Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel jalur dagang dan pertemuan kembali bernuansa Tiongkok kuno

Makan Siang di Gang Genting

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 12931 karakter · sekitar 11 menit

Yao Jia pertama kali datang ke rumah keluarga Yu pada tanggal empat belas bulan kelima. Gudang teduh itu berada di belakang dermaga, sedangkan rumahnya ada di Gang Genting di sebelah selatan, melewati tempat penjemuran kain. Ia mengikuti petunjuk orang dan begitu sampai di pintu, yang pertama dilihatnya adalah Liang Baishun berjongkok memperbaiki bangku. Lengan kanannya tak terangkat. Ia hanya menahan bangku dengan lutut sambil menyisipkan kayu tipis sedikit demi sedikit ke bagian yang longgar dengan tangan kiri. Melihat Yao Jia datang, ia tertawa dan berkata jangan buru-buru duduk, hari ini bangkunya belum berhasil ia jinakkan.

Di dalam rumah ada satu meja makan, dengan beberapa mangkuk yang berbeda tingginya di kedua sisi. Di bawah jendela dijemur dua helai saputangan lama yang sudah dicuci. Yu Erniang sedang memotong sayur di depan tungku. Mendengar salam Yao Jia, ia menyuruhnya mendorong sendiri pintu dalam agar bangku Liang yang baru separuh jadi itu tak menghalangi seluruh jalan. Yao Jia tadinya hendak membahas pembayaran begitu masuk. Melihat tangan Yu Erniang basah kuyup, ia menyelipkan catatan kecil yang dibawanya ke dasar keranjang dan bertanya dulu apakah ada yang perlu dicuci.

Yu Erniang menyerahkan sekeranjang sayur kepadanya. Ia tak berbasa-basi bilang tak usah, dan tak pula menyerahkan seluruh pekerjaan dapur. Yao Jia mencucinya di dekat pintu. Air melimpah dari bibir baskom, dan Liang Baishun buru-buru menjauhkan bilah kayu yang baru ia selipkan. Katanya, susah payah ia menemukan potongan yang pas hari ini, jangan dicuci sampai berubah jadi barang lembek lain. Dari dalam, Yu Erniang menyahut, kalau bangkunya memang bisa diduduki, buat apa ribut dengan sebaskom air? Liang tersenyum tanpa menjawab. Dengan tangan satunya ia menyelipkan bilah kayu itu di belakang telinga. Bilahnya tak bertahan dan jatuh lagi ke pangkuannya.

Yao Jia ikut tertawa. Tawa singkat itu tak termasuk dalam kata-kata yang sudah ia siapkan sebelum datang. Ia bahkan lupa merendahkan suara, seolah orang yang datang mengakui kesalahan semestinya hanya duduk dengan sikap tertib di ambang pintu. Melihatnya selesai mencuci, Liang Baishun menunjuk sebuah bangku rendah yang kokoh. Katanya bangku itu ia perbaiki dua tahun lalu. Bentuknya memang kurang bagus, tetapi kuat diduduki. Yao Jia duduk seperti yang disarankan. Barulah ia mengeluarkan catatan kecil dari dasar keranjang.

Semalam perahu ke hulu lebih dulu sampai ke keluarga Yu. Ganti rugi tiga ratus empat puluh enam wen sudah dihitung lengkap. Catatan rumah dagang yang menyertai mencantumkan sembilan puluh enam, sementara Lu Yan menalangi dua ratus lima puluh. Yu Erniang menerima keduanya sesuai bukti masing-masing dan menyimpan satu salinan. Surat Yao Jia menyusul kemudian. Lu Yan telah menuliskan dengan lengkap apa yang terjadi sebelum dan sesudah malam itu. Namun seusai membaca, yang pertama terlintas di benak Yao Jia justru dirinya yang berdiri di ambang gudang, bertanya apakah muatannya mendesak barang mereka, lalu pergi begitu saja mengikuti Lu Yan.

Yao Jia mengeluarkan tujuh puluh wen dan meletakkannya di meja. Yu Erniang mendongak dan bilang kemarin ganti ruginya sudah dibayar penuh. Yao Jia menjawab bahwa dia tahu dan tak meminta Yu Erniang menerima pembayaran lain. Hanya saja, satu pertanyaan kecil yang tak dia lanjutkan itu tak bisa dihapus dari ingatannya tentang malam itu hanya karena Lu Yan tak menyebutkan semua tanggal. Tujuh puluh wen ini ingin dia tanggung sendiri.

