Novel jalur dagang dan pertemuan kembali bernuansa Tiongkok kuno
Siapa yang Tak Tercatat dalam Pembukuan
Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 13483 karakter · sekitar 11 menit
Pada tanggal dua puluh bulan kelima, pegawai keluarga Qin datang menanyakan apakah sayuran dan labu olahan untuk tahun ini masih bisa dikirim seperti biasa.
Yao Jia sedang mencuci piring-piring kecil. Air menuruni pergelangan dan masuk ke lengan bajunya. Mendengar kata “seperti biasa”, ia tak langsung mendongak. Pegawai itu masih anak muda yang datang mengambil guci tanggal empat. Ia menunggu di sisi meja toko, tak mengerti kenapa Yao Jia membalik lagi piring yang sudah bersih. Katanya juragannya hendak mengadakan beberapa jamuan. Sejak kemarin ia disuruh bertanya dari rumah ke rumah agar nanti tak semua orang bilang belum menyiapkan apa-apa.
Ia meletakkan piring kecil itu dengan mantap dan bertanya berapa tempayan yang diperlukan. Anak muda itu mengacungkan kedua tangan, sadar jumlahnya kurang, lalu mengacungkan tangan kanan sekali lagi. Ia sendiri malah bingung dan buru-buru berkata dua belas, dua belas, itu yang ditulis majikannya. Dari balik baju ia mengeluarkan secarik kertas. Benar, dua belas tempayan, dan ia diminta membawa pulang kepastian jumlahnya. Yao Jia melihat kedua tangan yang masih belum berhasil menghitung dengan jari itu. Kekesalannya yang tadi hendak ia lampiaskan pada ucapan ‘seperti biasa’ pun sedikit surut.
Ia meminta si pegawai menyampaikan bahwa besok sore ia akan datang sendiri. Saat ini hanya beberapa guci acar yang sudah matang dan siap dijual. Kalau ia menyanggupi semuanya, ia harus mengalihkan jatah pelanggan lama lain, dan ia belum ingin melakukannya. Si pegawai mengembuskan napas lega dan menerima air hangat yang disodorkannya. Selesai minum, ia bertanya angka berapa yang sebenarnya tadi ia peragakan dengan jari. Yao Jia menjawab lima belas. Ia memandangi tangannya dengan mata membulat kaget. Yao Jia akhirnya tertawa dan berpesan agar sesampainya di toko ia tak memperagakan jumlahnya kepada juragan dengan kedua tangan.
Keesokan harinya ia membawa lembar barang baru dan sebungkus kecil acar sayur yang sudah bisa dimakan. Qin Shouyi sedang menguji meja di halaman belakang. Kakinya diganjal kepingan kayu, tetapi begitu mangkuk diletakkan, meja itu berbunyi. Ia menyuruh orang menggantinya. Si pegawai bilang semuanya meja pinjaman, mana ada yang tidak goyah? Ketika Yao Jia masuk, Qin Shouyi sedang berjongkok melipat kertas sendiri untuk diselipkan di bawah kaki meja. Begitu melihatnya, lututnya berbunyi sekali, dan lama baru ia bisa berdiri tegak.
Ia lebih dulu memberikan sayur itu kepada orang-orang yang mengurus dapur untuk dicicipi, tanpa berdiri di samping mereka dan bercerita bagaimana ibunya dulu mengerjakannya. Mereka akan menyajikannya dengan daging yang agak berlemak. Setelah mencicipi, yang satu bilang sudah pas, yang lain merasa potongannya agak kasar dan masih harus diiris lagi setelah dibawa pulang. Yao Jia berkata kiriman kali ini sudah telanjur dipotong begini. Kalau lain kali ingin lebih halus, beri tahu ia lebih awal. Jangan sesudah barang diambil baru menyuruh kurir datang mengeluh. Orang itu mengiyakan, menjepit dua iris ke pinggir mangkuknya, lalu menunggu daging panas datang untuk mencobanya lagi.
