Lewati ke konten utama

Cari di CooLWJ

选择搜索范围,输入关键词后按回车。

Bahasa

Sejilid buku di tangan

Novel jalur dagang dan pertemuan kembali bernuansa Tiongkok kuno

Daun-daun di Bawah Matahari

Ku Wuji · Karya Kreatif AI · 11077 karakter · sekitar 9 menit

Pada tanggal enam bulan kelima, keluarga Yu menghamparkan daun untuk dijemur, satu kumpulan lagi yang baru dipetik. Ketika sampai di luar gudang teduh, Yao Jia lebih dulu mencium aroma segarnya dan langkahnya pun melambat. Beberapa keranjang kosong yang dikembalikan kemarin bersandar di dinding. Liang Baishun duduk di balik keranjang, tangan kirinya mengetuk baskom kayu yang sudah rusak, mulutnya mendendangkan lagu pelaut. Ketika mencapai nada tinggi, suaranya tiba-tiba pecah. Ia sendiri yang lebih dulu menunduk, terbatuk sambil tertawa.

Di sisi lain, Yu Erniang membalik daun sambil berkata kalau Liang mengandalkan nyanyiannya untuk mencari uang, seisi rumah harus mulai menghemat jatah makan. Liang membalas, waktu masih muda ada orang yang sampai mengejarnya untuk mendengarkan suara itu. Yu Erniang menjawab, iya, mengejarmu sampai ke sumur untuk menyuruhmu berhenti, karena anak mereka tak bisa tidur. Yao Jia berdiri di ambang pintu. Ucapan yang sudah ia siapkan tentang bagaimana mereka tak sempat beristirahat beberapa hari ini ternyata tak sempat ia sampaikan seperti rencana. Liang Baishun lebih dulu melihat kendi arak di tangannya.

Yao Jia membeli sebotol kecil arak. Pikirnya, setelah semua sibuk beberapa hari, mereka bisa duduk dan minum sedikit, lalu membicarakan perkara itu sampai jelas. Liang Baishun bilang taruh saja di situ, nanti bisa diminum saat makan malam. Yu Erniang tak menyambut cangkir dan terus membalik daun-daun di depannya. Yao Jia menaruh botol di sisi baskom kayu dan menahan diri untuk tidak menuang. Ia berjongkok di sisi yang lebih lapang dan membantu memungut dua helai daun yang jatuh tertiup angin.

Kiriman ini berbeda dari delapan bungkus pada bulan empat. Enam bungkus pada bulan empat tiba di Yuepu pada malam tanggal dua, terjual habis pada tanggal tiga, dan tanda terimanya baru sampai tanggal lima. Barang lama dan uang lamanya kini sudah bisa ditelusuri, tetapi beberapa hari yang terbuang tidak akan kembali bersama daun-daun itu. Yu Erniang mengeluarkan beberapa lembar kertas tanpa menyembunyikannya dari pandangan Yao Jia, lalu bertanya, karena ia sudah datang, apakah ia ingin tahu berapa tepatnya kekurangannya.

Yao Jia mengangguk. Semula delapan bungkus itu semestinya menghasilkan enam ratus dua puluh empat wen. Dua bungkus yang tiba tepat waktu tetap laku seratus lima puluh enam wen, sedangkan enam yang terlambat hanya laku seratus sembilan puluh dua. Jumlahnya tiga ratus empat puluh delapan, kurang dua ratus tujuh puluh enam. Ongkos angkut semula, empat puluh delapan wen, sudah dikembalikan gudang. Ongkos kiriman kilat dua bungkus ditambah kiriman susulan enam bungkus mencapai sembilan puluh delapan wen, lima puluh lebih mahal daripada semula. Tambah dua puluh untuk mengikat ulang, jumlah kerugiannya tiga ratus empat puluh enam wen. Yu Erniang menunjuk tiap pos dan membacakan angkanya pelan-pelan. Di akhir, jarinya berhenti pada tanda yang dibubuhkan penerima barang.

“Untuk beberapa pesanan sesudah ini, kedai Gao juga belum membuat kesepakatan lagi denganku,” katanya. “Yang itu tidak kutulis di sini. Kita selesaikan dulu kiriman yang di depan mata. Jangan semua yang belum dikerjakan dihitung jadi satu bungkusan besar, sampai orang mengira aku menjual angin.”

Yao Jia memandangi lembar-lembar itu. Tadinya ia mengira asal barang itu akhirnya terjual, kerugiannya tentu bisa sedikit lebih ringan. Kini hasil penjualan kembali pun sudah ada angkanya, dan kekurangannya masih tertera di samping baris semula. Ia teringat bahwa sejak kedua kedai makan itu pertama kali mencoba barangnya, dalam hati ia sudah membayangkan memperbaiki teritisan dan meluangkan waktu di sore hari. Kalau ada orang bilang bahwa kali ini pesanannya batal dan ia bisa mengerjakannya lain kali, ia sendiri pun belum tentu bisa tersenyum.