“Tujuh puluh itu hitungannya bagaimana?” tanya Yu Erniang.

Mendengarnya, wajah Yao Jia terasa panas. Ia tak menjawab dengan alasan yang sudah dihafalnya. Ia bilang jumlah itu tak pernah ditetapkan sebelumnya dalam perjanjian mana pun. Ia sudah memikirkannya. Kalau tak ikut mengeluarkan apa-apa, begitu pulang ia akan tetap menikmati keuntungan itu sambil menganggap semua kesulitan yang ditanggung orang lain sepenuhnya urusan firma. Ia tak tahu apakah Yu Erniang akan menerima cara itu. Ia datang bukan semata-mata untuk mendengar bahwa ia sudah menunjukkan setia kawan. Ia bersedia mengemukakan usulnya dan mendengarkan tanggapan Yu Erniang.

Yu Erniang tak langsung menghitung uangnya. Ia lebih dulu menyodorkan catatan pembayaran yang disimpan sejak semalam, meminta Yao Jia membacanya dari awal. Potongan harga, ongkos angkut tambahan, dan biaya mengikat ulang semuanya tercatat sendiri-sendiri. Ganti rugi sudah penuh. Tak ada lagi yang bisa ditambahkan di sini. Setelah membaca, Yao Jia bertanya apakah uang itu bisa dikirim balik ke perusahaan untuk mengganti sebagian uang yang ditalangi Lu Yan dengan uangnya sendiri. Yu Erniang menjawab bahwa itu harus Yao Jia bicarakan dengan orang yang mengurusnya. Ia sendiri bisa menambahkan pengesahan di kolom yang menyatakan ganti rugi sudah penuh. Setelah keluarga Yao ikut membayar, ia tak akan suatu hari berkata bahwa Yao Jia masih berutang tujuh puluh lagi kepadanya.

Setelah catatan itu ditambahi, tujuh puluh wen tetap kembali ke tangan Yao Jia. Ia membungkusnya, tanpa menyelipkannya ke bungkusan uang jaminan pengembalian wadah. Itu uang tunai yang ia sisihkan dari mengolah barang lama dan menjual cuka eceran. Kelak dana untuk memperbaiki teritis akan sedikit berkurang. Ia sudah memperhitungkannya dan tetap ingin mengeluarkan uang itu. Yu Erniang melihatnya mengikat kembali bungkusan itu, baru kemudian berbicara sedikit lebih pelan. Pesannya, jangan biarkan pembawa surat cuma menerima sebungkus uang. Tuliskan dengan jelas uang talangan siapa yang dikembalikan, supaya perkara yang sudah terang tak kembali kabur karena dititipkan lewat pesan lisan dari seberang sungai.

Liang Baishun selesai memperbaiki bangku dan duduk untuk mengujinya. Ia mengayunkan kedua kaki sekali, puas dengan hasilnya. Nasi kebetulan sudah matang. Yu Erniang membawa lauk ke meja dan bertanya apakah Yao Jia sudah makan. Yao Jia menjawab belum. Semula ia ingin lekas menyelesaikan pembicaraan lalu pergi, karena sungkan menambah satu porsi. Liang Baishun sudah mengambil mangkuk. Kalau nasi saja tak bisa ditambah sedikit, tadi ia tak akan membiarkan Yao Jia mencuci sekeranjang sayur itu. Apa mereka mau menyuruh orang datang membetulkan ambang pintu dengan perut kosong?

Yao Jia pun tinggal untuk makan. Nasinya dicampur kacang. Di meja juga ada sepiring tumis kulit labu yang harum. Yu Erniang memotongnya kasar untuk dimakan sendiri di rumah, tak seragam satu per satu seperti yang dikirim ke kedai makan. Yao Jia mencicipinya. Kulit labunya renyah, dan ia bertanya apakah perlu dijemur sekali lagi. Yu Erniang menjawab kalau untuk di rumah, mereka makan sesuai hasil jemuran hari itu. Angin hari ini bagus, jadi begitulah hasil yang mereka makan. Yao Jia masih ingin menanyakan cara memasaknya, tetapi Liang Baishun sudah mulai membicarakan kaki bangku. Ia pun mengembalikan sumpitnya ke atas mangkuk.