Qin Shouyi memintanya duduk dan bertanya apakah rasa lama itu masih sama. Yao Jia menjawab sebagian tetap dipertahankan, ada pula rasa lain, dan kiriman hari ini persis cocok dengan yang biasa mereka pakai. Qin Shouyi puas mendengarnya. Ia mengulurkan tangan untuk melihat lembar barang baru, tetapi berhenti di baris ongkos kerja. Katanya dulu Nyonya Xin tak mencatatnya per tempayan seperti ini. Ia paham membaca pembukuan. Saat menggeser jari ke bawah, yang pertama ia hindari justru nama ibu Yao Jia.
Yao Jia berkata bahwa dulu pun ada orang yang mengerjakan semua itu. Kali ini ia mencatat delapan wen per tempayan secara terpisah untuk menyiapkan, memotong, mencampur, membalik, dan memeriksa isinya. Uang jaminan tempayan tetap bisa dikembalikan, sedangkan ongkos kirim sampai dermaga dihitung sesuai biaya sebenarnya. Kalau hanya mengambil sayurnya tanpa meminjam tempayan, ia tinggal mengemasnya saat barang diambil. Setelah membaca, Qin Shouyi bertanya apakah ia sedang memasukkan bagian yang dulu tak dibayar ke tagihan hari ini. Yao Jia menggeleng. Katanya, pekerjaan yang ia lakukan sendiri selama beberapa hari di awal bulan ini sudah sebanyak itu. Tak perlu menambahkan apa yang terjadi enam tahun lalu agar angka di baris itu tercapai.
Ia meletakkan kertas dan mengungkit bahwa dulu ia pernah mengirim beras kepada Ruan Xin dan membantu mengangkat tempayan saat hujan. Kalau semuanya dihitung, katanya, belum tentu ada yang berutang sebanyak itu kepada siapa pun. Mendengarnya, Yao Jia menekan jari ke lutut. Ia ingin balik bertanya apakah beras yang dikirim beberapa hari itu bisa mengganti malam-malam selama setahun penuh sesudahnya. Belum sempat bicara, ia melihat tempayan tua di balik pintu, dengan bekas tambalan di lehernya. Ibunya memang pernah meminjam tempayan itu dari keluarga Qin. Banyak kejadian nyata berdesakan di tempat yang sama. Kemarahannya tak bisa membuat satu pun di antaranya batal terjadi.
Ia bertanya apakah Qin Shouyi masih ingat bahwa enam tahun lalu ibunya ingin keahliannya diperhitungkan sebagai satu bagian dalam usaha mereka. Wajah Qin Shouyi agak menggelap. Ia ingat, katanya, tetapi waktu itu ada orang lain yang ikut berkongsi. Pembagian tak bisa diputuskan dengan ucapannya seorang. Sekarang ia hanya hendak membicarakan tiga atau lima tempayan acar dengannya. Ia tak berniat memanggil semua keluarga yang terlibat waktu itu untuk duduk semeja lagi.
Jawaban itu begitu keras hingga tak menyisakan kesan bahwa ia akan melunak kalau didesak lagi. Semula Yao Jia mengira dengan membawa lembar baru, setidaknya ia bisa membuat Qin mengucapkan dalih lamanya tentang sesama tetangga saling membantu dengan nada sedikit lebih lunak. Kini ia melihat bahwa melunakkan nada pun Qin enggan. Ia menunduk dan kembali memeriksa harga, seolah selama urusan di lembar yang di hadapannya bisa berjalan, masa lalu dapat tetap disimpan di dalam lemari yang tak pernah ia buka.
Ia mengangkat tangan dari pangkuan dan kembali menunjuk baris dua belas guci. Kali ini ia hanya bisa menyediakan tiga guci, untuk diambil sore tanggal dua puluh tiga. Sisanya harus lekas ia cari di tempat lain. Qin Shouyi mendongak kaget dan bertanya apakah ucapan barusan membuatnya enggan mengerjakan semua. Yao Jia memang agak kesal. Kalau tak kesal, mungkin ia masih mau mengusahakan dua guci lagi. Tetapi persediaan siap jual memang hanya sebanyak itu, dan pelanggan lain yang sudah ia janjikan juga menunggu. Ia mengatakannya terus terang, tanpa berpura-pura sama sekali tak tersinggung.
