di Gang Genting
  21. Sebelum Lunas
  22. Siapa yang Tak Tercatat dalam Pembukuan
  23. Tiga Hari Menyusuri Sungai ke Hulu
  24. Sebelas Tahun Ini Tak Berlalu Hampa
  25. Mengembalikannya Bundel demi Bundel
  26. Sepiring Kecil yang Lebih Ringan Rasanya
  27. Tiga Hari Ibu
  28. Rasa Asam yang Tak Kunjung Datang
  29. Saat Kau Pulang
  30. Tak Seperti Masa Remaja
  31. Perahu Ada Gilirannya
  32. Sepiring Buah Mei yang Tak Dijual
  33. Lentera Menuju Bawah Air
  34. Dua Hari Menyusuri Sungai ke Hilir
  35. Di Tepiannya
  36. Jalan yang Ingin Ia Lihat Sendiri
  37. Sebuah Kamar yang Bisa Dihuni
  38. Masih Ada Ruang di Halaman Baru

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.