Yao Jia berkata bahwa upah dan ongkos kirim untuk barangnya sudah dicatat dengan jelas, tetapi ia tak menanyakan dengan tuntas urusan kiriman daun. Ia ingin lebih dulu meminta maaf atas nama Lu Yan. Yu Erniang mendongak dan menjawab bahwa kesalahan Lu harus ia jelaskan sendiri. Yao Jia buru-buru bilang ia juga punya salah. Pada malam pemuatan, ia memang melihat rak kiriman daun itu. Setelahnya ia sibuk menjaga barang sendiri dan merasa sudah ada orang dari perusahaan yang mengawasi, jadi ia tak ikut mengurus lebih jauh. Sampai di situ, ujung jarinya memilin tepi rok sambil menunggu Yu Erniang berkata bahwa mengerti saja sudah cukup.

Yu Erniang tak memberikan jawaban yang ditunggu Yao Jia. Dia malah bertanya, kalau malam itu kedua belas tempayan keluarga Yao yang tertinggal di darat, lalu dia sendiri datang hanya untuk bilang bahwa Pengurus Lu punya rencana, apa Yao Jia akan tidur dulu dan menunggu sampai besok pagi? Yao Jia berpikir sebentar, lalu menggeleng. Dia mungkin akan menjaga setiap tempayan sampai naik ke perahu. Meski segelnya sudah bertanda tangannya sendiri, dia tetap ingin melihat semua tempayan dipindahkan dengan mata kepala sendiri. Jawaban itu datang begitu cepat sehingga dia tak lagi bisa berlindung di balik alasan bahwa dia tak paham urusan di perahu.

Liang Baishun berhenti bersenandung dan mengambilkan air untuknya. Airnya hangat biasa. Yao Jia menerimanya, baru meneguk sedikit ketika teringat botol arak dan bertanya apakah sebaiknya ia menuangkan sedikit. Yu Erniang melambaikan tangan. Katanya, begitu mereka minum, orang di sekitar akan mengira kali ini mereka sudah berdamai. Nanti kalau pegawai Yan datang bertanya, ia harus menjelaskan lagi dari awal. Hari ini ia hendak menyerahkan surat-surat itu ke rumah dagang dan tak mau memberi orang alasan untuk bilang bahwa semua sudah beres sejak tadi.

Wajah Yao Jia terasa panas. Ia buru-buru bilang bahwa ia tak bermaksud membeli kata-kata manis dari Yu Erniang. Perempuan itu bergumam, tangannya tetap memilah tanda terima. Menatap tangan yang enggan berhenti itu, Yao Jia sedikit tersinggung. Ia merasa sudah sungguh-sungguh datang untuk mengakui kesalahannya dan tak semestinya dianggap cuma tahu menutupi persoalan dengan hadiah. Rasa tersinggung itu naik ke tenggorokan dan membawa keluar kalimat yang semula tak berniat ia ucapkan di situ. “Dulu, waktu ibuku membuat lauk untuk keluarga kalian, ia juga bilang kita ini tetangga, tak enak menghitung sampai serinci itu.”

Tangan Yu Erniang berhenti. Liang Baishun juga mendongak. Di luar, sehelai daun digulung angin sampai ke tepi undakan batu dan terbalik dua kali. Sesaat kemudian Yu Erniang berkata bahwa ketika Xin Niang membuat lauk, ia pernah menyediakan tempayan. Ketika keluarga Yao kesusahan, ia juga pernah mengirim beras dan arang. Ia tak cuma duduk menunggu Xin Niang bekerja. Mendengar itu, Yao Jia sempat merasa mendapat sedikit pegangan. Ia baru hendak menunjukkan baris dalam buku hitung lama itu ketika mendadak melihat bahwa yang tertindih di bawah tubuh Yu Erniang masih surat penerimaan barang dari usaha keluarga Gao.

Yao Jia tak menuangkan arak yang baru dibelinya ke cangkir. Yu Erniang bertanya, kalau ada urusan lama yang perlu dicocokkan, bukankah dia bisa datang lain hari? Yu Erniang sendiri juga tak ingat semuanya. Tetapi bagaimana urusan lama itu bisa membuat catatan tanggal dua puluh sembilan bulan keempat tak perlu lagi diperhitungkan? Pada bagian akhir, suaranya lebih rendah daripada tadi, tetapi Yao Jia semakin tak berani menatapnya. Baru saja dia nyaris memakai ketidakadilan yang ditanggung ibunya bertahun-tahun untuk menebus satu pertanyaan yang tak sempat dia ajukan kali ini.

“Aku seharusnya tak mencampuradukkan keduanya,” katanya.