Qin Shouyi tak langsung menyetujui. Ia bertanya kalau hanya tiga guci, apa upahnya bisa dikurangi, toh kalau dikerjakan sekaligus tak akan jauh lebih repot. Yao Jia memperlihatkan salah satu tahap pemeriksaan kepadanya dan bilang tiga mulut guci tetap berarti tiga bagian yang harus diperiksa. Kalau upah dikurangi, tahap ini harus dilewati, dan siapa pun tak akan menghendakinya. Ia terdiam sejenak, mengambil contoh dan mencicipi sepotong lagi, lalu akhirnya mengangguk. Katanya, tiga guci itu akan diambil pada tanggal dua puluh tiga. Jangan baru dikirim ketika jamuan tinggal setengah hari lagi.
Isi ketiga tempayan itu berjumlah tiga puluh jin kecil. Ongkos kerja dua puluh empat dicatat terpisah. Bahan dan tempayan masing-masing mengikuti catatan di lembar baru. Qin Shouyi menyimpan satu salinan dan Yao Jia membawa satu pulang. Saat ia hendak keluar, orang yang mengurus dapur memanggilnya. Dua irisan yang tadi ditaruh di samping daging panas sudah habis dimakan. Lain kali irisan yang lebih tebal pun boleh, katanya. Rasanya pas untuk mendampingi hidangan berbumbu kuat itu dan tak semuanya harus diiris setipis selera orang yang satu lagi. Yao Jia mengiyakan. Di luar matahari bersinar terang, tetapi keberhasilannya menjual tiga tempayan tak serta-merta menjemur kering kata-kata keras yang baru saja ia ucapkan.
Dalam perjalanan ia mampir ke rumah bibinya. Yao Lan sedang mendedel lengan baju lama. Jahitannya begitu rapat hingga lama sekali baru terbuka satu cun. Melihat Yao Jia membawa kertas, ia mempersilakannya duduk dan mengingatkan agar jangan menduduki jarum di bangku. Yao Jia buru-buru membalik bangku untuk memeriksanya. Bibinya tertawa, katanya, segitunya kau takut, memangnya aku bakal lupa dan betul-betul menyisakan sebatang untuk kaududuki? Yao Jia akhirnya duduk di seberangnya dan mengulurkan tangan untuk menahan ujung lengan baju itu.
Ia bercerita bahwa keluarga Qin enggan membicarakan bagian yang dulu. Yao Lan mendengarkan sambil terus menggerakkan gunting kecilnya. Baru ketika mendengar soal tiga tempayan ia bertanya apakah waktunya cukup. Yao Jia menjawab cukup, isinya sudah matang, bukan baru dimasukkan hari ini. Bibinya mengangguk tanpa mengulang semua kerugian yang pernah ditanggung ibunya. Di luar ada orang menjajakan melon segar dengan lenggok seruan yang aneh. Yao Lan tiba-tiba memanggilnya, menjulurkan badan dan bertanya berapa wen harga satu buah. Setelah mendengar jawabannya, ia bilang kemahalan lalu duduk kembali.
Semula Yao Jia agak kecewa karena bibinya tak menanggapi perkara bagian lama itu. Melihat keinginan bibinya akan sebutir melon begitu kentara, ia tak tahan untuk tidak bertanya apakah Bibi betul-betul ingin makan. Yao Lan bilang, siapa yang tak ingin di hari sepanas ini? Tapi mahal ya memang mahal. Jangan baru mendengar satu kata, keponakannya sudah buru-buru membelikannya. Yao Jia tertawa dan menjawab bahwa ia belum beranjak. Masing-masing menahan separuh lengan baju itu sambil mendengarkan penjaja melon berangsur menjauh. Bibinya malah ikut menggumamkan sedikit potongan lagunya tadi.
“Kalau kau bernyanyi begitu, ayam sendiri pun bisa kau panggil pulang ke kandang yang salah,” kata Yao Jia.