Liang Baishun bilang bangku yang kehilangan satu kaki masih bisa diduduki kalau disandarkan ke dinding. Yu Erniang tertawa dan bilang semestinya dari dulu ia sendiri yang duduk bersandar di dinding, jangan setiap ada tamu langsung diarahkan ke bangku rusak. Mereka berbicara dari kedua ujung meja. Masing-masing bisa mendengar mana ucapan yang cuma gurauan, tanpa perlu melihat sesudahnya apakah ada yang tersinggung. Sambil menjepit lauk, Yao Jia mendadak merasa sedikit iri. Ia teringat bagaimana sekarang, setiap kali berbicara dengan Lu Yan, mereka seolah masih harus mengulurkan tangan untuk meraba dasarnya dulu. Itulah yang membuatnya iri, meski ia tahu pasangan di hadapannya juga pernah mengalami kesulitan.

Melihat sumpit Yao Jia berhenti, Yu Erniang bertanya apakah nasinya keras. Yao Jia menggeleng dan bilang enak. Yu Erniang pun berhenti mengawasinya dan menambah setengah sendok untuk dirinya sendiri. Kedatangan seseorang untuk membicarakan kesalahan lama tak membuatnya mengubah makan bersama itu menjadi pemeriksaan lagi soal mana yang baik dan mana yang buruk. Liang Baishun pelan-pelan menjepit kacang dengan tangan kiri. Dua kali terlepas, akhirnya ia mengambil sendok dan tertawa duluan, katanya kali ini kacangnya tak sempat berkenalan dengan tangannya.

Sesudah makan Yao Jia membantu membereskan mangkuk. Liang Baishun tetap di dekat jendela, mengasah sebilah kayu yang sangat tipis. Yu Erniang bilang itu bukan barang dagangan. Liang Baishun bersikeras ingin merautkan orang-orangan yang bisa berjungkir balik untuk anak di mulut gang yang suka menonton pertunjukan. Sampai hari ini, setelah berkali-kali dicoba, orang-orangan itu cuma bisa telungkup. Yao Jia mendekat. Bilah kayu itu memang punya sepasang kaki miring. Begitu talinya ditarik, kepalanya lebih dulu membentur meja dan jungkir baliknya sama sekali tak jadi.

Yao Jia tertawa keras, tetapi Liang Baishun menjelaskan dengan sungguh-sungguh bahwa masalahnya ada pada titik berat, bukan pada kaki. Sambil bicara dia mencoba lagi. Boneka itu tetap telungkup, dan dia sendiri akhirnya tak sanggup menahan tawa. Dia meminta Yao Jia menanyakannya kepada tukang kayu He. Tak usah meminta He membuatkannya, dia hanya ingin bertanya soal pembagian beratnya. Yao Jia menyanggupi. Di samping mereka, Yu Erniang memasangkan sabuk kertas pada boneka itu untuk menutupi gambar pinggang yang salah. Liang Baishun menyahut, “Itu pun mau kau urus?” Mereka berdua tertawa lagi.

Yao Jia teringat mainan kuda bambu yang rusak itu dan tiba-tiba bertanya apakah mereka ingat bahwa dulu ibunya juga suka menonton pertunjukan aneka lakon. Erniang Yu bilang tentu saja ingat. Pernah suatu kali, karena ingin mengejar pertunjukan terakhir di muara, Xinniang menolak menyiapkan dua guci lauk tambahan yang mendadak diminta keluarga Qin. Sejak awal ia sudah bilang hanya akan membuat sesuai pesanan. Ketika keluarga Qin datang membujuk, ia langsung menutup periuk dan pergi membawa putrinya. Ketika menyebut putrinya, Erniang Yu melirik Yao Jia dan bertanya apakah ia sendiri malah sudah lupa.

Yao Jia tertegun sejenak, lalu perlahan teringat malam itu. Ibunya membeli dua kue panas. Khawatir anaknya terlalu pendek di tengah kerumunan, ia mengangkatnya ke atas batu agar bisa melihat. Sebelah sepatu ibunya terlepas karena berdesakan dan baru ditemukan dalam perjalanan pulang. Dulu yang Yao Jia ingat adalah kue panas, kuda kecil dari kain yang diikat, dan tawa ibunya dengan sebelah kaki tanpa sepatu. Belakangan, setiap kali ia menceritakan betapa berat kerja ibunya, seolah yang tersisa hanya sepasang tangan yang tak berhenti bekerja sepanjang malam.