Yu Erniang menyimpan kertas itu baik-baik. Ia tak menjadikan ucapan Yao Jia alasan untuk menghapus urusan lama Ruan Xin, hanya berkata bahwa urusan lama bisa dibicarakan nanti. Ia memisahkan tiga lembar yang harus dikirim ke perusahaan hari ini dan menyelipkan selembar yang ia simpan sendiri ke dasar keranjang. Ia menyuruh Liang Baishun memperhatikan betul, jangan sampai lembar itu kembali dipakai untuk mengalas baskom. Liang Baishun bergumam dan menelungkupkan baskom kayu yang rusak itu di tempat lain. Di dalamnya seakan masih tersimpan separuh gema ketukan tadi, dan tak seorang pun bernyanyi lagi.

Yao Jia mengulurkan tangan untuk membantu membalik beberapa lembar daun terakhir. Kali ini dia bertanya dulu harus membalik ke arah mana. Yu Erniang menunjukkannya dan mengingatkan bahwa urat daun tak boleh terlipat. Yao Jia membaliknya perlahan. Daun di tangannya lebar sekali, dengan bekas lubang kecil dimakan ulat di tepinya. Dia berhenti sebelum menaruhnya di tumpukan daun yang bagus. Setelah melihatnya, Yu Erniang bilang daun itu akan dia simpan untuk membungkus nasi biasa, jadi pisahkan dari yang utuh. Yao Jia menaruhnya tersendiri. Barulah matanya pelan-pelan beralih dari angka-angka di kertas ke selembar daun hijau yang nyata itu.

Menjelang pergi, Yao Jia hendak menawarkan diri untuk membayar sebagian lebih dulu. Namun Yu Erniang lebih dahulu berkata bahwa lembar-lembar itu harus dibawa kepada orang yang menangani muatan di Rumah Dagang Yonghe. Angkanya perlu dicocokkan dan bagian tanggung jawab masing-masing diperjelas. Jangan sampai orang pertama yang mengeluarkan uang di ambang pintu malah menanggung semuanya. Yao Jia menarik tangannya yang sudah menyentuh kantong uang. Dia menjawab bahwa setelah perhitungannya diperiksa, dia tetap akan menyampaikan apa yang menjadi bagiannya dan memastikan mereka tak hanya menemui Lu Yan.

Yu Erniang memandangnya sejenak dan mengangguk sekali, tanpa bilang bahwa setelah ini semuanya akan kembali seperti dulu. Yao Jia tahu ia sangat ingin mendengar kalimat itu, tetapi tak lagi mendesak. Liang Baishun mengantarnya sampai ke pintu. Dengan tangan bertumpu pada baskom kayu yang rusak, ia menyuruhnya meninggalkan kendi itu. Araknya tak akan sia-sia, mereka akan memasak seekor ikan untuk makan malam. Selesai bicara ia memandang istrinya. Yu Erniang hanya mengibaskan tangan dan berpesan agar ia jangan sampai menyenggol daun segar hari ini hingga masuk ke arak. Ia tetap tak menarik kembali surat yang hendak dikirim ke rumah dagang.

Keesokan harinya ia datang lagi, tanpa membawa arak. Yu Erniang sudah mengirim catatan tuntutan ganti rugi resmi kemarin dengan kapal yang menuju hilir. Paling cepat surat itu tiba di Yuepu malam ini. Bukti penerimaan dan pengembalian semula semuanya terlampir, dan ia tak meminta Yao Jia membantu merangkai kalimat yang lebih halus. Kali ini Yao Jia hanya membantu Liang Baishun memindahkan beberapa keranjang lama ke tempat yang tidak menempel pada dinding lembap. Setelah itu, mereka mengerjakan urusan masing-masing. Tak ada yang bertahan di situ seharian hanya untuk membuktikan kesediaannya mengakui kesalahan.

Sore tanggal delapan, Yao Jia pergi ke pasar membeli sumbu lampu. Lapak kecil penjual pita kain sudah bergeser ke sebelahnya. Beberapa pita rambut warna aprikot muda tersampir pada gelang bambu. Ketika angin bertiup, serat-serat halus di ujungnya serempak rebah ke satu arah. Yao Jia melirik saat lewat, lalu menoleh lagi setelah sampai di lapak sumbu. Selama ini tusuk konde kayunya yang gelap sudah menahan rambut dengan baik. Sedikit warna muda itu tak mengisi kekurangan apa pun di kedai, tetapi membuat pandangannya terasa sedikit lebih hangat.