Yao Lan menepuk tangan Yao Jia pelan dengan lengan baju itu. Katanya waktu kecil, setiap diajari satu baris, ia langsung menyanyikannya. Sekarang sudah besar, bisanya cuma mencela. Yao Jia ingat tiga tahun tinggal di rumah bibinya. Tiap malam ia harus mendengar bibinya bersenandung dan tak mengizinkannya berhenti meski ada satu bagian yang salah. Ketika ibunya datang menjemput, ia justru menarik-narik ibunya sambil bilang ia tak rindu masakan rumah bibi, tetapi takut kalau bibinya mendengar, ia akan berkata, kau kurusan lagi. Mengingat itu, Yao Jia tertawa sambil menunduk. Bibinya bertanya apa yang lucu. Ia menjawab baru teringat betapa gengsinya ia dulu.
Yao Lan bilang bukan cuma dulu. Setelah keduanya tertawa, jahitan lengan baju itu akhirnya terurai. Bibinya mempertemukan kain baru dan kain lama di bawah cahaya. Ada kerutan halus di punggung tangannya, tetapi jari-jarinya cekatan. Sekali ujung benang dijepit, kain itu pun menyatu. Yao Jia memperhatikan sejenak, lalu tiba-tiba bilang nama bibinya sudah ia tambahkan pada catatan untuk tiga tahun itu, supaya di sana tak cuma tertulis bahwa ibunya pernah menyumbang beras. Yao Lan mendongak menatapnya. Sesaat kemudian ia berkata, kalau mau dicatat, catat saja. Lain kali jangan datang dengan wajah seperti menanggung utang tiga tahun. Waktu kecil, kau kan bukan cuma makan. Kau juga pernah tertawa.
Yao Jia teringat ayam hitam di halaman bibinya yang selalu suka merebut kue. Dia bilang dulu dia memang pernah tertawa, bahkan berlari sambil memeluk ayam itu. Saat ibunya datang menjemput, celananya sudah berlubang kena patuk. Yao Lan langsung menyahut bahwa itu karena Yao Jia menyembunyikan kue di celananya. Gara-gara itu dia harus menambalnya sampai tengah malam, padahal disangkanya ada paku di pagar. Yao Jia tertawa sampai menunduk, dan pita tipis warna aprikot di sisi rambutnya terjuntai ke dekat tangan. Bibinya menyelipkannya kembali ke belakang tusuk konde dan bilang, warna secerah ini lebih bagus disematkan agak ke depan telinga.
Yao Jia membiarkan bibinya menggeser pita itu sambil tetap duduk diam. Jari Yao Lan menyentuh sisi telinganya. Bibinya bertanya apakah pita itu sudah lama dibeli, karena terakhir kali dia ternyata tak memperhatikannya betul. Yao Jia bilang baru sekitar sepuluh hari. Yao Lan bilang kalau begitu masih baru. Jangan terlalu sering dicuci, nanti lemas. Dia meratakan ujung pita, mundur untuk melihat, lalu tiba-tiba berkata pelan sekali bahwa pita itu cantik. Mata Yao Jia terasa panas. Dia hendak merabanya, tetapi takut pita yang baru dibetulkan itu berantakan lagi. Akhirnya dia hanya mengangkat cermin di sampingnya dengan sisi belakang menghadap ke arahnya, belum berani langsung membaliknya.
Hari itu ia duduk sedikit lebih lama di rumah bibinya, tanpa mengeluarkan semua persoalan lama untuk dipermasalahkan kembali. Yao Lan memotong sebuah melon kecil yang tak begitu manis, sisa belanjaannya sendiri kemarin; sebelumnya ia menganggap melon awal musim mahal, bukan berarti di rumah sama sekali tak ada sedikit kesejukan ini. Setelah keduanya selesai makan, bijinya menggunung kecil di piring. Bibinya bertanya apakah belakangan ia bertemu Lu Yan. Ia menjawab belum, Lu Yan masih di Yuepu.