Ia bertanya apakah waktu itu ada orang yang bilang ibunya sulit diajak bergaul. Yu Erniang tertawa dan bilang tentu ada. Belakangan orang-orang itu tetap datang mengambil acar buat Tahun Baru, dan tak seorang pun kelihatan mati kelaparan. Selesai tertawa, ia berkata bahwa Xinniang memang kelelahan selama tiga tahun terakhir itu. Ia sendiri pernah menerima kebaikannya, tetapi waktu itu tak membantu menanyakan sampai tuntas bagian yang semestinya Xinniang terima. Kata-kata itu diucapkannya pelan, tanpa mengungkit kembali hari-hari ketika ia mengirim beras dan arang. Yao Jia pun tak menggunakan kesempatan itu untuk memintanya mengakui tanggungan atas nama semua keluarga lain.

Di luar jendela ada yang datang meminjam pikulan. Liang Baishun menyahut dan bangkit memberikan pikulan yang bagus, menyisakan yang retak untuk dirinya sendiri. Melihat itu, Yu Erniang menyuruhnya menukar pikulan. Katanya, bawaan orang itu ringan. Kalau pikulan yang bagus nanti dikembalikan, jangan sampai orang keliru mengambilnya karena mengira itu miliknya sendiri. Liang Baishun mengiyakan beberapa kali. Jelas ia lebih ingin cepat-cepat kembali melihat orang-orangan yang cuma bisa telungkup itu. Yao Jia melihat mereka masing-masing memikirkan urusannya sendiri dan tahu bahwa apa yang didengarnya hari ini tak patut dibawa pulang sekadar untuk berkata bahwa rupanya tak seorang pun mengalami kesulitan berarti.

Saat berpamitan, Yao Jia tak bertanya apakah kelak mereka akan datang mengambil sayur olahan keluarga Yao lagi. Dia ingin menunggu sampai masing-masing menunaikan bagiannya kali ini. Nanti, kalau memang perlu, mereka masih bisa bertanya langsung. Yu Erniang mengantarnya ke pintu dan menunjukkan jalan lain yang lebih teduh. Jangan memutar lewat gudang, katanya, sore hari banyak gerobak. Yao Jia mengingatnya dan bilang dia akan menanyakan soal keseimbangan boneka kayu itu. Mendengarnya dari dalam, Liang Baishun buru-buru berpesan agar tukang kayu itu jangan sampai menertawakannya karena sudah bertahun-tahun masih belum belajar berdiri tegak.

Ia lebih dahulu pergi ke dermaga setempat, menyerahkan tujuh puluh wen beserta catatan pengeluaran yang jelas kepada pelayan Yan, dengan pesan singkat untuk Lu Yan: ini bagian yang ia bayar sendiri, bukan berarti ia menganggap malam itu tak pernah terjadi. Cukup terima kembali uang yang dahulu ditalangi, tak perlu dikirim lagi. Pelayan Yan menerimanya sesuai jumlah, menulis tanda terima, lalu berkata uang itu akan ikut perahu ke hilir hari ini, paling cepat besok malam tiba di Yuepu. Setelah menerima lembar miliknya sendiri, barulah ia merasa bahu yang menegang sepanjang pagi sedikit mengendur.

Sore tanggal lima belas, ia memperkirakan bahwa kalau perjalanan lancar, bungkusan uang itu mestinya sudah sampai di Yuepu. Balasannya masih harus menempuh tiga hari lagi melawan arus. Ia tak berlari ke dermaga setiap hari untuk mendesak. Seperti biasa, ia mengambilkan cuka bagi pelanggan tetap, menanyakan hidangan apa yang hendak mereka buat, lalu mempersilakan mereka mencicipi cuka yang ringan maupun yang pekat terlebih dahulu. Ia lebih sedikit bicara daripada beberapa hari lalu, dan tangannya tak terburu-buru hanya karena pelanggan tak langsung memuji. Gao Jiang datang meminjam piring kecil. Sambil mencari, Yao Jia bercerita tentang boneka kecil Liang Baishun yang jatuh dengan kepala lebih dulu. Gao Jiang tertawa sampai harus berpegangan pada konter. Katanya, jangan sekali-kali perlihatkan itu pada Xiao Geng. Kalau anak itu belajar menirunya, entah berapa banyak kaki kayu yang harus ia urus mayatnya.