Perempuan penjual pita itu mengenalinya dan bertanya apakah sepatu pengganti untuk bibinya beberapa hari lalu pas. Yao Jia tersenyum dan bilang pas, meski ia sendiri tak mencobanya. Perempuan itu pun bilang kalau begitu coba pita ini hari ini, setidaknya tak akan menyempitkan kaki. Yao Jia tergelak dan mengulurkan tangan untuk merabanya. Kainnya tak terlalu mahal, tetapi teksturnya yang halus terasa lain dari tepi bajunya sendiri. Ia menanyakan harga, menghitung uang, dan membelinya tanpa meminta agar pembayaran ditunda dan digabung dengan belanja persediaan berikutnya.

Perempuan itu melilitkan pita sekali di dekat tusuk rambut Yao Jia. Tangannya cekatan dan ia tak lebih dulu bertanya untuk siapa pita itu kelak diperlihatkan. Yao Jia mengangkat kepala. Anak rambut di dahinya sudah dirapikan, dan sedikit warna aprikot jatuh di belakang telinga. Sentuhan warnanya kecil sekali, tetapi seolah membuat cahaya di seluruh wajahnya berubah. Ia merabanya sebentar dan bertanya apakah warnanya terlalu terang. Perempuan itu menyuruhnya melihat sendiri dan menunjuk baskom berisi air jernih di samping lapak, yang biasa dipakai untuk meredam debu pada benang dan tali.

Ia menunduk. Permukaan air beriak pelan ditiup angin, membuat wajah yang terpantul sesaat memanjang, sesaat memendek. Seorang gadis yang membeli benang di sampingnya tertawa dan bilang jangan percaya baskom itu. Tadi pantulannya membuat satu matanya lebih besar daripada yang lain. Yao Jia ikut tertawa, menahan bibir baskom dengan dua jari, dan menunggu riaknya mereda. Akhirnya ia melihat jelas garis warna tipis di sisi rambutnya. Ia mendorong tangkai tusuk rambut itu perlahan agar mantap, mengambil sumbu pelita dan berjalan beberapa langkah, lalu mengangkat tangan untuk merabanya lagi. Senyum di sudut bibirnya masih belum benar-benar hilang.

· Akhir bab ·

Buku ini merupakan tulisan orisinal berbantuan AI, dikembangkan dari 《长干行二首》 (Dua Puisi Changgan) karya Li Bai dan cerpen asli situs ini 《青梅旧账》 (Utang Lama Buah Mei Hijau). Tokoh, perusahaan dagang, harga, geografi, dan penanggalannya sepenuhnya rekaan; inti karya asli tetap dipertahankan, yakni penuntasan perhitungan utang lama, pengakuan kembali atas keterampilan dan jerih payah, serta kesepakatan baru untuk menjalin hubungan setelah dewasa, bukan biografi penyair.

Daftar isi buku · 38 bab
  1. Prem Hijau di Balik Lengan Baju
  2. Uap Hangat dari Mulut Tempayan
  3. Hanya Menerima Seratus Enam Puluh
  4. Sesendok Terlalu Manis
  5. Noda Tinta di Samping Kuda Bambu
  6. Buah Prem Lebih Dulu Melunak
  7. Hari Kembali Naik Kapal
  8. Keluarga yang Tak Jadi Terbentuk
  9. Semangkuk Nasi yang Menunggu Dingin
  10. Lidah Tak Ingat
  11. Satu Petak yang Tak Cukup
  12. Dua Perjanjian Pengangkutan
  13. Daun yang Ditinggal Dulu di Tepi Sungai
  14. Pertanyaan yang Tak Terucap
  15. Tak Ada Ruang Kosong di Sungai
  16. Rasa Mi Musim Panas Terlalu Pekat
  17. Ayah Masih di Sisi Meja
  18. Daun-daun di Bawah Matahari
  19. Menceritakan Malam Itu Sampai Tuntas
  20. Makan Siang di Gang Genting
  21. Sebelum Lunas
  22. Siapa yang Tak Tercatat dalam Pembukuan
  23. Tiga Hari Menyusuri Sungai ke Hulu
  24. Sebelas Tahun Ini Tak Berlalu Hampa
  25. Mengembalikannya Bundel demi Bundel
  26. Sepiring Kecil yang Lebih Ringan Rasanya
  27. Tiga Hari Ibu
  28. Rasa Asam yang Tak Kunjung Datang
  29. Saat Kau Pulang
  30. Tak Seperti Masa Remaja
  31. Perahu Ada Gilirannya
  32. Sepiring Buah Mei yang Tak Dijual
  33. Lentera Menuju Bawah Air
  34. Dua Hari Menyusuri Sungai ke Hilir
  35. Di Tepiannya
  36. Jalan yang Ingin Ia Lihat Sendiri
  37. Sebuah Kamar yang Bisa Dihuni
  38. Masih Ada Ruang di Halaman Baru

Kolom komentar

Sedang memuat komentar…

← Kembali ke rak buku, baca cerita berikutnya

Pilih tema favorit

Tema pilihan berlaku di seluruh situs.