Yao Lan bergumam pelan dan tak langsung menyambung dengan saran. Setelah beberapa saat ia tak tahan juga. Kalau orangnya sudah pulang, katanya, kau perlu memberinya kesempatan bicara langsung. Yao Jia menjawab ia juga punya sesuatu untuk dikatakan. Bibinya melirik. Sudut bibirnya bergerak sedikit, seolah masih ingin berkata sesuatu. Akhirnya ia hanya mendorong potongan melon terakhir ke arah Yao Jia. Yao Jia memakannya. Manisnya tak seperti melon yang dulu ia sukai, tetapi airnya melimpah sampai telapak tangannya basah setelah ia selesai.
Sore tanggal dua puluh tiga, orang keluarga Qin datang sendiri mengambil tiga tempayan. Kedua orang itu memegangnya dengan mantap dan memeriksa mulut masing-masing tempayan. Mereka membayar sesuai halaman baru, termasuk dua puluh empat wen untuk upah. Yao Jia menyimpan uangnya tanpa mencatat pembayaran kecil itu sebagai pengembalian bagian ibunya dari tahun yang lampau. Kepala dapur juga berpesan agar lain kali separuh sayur diiris halus dan separuhnya dibiarkan kasar. Anak suruhan yang takut keliru menggambar dua garis di telapak tangannya. Yao Jia memberinya secarik kertas bekas dan berpesan agar dia tak ikut mencuci habis petunjuk potongan sayur saat mencuci tangan.
Setelah mengantar mereka pergi, Yao Jia melihat Yu Erniang baru kembali dari dermaga, dua keranjang kosong tersampir di bahunya. Ia memanggil Yu Erniang, mengeluarkan potongan kayu dari tukang kayu He, dan memperagakan bagian atas tubuh boneka Liang Baishun yang perlu dikurangi. Begitu melihatnya, Yu Erniang tertawa. Rupanya kau benar-benar pergi bertanya, katanya. Nanti malam berikan sendiri padanya, jangan sampai siang-siang semua pisau untuk mengikat daun sudah dikeluarkannya untuk meraut ini.
Mendengar bahwa orang-orangan itu bisa berjungkir balik, mata Xiao Geng langsung berbinar dan ia ingin ikut melihat. Gao Jiang menarik bagian belakang bajunya dan menyuruhnya pulang bersama ibunya dulu hari ini. Besok, kalau Paman Liang mengizinkan, baru ia boleh pergi. Jangan baru mendengar ada sesuatu yang seru sudah bertingkah seakan semua orang di rumah harus ikut ke mana kakinya melangkah. Xiao Geng memasang muka kecewa. Yu Erniang menahan tawa dan berkata kalau orang-orangan itu sudah bisa berjungkir balik, ia akan berseru dari mulut gang. Kalau tak berhasil, anggap saja orang dewasanya yang lebih dulu malu. Barulah Xiao Geng mau mundur ke sisi ibunya.
Yao Jia mengantar Yu Erniang beberapa langkah dan melihat kedua keranjang kosong itu saling bersentuhan pelan di belakang punggungnya. Di halaman, halaman baru buku catatan sudah dibereskan, sedangkan bagian yang dulu tak diterima ibunya masih tercantum dalam buku lama. Ia menutup pintu lemari kedai, lalu mencuci mangkuk untuk makan malam. Sedikit warna aprikot di dekat telinganya terpantul di air. Begitu tangannya bergerak, kilau itu pun buyar perlahan.
· Akhir bab ·
Buku ini merupakan tulisan orisinal berbantuan AI, dikembangkan dari 《长干行二首》 (Dua Puisi Changgan) karya Li Bai dan cerpen asli situs ini 《青梅旧账》 (Utang Lama Buah Mei Hijau). Tokoh, perusahaan dagang, harga, geografi, dan penanggalannya sepenuhnya rekaan; inti karya asli tetap dipertahankan, yakni penuntasan perhitungan utang lama, pengakuan kembali atas keterampilan dan jerih payah, serta kesepakatan baru untuk menjalin hubungan setelah dewasa, bukan biografi penyair.
Kolom komentar
Sedang memuat komentar…
Ingin mengatakan sesuatu?Masuk untuk ikut berkomentar →