Seusai makan, ia datang ke depan rumah Tukang Kayu He untuk menanyakan sedikit soal keseimbangan berat itu. Tukang kayu semula sedang mengasah mata ketam. Mendengar penjelasannya, ia tidak tertawa, melainkan mengambil serpihan kayu untuk memperagakan, menyuruhnya membawa pulang agar Liang mencoba sendiri, jangan sampai bagian atas diserut menjadi lebih berat daripada kedua kaki. Ia mengingatnya dengan sungguh-sungguh. Saat membawa kepingan kayu itu kembali ke gang, ia mendengar sepenggal lagu pelayaran yang agak sumbang dari kejauhan; sampai di bagian yang biasanya pecah, hari ini nadanya justru merendah dan perlahan tersambung melewatinya.

Ia berdiri sebentar, lalu tersenyum dan memasukkan serpihan kayu itu ke keranjang. Pintu Kedai Yao masih terbuka. Cahaya lampu di dekat meja kasir jatuh pada sudut selembar kertas baru. Ia kembali dan mencatat jumlah piring kecil yang dipinjamkan, lalu menggambar di sebelahnya sosok kecil yang hanya bisa menunduk. Gambarnya lebih miring daripada Liang Baishun. Ia melihatnya sebentar dan menambahkan dua kaki yang lebar sekali. Setelah tinta kering, barulah ia menutup kertas itu pelan-pelan.

· Akhir bab ·

Buku ini merupakan tulisan orisinal berbantuan AI, dikembangkan dari 《长干行二首》 (Dua Puisi Changgan) karya Li Bai dan cerpen asli situs ini 《青梅旧账》 (Utang Lama Buah Mei Hijau). Tokoh, perusahaan dagang, harga, geografi, dan penanggalannya sepenuhnya rekaan; inti karya asli tetap dipertahankan, yakni penuntasan perhitungan utang lama, pengakuan kembali atas keterampilan dan jerih payah, serta kesepakatan baru untuk menjalin hubungan setelah dewasa, bukan biografi penyair.

Daftar isi buku · 38 bab
  1. Prem Hijau di Balik Lengan Baju
  2. Uap Hangat dari Mulut Tempayan
  3. Hanya Menerima Seratus Enam Puluh
  4. Sesendok Terlalu Manis
  5. Noda Tinta di Samping Kuda Bambu
  6. Buah Prem Lebih Dulu Melunak
  7. Hari Kembali Naik Kapal
  8. Keluarga yang Tak Jadi Terbentuk
  9. Semangkuk Nasi yang Menunggu Dingin
  10. Lidah Tak Ingat
  11. Satu Petak yang Tak Cukup
  12. Dua Perjanjian Pengangkutan
  13. Daun yang Ditinggal Dulu di Tepi Sungai
  14. Pertanyaan yang Tak Terucap
  15. Tak Ada Ruang Kosong di Sungai
  16. Rasa Mi Musim Panas Terlalu Pekat
  17. Ayah Masih di Sisi Meja
  18. Daun-daun di Bawah Matahari
  19. Menceritakan Malam Itu Sampai Tuntas
  20. Makan Siang di Gang Genting
  21. Sebelum Lunas
  22. Siapa yang Tak Tercatat dalam Pembukuan
  23. Tiga Hari Menyusuri Sungai ke Hulu
  24. Sebelas Tahun Ini Tak Berlalu Hampa
  25. Mengembalikannya Bundel demi Bundel
  26. Sepiring Kecil yang Lebih Ringan Rasanya
  27. Tiga Hari Ibu
  28. Rasa Asam yang Tak Kunjung Datang
  29. Saat Kau Pulang
  30. Tak Seperti Masa Remaja
  31. Perahu Ada Gilirannya
  32. Sepiring Buah Mei yang Tak Dijual
  33. Lentera Menuju Bawah Air
  34. Dua Hari Menyusuri Sungai ke Hilir
  35. Di Tepiannya
  36. Jalan yang Ingin Ia Lihat Sendiri
  37. Sebuah Kamar yang Bisa Dihuni
  38. Masih Ada Ruang di Halaman Baru

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.